bc

Beautiful Trauma

book_age18+
994
IKUTI
3.9K
BACA
like
intro-logo
Uraian

Kai adalah seorang dokter psikiater, dia harus kehilangan lisensi prakteknya karena sebuah kejadian yang menimpa pasiennya. Sang ayah mengirimkannya ke pulau terpencil, bukan untuk berlibur. Namun, untuk menghilangkan jejak dari awak media.

Alika memiliki gangguan trauma karena kejadian masa lalu. Dia ingin sembuh, tetapi enggan untuk ke dokter. Baginya dokter adalah malaikat pencabut nyawa yang kapan saja bisa membunuhnya.

Kai dan Alika bertemu pada satu momen di pulau terpencil. Keduanya dekat dan memutuskan untuk meneruskan hubungan pertemanan saat sudah kembali ke Jakarta.

Kai mengetahui trauma yang dialami Alika, dia berusaha mengobatinya dengan cara dia walaupun Alika kerap menolaknya.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Insiden
Hujan disertai petir menemani seorang remaja tergeletak di tengah jalan. Ia menangis namun tak terlihat air matanya karena air hujan sudah sempurna membasahi wajah cantiknya. "Tolong aku!" ucapnya berkali-kali dengan nada nyaris tak terdengar. Darah lagi-lagi mengalir berbarengan air hujan melewati area pipinya. "Ayah, Bunda." Lagi-lagi suara anak itu sangat lirih. Ketika petir datang, ia ketakutan hingga menutup telinganya. Tak jauh dari tempatnya, seorang laki-laki paruh baya sudah terkapar dan mungkin tak bernyawa. Remaja itu samar-samar mendengar suara manusia lain yang tengah merasa iba kepadanya. Tanpa ada yang menolong dan tak ada satupun yang menyelamatkan wanita yang masih duduk berlumur darah di dalam mobil. "Tolong aku!" Kata terakhir yang diucapkan remaja itu, sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri. ____ Napas Alika memburu, matanya sudah terbuka sempurna, keringat sudah basah di sekujur tubuh, hingga wajahnya pucat pasi. Dadanya terasa sangat sesak, wanita tiga puluh tahun itu merasa sangat sulit mengatur napasnya. Ia mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Mencoba mengatur napas agar kembali normal. "Tolong aku!" ucapnya lirih. Tangannya meraba meja yang berada di samping tempat tidur. Menggapai sebuah gelas yang masih berisikan air penuh, mengambilnya kasar membuat volume air di dalamnya keluar hingga mengenai selimut yang masih menutupi bagian perut hingga kakinya. Setelah meneguk minuman tanpa rasa itu yang berada di dalam gelas dalam genggamannya, Alika berhasil mengurangi kadar ketakutannya. Ia mengelap keringat yang sudah sempurna membasahi wajah cantiknya. Napasnya sudah lebih baik, walaupun masih terlihat sangat khawatir. "Aku baik-baik saja," ujarnya berkali-kali. Ia mengusap d**a dan kepalanya. Mencoba tenang, lampu meja yang meneranginya terasa kurang cukup, sehingga akhirnya dia menyalakan lampu kamar itu. Sedikit lega, ia kembali berbaring. Mimpi yang setiap malam menghantuinya, lagi-lagi selalu datang. [[]] RS. Metropolitan Medical Center, Seperti sedang berpacu dengan gerakan detik jarum jam yang bertengger manis di lengannya, derap langkah seorang dokter yang sudah lengkap dengan jubah putihnya, ber-nametag Dr. Kai Adhiasta Sp.Kj, seolah menandakan ada hal genting di rumah sakit. Beberapa pasang mata bukan penasaran karena langkah cepatnya, melainkan terpesona dengan aura yang terpancar dari dokter berusia tiga puluh empat tahun itu. Satu tangannya menerima sebuah file dari tangan suster yang sedari tadi mengikutinya. Otaknya segera menganalisis tulisan yang tertulis di sana. "Obat penenang sudah diberikan, tetapi beliau berkali-kali mencoba bunuh diri," jelas suster yang sudah berjalan berbarengan dengan langkah Kai. Langkahnya segera terhenti, ketika Kai sudah sampai di depan pintu bertuliskan ruang XXII. Sebelum benar-benar membuka pintu, ia menarik napas dan kembali membuangnya kasar. Seketika semua petugas yang sudah berada di dalam menoleh ketika Kai membuka pintunya. Gerakan tegasnya membuat semua suster yang tengah berancang-ancang di tempatnya sedikit membungkukkan badan tanda memberi hormat. Kai mengisyaratkan mereka untuk menyingkir, dan memberikan jalan kepadanya. Kai tersenyum manis kepada pasien di depannya. Pasien yang sudah sangat berantakan karena menyakiti dirinya sendiri, bahkan sebuah pisau sudah dipasangnya tepat di atas urat nadi pergelangan tangan putih itu. "Kenapa? Jangan membuat aku khawatir, tolong lepaskan itu! Oke," ujar Kai berjalan perlahan menuju pasien yang masih duduk di atas brankar kamarnya. "Aku janji, akan membuatmu bahagia seumur hidup. Jadi, lepaskan itu semua." Kai mencoba membujuk, namun tatapan wanita berambut berantakan itu seolah tak memberi aba-aba luluh. "Kamu lebih milih keluargamu itu! kamu lebih memilih menikah dengan wanita jalang itu! Kamu lebih memilih meninggalkanku!" Suara pasien itu semakin kencang dan mengubah posisi pisaunya, kini sudah berada di urat leher. Satu senti saja ia bergerak, darah akan mengalir dari lehernya. "Tidak, itu semua bohong! Aku nggak akan meninggalkanmu. Serius, aku janji!" tegas Kai pasti. "Aku akan membawamu, ke tempat di mana hanya ada kita berdua, oke." Lagi-lagi Kai meyakinkan. Langkah pelannya masih bergerak stabil tanpa menimbulkan banyak gerakan tubuh. "Pelan-pelan. Kamu harus inget, ada anak kita di perut kamu. Kamu sendiri yang bilang akan merawatnya dengan baik. Inget, anak kita!" Ucapan Kai berhasil. Pasien bernama Naila menurunkan pisau di tangannya. Ia menangis dengan tatapan yang kosong. Pasien pengidap gangguan bipolar ini baru satu hari ini dirawat, dia adalah salah satu pasien Kai. Namun, dia harus dirawat karena kondisinya yang lemah karena kehamilannya yang masih muda. Semua orang yang menyaksikan mengembuskan napas lega setelah melihat Naila memeluk Kai erat. Itu adalah bagian dari trik pengobatan Kai untuk membujuk pasiennya. Ia tahu persis saat pasien dalam gangguan jiwa, pikirannya terpecah bahkan hingga tak mengenali siapa lawan bicaranya. [[]] "Return? Reject? Apa kalian menganggap ini bahan candaan?!" Nada bicara Alika tampak terdengar sangat kesal dan marah. Tatapan matanya terlihat serius, bahkan ia sama sekali tak mengubah posisi duduknya. Meneliti satu per satu wajah bawahannya, ada yang menampakkan mimik wajah khawatir dengan hanya menunduk, ada pula yang berpura-pura sibuk dengan bolpoin di tangannya. "Apa di produksi kekurangan tenaga kerja? Atau perlu kita mengubah SOP produksi agar lebih teliti lagi?" Lagi-lagi suara Alika sedikit membentak. "Ini makanan, bukan barang atau plastik yang mungkin bisa diperbaiki!" Seseorang mengangkat tangannya, bermaksud memberikan tanggapan. Namun, dengan cepat Alika membalasnya juga dengan angkatan tangan. "Saya nggak mau tau, bawa karyawan itu di depan saya! Harus ada hukuman yang setimpal karena kelalaiannya." Suara Alika meninggi. "Tapi, Bu...." Seseorang berseragam layaknya pekerja pabrik mencoba bernegosiasi. Namun,Alika dengan tegas kembali menekannya. "Apa? Apa ada kendala membawa karyawan itu ke hadapan saya?" "Bukan begitu, dia sudah menggunakan SOP dengan benar, seorang QC juga sudah mengeceknya secara random, dan bagian packing juga sudah memastikan bahwa di dalam kemasan tak ada barang lain selain produk itu sendiri. Tapi...." Dia mencoba menjelaskan. "Apa? Apa ada sihir di sini? Atau ada yang iseng memasukan cutter itu ke dalam makanan? Ah, apa kalian berbaik hati memberi customer kita cutter untuk alat pembuka kemasan itu!" Alika mencoba tenang, namun pikirannya sudah kalap dengan masalah pekerjaan. Entah itu masuk akal alasan yang diberikan, sudah pasti ditolak oleh Alika. Bagaimanapun orang lain menyampaikan pendapat akan