Rinila yang lelah, kenyang, dan mengantuk perlu waktu beberapa saat untuk mencerna kalimat-kalimat mamanya. Saat kesadarannya sudah benar-benar kembali, Rinila langsung menukas kata-kata mama. "Maksud Mama, sahabat Mama ingin menjodohkan anaknya denganku. Begitu kan, Ma?" "Ehm," mamanya berdeham sekali lagi. "Ya, seperti itu, Dear." Kantuk Rinila mendadak lenyap. Matanya kembali segar tetapi hatinya remuk redam seperti baru kena hajar. la sangat tak berselera melanjutkan pembicaraan ini. la bagai orang linglung saat berkata, "Mungkin ini yang disebut senjata makan tuan ya, Ma? Rinila pernah bilang sama Ina, tak akan pernah suka dengan yang namanya perjodohan. Eh, kok Rinila malah dijodohkan lagi?" "Rinila, anak sahabat Mama setuju dirinya dijodohkan denganmu." "Jadi, karena dia setuju.

