lelaki gila

3266 Kata
Suasana hotel terkemuka bintang tujuh dipenuhi orang - orang kaya yang muda dan yang tua. setiap kehadiharan tetamu akan diumumkan secara langsung. Herlessa menatap wajahnya yang memakai topeng yang menutup separuh wajahnya. kerana majlis ini bertema. Dari kejauhan herlessa melihat steven yang memakai sut putih dan topeng putih diwajahnya berjalan kearah Herlessa bersama seorang wanita disebelahnya. "sayang aku kenalkan ini tante reva tante aku ." ujar steven membuatkan herlessa membulatkan matanya kerana terkejut. "steve panggil aja tante mama, brapa kali mahu tante bilang kamu itu udah seperti anak tante." ujar wanita yang bergelar reva itu sambil menepuk lembut tangan steven. "iya-iya mama reva."jawab steven sambil tersenyum. "Kamu lessa kan? panggil aja mama reva, kamukan pacar steve beraarti calonnya menantu mama kan." ujar reva lagi. "erkk.... iya saya pacarnya tuan steven." jawab herlessa sambil mengaru tekuk Jinjang yang tidak gatal. "Lessa emang selalu begini mama reva dia malu mahu panggil aku hubby kalo di depan umum! kalo lagi berdua memang dia panggil aku hubby gitu.."ujar steven buru - buru setelah melihat reva mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan 'TUAN' tadi. steven menyiku lengan Herlessa. "Iya mama reva,aku malu." ujar Herlessa cepat setelah lengannya disiku oleh steven. "steven bilang kalian kenal dari sMa lagi ya?" tanya Reva lagi. Herlessa melirik steven yang berada disebelahnya.kepala nya sibuk berfikir pertanyaan reva. 'emangnya aku pernah satu smA sama dia apa? akukan pernah tukar tempat sama lennA mana aku ingat. mahu jawab apa coba?' dalam herlessa sedang berfikir . "ketibaan Tuan muda Alexander dan pasangannya nona airis." umum pengawal di pintu masuk . terdapat satu pasangan yang tampak serasi. Herlessa tidak dapat melihat wajah pasangan yang berdiri di depan dengan jelas kerana mereka juga memakai topeng. seorang lelaki yang memakai setelan hitam dan gadis yang tingginya sama dengan Herlessa yang memakai gaun putih yang penuh manik- manik di pinggang nya. Pasangan yang beru tiba berjalan menghampiri mereka. Herlessa seperti mengenali langkah kaki gadis yang sekarang berdiri dihadapanya, matanya menyimpit memerhati sorok mata gadis didepannya. mata herlessa membulat begitu juga gadis yang berada didepannya seperti sudah mengenalinya. "kak alex lama sekali tidak ketemu." ujar steven setelah Alexander mendekat. "kamu aja setelah pulang dari negara A bukannya ketemu aku tapi terus ke perusahaan."omel Alexander kepada sepupunya. "Mama itu sudah bilangkan. mama ngak mahu dengar soal pekerjaan dari kalian waktu kalian bersama mama!"marah reva kepada kedua anaknya itu. steven dan Alexander menatap reva. "mama reva ini bukan soal kerja." jawab steven. "iya mama cuma bicara kosong aja." Alexander menyokong kata - kata steven. " ya sudah. alex kamu tak mahu kenalkan pacar kamu sama mama?" tanya reva sambil menatap gadis bergaun putih cream itu. "oh ya kenalkan ini airis. airis ini mama ku." ujar Alexander memperkenalkan kedua wanita itu. " nyonya ..." ujar Herlenna dan menatap reva . "panggil mama reva saja. kamu juga calon menantu mama." jawab reva bahagia umur nya sudah 50 lebih namun belum mendapat menantu akhirnya kedua putera kesayangan nya membawa pulang pacar mereka. "Ini siapa steve?" tanya Alexander yang sedang melihat herlessa yang berada disamping steven. " Ini lessa pacarku ." jawab steven tangannya memeluk bahu herlessa . tiba - tiba herlessa ditarik herlenna. " namamu lessakan temankan aku ke toilet bentar " ujar herlenna tiba - tiba. herlessa tahu adiknya sedang marah kerana steven memeluk kakaknya. Herlessa mengangguk. "mama reva , kami ke