Alan Kembali Mengikuti

1137 Kata
"Kamu luar biasa," bisik Mas Ardi di telingaku. Aku menggeliat karena geli. Tangannya mulai meraba-raba tubuhku. Namun, aktivitasnya terhenti karena sebuah pesan yang masuk di ponselnya. Mas Ardi kembali menatap layar ponselnya dengan serius. "Ada masalah apa, sih, Mas, teman kamu itu?" "Biasa, Dek. Rumah tangga. Istrinya nggak mau tinggal serumah sama orang tuanya temanku." "Kenapa bisa gitu?" "Katanya, sih, nggak cocok, Dek." Aku hanya manggut-manggut mendengar ucapannya. Sama sekali aku tidak merasa penasaran dengan isi pesan tersebut. Aku memberikan waktu kepada Mas Ardi untuk berbalas pesan dengan temannya. "Aku merasa beruntung, Dek." "Beruntung kenapa, Mas?" "Orang tua dan istriku bisa saling hidup rukun. Aku senang melihat kedekatan kalian. Mama bahkan lebih dekat denganmu daripada dengan anaknya sendiri." "Aku juga merasa beruntung memiliki mertua seperti mama dan papa. Mereka begitu baik dan peduli padaku. Mereka sangat sayang kepadaku, Mas." Mas Ardi kembali sibuk dengan ponselnya. Sambil menunggu Mas Ardi, aku juga memainkan ponselku. Lily, ide pertama berhasil. Ini adalah pertama kalinya Alan memakan masakanku. Dia sangat menyukainya. Wah, benarkah? Aku ikut senang mendengarnya. Iya. Memang dia nggak bilang apa-apa. Cuma dia lahap banget sampai nambah. Baguslah kalau begitu. Selamat, ya! Semangat, Vina! Kamu pasti mendapatkan cinta dari Alan. Makasih, ya, Lily! Ini semua berkat saran darimu. Iya, Vina. Sama-sama. Kami menghabiskan malam ini dengan indah. Dia tampak senang denganku. Namun, aku harus bisa menjaga suamiku dengan baik. Leni tidak akan terima aku dan Mas Ardi hidup bersama. *** Hari ini aku kembali menemani suamiku makan siang. Kali ini kami makan di restoran yang dekat dengan kantornya. Katanya, Mas Ardi sangat sibuk. Tak cukup waktu bila harus makan di restoran yang jauh dari kantornya. "Sayang, maaf hari ini aku nggak bisa ngantar kamu ke mall," ucap Mas Ardi sambil menggenggam tanganku. "Nggak apa-apa, Mas." "Aku sangat sibuk. Benar-benar nggak bisa ditinggal." "Kamu pergi sendiri nggak masalah, 'kan?" "Nggak masalah, Mas." "Apa perlu aku telepon mama?" "Janganlah, Mas! Aku mau cari kado buat mama. Nggak surprise, dong, kalau mama tahu." Mas Ardi tertawa kecil. "Oh, iya, ya? Memang kamu mau kasih apa, sih?" "Ada, deh." "Main rahasia sama aku?" "Iyalah. Nanti takut kamu keceplosan." "Ya, deh, nggak apa-apa. Kamu hati-hati, loh, nanti!" "Iya, Mas." "Pulangnya jangan sampai kesorean." "Iya, Mas." Mas Ardi melepaskan genggaman tangannya karena ada telepon masuk. Namun, Mas Ardi tidak mengangkat telepon itu. Wajahnya seperti panik. Mungkin saja Mas Ardi buru-buru sekali. Setelah menemani makan siang Mas Ardi, aku segera menuju ke pusat perbelanjaan. Aku ingin membeli kado di hari ulang tahun mama. Sekalian juga aku ingin mencari sesuatu untuk ayah dan ibu. Beberapa hari lagi aku akan menginap di rumah mereka. *** Berjalan sendiri di pusat perbelanjaan ternyata cukup membosankan. Mengitari beberapa toko sendiri. Kalau ada temannya pasti seru. Tiba-tiba aku terpikir untuk menghubungi Vina. Dia pasti tidak akan menolak jika kuminta datang ke sini. Ponselku terjatuh ketika aku sedang mencari nomor telepon Vina. Seseorang telah menabrakku. Memang aku salah karena terlalu fokus menatap layar ponsel. "Hati-hati kalau jalan!" ucap pria itu sambil menyerahkan ponselku. "Alan?" Aku terkejut ketika melihat kehadiran dia. Kenapa harus ada Alan di mana-mana? "Kenapa? Kaget?" Aku hendak pergi, tetapi dia mencekal tanganku. Tak ada Mas Ardi di sini, Alan semakin leluasa menyentuhku. Dia tak melepaskan tanganku dari genggamannya. "Jangan gitu! Nggak enak dilihat orang-orang!" bisik Alan. Benar juga apa katanya. Kita tak mungkin ribut di keramaian seperti ini. "Lepas tangan aku!" bisikku kepadanya. "Mari jalan bersama!" Alan menarik tanganku sambil menuntunku. "Alan! Kamu mau bawa aku ke mana?" tanyaku, tetapi dia hanya diam dan tak memandangku. Ternyata Alan membawaku ke tempat makan. Dia memesan makanan yang aku suka. Aku tidak menyangka kalau dia masih hafal dengan makanan kesukaanku di tempat ini. "Apa kamu nggak rindu dengan semua ini? Saat kita berdua menghabiskan waktu bersama. Bercanda tanpa duka. Apa kamu nggak rindu sama itu semua?" "Pertanyaan konyol macam apa ini, Alan? Di mana Vina?" "Kamu mau menghubungi Vina?" tanya Alan sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Ini ponselnya Vina. Kamu tak akan bisa menghubungi dia lagi. Kamu yang sudah memberitahu Vina tentang apa yang menjadi kesukaanku?" Aku sangat terkejut dengan sikapnya kepada Vina. Bisa-bisanya Alan menyita ponsel istrinya sendiri. "Kamu benar-benar ...." Aku geram melihat Alan yang seperti ini. "Kenapa melakukan itu, Lily? Aku mencintaimu dan mengharapkan balasan cinta darimu. Kenapa kamu justru mendukung orang lain untuk mencintaiku?" "Karena dia istrimu, Alan. Kita nggak bisa lagi saling mencintai. Aku bersuami. Kamu beristri. Jelas?" "Tapi kamu bisa tinggalkan suamimu yang tak mencintaimu itu. Aku juga bisa meninggalkan Vina demi kamu." "Jangan gila kamu! Sampai kapan pun, aku tetap mencintai suamiku. Dia adalah suami yang setia. Vina sudah menjadi teman baikku. Jadi, jangan pernah sakiti dia apalagi sampai meninggalkan dia!" tuturku geram. "Ardi mencintaimu? Oh, aku akan membuktikan kalau cintanya palsu." "Kamu nggak berhak mencampuri soal rumah tanggaku dengan Ardi!" "Kamu juga nggak berhak mencampuri urusan rumah tanggaku dengan Vina!" Alan meraih tanganku. Digenggamnya erat jari jemariku. "Tatap aku, Lily!" Aku membuang pandangan dan tak sudi menatapnya. "Lily! Tatap aku sekali saja!" "Lily! Kalau kamu nggak mau menatap aku maka aku memberitahu Vina siapa gadis yang aku cintai." Aku menoleh cepat ke arahnya. Vina tidak boleh kalau gadis itu adalah aku. Sungguh aku tidak sanggup bagaimana rapuhnya Vina kalau sampai tahu hal ini. Aku menatap bola mata berwarna coklat itu lekat-lekat. "Tidakkah kamu melihat ketulusan cintaku selama ini? Kamu tega telah membiarkan aku tersiksa batin selama ini, Lily." "Salahkah aku mencintaimu? Salahkah kalau aku sudah berusaha melupakanmu, tetapi bayanganmu selalu datang? Setiap kali aku mencoba membuka hati untuk Vina, bayangan wajahmu selalu menghentikanku untuk melakukannya." Entah mengapa mataku berkaca-kaca. Aku seperti melihat sebuah kesedihan yang mendalam di sorot matanya. Setulus itukah dia mencintaiku? "Maaf!" ucapku lirih. "Kamu tahu, Lily? Saat itu aku tidak tahu kalau akan dijodohkan dengan Vina. Aku sudah menyusun rencana untuk melamarmu. Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku sangat yakin kalau kamu akan menyukainya. Di saat hari itu tiba dan aku akan menjemputmu, secara mendadak kedua orang tuaku meminta untuk diantar ke rumah Vina. Aku pikir hanya sekedar mengantarnya saja, ternyata mereka merencanakan sebuah perjodohan. Rencanaku gagal, Lily. Semuanya berantakan. Aku menyesal karena terlambat menyatakan cinta untukmu," ujar Alan dengan suara yang berat. Dia menunjukkan sebuah foto kepadaku. Foto itu adalah tempat di mana Alan berencana untuk melamarku. Air mataku menetes. Aku tidak sanggup lagi melihatnya. Bukan hanya Vina yang terluka, tetapi Alan juga terluka karena cintanya tak terbalas. Apa mau dikata, semuanya sudah terjadi tidak sesuai kehendak masing-masing. "Maaf, Alan!" ucapku dengan bibir bergetar. "Hanya maaf yang bisa kamu ucapkan? Kamu pikir, aku tidak terluka melihatmu menikah dengan Ardi? Aku sengaja mengajak Vina ke luar kota agar tidak bisa menghadiri pernikahanmu. Aku nggak sanggup, Lily. Wanita pujaanku satu-satunya dipersunting pria lain. Aku memang laki-laki, tapi aku punya hati. Aku juga bisa terluka. Hal lain yang membuatku sangat-sangat terluka adalah ...." Alan berhenti berbicara dan menundukkan kepalanya. "Apa?" tanyaku singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN