Fuji langsung beringsut mundur disaat aku mendekat kearah Dhaffin dan aku hampir saja menghentakan Fuji ke samping dengan kasar. Si bodoh itu. “Hei..” ucapku singkat, tanpa bisa melepaskan padanganku darinya. “Hei..” balas Dhaffin pula, yang anehnya kata itu saja yang bisa keluar dari mulutnya. Aku tersenyum simpul, sepertinya itu cukup untuk membuat hatinya lega. Rasanya semua ini kembali terobati. Kembali kepada jalur yang seharusnya tidak menyakiti kami masing-masing. Aku kembali padanyam menjadi pelindungnya. “Anggap saja aku tidak pernah ada~” bisik Fuji yang sudah berada di balik pintu dan menutup pintunya kemudian. Kini tinggal kami berdua didalam ruangan ini, aku dan Dhaffin. Kutatap wajahnya yang tersembunyi dibalik selimut. Entah alasan apa dia menutupi wajahnya seperti itu.

