Part 1 - Lamaran
Menikah tanpa dilandasi rasa cinta ibarat raga tanpa nyawa. Hampa! Orang bilang bahwa cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu juga kebersamaan dengan pasangan. Nyatanya, hal itu tidak berlaku bagiku. Tidak ada sedikit pun rasa cinta yang tercurah dari hati Mas Aldo, suamiku.
Memang benar jika menikah tanpa cinta itu lebih buruk daripada pernikahan tanpa restu. Terlebih, jika salah satunya menutup hati rapat-rapat hingga tidak ada celah bagi pasangannya untuk menerobos masuk.
Hati Mas Aldo sekeras batu, begitu pun dengan wataknya. Lelaki itu sangat cocok dijuluki kulkas berjalan sebab terlihat dingin dan angkuh. Sejak menikah denganku lima bulan lalu, perubahannya sangat kentara. Dia yang mulanya manis saat datang melamar bersama orang tuanya, kini mendadak dingin setelah ijab qabul terucap. Entah apa yang merasuki hati suamiku itu.
"Tenang saja, Nduk. Pacaran setelah menikah itu indah, kok."
Aku masih teringat jelas dengan ucapan Ibu waktu itu. Setelah keluarga Mas Aldo pulang, beliau memberi wejangan bermacam-macam, salah satunya tentang nikmatnya pacaran setelah halal. Sebenarnya, aku sendiri ragu dengan keputusan yang telah kuambil sebab kami tidak saling mengenal sebelumnya. Bisa dibilang bahwa hubungan kami berawal dari perjodohan.
"Jadi, gimana? Kamu mau, kan, nerima lamaran Nak Aldo?" tanya Ibu setelah melihatku termenung cukup lama.
"Nggak tahu, Bu. Tania belum yakin. Mungkin, Tania butuh waktu," jawabku singkat.
"Apa yang membebani pikiranmu itu, Nduk? Pak Bandi itu keluarga berada, anaknya pun lulusan perguruan tinggi. Hidupmu pasti terjamin setelah menikah dengannya, Nduk," tutur Ibu mencoba merayu.
"Huft!" Aku menghela napas berat, kemudian menatap lekat wajah wanita yang mulai keriput itu. "Menikah tanpa rasa cinta itu sulit, Bu. Terlebih, nggak ada kenyamanan di antara kita. Tania takut jika hanya memiliki raganya, tapi tidak dengan hatinya."
Mendengar penuturanku, wajah wanita setengah baya itu berubah. Wajah yang tadinya penuh harap, kini perlahan murung seolah ada kekecewaan yang menjalar di hatinya. Maafkan anakmu, Bu. Bukan maksudku untuk mengecewakanmu, hanya saja … berat sekali rasanya jika terjebak dalam hubungan tanpa cinta.
"Ya sudah, Nduk. Kamu pikirkan lagi baik-baik. Pak Bandi menunggu jawabanmu," ucap Ibu, kemudian berlalu pergi.
Seketika pikiran dan hati saling beradu, berusaha meyakinkan dengan logika masing-masing. Pikiran berkata "ya". Terlebih, hingga usiaku menginjak 23 tahun, aku belum memiliki pasangan. Namun, hati ini berkata "tidak". Takut jika nanti kenyataan tidak sesuai harapan.
"Nduk …."
Aku tersadar ketika seseorang menyentuh pundakku pelan. Ternyata itu Bapak, laki-laki yang selama ini berjuang menafkahiku mati-matian.
"Iya, Pak?"
"Bapak mau bicara sebentar." Lelaki itu duduk di sebelahku, kemudian menatap lekat bola mata ini. Aku mengangguk pelan sebagai tanda mengiyakan.
"Pak Bandi itu orang baik, Nduk. Bapak tahu betul latar belakang keluarga beliau. Insya Allah, Bapak tidak salah memberi restu," ucapnya memulai pembicaraan.
Aku yang mengerti arah pembicaraan Bapak, perlahan tersenyum tipis. Aku tahu betul bahwa lelaki itu sedang berusaha meyakinkan diriku untuk menerima lamaran Mas Aldo.
"Hmm … baiklah. Jadi, Bapak menginginkan Tania menerima lamaran anak Pak Bandi, kan?" tanyaku to the point.
"Bapak tidak memaksa, hanya memberi tahu agar kamu lebih yakin saat mengambil keputusan, Nduk." Usapan tangan lelaki itu terasa lembut saat menyentuh puncak kepalaku.
Aku menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Baiklah, Pak. Demi Bapak dan Ibu, Tania mau menerima lamaran anaknya Pak Bandi. Kebahagiaan kalian yang utama, Pak."
Meski berat, akhirnya diriku menerima lamaran Mas Aldo. Tidak mudah rasanya ketika harus berperang dengan ego, tetapi hati ini mendadak luluh saat melihat guratan penuh harap yang terpancar di wajah Bapak, lelaki berusia 45 tahun yang sampai saat ini masih berjuang keras menafkahi keluarga kecilnya.
"Benarkah kamu menerima lamaran anaknya Pak Bandi, Nduk?" tanyanya memastikan.
Aku mengangguk mantap. "Iya, Pak. Tania bersedia menerima lamaran itu."
Sepersekian detik setelahnya, Bapak pamit ke dalam untuk memberi tahu kabar bahagia ini kepada Ibu. Tidak berapa lama, wanita setengah baya itu keluar dengan mata berbinar, diikuti oleh Bapak yang mengekor di belakang.
"Terima kasih, Nduk. Kami hanya berusaha memberikan yang terbaik untukmu." Ibu berucap sambil memeluk erat tubuhku. Tiba-tiba, cairan bening membasahi pundak ini.
"Sudah, jangan menangis lagi, Bu. Tania sudah menuruti ucapan Bapak dan Ibu."
Tiba-tiba, Bapak mengeluarkan ponsel jadul warna putih miliknya. Dengan ekspresi semringah, beliau mengoperasikan ponselnya seperti sedang menelepon seseorang. Ia menempelkan ponsel itu di telinga, lalu mondar-mandir untuk menunggu jawaban dari seberang.
"Assalamualaikum, Pak Bandi." Bapak berucap dengan suara sedang, ekspresinya tampak semringah.
"...."
"Begini, Pak. Tania sudah memberi jawaban, dia bersedia menerima lamaran Nak Aldo," ucap Bapak dengan antusias.
"...."
"Apa? Minggu depan? Baiklah, Pak. Kami tunggu kehadiran Bapak ke sini. Assalamualaikum."
Lelaki yang sedari tadi mondar-mandir, perlahan berjalan ke arah kami. Tampak gurat kebahagiaan yang terpancar di wajah Bapak. Beliau menatap aku dan Ibu bergantian.
"Keluarga Pak Bandi akan ke sini minggu depan, katanya mau membicarakan tentang pernikahan anaknya dengan Tania," ujar Bapak dengan raut bahagia.
"Oh, gitu." Aku hanya menjawab singkat, tidak terlalu tertarik dengan berita yang dibawa oleh Bapak.
Sejujurnya, hati ini masih dilema. Tidak tahu harus bagaimana lagi. Berat rasanya mengikhlaskan kebebasan hati untuk mencari cinta sendiri dan lebih memilih dipersunting oleh laki-laki asing. Akankah diriku sanggup mengarungi waktu bersama lelaki itu?
Aku tersenyum getir, berusaha menutupi perasaan ini dari Bapak dan Ibu. Bagiku, kebahagiaan merekalah yang utama.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini keluarga Pak Bandi akan datang. Semua persiapan mulai jamuan hingga jajanan untuk keluarga mereka sudah dipersiapkan sejak pagi tadi. Katanya, Pak Bandi sekeluarga akan datang pukul empat sore.
"Ayo, Nduk, bantuin Ibu masak. Ini, iris-iris timun dan wortelnya." Wanita paruh baya itu menghampiriku yang sedang duduk di ruang tamu sambil menyodorkan plastik berisi wortel dan mentimun. "Sebentar, Ibu ambilkan pisaunya dulu," sambungnya.
Aku hanya menatap kosong kantung plastik itu. Rasanya tidak ada gairah sama sekali. Hati masih dilanda dilema, benarkah diriku ini akan menikah dengan lelaki asing kelak?
"Lho … jangan ngelamun, toh. Ini, loh, iris-iris wortelnya. Semua hidangannya belum matang, Nduk. Masih banyak yang harus dikerjakan," tuturnya seraya menyodorkan dua buah pisau padaku, kemudian kuletakkan lagi di atas meja.
Aku hanya mengangguk pasrah, tidak menjawab ucapan Ibu sama sekali. Beliau berlalu begitu saja tanpa menatap ekspresiku yang datar. Mungkin Ibu benar-benar tidak tahu atau sengaja tidak peduli tentang perasaanku.
Pisau yang tadi kuletakkan di atas meja, kini aku ambil kembali. Pertama, aku mengambil pisau datar, kemudian menggunakannya untuk mengupas kulit wortel dan mentimun. Setelah semua kulitnya terkupas, aku mulai mengambil pisau bergerigi, kemudian memotong mentimun dan wortel dengan bentuk persegi panjang, khas dengan bentuk acar yang disiram bumbu kuning.
Aku memotong bagian-bagian mentimun dengan telaten. Tidak berapa lama, Ibu menghampiriku dengan membawa sepanci beras.
"Nduk, setelah selesai potong acar, nanti langsung cuci berasnya, ya. Ibu mau bikin bumbu rames dulu," ujarnya dengan menaruh sepanci beras yang sedari tadi dibawa.
"Iya, Bu." Aku menatap Ibu singkat, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain agar beliau tidak curiga dengan perasaan bimbang yang aku rasakan.
Sama seperti tadi, beliau langsung pergi tanpa bertanya atau sekadar basa-basi padaku. Ya, mungkin memang takdirku menemukan pasangan dengan cara seperti ini.
***
Aku melihat Bapak sudah berpakaian rapi, memakai kemeja batik dan celana hitam serta peci di kepalanya. Wajah Bapak tampak berseri, menggelar permadani di ruang tamu rumah kami. Selesai menggelar permadani, lelaki itu duduk di teras rumah sambil menyalakan sepuntung rokok di tangan kanannya. Tidak berapa lama, ada seorang tetangga yang menghampiri Bapak.
"Lho, Pak Najib, ada acara apa ini? Kok, kayaknya mau ada acara besar," ucap Pak Hasan, tetangga sebelah kanan rumah kami.
"Eh, iya. Ini, loh, Tania mau dilamar orang, Pak," jawab Bapak setelah mengisap puntung rokoknya.
"Lho, iyakah? Kok, nggak ada woro-woro, Pak? Tahu gitu, kan, saya bisa bantuin, Pak Najib."
"Ah, nggak perlu repot-repot, Pak. Lha wong acaranya sederhana, kok. Nggak banyak tamu kayak acara lamaran biasanya," jawab Bapak.
"Oh, ya sudah kalau gitu, Pak. Saya pamit pulang dulu, ya. Kalau perlu apa-apa, langsung ke rumah saya saja, Pak."
"Baik, matur nuwun, Pak Hasan."
Tidak berjarak lama, terdengar suara rombongan mengucap salam. Bapak buru-buru mematikan puntung rokoknya, kemudian menyalami tamu satu per satu. Tidak lupa dirinya menyungging senyum ramah kepada para tamu.
"Nggih, silakan masuk." Bapak berucap seraya menyalami tamu satu per satu.
Aku yang sedari tadi duduk di ruang tamu langsung berdiri sambil menyalami mereka. Kepada orang yang lebih tua, aku menciumnya takzim. Tamu yang datang berjumlah delapan orang. Ada Pak Bandi beserta istri, Mas Aldo dan beberapa orang lain yang tidak pernah kutemui sebelumnya. Sejurus kemudian, aku menghampiri Ibu yang masih bersiap-siap di kamar. Tidak berapa lama, beliau keluar dan menyalami para tamu. Setelahnya, semua orang duduk di posisinya masing-masing.
Memang dasarnya diriku pemalu, sedari tadi aku hanya menunduk, tidak berani menatap para tamu yang hadir. Sekilas kudengar beberapa dari mereka berbisik, ada pula yang memuji penampilanku.
"Ini, toh, calon istrinya Aldo? Cantik, kok, kalem pula. Cocok sama Aldo yang sedingin kulkas," celetuk seorang wanita yang kuperkirakan duduk tepat di hadapanku.
"Iya, anaknya nggak neko-neko. Masih polos." Wanita yang kuperkirakan Bu Bandi menimpali.
Kali ini, penampilanku sangat biasa. Aku hanya mengenakan gamis berwarna nude dengan jilbab senada. Bahkan, jilbabnya pun aku pakai dengan simpel dan menutup d**a. Untuk riasan, aku hanya memakai bedak dan mengoleskan lipcream nude secara tipis. Terkesan simpel, tidak seperti kebanyakan orang yang rela membayar jasa MUA—make up artist—demi mempercantik penampilannya.
"Sudah siap, Nduk?" Ibu berbisik pelan di telingaku, spontan aku menatap ke arah beliau.
"Insya Allah, siap." Aku menjawab lirih.
Tanpa diduga, mendadak diri ini menjadi pusat perhatian sebab pandangan para tamu tertuju ke arahku. Kulihat istri Pak Bandi tersenyum penuh harap, kemudian memberi kode pada suaminya untuk membuka pembicaraan.
"Baiklah … untuk mempersingkat waktu, saya akan menjelaskan tujuan kami kemari. Pak Najib beserta istri, seperti yang saya katakan sebelumnya, tujuan kami kemari untuk meresmikan ikatan pertunangan antara Aldo dengan Tania. Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada Nak Tania karena menerima lamaran putra kami." Pak Bandi mulai membuka pembicaraan.
"Baik, Pak. Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya Tania bersedia menerima lamaran Nak Aldo. Iya, kan?" Bapak menimpali, kemudian menatap ke arahku.
"I-iya, Pak." Aku menjawab dengan gugup.
Satu per satu tahapan telah usai. Kini, waktunya menyematkan cincin di jari manis masing-masing. Aku tidak tahu kalau keluarga Pak Bandi juga menyiapkan cincin tunangan untuk aku dan Mas Aldo. Terpaksa aku menurut tatkala tangan kiri Mas Aldo menyentuh telapak tanganku.
Perlahan, tetapi pasti. Sebuah cincin emas dengan hiasan berbentuk love di atasnya telah tersemat di jari manisku. Setelahnya, aku disuruh menyematkan cincin emas polos di jari manis Mas Aldo juga. Hatiku berdebar tidak karuan, ada getaran aneh yang menjalar di setiap inci tubuh ini. Ah, perasaan apa ini?
Tepukan tangan dan ucapan hamdalah terdengar riuh di telinga. Aku mulai berani menatap mata lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suamiku. Sorot mata itu terlihat dingin, tetapi dihiasi senyum tipis di bibirnya yang seolah dipaksakan. Aku mendadak waswas, bingung dengan sambutan sikap dari Mas Aldo.
Sepersekian detik setelahnya, suara Pak Bandi memecah lamunanku. "Jangan lama-lama saling pandangnya. Bisa-bisa sampai besok, tuh." Lelaki itu terkekeh pelan.
Spontan aku langsung mengalihkan pandang ke arah lain, kemudian melepaskan tanganku yang masih menggenggam telapak tangan lelaki itu. Setelah itu, kami dipersilakan duduk di tempat semula. Kedua belah pihak mulai berdiskusi untuk menentukan tanggal pernikahan kami. Ternyata, keputusan pernikahan kami jatuh pada minggu depan, tepat di hari Minggu.
"Untuk biaya resepsi biar kami yang menanggung. Setelah akad nikah di sini, kami langsung membawa Tania ke kota. Malam harinya, kami akan mengadakan resepsi pernikahan mereka di hotel yang tidak jauh dari rumah kami. Jika Bapak dan Ibu berkenan, boleh, kok, hadir di acara itu." Pak Bandi menjelaskan panjang lebar.
Kulihat Bapak dan Ibu hanya manggut-manggut. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Namun, senyum semringah tersuguh dari bibir keduanya.
Sementara itu, tidak ada sedikit pun rasa bahagia yang tersirat dari lubuk hati ini. Hambar, ibarat sayur tanpa garam. Mungkin diri ini masih berusaha beradaptasi dengan keadaan.
Setelah menentukan tanggal dan lokasi yang tepat, keluarga Pak Bandi pamit pulang. Kami langsung mengantar rombongan tersebut hingga depan rumah. Sementara itu, mereka meninggalkan beberapa macam jajan hantaran yang terlihat mewah, kutaksir harga per item-nya berkisar 300-500 ribu rupiah.
"Alhamdulillah, sudah rezekimu dijadikan menantu oleh keluarga berada, Nduk. Lihat, jajan hantarannya saja mewah." Ibu berucap sambil membereskan beberapa hidangan yang tersisa. "Ayo, bantuin Ibu! Habis ini, kita bagi-bagikan jajan hantarannya ke tetangga, Nduk."
Lagi-lagi aku hanya mengangguk pasrah. Tidak mampu membantah apalagi menolak. Diri ini sudah bertekad bahwa kebahagiaan orang tua adalah hal yang paling utama meski risikonya mempertaruhkan kebahagiaanku sendiri.