Aku hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Lebih baik aku menghapusnya sekarang juga sebelum Mas Ardi tahu hal ini.
Aku kangen. Akhirnya, waktu telah mempertemukan kita. Alan kembali mengirim pesan kepadaku.
"What?" Aku mengernyitkan dahi tak percaya. Lebih baik aku memblokir nomor teleponnya saja agar tak lagi menggangguku.
Kamu jangan blokir aku, Lily! Semakin kamu menjauh, semakin aku berusaha keras untuk mengejar kamu.
Aku terkejut membaca pesan darinya lagi. Bisa-bisanya dia tahu apa yang akan aku lakukan. Aku pun batal memblokir nomor teleponnya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Si Alan sedang mengemudikan mobil. Tak mungkin jika dia bermain ponsel. Segera aku menghubungi Vina untuk memastikan.
Halo, Lily?
Halo, Vina? Kamu lagi di mana?
Ini lagi di jalan. Kita belum sampai.
Kamu masih sama Alan?
Iya, Li. Cuma kita lagi berhenti. Alan lagi terima telfon penting. Dia keluar dari mobil.
Oh, ya sudah, hati-hati, Vin!
Ada apa emangnya, Li?
Nggak ada apa-apa, kok. Aku cuma khawatir sama kamu saja.
Aku baik-baik saja, Li. Makasih, ya, sudah mengkhawatirkan aku. Tapi aku benar nggak apa-apa, kok.
Ya sudah, Vin. Aku menutup sambungan telepon. Alan benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia menyempatkan keluar dari mobil untuk menghubungiku, padahal sedang bersama istrinya.
***
Malam ini Mas Ardi mengajakku untuk makan malam. Katanya, dia sudah menyiapkan tempat yang romantis untukku. Aku senang, akhirnya Mas Ardi bisa berubah secepat ini. Dia sudah benar-benar melupakan Leni dan peduli kepadaku.
"Tadi Vina ke rumah, ya?"
"Iya, Mas. Kamu dikasih tahu mama?"
"Iya. Kenapa kamu nggak bilang sama aku?"
"Bilang apa, Mas?"
"Ya, bilang kalau Vina ke rumah."
"Memangnya kenapa, Mas? Vina itu cewek, Mas. Lagian, mama juga di rumah, 'kan?"
"Ya, tapi aku takut kalau ada Alan."
"Nggak ada, Mas. Dia nggak ikut."
"Vina boleh main ke rumah asalkan nggak boleh sama Alan."
Aku meliriknya dengan menahan tawa. Tak kubantah apa yang dikatakannya daripada harus berdebat panjang. Aku tidak ingin acara makan malam ini berantakan.
Ketika sampai di sebuah tempat makan yang menurutku indah, kami diantar ke meja yang sudah dipesan oleh Mas Ardi. Aku tak menyangka kalau Mas Ardi seromantis ini. Tempat makan yang terbuka ini nuansanya begitu romantis. Jarak meja satu ke meja yang lain cukup jauh.
"Dek, aku angkat telepon dulu, ya? Ini penting."
"Silakan, Mas." Kulihat Mas Ardi menjauh, cukup jauh. Entah telepon dari siapa sehingga membuatnya begitu jauh sampai tak terlihat olehku.
"Lily." Aku menoleh ke sumber suara yang menyapaku.
"Kamu?" Aku terkejut melihat kedatangan Alan di sini.
"Ngapain kamu di sini? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku sembari mengedarkan pandangan mencari Vina.
"Kenapa, Lily? Kamu mencari Vina? Kamu bingung kenapa aku bisa di sini? Asal kamu tahu. Aku datang sendiri ke sini tanpa Vina. Aku mengikutimu sedari tadi. Beruntungnya, suamimu itu sedang sibuk dengan selingkuhannya."
"Alan! Jaga bicaramu! Suamiku tidak selingkuh. Dia setia dan sayang kepadaku. Lagi pula, untuk apa kamu mengikutiku?"
"Aku sudah bilang, aku ingin berbicara empat mata denganmu. Aku mencintaimu, Lily. Rasa ini masih sama seperti dulu bahkan semakin bertambah. Aku tak peduli walau kamu sudah bersuami. Aku tahu, suamimu itu pembohong besar. Dia tukang selingkuh, Li."
"Suamiku tidak seperti yang kamu bicarakan, Alan. Tolong! Kamu jangan seperti ini. Berhentilah untuk mencintaiku! Kamu sudah beristri, Alan. Tidakkah kamu kasihan melihat Vina yang setia mendampingimu?"
"Aku tidak peduli."
"Kamu sudah tidak waras, Alan." Aku ingin pergi mencari Mas Ardi, tetapi Alan manahan tanganku.
"Aku tidak waras karenamu. Aku gila karenamu. Aku tergila-gila kepadamu, Lily."
"Lepas!" Aku menghentakkan tanganku agar terlepas dari genggamannya.
"Ingat, ya! Suatu hari kamu pasti akan tahu siapa suamimu sebenarnya. Pada saat itu, aku akan pastikan suatu saat kamu akan mencintaiku," ucapnya kemudian pergi.
Alan pergi meninggalkan aku. Tak lama kemudian, Mas Ardi sudah kembali. Aku mencoba untuk berusaha tenang.
"Maaf, ya, lama."
"Iya, Mas."
"Duduk, Dek!"
Aku mengedarkan pandangan mencari Alan. Di meja yang paling ujung, aku melihat Alan sedang duduk sendiri. Dia sedang memperhatikan kami. Alan benar-benar nekat dan membuatku tidak nyaman.
"Dek, kenapa? Kamu nggak suka?"
"Su–suka, kok, Mas."
"Kok, ekspresi wajahnya gitu?"
"Nggak, Mas. Aku cuma kagum saja sama tempat ini."
"Kamu suka tempatnya?"
"Suka banget, Mas. Makasih, ya!"
Sambil menikmati makan malam, mataku sesekali mengawasi Alan. Aku takut dia akan melakukan macam-macam. Aku sedang kencan dengan suamiku saja, dia nekat membuntuti. Bagaimana jika aku pergi ke mana-mana sendiri? Posisiku sedang tidak aman saat ini.
"Dek, kenapa, sih? Lihatin apa?"
"Nggak ada, Mas. Dibilang aku kagum sama tempat ini. Romantis banget tempatnya," kataku.
"Kamu mau kita ke sini lagi?"
"Mau, dong, Mas."
Saat akan pulang, aku melihat Alan sudah keluar lebih dahulu. Dia benar-benar membuatku tak nyaman. Kalau aku mengatakan hal ini kepada Mas Ardi, pasti akan terjadi pertengkaran hebat. Pasalnya, Mas Ardi begitu cemburu jika ada Alan.
Vina, kamu di mana? Aku mengirim pesan kepada istri Alan.
Aku di rumah. Aku lagi belajar bikin makanan kesukaan Alan. Baru beberapa saat aku mengirim pesan, dia sudah membalasnya.
Kasihan si Vina. Menikah sudah satu tahun dengan Alan, tetapi tidak tahu apa yang disuka oleh suaminya itu. Mereka memang jarang berkomunikasi. Alan akan memilih pergi jika Vina mengajaknya berbicara. Vina sudah menceritakan semua kepadaku.
***
Ketika sampai di rumah, Mas Ardi begitu sibuk dengan ponselnya. Dia tampak serius. Entah apa yang sedang dia lakukan.
"Mas, lagi apa, sih? Kok, serius banget?"
"Enggak, Dek. Ini teman aku ada masalah. Dia pengin aku kasih solusi."
"Cewek apa cowok?"
"Ya ... cowoklah, Dek. Nih, kamu lihat!" Aku melihat layar ponsel Mas Ardi yang tertera nama 'Leo'.
"Oh," kataku kemudian membuang pandangan dari ponselnya. Selama itu bukan Leni, tak masalah. Aku memberinya kebebasan berkomunikasi dengan temannya, baik laki-laki mau pun perempuan asal tahu batas.
Dari deretan pesan di ponselnya tadi, aku tak menemukan nama Leni sama sekali. Mungkinkah mereka benar-benar sudah tidak berhubungan lagi?
"Mas?"
"Kenapa, Dek?"
"Aku boleh pinjam ponselnya sebentar?"
"Buat apa, Dek?"
"Ya, lihat-lihat saja, Mas."
Mas Ardi seperti ragu-ragu ketika akan menyerahkan ponselnya kepadaku. Namun, dia tetap memberikan benda pipih itu. Aku membuka kontak telepon di ponsel Mas Ardi. Aku mencari nama Leni, tetapi tidak kutemukan. Untuk meyakinkan diriku lagi, aku membaca nama kontak teleponnya satu per satu secara perlahan.
Tak ada yang mencurigakan. Aku tidak menemukan nama-nama aneh begitu juga dengan nama wanita itu. Syukurlah jika suamiku benar-benar melepaskan Leni. Memang seharusnya begitu karena dia sudah berstatus sebagai suami orang.
"Ini, Mas," ucapku sambil menyerahkan ponselnya.
"Sudah? Lihat apa, Dek?"
"Nggak ada, kok. Cuma pengin lihat saja."
"Ada yang mencurigakan?"
"Nggak ada, Mas."
"Percaya, 'kan, sama aku?"
"Percaya, Mas," ujarku sambil tersenyum.
"Dek ...." Mas Ardi memelukku kemudian mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal.