Suamiku Cemburu

1128 Kata
"Mas Ardi?" "Hai, Anda temannya Lily, bukan? Senang bertemu dengan Anda!" kata Mas Ardi. "Ya. Maaf, waktu itu kami tidak bisa datang ke acara pernikahan kalian," kata Alan sambil sesekali melihatku. "Ya, tidak masalah," ucap Mas Ardi kemudian merangkul bahuku. Entah apa yang membuat Mas Ardi tiba-tiba bersikap begini. "Lily, kamu semakin cantik! Pasti hidupmu bahagia terus, ya?" kata Vina. "Wah, terima kasih. Apa pun akan saya lakukan demi membuat Lily bahagia," sahut Mas Ardi. Aku meliriknya dengan sedikit bingung. "Kamu juga makin cantik, Vina. Pasti hidupmu juga bahagia bersama Alan," ujarku. "Pasti, dong, Sayang. Mereka pasti bahagia. Lihatlah! Aura kebahagiaan terpancar di wajah mereka," timpal suamiku. "Bukan begitu, Tuan Alan?" tanya suamiku sambil menatap Alan. "Tentu saja. Kami sangat bahagia," jawab Alan sambil merangkul istrinya. "Iya, 'kan, Sayang?" tanya Alan kepada Vina. Wanita berambut pendek itu mengangguk dan tersenyum bahagia. Aku merasa aneh dengan obrolan ini. Mungkinkah Mas Ardi tidak suka dengan kehadiran Alan di sini? Waktu itu aku memang pernah bercerita tentang Alan kepada Mas Ardi. "Kita ke sana dulu, ya!" kata Mas Ardi kepada Alan dan Vina. "Oh, iya, silakan!" jawab Alan. Mas Ardi masih tetap merangkulku. Mungkin orang akan mengira kami terlihat begitu manis dan mesra. "Mas, tumben kamu manis banget?" "Memangnya kenapa? Nggak boleh?" "Ya, aneh saja, sih." "Kenapa Alan bisa ada di sini?" tanya Mas Ardi pelan sambil mengedarkan pandangan. "Dia saudaranya Pak Dio, Mas." "Oh." Sedari tadi, aku tak sengaja menangkap mata Alan yang menatapku. Ketika aku melihat ke arahnya, dia mengalihkan pandangan. Tak mungkin jika Alan masih mencintaiku. Melihat Vina yang begitu bahagia, sepertinya Alan telah memberinya sejuta cinta. *** Ketika perjalanan pulang, Mas Ardi tampak sedikit berbeda. Dia seperti mengerucutkan bibirnya sejak pulang dari acara tadi. "Mas?" "Hm?" "Are you okay?" "Ya." Ekspresinya begitu datar. Dia menjawab pertanyaan tanpa melihat ke arahku. Tadi begitu romantis dan manis, sekarang begitu dingin. "Kamu kenapa, sih, Mas? Tadi di pesta kayak yang paling romantis saja." "Aku nggak suka." "Nggak suka apa maksud kamu, Mas?" "Lily, aku nggak suka Alan memperhatikanmu seperti tadi. Apa dia nggak nyadar kalau kamu itu istri aku?" Aku mulai menangkap sinyal-sinyal cemburu yang dialami suamiku. "Masa', sih? Aku nggak tahu kalau diperhatiin sama dia. Lagian, nggak mungkin kalau Alan memperhatikan aku. Ada Vina yang selalu di sampingnya," jelasku. Padahal, Alan memang memperhatikanku sedari tadi. "Walau ada istrinya, nggak menutup kemungkinan kalau dia masih cinta sama kamu," ucap Mas Ardi yang membuatku tercengang. "Kita pulang saja, ya, Dek. Aku lagi malas." "Nggak jadi ke hotel?" "Nggak." Mas Ardi tampak kesal. Baru kali ini aku melihatnya cemburu. Padahal, itu tidak seberapa. Rasa cemburu Mas Ardi tidak sebanding dengan rasa cemburu yang pernah kualami. "Kamu tadi kenapa tukar nomor telepon sama Vina?" "Memangnya kenapa, Mas? Vina yang minta. Apa salahnya?" "Nanti kalau Alan yang telepon gimana?" Entah kenapa aku ingin tertawa melihat Mas Ardi yang masih cemberut. Dari nada bicaranya, dia seperti ingin meluapkan amarahnya. "Nggak mungkinlah, Mas. Yang minta nomor telepon aku itu Vina. Bukan Alan. Mereka punya ponsel masing-masing." "Tapi si Vina itu istrinya Alan. Bisa saja Alan pakai ponsel Vina buat telepon kamu. Atau ...." "Atau apa?" Aku tertawa kecil melihatnya. "Nanti kalau Alan nyimpan nomor kamu gimana?" "Nggak akan." "Pokoknya, kalau si Vina telepon, jangan diangkat kalau nggak ada aku. Kalau kirim pesan, jangan dihapus! Aku harus baca juga." "Ih, segitunya, ya?" "Ya iyalah. Kamu istri aku. Harus nurut sama aku!" "Iya, deh." "Janji?" "Janji. Kamu juga harus janji, Mas!" "Janji apa, Dek?" "Janji jangan pernah main serong lagi apalagi sama Leni!" "Iya, aku janji." Ternyata seperti ini kalau seorang pria sedang cemburu. Aku merasa senang dia berlaku seperti ini. Itu artinya, Mas Ardi memang mencintaiku. Leni saja yang memang masih mengejar-ngejar suamiku. "Loh, katanya pulang, Mas? Kok, nggak belok ke kiri?" "Ke hotel saja." "Tadi katanya nggak jadi." "Jadi, Dek. Ngomong-ngomong, bulan madu nanti kamu mau ke mana?" "Terserah, sih, Mas. Nggak perlu jauh-jauh juga." "Ya sudah kalau begitu. Bisa aku atur nanti." Sesampainya di kamar hotel, Mas Ardi merebahkan tubuhnya karena merasa lelah. Aku diminta untuk berbaring di sampingnya. Mas Ardi juga memintaku untuk membuka kancing bajunya. Ketika aku melakukannya, Mas Ardi menarik tubuhku. "Kita akan melakukan apa yang belum kita lakukan," bisiknya. Mas Ardi mulai melakukan aksinya. Dia menciumku dengan penuh cinta. Perlahan, aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada suamiku. Aku menyerahkan apa yang seharusnya menjadi milik Mas Ardi. Malam ini adalah malam pertama bagi kami menikmati surga dunia yang indah ini. Setelah puas melakukannya, kami terkulai lemas dan tidur berpelukan. Ponselku tiba-tiba berdering. "Siapa, sih?" tanya Mas Ardi dengan suara sedikit serak. "Mama, Mas." "Ha? Mama?" Aku segera mengangkat telepon dari mama. Mungkin mama khawatir karena kami tak kunjung tiba di rumah. Halo, Ma? Halo, Lily? Kalian di mana? Kita lagi di .... Aku melihat Mas Ardi yang menggeleng. Kita lagi jalan-jalan, Ma. Jalan-jalan? Ini sudah hampir tengah malam, loh. Makan sate? Memangnya tadi di pesta nggak makan? E ... ma–makan, kok, Ma. Kebetulan saja ki— Oh, mama tahu. Oke, lanjutkan saja! Maaf, ya, kalau mama mengganggu, kata mama sambil diiringi tawa kecilnya. Panggilan telepon pun terputus. "Nanti kita bilangnya gimana, Mas?" tanya kepada Mas Ardi. "Sudahlah, gampang. Mama pasti tahu urusan kita. Mama dan papa juga pernah muda." Aku mengangguk dan kembali mendekap suamiku. Dia mengusap kepalaku dengan lembut dan mengecup kepalaku berkali-kali. Berulang kali Mas Ardi mengutarakan rasa sayangnya kepadaku. "Eh, ponselku bunyi lagi, Mas," kataku sambil meraih ponsel yang berdering. "Siapa, Sayang?" "Vina, Mas." "Vina? Untuk apa malam-malam dia telepon kamu?" "Mana aku tahu, Mas. Aku angkat, ya?" "Iya, tapi aktifin loud speaker-nya!" "Iya, Mas." "Lah, mati, Mas," ujarku ketika melihat panggilannya sudah berakhir. "Ya sudahlah. Lagian, ngapain nelepon malam-malam? Kayak besok nggak ada waktu saja. Sini, yuk! Peluk lagi," kata Mas Ardi sambil menarik tanganku. Ponselku kembali berdering, tetapi bukan panggilan telepon melainkan sebuah pesan masuk. Lily, apa kamu sudah tidur? Aku ingin bercerita sama kamu. Aku ingin berbagi unek-unek. Aku nggak sanggup memendam ini sendiri. Begitu isi pesan dari Vina. "Apa, Dek?" tanya Mas Ardi. "Ini, Mas. Pesan dari Vina. Coba lihat!" "Ya sudah, balas saja! Tapi ingat! Jangan ada yang dihapus! Aku ingin baca juga." "Iya, Mas." Belum, Vin. Memangnya ada apa, Vina? Kamu kenapa? Cerita saja biar kamu merasa lega! Balasku. Alan, Li. Entah sampai kapan aku harus bertahan. Alan tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah menyukaiku. Aku bingung harus bercerita ke siapa lagi. Selama ini, kami hanya bersandiwara di depan keluarga. Kami hanya pura-pura saling cinta agar keluarga kami tidak kecewa. Aku capek kalau harus begini terus, Li. Aku mendelik membaca pesan dari Vina. Aku rasa, ada wanita lain di hati Alan, Li. Sejak awal menikah sampai sekarang, kami nggak pernah bermesraan. Saat bulan madu pun, dia pergi entah ke mana. Aku tidak tersentuh sama sekali. Vina kembali mengirimi pesan yang membuatku terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN