Curahan Hati Istri Alan

1011 Kata
"Siapa, Dek?" "Em ... Vina, Mas." "Ngapain lagi?" "Nggak ada apa-apa, sih. Cuma nanya aku sudah tidur apa belum." "Coba lihat!" Aku menyerahkan ponselku dengan perasaan yang aku tak tahu. Mas Ardi mengernyitkan dahi saat membacanya. Aku menggigit bibir bawah melihat reaksi Mas Ardi. "Tuh, 'kan?" "Kenapa, Mas? Kasihan, loh, si Vina." "Ini si Alan nggak bisa mencintai Vina pasti karena dia masih mencintai kamu," tutur Mas Ardi kemudian mematikan ponselku. "Eh, Mas, kenapa dimatikan ponselnya?" "Pasti ini si Alan masih cinta sama kamu." "Vina belum menceritakan lebih jauh. Kalau kamu matikan ponsel, kasihan dia, dong. Nanti dikiranya aku nggak mau mendengarkan keluh kesahnya." Mas Ardi tak menjawabku. Dia meletakkan ponselku di meja kemudian kembali menarik tanganku. *** Hari sudah berganti, Mas Ardi berangkat kerja seperti biasanya. Aku sibuk belajar dandan untuk diriku sendiri, tetapi dengan bantuan mama. Kami dikejutkan dengan suara bel rumah yang berbunyi. "Siapa, ya, Li? Apa ada paket lagi?" "Nggak ada, Ma. Paket Lily sudah sampai semua. Biar Lily periksa dulu." "Eh, jangan! Biar mama saja. Wajah kamu belum selesai didandanin." Tak lama kemudian, mama datang bersama seorang wanita. "Vina? Ternyata kamu?" "Lily, kamu sedang apa?" Vina memperhatikanku bingung. "Aku cuma iseng dandan." "Kamu mau keluar?" "Nggak, kok. Aku di rumah saja. Duduk, Vin!" "Oh, ya, Ma, ini teman Lily, namanya Vina," ucapku kepada mama. "Vin, kenalin, ini mama mertua rasa ibu kandung," kataku lagi. Mama tersipu malu. "Ya sudah, kalian ngobrol saja. Sambil dilanjut pelan-pelan, Li!" "Iya, Ma." Setelah mama meninggalkan kami berdua, Vina memelukku. Matanya berkaca-kaca. Vina berusaha menghapus cairan bening di sudut matanya itu. "Maaf, ya, semalam nggak balas pesan kamu. Baterai ponselku habis, belum sempat balas, ponselnya langsung mati." "Nggak apa-apa, Li." Aku tak tega melihat Vina yang bersedih seperti ini. Aku pikir, Vina sangat bahagia dengan pernikahannya, nyatanya aku salah. Dia hanya berpura-pura bahagia agar dunia tidak tahu deritanya. Aku meminta Vina untuk menenangkan diri sebelum mengeluarkan semua isi hatinya. "Lily, aku nggak tahu harus gimana lagi sama Alan. Selama ini aku nggak ada tempat untuk curhat. Bertemu kamu rasanya sesuatu banget. Aku dan Alan sudah hampir satu tahun menikah, tapi dia belum pernah menyentuhku sama sekali." Aku prihatin dengan Vina. Dulu aku berpikir kalau hanya akulah wanita yang paling menderita di dunia ini. "Kamu yakin Alan tidak mencintaimu? Apa saja yang dia lakukan selama satu tahun ini? Bukannya kalian sudah terbiasa bersama?" "Sangat yakin, Li. Kalau dia mencintaiku, pasti dia sudah menyentuhku. Kami terbiasa bersama jika di hadapan keluarga saja. Setelah itu, kami seperti hidup masing-masing. Alan sibuk dengan dunianya. Dia jarang tidur di rumah. Pulang-pulang kalau sudah menjelang pagi. Entah dia ke mana, aku nggak tahu. Setiap kali aku bertanya, dia tak pernah menjawab," jelas Vina. "Sekarang aku nggak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah capek dengan semua ini, Li. Dulunya aku pikir Alan menyukaiku, ternyata tidak. Alan pernah mengatakan kepadaku kalau selamanya dia tidak akan pernah bisa cinta padaku," lanjutnya yang membuat hatiku ikut teriris mendengarnya. "Kenapa Alan bisa berkata begitu? Tidakkah kalian coba untuk melakukan pendekatan secara perlahan?" "Alan berkata seperti itu karena ada gadis pujaannya. Gadis itu selalu hadir di mimpinya. Alan sendiri yang mengaku kepadaku kalau dia sangat mencintai gadis itu. Kami tidak bisa melakukan pendekatan apa pun. Dalam pikiran Alan, selalu gadis itu yang dilihat." Aku menelan ludah ketika mendengar Vina bercerita demikian. Mungkinkah gadis yang dimaksud adalah aku? "Siapa gadis itu? Apa kamu tahu?" tanyaku sedikit takut. "Aku nggak tahu. Alan pernah melukis gadis tersebut, tetapi dari samping..Aku tidak tahu pastinya. Dari lukisannya, gadis itu memang sangat cantik. Rambutnya panjang." Aku menjadi semakin yakin kalau gadis yang dimaksud adalah aku. Sebelum mengenal Vina, Alan sering melukis diriku. Kami memang berteman dan sering pergi bersama, tetapi aku tidak menyangka kalau Alan memiliki rasa yang lebih untukku. Sebelum Alan mengutarakan rasa cintanya, aku hanya menganggap kedekatan kami sebatas teman biasa. "Li, barangkali kamu tahu apa yang harus aku lakukan? Kalau pisah, rasanya nggak mungkin demi menjaga nama baik keluarga. Selain itu, papa aku punya riwayat sakit jantung. Kalau tahu aku dan Alan berpisah, aku takut akan berakibat buruk ke kesehatan papa. Bertahan juga begini, menyiksa sekali," kata Vina sambil menutup wajahnya. "Coba kamu beri dia perhatian kecil! Berikan apa yang dia suka!" ujarku yang membuat Vina menatapku seketika. "Lily, kamu teman baiknya Alan, 'kan? Kalian sudah berteman sejak lama. Pasti kamu tahu apa yang disukai oleh Alan." Aku memang tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Alan. Aku sangat hafal bagaimana dia. Kuberitahu semua yang Alan suka kepada Vina. Dia mencatatnya di ponsel. Aku sangat salut dengan perjuangan Vina untuk mendapatkan cinta Alan. Dia bisa bertahan selama satu tahun di pernikahan yang begitu menyiksanya. "Semoga kalian diberi kebahagiaan," kataku dalam hati. Aku meraih ponsel karena ada sebuah pesan masuk di ponselku. Apa Vina ada di rumah kamu? Siapa ini? Alan. Aku sedikit terkejut. Bagaimana bisa Alan menghubungiku? Apa dia mendapatkan mendapatkan nomor teleponku dari Vina? Lily, jawab! Apa Vina ada di sana? Kalau iya, aku harus segera menjemputnya. Kami akan mengadakan sebuah pertemuan penting. Ya, jawabku singkat. Selang setengah jam, seseorang datang untuk menjemput istrinya. Dia adalah Alan. Vina menunjukkan wajahnya yang baik-baik saja, seolah tak ada masalah. Dia benar-benar wanita yang sangat tegar. Sangat disayangkan kalau Alan tidak menyadari cinta Vina. "Lily, aku pulang dulu, ya? Terima kasih sudah menjamuku dengan baik. Kapan-kapan aku main lagi, boleh?" "Tentu boleh, dong, Vin. Aku selalu di rumah, kok." Vina memelukku dan berbisik, "Terima kasih, Li. Tolong jangan beritahu Alan jika aku curhat begini sama kamu!" "Iya, kamu baik-baik, ya, di sana! Semoga apa yang tadi aku katakan itu membuahkan hasil!" Vina melepaskan pelukannya dariku. Dia tersenyum lepas sekali. Digandengnya tangan Alan sembari berjalan menuju mobil. Vina sangat pandai menyembunyikan kesedihannya. Mereka memasuki mobil, tetapi belum melajukannya. Alan tampak sibuk dengan ponselnya. Tak lama kemudian, ponselku berdering, tetapi aku mengabaikannya karena hanya sebuah pesan. Perlahan, mobil mereka meninggalkan pelataran rumah. Aku segera membuka ponselku dan membaca sebuah pesan ... dari Alan. Aku ingin bertemu denganmu, Lily. Aku ingin berbicara empat mata denganmu. Tolong jangan beritahu Vina tentang ini! Hatiku mulai tak tenang ketika membaca pesan darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN