Gaung Sabda Alam. Dosen muda baru, ia bertugas sekitar setahun belakangan. Mantan ketua Senat dan mahasiswa teladan di salah satu Fakultas kedokteran ternama di kota Awan. Di saat banyak dokter kesulitan menembus jalur birokrasi akademis. Dokter Gaung tak banyak hambatan berarti untuk menjadi dosen di kota itu membawa nama almamaternya.
Dokter Gaung bertugas di klinik kerja mahasiswa. Dokter Gaung bertugas mengawasi kerja mahasiswa, menerima laporan akhir mahasiswa dan sekaligus menjadi dosen pembimbing akademis termuda, tampan dan juga di kagumi para mahasiswi di kampus dimana Rinila melakukan studinya.
Jika tak ada halangan Rinila dan Ina akan selesai dalam beberapa bulan lagi, setelah semua syarat kelulusan mereka selesai 'kan. Askep harus di Acc oleh pembimbing lahan, pembimbing lahan yang mengoreksinya, setelah tertulis tanda tangan sang Clinical Instructure, baru mereka cuss ke bagian pendidikan Akademis agar di Acc dari pembimbing akademis. Sebagian pembimbing akademis merespon baik, karena percaya dengan koreksi para CI ruangan, sebagian lagi masih sayang sama mahasiswa, dengan mengoreksi ulang Askep, merevisi kembali, dan meminta mahasiswa menulis kembali.
Jadi mahasiswa keperawatan adalah pilihan sekaligus tanggung jawab berat. Gimana tidak? Memutuskan untuk jadi mahasiswa Keperawatan berarti harus terima segala resikonya. Mulai A sampai Z. Bidang kesehatan memang menuntut petugas kesehatan bersifat tangguh dan berkekebalan tubuh layaknya Batman. Kuat dan siaga. Pagi-sore-malam. Hal ini beda dengan jurusan lain, jurusan Ekonomi, jurusan komputer atau lainnya. Kalaupun ada cerita magang di jurusan ekonomi, biasanya hanya satu waktu. Dari pagi, pulang jam 2 siang. Begitupun jurusan lain.
Kalau jurusan Keperawatan, baru praktik lapangan. Tetapi harus dibiasakan mengalami 3 shift praktik. Pagi, sore dan malam. Karena orang sakit tak akan pernah menunggu waktu. Orang sakit tak ada liburnya, kapan pun. Berani pilih jurusan ini berarti membulat 'kan komitmen.
Tak heran, jika komitemen yang kurang, akan menyebab 'kan berhenti di tengah jalan, sudah muak atau lelah. Akhirnya memilih mundur. Jadi mahasiswa keperawatan harus punya imun yang kuat. Selain praktikan yang di perhati 'kan, tapi juga akademik harus memadai. Setidaknya harus seimbang
Sebelum praktik lapangan mahasiswa keperawatan harus melaksana 'kan serangkaian ujian agar tidak melaku 'kan kesalahan terhadap pasien. Sebelum ujian beberapa hari jelang ujian harus melakukan uji coba dulu, apapun. Uji coba infus misalnya, kami harus merasa 'kan diinfus sebelum meng-infus pasien. Di suntik, kamu harus merasa 'kan disuntik sebelum menyuntik pasien, NGT. hmm ada kok teman yang berani pasang badan jadi pasien untuk NGT (Naso Gastrik Tube) pemasangan selang makan melalui hidung ini hehe, memasang bidai saat patah tulang pun begitu, tapi kalau sejenis jahit luka, pasang kateter, tentu pakai panthom
Mengingat dahulu, dimasa tingkat 1,2,3 dimasa dinas keperawatan di rumah sakit. Datang pagi pulang jam 2 siang- esoknya dinas sore- pulang jam 9 malam- besoknya- dinas pagi. Dari dinas malam ke dinas sore, dinas malam pulang jam 8 pagi, siang kembali lagi ke RS untuk dinas sore dan pulang dimalam hari jam 9 malam. Hua. Dan kami tak sungguhan istirahat di jeda waktu tersebut, kami menulis. bukan mengetik. Kami menulis tangan Asuhan Keperawatan yang menjadi bukti kami melaku 'kan tindakan keperawatan, kami bertanggung jawab atas pasien yang sudah di berikan pada kami, perawatan, pengobatan, sampai perkembangan terkini dari si pasien, kami musti paham, maka ada yang namanya ‘responsi’ oleh clinical instruktur. Pertanyaan mulai dari penyakit-sampai perkembangan pasien. Dan tak jarang kami medapatkan oleh-oleh ‘mata-panda’ dari dinas malam.
Sebenarnya bukan itu yang membuat Rinila merasa deg-degan. Ia akan merasa deg-degan setiap bertemu pasien. Ia ingin pekerjaannya memuaskan pasien. Membantu pasien sakit jadi sembuh. Ia bah 'kan lebih cemas bertemu pasien dari pada dosen killer.
Rinila teringat celutan Ina tentang Dokter Gaung yang kerap kali diam-diam menatapnya. Memang, beberapa kali tatapan mereka bertemu tanpa sengaja. Namun, Rinila menganggapnya biasa, tak ada perasaan istimewa. Tetapi akibat kata-kata Ina, Rinila jadi sungkan pada Dokter muda yang satu itu.
Hari ini di ruang klinik kerja mahasiswa hanya ada dokter Gaung. Mau tidak mau Rinila harus menjumpainya untuk memperlihatkan hasil kerjanya
"Jangan lupa kontrol kedua," Dokter Gaung mengingat 'kan Rinila sembari menyerahkan map berisi askep pasien.
"Baik, Dok!" jawab Rinila sambil mengangguk hormat kemudian segera berlalu. Rinila menyelesai 'kan tugasnya sambil bersenandung pelan.
"Senang banget kayaknya, langsung di acc ya?"
Rinila mengacungkan ibu jari, "Maaf nunggu lama ya. Ayo pulang!"
"Males, keburu capek. Pasien ku banyak tingkahnya.
"Suka duka jadi mahasiswa keperawatan, besok-besok biar aku saja yang jadi pasien mu." Hibur Rinila merangkul Ina hangat.
Keduanya tak tahu dan menyadari kalau Dokter Gaung memperhati 'kan dan mendengar obrolan mereka. Sang dosen tidak bisa konsentrasi merampung 'kan pekerjaannya dan tanpa disadarinya, jemarinya menulis sebuah nama. Saat Rinila dan Ina pergi meninggalkan klinik kerja, baru ia menyadari nama Rinila lah yang di tulisnya. Cepat-cepat ia meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
*
*
*
"Bunda heran sama kamu."
Gaung menoleh ke bundanya dengan mengerutkan alisnya. "Maksud Bunda?"
"Harusnya disaat waktu luang, kamu tu keluar cari istri, usia mu sekarang sudah 32 tahun," kata Bunda prihatin pada anak semata wayangnya itu
Gaung terbahak mendengar komentar bundanya.
"Jangan bilang kamu masih belum bisa lupain Rena."
"Rena sih sudah tenggelam, Nda."
"So, tunggu apalagi? Cari dong pengantinya!" ejek Bunda
"Sudah dapat kok, Nda."
"Syukurlah, kalau memang sudah dapat ... Bunda memberi tatapan tidak percaya pada Gaung dan kembali berkata.
"Terus kapan di kenalkan ke Bunda?"
"Dia sih belum tau kalau Gaung suka sama dia."
"Kamu ini! Awas loh, keburu dia diambil orang." Bunda pun berdiri dan menepuk pundak Gaung dan berlalu pergi
Gaung tergelak lagi, tetapi hatinya mendadak gelisah. 'Benar juga kata Bunda, bagaimana jika Rinila sudah ada yang punya atau mungkin dia menyukai orang lain?'
Semalaman Dokter muda itu tidak dapat memejam 'kan mata, kegelisahan menghantui pikirannya akibat perkataan bundanya.
Gaung meraih smart phonenya dan membuka galeri, sorot matanya menatap dalam pada layar hp dalam genggamannya. Ada senyum di bibirnya menatap foto Rinila yang beberapa kali ia ambil tanpa sepengetahuannya.
*
*
*
Matahari naik hampir sepengala. Rinila berjalan tergesa-gesa, kawatir pasiennya sudah datang.
Di pintu masuk klinik kerja mahasiswa, Rinila nyaris bertabrakan dengan Dokter Gaung.
"Pagi, Dok!" sapa Rinila, mengangguk hormat
Dokter Gaung terlihat gugup tetapi segera berhasil mengendalikan diri. Membalas sapaan Rinila dengan senyum dan anggukan.
"Hem. Bukan kah semua Askep mu sudah selesai, kecuali kontrol kedua?"
'Dokter Gaung tahu tentang tugas-tugas ku sedetail itu?' Rinila merasa sungkan
"Eh. Hem, iya, Dok!"
Dokter Gaung tampak salah tingkah sekejap.