toilet sebentar ya."pamit herlessa, lalu beriringan menuju ke toilet. " aku dengar bos membuat interview untuk menjadi pacarnya malam ini, apakah itu gadis yang terpilih." tanya Emelda kepada dua rakannya. " tapi setahu aku interview itu ngak ada yang terpilih kerana semuanya ngak cocok." jawab sarah yang sedang melihat dua wanita berjalan ke toilet. " Apa dia memang benar-benar pacarnya bos ?" tanya sabrina kepada emelda. "ngak mungkin aku ngak pernah tu liat bos berhubungan dengan mana-mana wanita."jawab emelda serius. emelda merupakan asisten Alexander jadi setiap jadual Alexander semua diketahui oleh emelda. "sekali dilihat parasnya seperti umur 19 gitu. apa jangan-jangan masih anak sMa lagi kali,. apa bos minatnya sama anak-anak sMa." tanya sarah yang sedang memerhatikan gadis yang memakai gaun putih itu. "ngak ada yang boleh merebut Bos dari aku! " marah Emelda walaupun tidak terlalu keras tapi masih bisa didengar oleh kedua sahabatnya. Anna melihat penampilan Herlessa dari atas kebawah kemudian beralih menatap Herlenna dari atas kebawah tiba -tiba suara anna ketawa terbahak -bahak membuatkan banyak mata melihat mereka, spontan herlessa menekup mulut anna. setelah ketawa anna mereda dia membuka mulut lagi. "Apa benar ini loe lenna ? loe habis bermimpi atau kerasukan jin tanah?" tanya anna yang masih dalam tawanya. "Loe udah rasa mahu mati sekarang ?" tanya herlenna geram. "Lessa loe lihat lenna biasanya dia agak tomboy ini pakaian nya gila. sekali dilihat manis benar." ujar Anna lagi dalam ketawanya kali ini herlessa juga ikut ketawa kecil. "Aku dipaksa kalo ngak aku ngak dapat pekerjaan." jawab herlenna kesal melihat saudarinya pun mengetawakannya. "sudah anna lihat lenna udah cemberut begitu." ujar herlessa . Herlenna dari tadi berada disebelahnya kerana tidak mahu steven menyentuh kakaknya dia selalu berada disamping Herlessa. tanpa mereka sadari Alexander dan steven menatap mereka. "kalo dilihat dari belakang pacar kita nampak mirip ya kak."ujar steven matanya tetap fokus kearah dua gadis yang sedang mengobrol dengan seorang gadis. Alexander jugak merasa yang sama. "Mirip itu ngak apa - apa jangan orang yang sama sudah." jawab Alexander . "Emang citarasa kita itu sama apa kak?" tanya steven dengan senyuman yang sukar ditafsir oleh steven. "ngak mungkin jelas-jelas kamu dan aku masing-masing membawa pasangan masing- masing."jawab Alexander lagi. "Andai aku dan kak alex menyukai orang yang sama, jangan khawatir aku ngak akan mempersulitkan kakak."ujar Steven, ya dia telah menganggap Alexander sebagai kakak kandungnya, Alexander selalu ada disisinya dia tidak akan merebut apapun atau siapapun kesukaan Alexander. "Dimana lessa dan airis?"tanya reva dengan dua helai pakaian ditangannya. "Disana mama, kenapa ma?"ujar Alexander menunjuk kearah airis yang kelihatan seperti cemberut. Reva menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Alexander. tanpa sepatah kata Reva berjalan menuju kearah tiga gadis itu. "kenapa kak?" tanya steven, Alexander mengangkat bahunya. Jam menunjukkan pukul 11 malam. "Hadirin sekalian sekarang sudah waktunya untuk pemotongan kek. dipersilakan naik nyonya reva , tuan muda Alexander dan tuan muda steven untuk acaranya." ujar pengacara majlis . Reva berjalan menaiki pentas diiringi oleh Alexander dan steven. diatas pentas reva berbicara dengan pengacara majlis. "Di jemput juga nona Lessa dan nona airis ke atas pentas." ujar pengacara itu. Di satu sudut dua gadis memakai gaun merah yang dipenuhi permata halus yang memenuhi gaun itu dan mengenakan topeng yang sama. Dua gadis itu bejalan menuju ke pentas. para temamu tertanya - tanya adakah mereka kembar kerana mereka terlihat begitu sama. Alexander dan steven tercengang mereka seperti tidak mengenal pasangan mereka. Reva terlihat sangat senang dengan apa yang dilihat, pakaian yang dia selalu sediakan setiap tahun untuk pasangan kembar keluarga santoss namun setiap tahun hambar kerana dia belum menemukan pasangan kembar itu. "Airis kamu berdiri disebelah alex dan lessa sebelah steven untuk foto ya." ujar Reva dan menunjukkan disisi kiri dan kanannya. Alexander mengira gadis yang berada disebelah kanannya adalah Airis tapi tekaannya meleset setelah gadis itu melangkah kearah steven , Alexander menoleh ke satu lagi gadis yang hanya bersahaja berjalan kearahnya dengan malas seperti tiada semangat. Alexander mengeluh dia terlupa sikap gadis itu yang sukar diatur buktinya waktu memilih pakaian saja semuanya ditolak. setelah sesi memotong kek dan sesi foto selesai majlis disambung ke acara menari . steven berjalan kearah Herlenna . "yuk menari."ajak steven . Herlenna melihat huluran tangan steven. "menari aja sendiri! loe pikir aku mahu menari sama kamu!" marah Herlenna, dia sedang marah kerana dia terdengar kata - kata tiga gadis yang mengatainya. ' heran gue dengan ini cewek, sebentar lembut ,hati tisu ehh belum 24jam jadi galak kayak singa betina.' gumam hati steven. Dia tidak mungkin silap orang kerana waktu ini gadis itu membuka topengnya. 'Dari dulu ini cewek selalu aja aneh.'bentak hati steven. steven berjalan meninggalkan Herlenna yang masih merenung tajam kearahnya. Kerana kesiangan Herlessa tidak mengejutkan herlenna. jam sudah menunjukkan jam 12 siang herlenna masih tidur. TING TING.. Bunyi pesanan masuk membangunkan Herlenna , Herlenna meraih hapenya , dilihat ada sebelas panggilan dan tiga puluh lima pesanan. Herlenna melihat tiga pangilan dari Herlessa dan lapan panggilan dari nombor yang tidak dikenali. Herlenna membuka aplikasi WhatsApp pesanan dari Group teman - temannya , pesanan dari Herlessa dan pesanan dari nombor yang tidak diketahui. Herlenna membuka pesanan dari nombor yang tidak diketahui itu. [Lapor diri di kantor pukul lapan pagi ini] [Kamu masih berminat mahu kerja apa ngak?] [sudah satu jam dimana kamu?] [Hari pertama sudah telat!] [ Sudah dua jam kamu telat dimana kamu?] [DATANG KE KANTOR SAYA SEKARANG!] [AIRIS HERLENNA SANTOSS!] Herlenna melihat jam di dinding dengan segera Herlenna bergegas bersiap untuk ke kantor. setelah empat puluh lima minit kemudian herlenna tiba di kantor Alexander. Herlenna terus melangkah ke lift sebelah kanan untuk terus menuju ruang Alexander tetapi dia dihalang oleh pengawal. "Maaf anda tidak dibenarkan mengunakan lift ini, lift ini hanya untuk kegunaan tuan muda Alexander sahaja."ujar pengawal itu . "Tapi saya mahu ke ruang pak Alex. semalam saya mengunakan lift ini." jawab Herlenna dan mencuba untuk masuk tapi dia didorong oleh pengawal itu hingga terduduk. Herlenna mengigit bibir bawahnya, sejujurnya dia sedang menahan diri dari tidak menyerang. TING.. Bunyi pintu lift terbuka terlihat dua lelaki keluar dari lift itu. "Airis kenapa denganmu." ujar leo yang meluru kearah Herlenna dan membantu gadis itu berdiri. kerana Herlenna memakai sepatu tinggi kakinya terkilir saat dia jatuh tadi , wajahnya berkerut menahan sakit. "kenapa kamu bisa jatuh?" tanya leo setelah Herlenna sudah berdiri. "aku tidak dibenarkan naik oleh pengawal, aku cuba untuk naik lift tapi didorong oleh oleh dia makanya aku jatuh.!"ujar Herlenna dan menunjukkan pada pengawal itu. "Kamu tahu kesalahan apa yang telah kamu perbuat? kamu bisa kehilangan kerja jika tuan muda Alexander mengetahui ini!" ujar rafa yang sedari tadi hanya memerhati. dia dipanggil hanya untuk mencari Airis belum sempat rafa dan leo pergi mencari sudah ketemu. "kamu harus tahu dan ingatkan semua pengawal selain dari kami nona airis juga berhak mengunakan lift ini." ujar rafa lagi. pengawal itu menganggukan kepalanya tanda faham. "maafkan saya nona."ujar pengawal kepada Herlenna. Herlenna mengabaikan pengawal itu. leo memapah Herlenna kedalam lift, Herlenna melihat pakaian leo dan rafa dari atas kebawah mereka hanya memakai pakaian santai tidak seperti kelmarin. "tak usah menilai penampilan kami ini semua kerana kamu." ujar rafa tanpa melihat kearah Herlenna. TING.. Pintu lift terbuka, herlenna memegang erat bahu leo kerana kakinya terasa sangat sakit. Leo melirik kearah Alexander yang berada di mejanya ,mata pria itu terlihat mendung leo menjadi kaku dan terus melepaskan Herlenna menyebabkan herlenna jatuh terduduk. " Aduhhh apa - apaan aku itu sakit susah mahu jalan kenapa malah dilepas." Marah Herlenna yang masih duduk dilantai. Alexander melangkah kearah Herlenna , Baru sahaja herlenna mahu membuka mulutnya dia terasa badannya seperti terapung dengan mengejut herlenna memeluk tengkuk Alexander. Alexander meletakkan Herlenna diatas sofa di ruangannya. "Leo bagitahu Emelda hubungi Rean kemari."ujar Alexander , Leo menganggukkan kepalanya dan berlalu keluar , setelah beberapa minit Leo kembali dengan seorang wanita berbadan langsing ,wajahnya putih cantik tapi tidak seputih Herlenna. Wanita itu tersenyum melihat kearah Alexander dan Herlenna . " Ada apa kau memanggil ku alex?" tanya wanita itu dan melabuhkan pundaknya di tempat duduk. "Periksa kakinya serius apa tidak." ujar Alexander dan menunjuk kearah kaki Herlenna. wanita itu menyentuh kaki Herlenna, Herlenna menahan sakitnya. " Aku perbetulkan kamu tahan sedikit ya." ujar wanita itu, Herlenna mengangguk Dia melihat wanita itu senang memicit - micit kakinya dengan tiba - tiba kakinya seperti ditarik kuat dan terdengar seperti bunyi tulang patah secara tidak sengaja. "ARHHHHHHHHHH.." Teriak Alexander membuat kan semua memandangnya termasuk Herlenna, wajah lelaki itu memerah seperti sedang menahan sakit mata Herlenna beralih ke tangannya yang sedang mencengkam paha lelaki itu dengan cepat Herlenna melepaskan. "Untuk pertama kali aku mendengar seorang Alexander yang kejam menjerit kesakitan." ujar wanita itu dalam ketawa besarnya. Wajah Alexander terlihat mendung Leo dan Rafa merasakan suhu dingin di ruang besar itu tapi mereka juga tidak berani menahan Rean. Rean juga merupakan sahabat mereka keluarga Rean merupakan keluarga keempat terkaya dari keluarga-keluarga kaya di negara ini. walaupun Alexander orang yang paling terpandang di negara ini tapi tidak pernah dihiraukan oleh Rean dia akan selalu mengejek Alexander setiap ada peluang. "DIAMM!!"Marah Alexander matanya tajam merenung kearah rean dan menatap Herlenna. "Jangan marah - marah gitu alex, santai ajalah yang tahu cuma orang yang berada di ruang ini aja." ujar Rean lagi, Alexander menarik nafasnya dalam- dalam dan berlalu ke meja kantornya. Rean mengeluarkan pembalut dan obat setelah meletak obat Rean membalut kaki herlenna kerana balutannya tebal kasut yang herlenna pakai tidak muat lagi. "sudah selesai aku lihat dari kaki kamu, kamu ngak selalu memakai sepatu tinggikan. sepertinya kamu terbiasa memakai kasut. by the way aku Loreanly kamu bisa panggil aku rean aja."ujar Rean kepada Herlenna . "Terima kasih , nama ku Airis herlenna . panggil aja lenna tapi mereka semua memanggil ku airis." jawab Herlenna sambil tersenyum kearah Rean . Rean bangun dari duduknya berlalu ingin keluar bersama Leo dan rafa, rean berhenti dan berpaling kearah Herlenna . "aku lupa kasi tahu kamu, kaki mu akan membengkak jika kamu memaksa untuk berjalan jadi usahakan supaya kaki mu tidak digunakan untuk sementara waktu jika kamu ingin sembuh dengan cepat."Ujar rean kembali melangkah sebelum keluar rean menatap Alexander yang sedang merenung Herlenna dari tempatnya. "Alex Aku yakin dia orang yang kamu cari selama ini, aku juga yakin dia peri kecil mu dulu." ujar Rean lalu keluar dan menutup pintunya. "Kamu yakin Rean dia airisnya alex dulu?" tanya rafa dia berfikir Alexander terlampau ingin ketemu sama airis kecil hingga semua yang bernama airis adalah peri kecilnya dulu. "Aku ngak yakin seratus persen tapi hati aku mengatakan Alexander akan menyayanginya lebih dari dia menyayangi peri kecilnya dulu. Buktinya tadi alex tidak marah pahanya di cengkam airis." ujar Rean lagi. Disudut lain Emelda mendengar percakapan mereka , emelda mengepal tangannya. 'ini ngak akan terjadi bos hanya milikku!!' marah Emelda didalam hatinya. Herlenna berdiri dengan satu kaki dia melompat - lompat seperti kelinci sampai kehadapan Alexander. Alexander yang sibuk meneliti dokumen ditangan mengangkat wajahnya. Dahi nya berkerut melihat Herlenna yang sedang merenungnya seperti ingin menelannya hidup - hidup. "kamu kenapa airis?" tanya Alexander dari tadi herlenna merenungnya tanpa bicara membuatkan dia tidak bisa fokus bekerja. "Aku cuma mahu lihat pak Alex lagi sibuk apa tidak."ujar Herlenna tanpa reaksi. "Kamu mahu apa?" tanya Alexander dia tidak senang dengan pandangan yang diberikan oleh Herlenna itu. "Pak alex bagaimana dengan kerja ku?" tanya Herlenna matanya serius menatap wajah Alexander. " kerana kamu lambat hari ini jadi kamu mendapat dua pekerjaan disini."ujar Alexander wajahnya acuh tak acuh. "Dua pekerjaan ? maksud pak alex?" tanya Herlenna binggung. "kamu bisa bekerja di bahagian sekretaris dan kamu juga bekerja sebagai pembantu peribadi aku."ujar Alexander . "bapak alex itu mahu saya jadi pembantu peribadi bapak! emang bapak mahu dibunuh apa?"tanya Herlenna "kamu setuju atau tidak itu urusan mu, aku hanya mengikuti contract kita bahawa aku akan memberikan kamu pekerjaan disini." ujar Alexander , dia memandang herlenna sekilas kembali menatap laptopnya. "cukup satu kerja saja."ujar herlenna wajahnya sudah sedikit cemberut. "satu lagi kerja itu denda kerana kamu telat melapor diri hari ini."ujar Alexander tanpa menoleh kearah herlenna. Herlenna mendengus dan melompat kembali kearah sofa tadi , herlenna menunduk dan mengambil sepatu tingginya dan kembali melompat kearah lift . Alexander memerhati herlenna yang melompat seperti seekor arnab. "kamu mahu kemana ?" tanya Alexander. "pulang." balas herlenna tanpa menoleh kearah Alexander. Herlenna kembali melompat kearah pintu yang tadi digunakan teman - teman Alexander. belum sempat tangan Herlenna mahu membuka pintu badannya terasa terapung kerana takut jatuh untuk kali ketiga hari ini dengan cepat dia memeluk leher pria itu. "pak Alex apa-apaan ini." marah herlenna tangannya tetap memeluk erat leher Alexander yang kokoh itu. "mahu ngantar kamu pulang ." jawab Alexander lalu berbalik kearah lift khusus untuknya. "aku ngak mahu naik lift ini! aku mahu naik lift pekerja aja!" bentak Herlenna . Dia tidak mahu didorong lagi hanya kerana menaiki lift itu. "baiklah." jawab Alexander lalu beralih kearah pintu tadi kembali, sampai dihadapan meja diluar ruangannya seorang gadis lalu berdiri dengan wajah terkejut . "Emelda batalkan semua rapat hari ini." ujar Alexander lalu melangkah kearah lift pekerja. "Tapi bos semua rapat hari ini dari clien yang penting." ujar Emelda mengikut langkah Alexander dengan cemas. "jika mereka sulit untuk menunggu jadwal lain maka batalkan semua kerjasama dengan mereka."ujar Alexander. setelah pintu lift terbuka ada Alexander melangkah masuk kedalam lift itu. Ada beberapa staff didalam lift itu melihat dengan wajah tak percaya Bos mereka yang tidak pernah bergaul dan tidak pernah mengunakan lift pekerja berada disitu. suasana begitu sepi jika ad nyamuk disitu pasti hanya suara nyamuk yang kedengaran. Ting .. pintu lift terbuka di lobby kantor Alexander melangkah keluar dari lift pekerja dengan membopong Herlenna menarik semua perhatian staff. Mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Tuan maafkan saya." ujar seorang lelaki yang berada di hadapan receptionist kantor. Alexander hanya menoleh sekilas tanpa mempedulikan lelaki itu , di luar perusahaan mobilnya sudah tersedia. Alexander meletakkan Herlenna dibelakangnya sebelah penumpang dan dia naik di belakang pemandu. "ke jalan anggerik taman anggerik dua rumah nombor empat." ujar herlenna takut dia dibawa kemana - mana jadi dengan cepat dia memberi tahu alamatnya. "nanti sembuh baru kamu bisa mulai bekerja." ujar Alexander tanpa menoleh kearah herlenna matanya fokus pada laptop di depannya. Herlenna menundukkan kepalanya menandakan dia faham. Dalam perjalanan herlenna hanya fokus melihat jalan, Alexander tetap fokus pada kerjanya. Herlessa menyeka air mata dipipinya matanya terlihat memerah. Herlessa menatap wajahnya di cermin. "kenapa lagi dia marah-marah terus, emang salah aku apa?" marah herlessa. "Kerana sikap kamu yang ngak bisa sama setiap waktunya." jawab suara dibelakang herlessa. Herlessa berpaling kearah suara itu, matanya membulat kerana terkejut. "Tuan muda steven ngapain dalam toilet cewek." ujar Herlessa yang masih dalam keadaan terkejut "Cuma mahu melihat keadaan toilet apa perlu diperbaiki itu aja." jawab steven sambil berpura - pura mengamati sekeliling toilet wanita itu. "sejak kapan urusan renovasi perusahaan jadi tugas ceo emangnya ceo sudah ngak punya pekerjaan ya sekarang!"sindir Herlessa tanpa melihat kearah Steven. Herlessa melangkah kearah pintu keluar belum sempat sampai ke pintu tiba - tiba herlessa terduduk. "auuchhh" jerit Herlessa matanya yang sedia memerah kembali mengeluarkan air mata. 'kenapa lagi pakai mahu jatuh saat ini , depan steven lagi malu benar nie.' getus hati herlessa dalam tangisnya. "Lessa kamu ngak apa-apa ? apa ada yang sakit ? dimana sakitnya ? "tanya steven panik melihat esakan herlessa. Herlessa tidak menjawab pertanyaan steven, steven mendengar suara langkah kaki yang menghampiri kearah toilet dengan cepat steven mencempung badan herlessa dan masuk kedalam ruang toilet. Bunyi pintu dibuka dan langkah kaki yang memasuki ruang membuatkan Herlessa berhenti menangis dan memeluk leher Steven dengan erat takut dia terjatuh dan membuatkan mereka tertangkap. "aku senang deh lihat si Lessa dimarahi terus sama tuan muda steven, biar tahu rasa itu perempuan." ujar satu suara di luar "aku pada awalnya pikir tuan muda suka sama tu perempuan dilihat situasi hari ini kelihatan nya ngak mungkinkan." ujar salah satu suara lagi . "mana mungkin tuan suka sama cewek kampungan seperti dia , kampungan lagi ngak mungkin kali."ujar suara yang pertama tadi. "ya yang penting kita ngak perlu khawatir untuk nyuruh dia lembur untuk buat kerja -kerja kitakan." ujar suara kedua tadi. Herlessa melihat tangan steven yang mahu membuka pintu lalu dicegah oleh herlessa, Steven menoleh kearah herlessa dengan dahi yang berkerut, herlessa hanya mengelengkan kepalanya. jika ketahuan steven berada di toilet cewek pasti akan disangka lelaki ini orang m***m . bunyi suara itu menghilang steven mengintip di celah pintu setelah melihat keadaan sekeliling toilet steven menurunkan herlessa dan berjalan keluar meninggalkan herlessa sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN