Matahari naik hampir sepengala. Rinila berjalan tergesa-gesa, kawatir pasiennya sudah datang.
Di pintu masuk klinik kerja mahasiswa, Rinila nyaris bertabra 'kan dengan Dokter Gaung.
"Pagi, Dok," sapa Rinila, mengangguk hormat
Dokter Gaung terlihat gugup tetapi segera berhasil mengendalikan diri. Membalas sapaan Rinila dengan senyum dan anggukan.
"Hem. Bukan kah semua Askep mu sudah selesai, kecuali kontrol kedua?"
'Dokter Gaung tahu tentang tugas-tugas ku sedetail itu?' Rinila merasa sungkan
"Eh. Hem, iya, Dok."
Dokter Gaung tampak salah tingkah sekejap.
"Saya kemari karena ada salah satu pasien yang saya tangani menelepon dan mengeluh bekas jahitannya sakit, jadi saya mau cek keadaannya," urai Rinila panjang lebar.
Gaung tidak menyimak penjelasan Rinila, hatinya terlampau senang memiliki kesempatan sedikit lebih lama berhadapan dengan perempuan yang kerap kali menganggu konsentrasinya. Ia memperhati 'kan Rinila lebih jelas. Suatu kesempurnaan! Sisi hati yang lainnya protes. 'Ingat Gaung! Pandangan pertama nikmat, pandangan selanjut nya bisa jadi maksiat.'
Gaung mengakui, ia tidak boleh menatap Rinila lama-lama. Ia segera berlalu setelah mengucap 'kan selamat bekerja pada Rinila.
*
*
*
Pasien yang di tunggu Rinila belum datang, sehingga ia masih punya waktu untuk mensteril 'kan alat-alat terlebih dahulu.
Samar-samar Rinila mendengar obrolan dua mahasiswa yang asyik membicarakan Dokter Gaung
"Dokter Gaung itu sudah cakep, orangnya juga tidak pelit tanda tangan, tidak menyusah 'kan mahasiswa, tapi sayangnya ...."
"Sayangnya apa?"
"Tidak pernah senyum, bicara juga irit, terlalu dingin."
"Iya juga, sih. Tapi itu 'kan haknya dia. Sudahlah mending lanjut kerja dari pada membahas sosok pangeran yang sama sekali tidak memperhatikan kita."
Tepat setelah mereka selesai mengobrol alat-alat Rinila telah selesai disteril 'kan. Omongan dua mahasiswa tadi masih tergiang-ngiang di telinga Rinila.
'Kalau Dokter Gaung jarang senyum dan irit kata-kata. Mengapa dia tersenyum dan mengajak ku bicara?' Pertanyaan terus bermain dibenak Rinila.
'Ah. Paling basa-basi, sengal Rinila dalam hati dan melanjut 'kan kembali pekerjaannya.
Untunglah bukan kasus serius yang menimpa pasiennya. Rinila hanya perlu menganti perbannya dan membersih 'kan lukanya saja tidak perlu melaku 'kan tindakan lain.
Dibenaknya terlintas bayangan Dokter Gaung saat ia memberes 'kan pekerjaannya. Hatinya kembali bertanya, 'mengapa Dokter Gaung demikian perhatian terhadap tugas klinik ku? Bukan kah dia terkenal kaku dan dingin sama mahasiswa? Atau itu kebetulan saja? Ok! Itu bukan urusan ku, urusan Dokter Gaung bukan urusan ku."
Rinila memutus 'kan untuk tidak memikir 'kan perasaan yang membebaninya tentang Dokter Gaung.
*
*
*
Keesokan paginya Rinila bergegas ke klinik praktek mahasiswa. Sudah rahasia umum jika dosen-dosen keperawatan terkenal killer. Tak ada toleransi pada mahasiswa yang dianggap melaku 'kan kesalahan.
Rinila memeriksa status-status pasien. Semua sudah lengkap. Namun, ia kawatir kalau ada yang tertinggal. Rasa khawatirnya membuatnya lapar. Dengan berat hati ke kantin klinik, bangunan kecil di sudut belakang kampus.
Harusnya kantin masih sepi sepagi ini. Tetapi saat tia disana Rinila mendengar dua orang yang sedang asyik mengobrol dengan akrab dari dalam kantin. Rinila tak segera masuk, ia mengulang dan mengintip kedalam.
'Ha? Dokter Gaung dan penjaga kantin! Bayang 'kan, Dokter Gaung yang terkenal irit bicara bisa mengobrol santai dan akrab dengan penjaga kantin! Dokter Gaung terlihat berbeda. Ia terlihat muda dan segar saat hanya mengena 'kan kaos tanpa jas Dokter. Rinila baru menyadari betapa tampannya Dokter Gaung saat berpakaian santai. Rinila pun menjauhi kantin itu untuk mencari sarapan di tempat lain. Ia tidak ingin menganggu obrolan mereka dan merasa canggung.
**
*
Selesai sudah urusan dengan para dosen. Rinila pun pergi sebentar kerumah sakit, lalu kembali ke klinik kerja mahasiswa. Saat hendak turun dari mobil kesayangannya. Mata Rinila menangkap sosok yang tidak asing di klinik. Dokter Gaung! Rinila tak jadi turun. Dari tempat parkir didalam mobil, ia mengamati Dokter Gaung yang membagi-bagi 'kan beberapa kantong pada beberapa orang disana. Rinila terguncang melihat kejadian itu. Lagi-lagi, ia melihat Dokter Gaung yang berbeda dengan yang biasa ia temui di klinik kerja mahasiswa.
Pekerjaan hari ini tuntas, Rinila membalikan mobil kesayangannya ke Mall setelah urusan di klinik selesai. Ia melangkah ke toko buku, Rinila menatap satu persatu judul buku di rak buku, ketika telinganya menangkap suara perempuan paruh baya yang berada tak jauh darinya.
"Gaung, Bunda sudah dapat bukunya, kamu bagaimana?"
"Sebentar, Nda sedikit lagi."
Rinila seperti mengenal suara laki-laki yang di panggil Gaung. Pandangannya mengikuti arah suara, di rak seberang. Ia melihat sosok perempuan berwajah cantik meski usianya tak muda lagi dan di sampingnya berdiri sosok lelaki muda yang asyik memilih buku.
"Novel lagi?"
'Suara itu ... Dokter Gaung!' Rinila menahan napas. Tak menyangka melihat dosennya disini. Rinila cepat-cepat merendah 'kan tubuhnya. Rinila menguping pembicaraan mereka dan matanya terus mengikuti hingga kepergian Dokter Gaung dan perempuan yang ia panggil bunda. Sayup-sayup masih terdengar percakapan mereka berdua. Tanpa sadar, Rinila ikut tersenyum mendengar dan melihat keakraban mereka.
*
*
*
Saat tiba di rumah Rinila menghempas 'kan tubuhnya ke kasur. Merentang 'kan kedua tangannya. Mengusir kepenatan. Ujung jari-jarinya menyentuh buku yang tadi ia beli, buku itu mengingat 'kannya pada Dokter Gaung dan bundanya.
'Apa Dokter Gaung punya dua kepribadian berbeda?
Dokter Gaung yang dilihatnya diluar klinik kerja mahasiswa benar-benar berbeda, ia sangat ramah dan hangat.
Apakah Dokter Gaung memang rendah hati? Tapi mengapa pasang wajah dingin saat berinteraksi dengan mahasiswa?'
Lintas pikiran Rinila terhenti saat smart phonenya bergetar. Sahabatnya mengirim pesan di saat yang tepat. Ingin rasanya Rinila mencerita 'kan temuannya tentang Dokter Gaung pada Ina. Namun, Rinila berubah pikiran. "Ah, bukan hal penting. Jangan-jangan Ina lebih mengetahuinya. Bukankah dia yang sering memperhatikan Dokter Gaung?" Rinila meletakan smart phonenya dan beralih ke buku yang baru di belinya. Ia larut dalam bacaan hingga ia tertidur lelap dengan buku yang menutupi wajahnya.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
Bagi Gaung, tugas ini anugerah sekaligus ujian. Anugerah untuk bisa bersama Rinila. Ia bah 'kan berharap rumah pasien itu sulit di cari agar mereka bisa bersama lebih lama. Kacau! ia menertawakan sisi nakal dalam dirinya. Ujian? Ia harus menahan diri untuk tidak menatap Rinila
"Dok, biar saya saja yang menyusul pasien saya." Rinila memberanikan diri memanggil
"Kamu lupa, bukankah Kepala Bagian memerintah 'kan saya untuk mendampingi mu?"
Rinila tak bisa membantah, Gaung tak menunggu jawaban Rinila. Tanpa sadar, ia meraih jemari Rinila, mengajaknya berlari agar segera sampai ke parkiran mobil.
****