Pelukan sang CEO Dingin

1480 Kata
Kenan mulai bergerak. Tangannya yang besar dan hangat membelai wajah Ayunda dengan sangat lembut, mengusap bekas air mata Ayunda yang pernah jatuh di sana. Gerakan itu sangat kontras dengan dominasinya tadi malam. Ayunda menjadi sangat grogi dan salah tingkah. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Kenan. Jantungnya berdebar sangat cepat, seperti genderang perang. Kenan mengangkat dagu Ayunda perlahan, memaksa Ayunda menatapnya. Kenan menatap Ayunda dalam-dalam, tatapannya kini bukan lagi didominasi nafsu, melainkan kerinduan dan keinginan yang mendalam. "Aku merindukanmu," bisik Kenan, sebuah pengakuan jujur yang mengejutkan. Wajah Kenan perlahan mendekat ke wajah Ayunda. Ayunda memejamkan mata, menunggu. Ia mengira Kenan akan menciumnya dengan kasar seperti tadi malam. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Bibir Kenan menyentuh bibir Ayunda dengan sangat lembut. Itu adalah ciuman yang lambat, penuh penyesalan, dan keinginan tulus. Kenan melumat bibir Ayunda dengan hati-hati, seolah takut melukai Ayunda lagi. Ayunda, yang awalnya hanya diam dan pasrah, merasakan kelembutan itu. Perasaan aneh menjalar di hatinya. Ini adalah ciuman pertama yang tidak terasa dipaksa. Ayunda perlahan membuka mulutnya, dan tanpa sadar, ia membalas ciuman Kenan, sebuah respons yang jujur dari hatinya yang mulai goyah. Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut, namun tetap penuh kehati-hatian. Di tengah ruang tamu sederhana itu, Ayunda melupakan sepuluh miliar, melupakan kontrak, dan hanya fokus pada ciuman Kenan yang kini terasa manis dan hangat. Kenan melepaskan ciumannya perlahan, menatap mata Ayunda yang kini terbuka dan memancarkan kebingungan. "Kamu milikku, Ayunda," bisik Kenan. "Malam ini, kita kembali ke rumah kita." Ayunda tahu, ia tidak bisa menolak lagi. Kontrak sudah ditandatangani, dan janji sudah dipenuhi. Ia adalah Pesona Istri Sepuluh Miliar Milik CEO Dingin. Dan kini, CEO dingin itu telah menciumnya, bukan dengan nafsu, melainkan dengan kerinduan. "Baik, Kenan," ucap Ayunda lirih, nadanya penuh penerimaan. "Aku ikut denganmu. Tapi kita harus pergi sebelum Ibu bangun." Kenan merasakan kemenangan yang manis setelah berhasil mencuri ciuman dari Ayunda. Ia menatap Ayunda sejenak, wajah gadis itu memerah karena ciuman itu, lalu ia bangkit dari sofa. "Aku harus kembali ke kantor sekarang," ujar Kenan, suaranya sudah kembali tenang, nada otoriter khas CEO-nya kembali. "Aku sudah menjemputmu, aku sudah mendapatkan ciuman, sekarang aku harus bekerja." "Baik, Kenan," jawab Ayunda lirih, masih menormalkan detak jantungnya. Kenan berbalik, tetapi sebelum mencapai pintu, ia berhenti dan berbicara tanpa menoleh. "Sore ini, kamu harus bersiap. Setelah kamu memastikan ibumu tidur nyenyak, kamu kembali ke apartemen. Kamu adalah istriku. Kamu tinggal bersamaku." "Tapi... bagaimana dengan Ibu?" "Aku sudah memikirkan alibi. Nanti Rendy yang akan mengurusnya. Jaga dirimu," kata Kenan, lalu ia melangkah keluar, meninggalkan Ayunda yang masih duduk di sofa, bingung dan grogi. Ayunda menghabiskan sore dengan merawat ibunya. Ia menyuapi Ibu Halimah dan memastikan Abimanyu sudah mengerjakan PR-nya. Semakin malam, ia semakin gelisah. Ia tahu malam ini adalah permulaan hidupnya sebagai Nyonya Ardhana yang sebenarnya. Saat Ibu Halimah mulai mengantuk, Ayunda tahu waktunya tiba. "Bu," bisik Ayunda lembut. "Ayunda izin sebentar, ya. Kak Rendy butuh bantuan Ayunda lembur di kantor. Ada laporan penting yang harus diselesaikan malam ini." Ibu Halimah, yang percaya penuh pada cerita 'kerja paruh waktu' itu, tersenyum lemah. "Ya ampun, rajinnya kamu, Nak. Pergi sana, kasihan Kakakmu. Tapi jangan pulang terlalu larut, ya." "Siap, Bu. Nanti Ayunda kabari," jawab Ayunda, mencium kening ibunya, merasa bersalah atas kebohongan yang ia ucapkan. Ayunda keluar. Di depan rumah, mobil Rendy sudah menunggu. Ayunda masuk. Di dalam mobil, suasana terasa dingin. Rendy bersikap sangat profesional, nyaris tanpa emosi. "Malam, Nyonya," sapa Rendy formal. Ayunda mendengkus. "Rendy, aku adikmu. Panggil aku Ayunda." "Maaf, Nyonya. Saya hanya menuruti protokol Tuan Kenan. Anda adalah istri bos saya, Tuan Kenan. Saya harus bersikap profesional," jawab Rendy dingin. Sikap Rendy yang tiba-tiba sangat formal itu membuat Ayunda sadar bahwa statusnya kini benar-benar berubah di mata Rendy. Rendy yang tadinya cuek kini harus menghormati dirinya karena statusnya sebagai istri sang CEO. Ayunda menghela napas. "Baiklah, Rendy. Katakan pada Ibu besok pagi kalau aku pulang larut malam ya, jangan sampai Ibu khawatir." "Tentu, Nyonya. Itu tugas saya," jawab Rendy datar. Perjalanan ke Emerald Tower terasa sangat sunyi. Ayunda dan Rendy yang seharusnya akrab seperti kakak-adik tiri kini terdiam, terpisah oleh sekat tak terlihat yang bernama 'kontrak pernikahan'. Mobil berhenti di parkiran khusus. Ayunda langsung berjalan menuju private lift. Di dalam lift, ia merapikan blouse dan roknya. Jantungnya mulai berdebar kencang lagi. Sampai di depan pintu apartemen Kenan, Ayunda ragu sejenak, lalu menekan bel. Pintu terbuka. Kenan berdiri di sana, hanya mengenakan sweatshirt kasual dan celana training, terlihat santai namun tetap memancarkan aura maskulin yang kuat. Wajahnya yang tampan langsung tersenyum lembut saat melihat Ayunda. "Kamu datang," bisik Kenan. Sebelum Ayunda sempat bicara, Kenan memeluk Ayunda. Pelukannya hangat, kuat, dan penuh kerinduan yang ia pendam selama seminggu. Ayunda sempat terkejut, tapi perlahan membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di d**a Kenan. "Aku sudah menyiapkan makan malam," kata Kenan, melepaskan pelukan itu. Kenan menggandeng Ayunda—bukan memeluk, bukan menarik, tapi menggandeng mesra—menuju meja makan yang terletak di balkon kamar mereka. Pemandangan kota Jakarta malam hari yang bertaburan cahaya menjadi latar belakang yang romantis. Di meja sudah tersaji dua porsi steak panggang yang terlihat lezat, serta minuman jus kesukaan Ayunda—jus mangga. "Duduk, Sayang," ujar Kenan. Ayunda mendadak merona. Panggilan "Sayang" dari Kenan itu terasa asing, tapi menyenangkan. Jantungnya kembali berdebar. "Kenapa kamu tahu aku suka jus mangga?" tanya Ayunda. Kenan tersenyum bangga. "Aku sudah riset tentang istriku. Aku tahu semua tentang kamu. Dan itu adalah makanan kesukaan pertamamu dari masakan suamimu." Mereka mulai makan. Suasana sangat santai dan intim. Kenan memotong steak-nya, lalu menyuapi Ayunda dengan mesra. "Ayo, buka mulut. Nanti kamu lapar lagi," kata Kenan. Ayunda menerima suapan itu dengan canggung, tapi tersenyum. Ayunda pun membalas perlakuan itu, memotong sepotong steak dan menyuapi Kenan dengan malu-malu. Perlahan, sikap Ayunda melunak. Kebencian dan rasa takutnya terkikis oleh perlakuan Kenan yang manis malam ini. Ia mulai membalas tatapan Kenan dengan lebih mesra. Malam mulai larut. Mereka menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, melupakan kontrak dan sepuluh miliar. Kenan berdiri, mengulurkan tangan pada Ayunda. "Ayo. Sudah larut. Kamu harus tidur." Kenan menggandeng Ayunda ke kamar utama yang besar. "Aku akan tidur di sini?" tanya Ayunda, matanya membelalak. "Tentu saja. Ini kamar kita. Tapi tenang saja," Kenan tersenyum lembut. "Aku hanya akan memelukmu. Aku sudah janji tidak akan berbuat lebih tanpa izinmu." Ayunda menatap Kenan. Kenan terlihat tulus, dan pelukannya tadi terasa lebih nyaman daripada ancaman. Ayunda pun menurut. Mereka berbaring di ranjang king size. Kenan mematikan lampu, menyisakan cahaya remang-remang dari lampu tidur kecil. Kenan menarik Ayunda ke dalam pelukannya. Tubuh atletis Kenan terasa hangat, melingkari tubuh Ayunda yang mungil. "Kamu kelas berapa, Sayang?" tanya Kenan, suaranya pelan di telinga Ayunda. Panggilan Sayang itu lagi-lagi membuat Ayunda merona dalam kegelapan. "Hmm, kelas dua belas, Kenan. Satu minggu lagi aku ujian akhir," jawab Ayunda. "Oh, begitu ya," Kenan mengusap rambut Ayunda. "Makanya aku butuh waktu buat konsentrasi belajar minggu depan. Aku enggak mau ujianku berantakan," ucap Ayunda. Kenan berpikir sejenak. "Baiklah. Seminggu ke depan, kamu tinggal di apartemen ini dan fokus belajar. Kita akan pura-pura lupa dengan kontrak ini dulu. Soal ibumu, aku sudah menyuruh Rendy mengatakan pada Ibu Halimah kalau kamu harus ikut aku ke luar kota selama seminggu untuk urusan bisnis penting yang mendadak." Ayunda langsung mengangkat kepalanya. "Nggak bisa, Kenan! Aku mau merawat ibuku! Aku harus di sana!" "Sayang, ibumu sudah ada perawat dari rumah sakit yang standby di rumahmu selama beberapa hari ke depan. Aku sudah atur semua," Kenan menahan wajah Ayunda di tangannya. "Kamu enggak usah khawatir. Rendy akan sering-sering ke rumah ibumu. Tugasmu sekarang adalah lulus dengan nilai terbaik." Ayunda melihat ketegasan di mata Kenan. Ia tahu, berdebat dengan Kenan hanya akan membuang energi. "Baiklah," Ayunda menyerah. "Tapi aku mau telepon Ibu setiap malam." "Tentu," Kenan tersenyum puas. Ayunda kembali memejamkan matanya dalam pelukan Kenan. Ia mencoba tidur, namun tetap tidak bisa. Dadanya berdebar kencang dalam pelukan Kenan. Kehangatan tubuhnya, aroma parfum maskulinnya, semua terasa memabukkan. "Sayang, kenapa jantungmu kencang sekali?" Kenan terkekeh pelan, suaranya penuh godaan. Ayunda terkejut, ia menyadari Kenan bisa mendengar detak jantungnya. Ayunda kemudian mencoba melepaskan pelukan Kenan, tapi Kenan menahannya lebih erat. "Tuan, biarkan aku tidur di kamar sebelah saja," pinta Ayunda, suaranya memohon. "Hmm, boleh," kata Kenan. Ayunda merasa lega, namun kalimat Kenan selanjutnya membuatnya menegang. "Tapi sebelum itu, kamu harus melayaniku dulu." Ayunda spontan memukul d**a Kenan pelan. "Nggak mau!" "Kenapa, Sayang? Aku sudah sangat rindu padamu," Kenan membelai wajah Ayunda, menyentuh lembut bibirnya. "Ya pokoknya nggak mau!" Ayunda bersikeras, wajahnya sudah memerah lagi. Kenan menatap Ayunda dalam-dalam, tatapannya membuat Ayunda semakin berdebar. Kenan tidak menunggu jawaban, ia langsung mencium bibir Ayunda lagi. Ciuman itu lembut, tapi kali ini lebih dalam dan menuntut. Tidak ada penolakan dari Ayunda. Ayunda kembali membalas ciuman Kenan dengan keraguan. Kenan pun semakin berani melumat bibirnya, mengundang Ayunda ke dalam keintiman yang lebih dalam. Malam itu, di ranjang yang mewah, janji untuk 'hanya memeluk' nyaris terlupakan. Ayunda tahu, ia sedang jatuh ke dalam pesona CEO dingin yang telah membeli dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN