Adrian diam, menganga mendengar pengakuan Elysa. Pria itu selama beberapa saat hanya bisa menatap Elysa yang masih terisak. Kemudian tangan pria itu terangkat lalu secara teratur menarik Elysa ke dalam pelukannya. “Oke, gapapa. Kita omongin lagi nanti kalau Ares sama Nadine udah pulang,” ujarnya lirih. Elysa mengangguk. Tangannya sibuk menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Meski hal tersebut sia-sia karena air matanya terus keluar dan membanjiri wajah pucatnya. Adrian mendesah pelan melihatnya. Pria itu kemudian mempererat pelukannya pada diri Elysa. Dengan perlahan dia mendaratkan sebuah kecupan ringan di pelipis wanita itu. “Sorry, karena udah buat elo hamil,” kata pria itu. Adrian kemudian meminta Elysa untuk cepat keluar agar yang lainnya tidak menaruh curiga. Pria itu kelu

