Ethan—Freya’s Second Boss

1257 Kata
“Bos lo gimana, Frey? Cakep nggak?” tanya Tamanna sambil mengunyah snack kentang di tangannya. Freya fokus menonton televisi tidak merespon pertanyaan Tamanna. “Frey!” panggil Tamanna tepat di telinga Freya. “Apaan sih? Teriak-teriak segala.” Freya mengusap telinganya. “Gue nanya, lo nya malah bengong kayak sapi ompong.” “Nanya apa?” Freya merebut bungkusan snack dari tangan Tamanna. “Bos lo cakep nggak?” Tamanna mengambil tisu basah di atas meja untuk membersihkan tangannya yang penuh remah snack. “Hmm ….” Freya mengunyah sambil pura-pura berpikir. “Alah, paling juga lo jawabnya lebih cakep David kemana-mana,” sindir Tamanna yang tahu betul kalau Freya menyukai David sejak dia menjadi karyawan baru di Xander Company. “Nah, itu. Lo tau sendiri ‘kan.” Freya memamerkan giginya yang rapi. “Tapi beneran, kalau misal David nggak ada di muka bumi ini. Bos lo gimana, cakep nggak? Atau jangan-jangan udah tuwir?” “Ngaco. Umurnya masih 30-tahunan. Gue rasa … Pak Ethan cakep juga sih.” “Terus, terus. Dia dingin atau galak gitu nggak sama lo?” Zhafira yang mendengar pembicaraan mereka ikut nimbrung setelah mengambil tiga kaleng soda yang diambilnya dari kulkas Freya. “Orangnya baik,” kata Freya sambil memasukkan snack kentang ke mulut untuk yang kesekian kali. “Kok baik? Yang dingin, galak dan misterius gitu dong ‘kan lebih seksi,” protes Zhafira karena tidak sesuai dengan ekspektasinya. “Ini anak kebanyakan baca bacaan CEO-mafia nih pasti. Bos baik tuh rejeki, bikin kerja jadi tenang dan nyaman,” ucap Freya. “Sebenarnya bos lo yang mana sih? David atau si Ethan ini?” Tamanna membuka kaleng soda lalu meneguknya. Freya mengangkat bahu, “Gue masih digaji di Xander, tapi di Kumbolo ini gue juga udah tanda tangan offering letter kemarin. Jadi ya dua-duanya bos gue, mereka kasih penghasilan ke gue.” “Iri deh gue sama lo. Dua-duanya cakep dan pemilik perusahaan. Tinggal lo pilih aja itu salah satu dari mereka,” ujar Tamanna dan disetujui oleh Zhafira dengan anggukan. “Tinggal pilih dari Hongkong. Mana ada buruh pacaran sama Bos,” decak Freya. “Kalau beneran bisa pacaran sama salah satu gimana?” tanya Zhafira memancing. “Traktir kita di Akira tiga kali,” kata Tamanna menyebut salah satu restoran makanan Jepang. “Oke, deal!” Freya dengan tenangnya menyalami tangan Tamanna dan menyepakati taruhan mereka. Freya yang sudah resmi lulus tes, kini menjalani pekerjaan di Kumbolo Amarta sebagai sekretaris Direktur Utama. Lebih tepatnya sekretaris Ethan. Ethan masih terlalu muda untuk menduduki jabatan eksekutif, tapi mau tak mau dia harus melakukannya karena Aji Gautama—Papa Ethan yang dulu menjabat sebagai President Director—meninggal dunia akibat serangan jantung. “Mana Freya?” tanya Ethan ketika dia datang dan berjalan menuju pintu ruangan tapi tidak mendapati Freya duduk di meja sekretaris. “Tadi saya lihat, Freya jalan ke factory, Pak,” jawab seorang wanita yang menjabat sebagai Manager Marketing. “Kenapa dia ke factory?” gumam Ethan sambil menuju meja kerja. Satu jam kemudian Freya sudah kembali ke mejanya, Ethan dapat melihat Freya dari dalam kantor karena terdapat kaca yang mengarah langsung ke meja sekretaris yang terletak di seberang pintu ruangan Direktur Utama. Dia memanggil gadis itu melalui telepon. “Ada apa, Pak Ethan?” tanya Freya setelah menutup pintu ruangan. “Dari mana kamu?” tanya Ethan tanpa mengangkat kepala karena masih sibuk membaca dokumen di mejanya. “Saya dari factory, Pak. Mengantar peralatan tulis untuk kan—“ “Kamu bisa minta tolong ke OB. Pekerjaanmu masih banyak di sini. Jangan tiba-tiba meninggalkan meja kerja tanpa sepengetahuan saya,” potong Ethan walaupun nada bicaranya tidak meninggi tapi terdengar dingin. “Ba-baik, Pak. Saya minta maaf.” Ethan mengembuskan napas pelan tapi cukup didengar oleh Freya yang berdiri dua meter di depannya. Dari gelagatnya, Ethan sedang tidak dalam mood yang baik hari ini. “Baca dokumen-dokumen itu, kalau perlu hafalkan, besok presentasikan di depan saya.” Ethan menunjuk setumpuk ordner hitam di atas meja yang terletak di tengah ruangan danbiasanya digunakan untuk berdiskusi dengan relasi. “Baik, Pak.” Freya segera mengambil lima ordner tebal sesuai perintah Ethan lalu berdiri dengan kesulitan karena sepatunya yang tinggi. “Mau kemana?” tanya Ethan menatap Freya. “Kembali ke meja saya, Pak. Membaca dokumen ini,” jawab Freya sambil menyembulkan kepala dari balik tumpukan ordner di tangannya. “Duduk. Kamu baca di sini, biar nggak berkeliaran kemana-mana lagi.” Ethan menunjuk sofa di seberang meja dengan dagu. “Memangnya gue ayam, dibilang berkeliaran,” gumam Freya pelan sambil meletakkan kembali ordner di meja. “Apa, Frey?” tanya Ethan yang mendengar Freya tengah menggerutu. “Eh-eh. Nggak ada, Pak. Saya nggak bicara apa-apa kok. Ini saya mau baca.” Freya mengangkat salah satu ordner tebal sebagai isyarat bahwa dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Ethan. “Oh ya, sambil baca, kamu susun agenda meeting besok dengan Direktur Cabang. Last meeting kita sedang membahas trial produk baru jadi mungkin besok kesepakatan waktu trial, sekaligus kenaikan gaji karyawan. Sisanya kamu susun sendiri, kamu lihat di notulensi rapat yang lalu,” jelas Ethan panjang lebar. “Jadi saya harus baca semua dokumen ini sambil baca notulensi rapat yang sebelumnya, Pak?” “Dan mempersiapkan presentasi hasil kamu membaca dokumen itu,” tambah Ethan menunjuk ordner hitam yang dipegang Freya sekali lagi. “Hah? Bagaimana saya bisa mengerjakan semuanya sekaligus, Pak?” protes Freya dengan alis menyatu. “Kenapa nggak bisa? Kamu masih punya waktu lebih dari 12 jam hari ini. Atau saya saja yang menggantikan kamu sebagai sekretaris?” sindir Ethan. “Bukan begitu. Iya, baik, Pak. Akan saya laksanakan semua perintah Bapak hari ini.” Freya melengos sambil mengangkat ordner setinggi kepala agar menutupi wajahnya. “Freya, turunkan ordnernya. Saya tidak tahu kamu sedang mengumpat atau menggerutu dibalik map itu.” Freya menurunkan map hitam itu hingga wajahnya terlihat lagi, lalu memaksa senyum kepada si bos. “Saya sedang membaca, Pak. Bukan mengumpat atau menyumpahi Bapak.” “Bagus. Sudah, taruh saja di meja. Kamu juga masih bisa baca ‘kan dengan jarak segitu? Saya tidak mau disumpahi oleh sekretaris saya apalagi kamu kalau mengumpat terdengar mengerikan, Frey,” ucap Ethan. Freya mengerutkan dahi, memandang bosnya yang kembali sibuk menekuri kertas-kertas di atas meja kerja. “Dari mana dia tahu kalau aku ini ratu mengumpat?” batin Freya. “Baca, Frey. Baca. Jangan melihat ke arah saya terus,” tegur Ethan lagi. “Ba-baik, Pak.” Freya kembali membalik halaman berikutnya. Setumpuk dokumen di dalam ordner itu ternyata Work Instruction dan Standart Operational Procedure untuk sekretaris eksekutif. Pantas saja, Ethan menyuruh dia membaca semua bahkan menghafalnya karena itu memang penting untuk Freya yang awam dengan pekerjaan sekretaris. Freya jadi teringat ketika interview kemarin, saat Ethan menanyakan sesuatu yang disebutnya pertanyaan klise. “Bisa jelaskan kepada saya, apa saja tugas dari seorang sekretaris?” “Mengetik, mencetak, dan fotokopi, Pak.” Lalu Ethan mengerutkan dahi sambil menatap Freya tajam. “Kamu yakin dapat menguasai bidang pekerjaan ini?” “Saya sangat yakin, Pak. Boleh dibilang bahwa sejauh ini saya good learn, mudah untuk mempelajari sesuatu yang baru. Jika saya diberi kesempatan, maka saya akan bekerja dengan baik sesuai instruksi Bapak,” jawab Freya dengan mantap. “Baik, kamu diterima di Kumbolo Amarta sebagai sekretaris,” ucap Ethan, kemudian dia berdiri dan menyalami Freya yang masih duduk. Freya membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Jawaban bodoh bermodal tekad membawanya ke sisi Ethan, ini jelas bukan adegan novel yang sering dibaca oleh Zhafira. *** to be continued ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN