Bab 2. Menawarkan Diri

1261 Kata
Vielga terpaksa berbohong pada ibunya. Dia mengatakan bahwa dirinya bekerja di sebuah toko alat tulis, tetapi sebenarnya dia bekerja di sebuah club malam milik temannya. Awalnya Vielga menolak, tetapi saat mendengar bayarannya cukup besar, Vielga pun menerimanya meski itu keputusan sulit untuknya. Malam harinya, Vielga diam-diam keluar dari rumah saat ibu sedang tidur. Dia sudah mengenakan dress dan make up agar terlihat menawan. Jarak kontrakan dengan club malam lumayan jauh, Vielga pun harus memesan ojek online untuk bisa sampai di tujuan. Setibanya di depan club itu, terlihat seorang wanita yang sebaya dengannya tampak sedang menunggu. “Ya ampun, Vie. Lo ke mana aja, sih? Lama banget,” omel Friska–sahabat dekatnya. “Ya sorry, gue nunggu Mama tidur dulu baru bisa ke sini. Kalau dia tahu gue kerja nggak bener kaya gini, Mama pasti bakalan marah sama gue,” jawab Vielga dengan wajah melas, membuat Friska menahan perkataannya di tenggorokan. “Lo yakin nggak? Mumpung belum masuk, kalau nggak yakin mending nggak usah. Takutnya lo kabur pas udah dapet pelanggan, 'kan nggak lucu, bisa-bisa gue dikomplain nanti,” ujar Friska ingin tahu kesiapan Vielga sudah sejauh mana. Dia tidak mau nantinya Vielga menyesal, Friska akan merasa bersalah jika itu terjadi. Vielga mengembuskan napas pelan, kemudian menganggukkan kepalanya. Sudah yakin kalau itu adalah jalan satu-satunya yang harus dia pilih. “Gue yakin kok, Ka. Udah jangan bawel, gue butuh uang buat beli obat Mama, nih!” Friska pun tak bisa membantah jika keputusan Vielga seperti itu. Kedua wanita sebaya itu pun masuk ke dalam club. Hal pertama yang Vielga lihat banyaknya orang berdatangan, tidak sepi meski hari sudah malam. Kelap-kelip lampu pun menjadi pencahayaan, dentum musik terdengar keras, dan juga aroma alkohol tampak menyengat. Membuat Vielga mual lantaran tak terbiasa datang ke tempat ini. Melihat Vielga menahan mual, Friska jadi terkekeh lucu. Dia tahu kalau Vielga memang tidak menyukai tempat-tempat seperti ini dan juga jarang minum minuman beralkohol. “Terus gue harus gimana sekarang?” tanya Vielga, dia memang belum mengerti bagaimana harus bekerja di tempat hiburan itu. Keduanya pun duduk di kursi sembari melihat banyaknya orang tengah berjoget ria di podium sana. Lantaran di sini gaduh dan berisik, Vielga harus meninggikan nada bicaranya. “Tunggu aja, nanti ada pelanggan yang mau ditemenin minum. Tugas lo cuma nemenin minum aja, nggak sampai urusan ranjang.” Friska coba meyakinkan lagi agar Vielga tidak perlu bingung dan ketakutan nantinya. Vielga pun mengangguk, dia percaya kalau Friska tidak akan membohonginya. “Penampilan gue udah oke, belum?” Vielga berdiri, memutar tubuhnya untuk memperlihatkan penampilannya. Friska tertawa, menilik penampilan Vielga dari atas sampai bawah. Dia akui kalau Vielga malam ini tampil cantik dan menawan. “Udah oke. Cuma baju lo kurang seksi,” celetuk Friska dengan gamblang, dua mata Vielga membeliak lebar. Tidak tahu harus sependek apa baju yang dia pakai, semua koleksi dress yang Vielga punya, hanya sebatas itu. “What? Terus gue harus pakai baju sependek apa gila? Menurut gue, ini udah paling pendek!” Menanggapi keterkejutan Vielga, Friska menyemburkan tawa. “Kayak gue gini, lo lihat aja penampilan cewek di sini. Seksi banget, cuma lo yang pakai dress tertutup.” “Ini bahkan paling terbuka, Ka!” “Itu 'kan menurut lo, Vie, kalau di sini beda. Tapi it's oke sih, nggak masalah, lo udah cantik pakai baju apa aja. Lo tunggu di sini, gue mau ke sana sebentar.” Lagi, Vielga hanya mengangguk. Dia memilin jemarinya karena gugup. Dalam hati, dia merasa bimbang, pikirannya gamang memikirkan langkah yang dia ambil sudah tepat atau tidak. Vielga menunduk lesu, badannya panas dingin, walau belum memulainya. “Vie, ayo ikut gue!” Tiba-tiba Friska kembali dan langsung mengajaknya menghampiri seorang pria yang terlihat baru saja datang di ujung sana. “Wih, lo dari mana aja, Reks? Baru ke sini lagi lo?” ujar pria yang sudah lebih dulu duduk di sana. Tak lama kemudian, satu pria lainnya datang menyusul. “Lagi galau dia mikirin masalah di rumahnya,” sahut pria lain itu. “Lah, kenapa?” “Biasalah, masalah babysitter yang kemarin kabur. Sekarang gue lagi pusing nyari penggantinya.” Dua pria itu adalah Areksa dan Arlo, mereka sering datang ke tempat itu untuk menghilangkan penat dan bersenang-senang. Malam ini, Areksa juga sudah memesan wanita untuk menemaninya di sini. Menjadi duda membuat dirinya kadang membutuhkan wanita karena masih enggan memulai hubungan yang baru. Itulah alasan kenapa Areksa datang ke club itu. “Sialan banget tuh orang, terus sekarang anak lo sama siapa di rumah? Nanti deh gue bantu cari, siapa tahu si mbok punya keluarga di kampung yang lagi cari kerja,” ucap Arlo menepuk pundak Areksa. Tak lama kemudian, Friska datang mendekat bersama Vielga yang kelihatan sangat gugup. “Loh, Tuan Areksa udah datang? Kebetulan sekali. Ini Vielga, wanita yang akan menemani Anda minum malam ini.” Areksa menenggak segelas vodka, lalu mengalihkan pandangannya pada Vielga yang terlihat canggung di matanya. Sorot matanya menajam, menilai penampilan Vielga yang terlihat cantik dan muda, Areksa pun manggut-manggut saja. Baginya, gadis itu sudah sesuai dengan tipenya, berbeda dari wanita malam biasanya. “a***y, lo pesan wanita buat ngamar, Sa?” tanya Arlo, Areksa memang jarang pesan wanita saat ke club, Areksa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mabuk. Areksa tidak menanggapi temannya. “Suruh datang ke tempat biasa, saya nggak mau di sini, berisik,” kata Areksa pada Friska. Friska pun mengiakan, lalu mengelus pipi Vielga yang terasa panas dingin. “Gue takut, gue takut dia macam-macam,” bisiknya ketakutan. “Tenang, Tuan Areksa pelanggan setia di sini. Setahu gue, dia nggak mau tidur sama wanita malam. Lo percaya sama gue, pokoknya aman. Udah sana!” Friska mendorong pelan punggung Vielga agar mengikuti langkah Areksa. Perempuan itu berjalan melewati kerumunan menuju lorong, mengikuti ke mana langkah Areksa pergi. Sampai akhirnya, pria itu berhenti di sebuah ruangan, lantas menoleh sekilas. “Masuk!” perintah Areksa membuat Vielga merasa gugup. Saat sudah masuk ke ruangan itu, di sana hanya ada Areksa dan Vielga saja. Sudah tersedia cemilan dan beberapa minuman alkohol di sana, sepertinya Areksa memang sudah memesannya dari awal. “Apa yang harus saya lakukan, Tuan?” Sekian lama membisu, Vielga memberanikan diri bertanya-tanya. Pria di sampingnya seketika memijat pelipis, lalu menoleh sedikit kaget. “Kenapa kau malah bertanya? Lakukan saja pekerjaanmu!” Bingung harus bagaimana, Vielga pun mulai menuangkan minuman dari botol ke gelas. Areksa menegakkan posisi duduk, dia menarik pinggang ramping Vielga untuk mendekat ke arahnya. Vilega menelan ludah susah payah, merasakan tangan Areksa mengelus pahanya. “Apa yang Anda lakukan, Tuan? Bukankah Ini sudah keterlaluan?” “w************n berlagak seperti wanita terhormat, kau sudah kubayar untuk menemaniku. Tidak perlu banyak protes, cukup lakukan pekerjaanmu tanpa banyak membantah!” ketus Areksa. “Aku hanya menemani Anda minum saja, Tuan. Tolong Anda jangan macam-macam sama saya!” “Oke, oke.” Areksa menarik kembali tangannya dari paha Vielga. Meski gugup, gadis itu pun terus menjalankan tugasnya dengan baik. Walaupun risih karena Areksa terus menyentuh tubuhnya. Namun, Vielga bisa melewatinya sampai minuman habis. “Ini bayaranmu malam ini karena sudah menemaniku minum. Kalau saya memesanmu lagi lain waktu, jangan banyak bicara seperti tadi. Mengerti?” Vielga ikut berdiri, menghadang Areksa yang hendak pergi. “Ada apa? Apakah kurang?” Kepala Vielga menggeleng. “Maaf jika saya lancang, Tuan. Sebelumnya, saya sempat mendengar pembicaraan Anda sama teman Anda tadi. Apa benar Anda sedang mencari babysitter? Kalau boleh, saya mau melamar jadi babysitter untuk anak Anda.” Areksa tampak memindai Vielga dari ujung rambut sampai ujung kaki. Coba menilai apa gadis polos itu bisa menjaga anak-anaknya. “Tuan tenang aja! Meskipun saya belum menikah, saya bisa mengurus anak kecil."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN