Vielga lekas duduk, sambil menjauh dari Areksa ketika lelaki itu menginginkan bercinta. “Maaf, saya tak bisa, Tuan.” Vielga menolak, tak mau ambil risiko di jam seperti ini, kakinya juga mati rasa, sangat pegal karena berdiri terlalu lama. “Kenapa? Hanya sebentar.” Areksa tersenyum tipis, menghampiri Vielga yang menolak permintaannya. Areksa berjongkok di depan Vielga, aksinya itu Vielga kaget. Tak pantas saja seorang majikan merendahkan diri di hadapan pelayan. “Tuan, bangunlah. Apa yang Anda lakukan?” Vielga menyuruh Areksa berdiri. Bukan patuh, Areksa mendorong Vielga sampai punggung membentur sandaran sofa. Pria itu melebarkan paha, menarik kain segitiga milik Vielga sampai terpampang jelas miliknya yang tampak menggoda. Areksa mengumpat, malu ditatap seperti itu, Vielga ingin men