ditentang oleh Alika jika masuk akal sekalipun. "Apa bagian warehouse sudah menghubungi pihak customer? Kapan barang akan datang?" tanya Alika dengan nada putus asa. "Saya tunggu sampai jam empat, bawa karyawan itu ke ruangan saya!" Alika meninggalkan kursi panas. Kepergian Alika membuat para karyawan yang hadir pada meeting hari ini mengembus napas yang ditahannya sedari tadi. "Aish." Seketika laki-laki berseragam produksi menggerutu lirih. "Sabar ya, Pak. Beliau memang sudah memiliki watak seperti itu, dan lain kali harus lebih teliti lagi pada karyawannya," tegur laki-laki yang berkemeja merah maroon. Ia terlihat santai, namun merasa iba melihat si supervisor itu. Alika menghela napas ditempat duduknya, ia mengulang gerakan dengan memijat bagian keningnya, sesekali dia mendengkus kesal lalu terpejam. Urusan kantor sangat menguras energi dan pikirannya. Ponsel Alika berdering, wanita itu langsung saja melihat siapa yang menghubunginya. "Tante?" Alika segera menjawab panggilan dari orang yang paling dia sayang. "Iya, Tan?" jawab Alika tanpa basa-basi. "Pekerjaan kamu sudah selesai? Tante, harus menutup toko lebih cepat karena ada urusan," ujarnya dengan suara lantang. Alika melirik arloji di tangan kirinya. "Sepertinya hari ini aku pulang malam. Tante ada urusan apa?" "Kamu ingat Tante Rose? Suaminya masuk rumah sakit," ucap Widia. "Tante berniat mau ke sana. Kasihan Tante Rose sendirian. Enggak apa-apa, kan?" tanya Widia memastikan. "Ah, enggak apa-apa, Tan. Nanti aku juga pulang sedikit terlambat karena harus melihat apartemen baruku," jawab Alika ragu. "Oke baiklah." Setelah panggilan telepon terputus, Alika menghela napas. Ia melihat jam dinding di ruangannya. Sudah waktunya makan siang. Namun, ia benar-benar tak berselera hari itu. Alika memilih kembali berkutat pada layar komputer di depannya. Sampai jadwal meeting kembali mengharuskan dia meninggalkan ruangan yang sempit itu. Alika sangat bertanggung jawab dalam masalah pekerjaan. Dia bahkan rela harus pulang larut malam, saat ada sebuah masalah di perusahaan itu. Tepat pukul empat sore, bel pulang berbunyi. Semua karyawan kantor sudah satu per satu meninggalkan mejanya. Alika bisa menyaksikannya langsung melalui dinding ruangannya yang memang menggunakan sebuah kaca. Tak lama seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Datanglah seorang laki-laki paruh baya, dan karyawan wanita yang masih lengkap dengan seragam produksinya. "Selamat sore, Bu," sapa si laki-laki itu ramah. Ia mengisyaratkan karyawannya mengikuti dia masuk. "Duduk!" perintah Alika. Ia berpindah duduk di sofa tamu yang memang tersedia di ruangan itu. "Jadi, kamu? Yang mengirim cutter pada customer?" tanya Alika tanpa basa-basi. Karyawan perempuan itu hanya menunduk takut. Terlihat sangat jelas raut wajahnya yang begitu gelisah. "Maaf, saya kurang teliti," jawabnya lirih. "Kamu tau berapa kerugiannya? Barang akan dikembalikan di perusahaan. Itu memakan biaya logistik, dan waktu untuk pengecekan ulang, membuta hasil produksi terhambat! Itu karena kurang telitinya kamu dalam bekerja! Ngerti?" Perampuan itu mengangguk pelan. Ia sama sekali tak berani memandang ke arah Alika. "Apa kamu bisa jamin? Di dalam box lain itu aman, hasil kerja kamu." Alika menekan. Perempuan itu terdiam. "Saya bisa jelasin apa sama yang punya perusahaan. Karyawan saya kurang teliti dalam bekerja, dan saya membiarkannya. Apa perlu kamu di keluarkan dari perusahaan?" Perempuan itu tampak terkejut, ia memandang Alika dengan tatapan memohon. "Bu, dia bisa memperbaiki kinerja kerjanya." Si supervisor yang sudah terlihat lelah, kini mengangkat suara. "Yakin? Bukannya kamu membela bawahan kamu?" Alika memastikan. Laki-laki itu menggeleng cepat. "Saya tahu, semua karyawan saya. Mereka selalu menaati peraturan untuk jalannya produksi, dan saya yakin itu secara tidak sengaja." Alika menghela napas. Ia tak habis pikir dengan ucapan laki-laki yang duduk di depannya. Dia berpikir semua masalah yang terjadi mengandung unsur kesengajaan. [[]] Bukan wangi makanan yang dicium Alika setiap kali ia masuk ruang produksi, bukan pula wangi lavender yang menjadi pengharum ruangan kerjanya. Kini Alika hanya tengah menikmati udara malam yang segar setelah angin menyambutnya di pintu lobi utama perusahaan bernama 'Fresh Food'. Alika menutup matanya agar lebih menikmati angin yang sudah masuk ke tubuhnya melalui pori-pori indra perabanya. "Sudah mau pulang, Bu?" sapa seorang laki-laki yang masih berseragam lengkap keamanan. Sontak Alika membuka matanya, dan menoleh. Ia mengangguk sebagai jawaban. "Hati-hati, Bu," ujarnya lalu kembali melangkah. Alika berjalan menuju gerbang besar perusahaan itu. Bukan mobil pribadi yang menjadi akomodasinya, namun sebuah busway yang selalu menjadi transportasi dari rumah ke kantor. Dalam hidup Alika, ia tak pernah menaiki mobil setelah kecelakaan lima belas tahun yang lalu. Baginya, busway adalah kendaraan teraman yang akan membawanya pergi kemanapun. Alika berdiri di halte yang jaraknya tak jauh dari gerbang perusahaan. Tanpa menunggu lama, busway yang ditunggunya datang. Alika langsung masuk tanpa berdesakkan. Hampir tiga puluh menit akhirnya Alika sampai pada halte pemberhentiannya. Ia turun dan menuruni anak tangga pada jembatan penghubung antara halte dan jalanan biasa, yang jumlahnya lumayan banyak. Wanita itu berjalan, sebelum sampai di rumah Widia, dia harus menempuh perjalanan hampir sepuluh menit. Walaupun banyak kendaraan umum yang melewati rumah Widia, namun Alika lebih memilih berjalan. Langkahnya terhenti ketika sebuah kerumunan orang berkumpul di depan taman kota. Napas Alika memburu, ia ragu akan langkah kakinya. Alika mencoba menjauh, namun hanya itu satu-satunya jalan yang bisa ia lewati. Alika memberanikan diri mendekat, tiba-tiba kerumunan orang itu menyebar membuat Alika kini berada di tengah-tengah mereka. Alika ketakutan, namun ia menahannya. Tanpa ragu, orang yang kini tengah jadi pusat perhatian yang sedang menjadi tontonan publik, kini menyerang Alika. Wanita itu terkejut, terlebih ketika laki-laki yang tak dikenal kini menyandera dirinya. Alika ketakutan, badannya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin seolah berbondong-bondong keluar dari pori-pori kulitnya. "Tolong aku!" Suara Alika bergetar. "Tolong aku!" Suaranya makin lirih. Wanita itu ketakutan. Tak ada satupun orang yang menolongnya. Alika mengingat semua kejadian yang pernah dialamainya, kejadian yang setiap hari ia dapat dari mimpi buruknya. Kini ia ketakutan sangat hebat, air matanya menetes tanpa aba-aba. Baginya, mendapat pertolongan dari orang yang menyaksikan adalah hal yang mustahil. Alika sudah tak tahan dengan bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut pelaku yang kini menyanderanya. "Tolong aku!" Suara itu nyaris tak terdengar. Tetapi tiba-tiba.... 'Brukk' Seseorang berhasil melayangkan tendangan ke tubuh belakang laki-laki itu. Sehingga tangannya terlepas dari Alika. Dia tersungkur ke bawah, membuat Alika bebas menjauh. Alika terduduk lemas, keringat sudah membasahi tubuhnya. Laki-laki mabuk itu mencoba melawan, namun orang-orang yang menonton segera menangkapnya, untunglah polisi datang tepat waktu. Alika masih ketakutan di tempatnya. Dia terkejut saat seseorang menggapai kedua lengannya. "Anda tidak apa-apa?" ujar seorang pria berwajah maskulin. Alika ketakutan, ia mencoba menatap laki-laki itu. Mata mereka bertemu, Kai sang penyelamat mengetahui rasa takut Alika melalui sorot matanya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook