Mami Si Bos

1415 Kata
“Bagaimana Freya? Kamu sudah mendapat info apa sejauh ini?” tanya David di seberang telepon. Freya yang tadinya tengah duduk di meja kerja segera menuju toilet untuk menjawab telepon David yang membuatnya terkejut. “Bapak David yang terhormat. Saya baru di Kumbolo empat hari jadi saya sedang proses adaptasi, Pak. Lagi pula kalau saya ke factory juga perlu alasan karena tempat kerja saya di head office,” jawab Freya sambil berbisik. David tertawa mendengar Freya berbicara dengan menggunakan embel-embel ‘bapak David yang terhormat’. “Ah begitu, ya sudah jangan terlalu lama adaptasinya, Freya. Aku menunggu kamu kembali ke Xander,” ucap David kemudian menutup telepon. “Nunggu gue? Nunggu formula dari gue kali maksudnya,” decak Freya pelan. Beberapa pegawai masuk ke toilet wanita sambil menggosip. Freya mengurungkan niatnya keluar dari bilik toilet, dia memilih duduk di atas kloset sambil mendengarkan percakapan mereka. “Gila, gaji kita nggak naik lagi coba. Gue jadi pengen resign aja kalau begini,” ucap si wanita pertama yang menggunakan celana panjang berwarna hitam model terompet dengan atasan blouse putih. Dia berhenti di depan kaca lalu mengeluarkan bedak. “Sejak Pak Aji nggak ada dan digantikan Ethan, kayaknya makin kacau nih perusahaan,” kata si wanita kedua yang mencuci muka. Dia menggunakan rok span polos berwarna mocca dipadukan dengan kemeja berwarna putih dengan aksen bordir bunga kecil memanjang di bagian tengah. “Idih, kalian bilang kacau tapi demen juga sama si bos,” sahut wanita ketiga dengan keras dari bilik toilet di samping Freya. “Eeh, kalau itu beda cerita ya. Demen sama si bos mah urusan hati. Kalau perusahaan ya soal pekerjaan yang kasih kita penghasilan,” jawab si wanita kedua menggebu-gebu. “Ethan udah punya tunangan kali, sepertinya nggak bakal bisa dipepet tuh,” ujar wanita ketiga. Freya belum mengenal semua karyawan yang bekerja di head office, dia terpaksa menamai mereka dengan wanita pertama hingga ketiga berdasarkan suara mereka. “Eh kalau gue lihat sih ya, tunangan mereka kayak dipaksa gitu deh. Maminya Ethan aja yang suka bawa tunangannya ke kantor. Selain itu mana pernah si mbak dateng ke sini sendiri,” kata wanita pertama. “Jadi, bisa dong kalau gue modusin si bos.” Suara wanita kedua terdengar centil. Sepertinya dia benar-benar menyukai Ethan. Sama seperti Freya yang menyukai David. “Eh, tapi temen Ethan yang pernah ke kantor juga cakep banget bo’. Nggak kalah cakep sama bos, sampe sekantor heboh pengen lihat doi langsung,” ucap wanita ketiga yang sudah keluar dari bilik dan sedang merapikan rambut sebahunya. “Yang mana sih?” tanya wanita kedua penasaran. “Oh waktu itu lo nggak masuk, Car. Jadi temen si bos ini juga punya perusahaan—“ wanita pertama tidak melanjutkan pembicaraan karena ponselnya berdering. “Halo … Saya di toilet, Pak … Oh iya, Pak, ada di laci meja saya … Sebentar, saya kembali ke ruangan sekarang, Pak,” kata wanita pertama menjawab telepon. “Gue dicari manager nih, balik yuk,” ajak si wanita pertama. “Yaudah yuk, gue juga pengen bikin kopi. Ngantuk berat,” sahut wanita kedua. “Lo habis ngapain semalem?” celetuk wanita ketiga. “Yah, ketahuan. Ethan ke kosan gue, ngajak main,” jawab wanita kedua sambil tebahak dan diikuti tawa dari kedua temannya. Sepeninggal ketiga wanita itu, Freya kembali ke meja kerjanya. “Ethan ke kosan, ngajak main,” Freya menirukan omongan si wanita kedua tadi, lalu dia terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Saya kenapa, Frey?” Sebuah suara di belakang Freya membuatnya melompat saking terkejutnya. “Astaga, Bapak! Kalau sedang berjalan di belakang saya tolong buat suara, Pak!” marah Freya karena dia masih kaget. Ethan memang menyuruh Freya menggunakan ‘bahasa teman’ agar hubungan dan komunikasi antar bos dengan sekretarisnya tidak terlalu kaku. “Nah, kenapa sekarang kamu marah? Tadi cekikikan sendiri sambil sebut nama saya, makanya saya tanya ke kamu,” jawab Ethan tenang lalu berjalan di depan Freya. “Eh—eh. Bapak dengar omongan saya tadi?” Freya tergopoh berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Ethan tapi karena langkah Ethan yang terlalu lebar dan kaki Freya yang kecil, akhirnya dia hanya mampu berjalan di belakang si bos. “Saya punya dua telinga dan masih berfungsi dengan sangat baik lho, Freya. Seharusnya kamu bersyukur saya tidak tuli,” ucap Ethan tanpa menoleh. “Nggak ada apa-apa, Pak. Sumpah. Saya cuma mau minta tanda tangan Bapak karena tadi accounting manager titip surat tagihan ke saya.” “Beneran cuma mau minta tanda tangan saya saja? Nggak ada yang lain?” “Kalau boleh sih, saya mau minta formula, Pak,” gumam Freya tidak jelas. “Apa, Frey?” tanya Ethan yang tiba-tiba berbalik menghadap Freya. Freya yang sedang menundukkan kepala, tidak melihat gerakah Ethan membalikkan badan sehingga dahinya terbentur d**a bidang Ethan yang dibalut kemeja berwarna cokelat muda dengan motif garis-garis tipis. “Aduh! Bapak dari tadi bikin saya kaget, kalau saya punya riwayat penyakit jantung bagaimana? Bisa pingsan guling-guling saya,” keluh Freya sambil mengusap dahi. Ethan tertawa. “Kamu ini harusnya jadi pelawak saja, Frey. Bukan jadi sekretaris.” “Mana ada orang cantik begini jadi pelawak, Pak?” “Iya juga ya.” Ethan membuka pintu ruangannya. “Frey, bawa ke dalam surat-surat yang perlu saya tanda tangani sekalian kamu presentasi hasil baca WI dan SOP kemarin,” lanjutnya sebelum menutup pintu dari dalam. “Baik, Pak.” Freya segera membereskan kertas-kertas di atas mejanya yang penuh barang dan becampur aduk. Freya belum benar-benar menerapkan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) untuk menunjang efektifitas kerja. Jika Ethan tahu Freya tidak me-manage dokumen dengan baik, pasti dia akan mengomel panjang lebar. Di tengah Freya presentasi, seorang wanita paruh baya dengan dress hitam berwajah oriental masuk ke ruangan Ethan diikuti wanita muda berambut panjang hingga menyentuh pinggangnya yang ramping, tampak anggun walaupun ini baru kali pertama Freya melihatnya. “Hai Ethan, tadi Mami lagi jalan-jalan sama Gretha jadi mampir sekalian ke kantor,” ucap wanita paruh baya yang ternayta adalah Mami Ethan. Ethan yang sejak tadi duduk hanya menoleh sekilas ke arah pintu lalu kembali membalikkan kertas-kertas di tangannya. Freya yang terpaksa menghentikan presentasinya, menyapa Sophia—Mami Ethan—dengan canggung. Dia menyunggingkan senyum sambil sedikit membungkukkan badan. Dia mundur perlahan untuk mencapai pintu. “Ethan, ada Gretha. Kamu tidak menyapa Mami dan Gretha sama sekali?” ucap Sophia dengan meninggikan suara. Ethan memandang kedua wanita itu lagi lalu berdiri dan memeluk mereka satu per satu. “Ethan lagi kerja, Mi.” Ethan duduk di sofa tamu. Sophia dan Gretha sudah duduk tanpa dipersilakan. Gretha juga sempat menyapa Freya dan benar dugaan Freya, wanita muda itu adalah tunangan Ethan. Freya masih berusaha mencapai pintu dengan langkah mundurnya perlahan seolah dia adalah sedang berada di lokasi musuh dan berusaha melarikan diri. “Apa salahnya jika Gretha ingin menemui tunangannya yang super sibuk ini hingga tidak bisa mengajaknya makan malam walau sebentar?” Sophia menyilangkan kaki. “Eh, Mbak. Buatkan tiga twinings untuk kami ya.” Tiba-tiba Sophia berbicara sambil menatap Freya yang sudah hampir satu meter dari pintu. “Dia sekretarisku, Mi. Biar OB saja yang buatkan,” potong Ethan sebelum Freya menjawab. “Bukannya itu memang tugas sekretaris ya? Biar Mbak itu saja yang buat.” “Namanya Freya, Mi,” sahut Ethan. “Baik, Bu. Kalau begitu saya buatkan dulu,” ucap Freya menengahi karena tidak enak mendengar pertengakran kecil ibu dan anak itu. “Freya, duduk kembali di meja kerjamu. Telepon OB suruh dia buatkan teh untuk Mami dan Gretha,” suruh Ethan. “Mami nggak mau kalau OB yang buatkan.” Sophia melipat lengannya di depan d**a. Freya semakin bingung, melirik ke kanan dan ke kiri. Bimbang, harus menuruti kemauan siapa. “Oke. Ethan yang buatkan.” “Ya ampun, kamu itu bos, Ethan. Kamu punya banyak bawahan untuk apa kalau tidak untuk disuruh,” ucap Sophia. Ethan tidak menyahut, dia berdiri dan akan melangkah menuju pintu. Freya tidak berani mengeluarkan suara. Gretha juga diam saja melihat keduanya. “Oke, oke. Biar OB yang buatkan. Cuma masalah sepele, kenapa harus diperdebatkan sih.” Sophia memandang putranya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Nah itu, Mami tahu. Ini masalah kecil kenapa harus diperbesar sama Mami?” Ethan duduk kembali di kursinya. “Frey, tolong telepon OB, dan kamu kembali ke meja kerjamu,” katanya dengan menatap Freya yang masih terpaku di dekat pintu. “Ba-baik, Pak.” Freya keluar ruangan sambil mengelus d**a. “Semoga setahun sekali aja, ya Tuhan, Maminya bos ke kantor,” gumam Freya meraih gagang telepon. *** to be continued ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN