Tiga hari sudah Rinila menghabis 'kan waktunya berkeliling kota bersama Bias, kehadiran Bias membuatnya melupakan kepedihan hatinya.
"Bye-bye, kota Pelangi," gumam Rinila saat kendaraan yang ia tumpangi keluar halaman Pelangi Suite, tempatnya menginap tanpa berpamitan pada Bias. Siang ini Rinila bertolak kembali ke kota Awan.
*
*
*
Bias tergesa-gesa turun ke dining room dan bergegas ke lobby menanya 'kan keberadaan Rinila pada resepsionis. Pertanyaan Bias di jawab dengan angguk 'kan. Membenarkan dugaan Bias bahwa Rinila telah check out.
"Bodoh!" Bias mengurut pada diri sendiri. Bodoh karena tak menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Rinila juga tak meminta nomor telepon Rinila. Bias bergegas menyusul ke bandara, ia berharap masih bisa dipertemu 'kan untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya mereka berpisah. Entah kapan akan bertemu Rinila lagi? Yang masih menjadi harapannya semoga Rinila tak membuang kartu nama yang telah ia berikan beberapa hari lalu.
*
*
*
Setelah melaku 'kan perjalanan panjang dan beberapa kali harus menganti pesawat. Rinila akhirnya tiba di kota Awan dan pulang kerumah dengan wajah lesuh.
"Gimana liburan mu?" tanya Mami ketika menyambut kedatangan Rinila
"Asyik, Mom!" jawab Rinila seraya mendudukan tubuh di sofa empuk ruang keluarga di rumah orang tuannya. kemudian Rinila melanjutkan ucapannya. "Cuacanya ekstrim Mom! Dinginnya mantap."
Mami manggut-manggut, ikut duduk di samping Rinila
"Ada cowok yang kamu naksir tidak di sana?" goda Mami sambil mencolek pinggang putri semata wayangnya itu.
"Cowok banyak, Mom! Tetapi belum tentu juga naksir." Sahut Rinila seraya meraih gelas teh diatas meja dan menyesapnya. Namun, lain di bibir lai di hati. Rinila melirik maminya yang tersenyum penuh arti.
"Aneh, senyum-senyum sendiri kenapa, Mam?" tanya Rinila curiga
Mami tak menjawab hanya mencubit pelan hidung Rinila
"Aku ke kamar dulu, Mam," cetus Rinila, "ingin baring, pegal."
"Tidak makan dulu?" tawar Mami
"Sudah tadi, Mam!"
"Ya sudah, istirahatlah, kamar sudah di bersihkan Bi Noni tadi."
Sampai dikamarnya Rinila menghempaskan tubuhnya ke kasur ukuran queen miliknya. Ia pun merenggang 'kan tubuhnya. Ia memikirkan perkataan maminya. Memorinya langsung terbang jauh ke sosok pria yang telah mengajaknya berkeliling kota pelangi, pria yang membuat jantungnya berdebar-debar saat bercanda dan tertawa. Rinila bergerak meraih tasnya dan ingin mencari kartu nama Bias. Namun, kartu nama itu entah dimana. "Ah, sudahlah! Bukan aku telah bertekat untuk tidak memikirkan untuk pacaran. Lebih baik, ku chatting dengan sahabat konyol ku." Rinila pun mengambil smartphonenya dan mengontak Ina, sahabatnya sejak duduk di bangku SMP.
Hai Bo, apa kau sudah kembali? Mana oleh-oleh untuk ku?
Ye ile! bukannya nanyain kabar, malah minta oleh-oleh.
Bagaimana mau nanya, nomor mu tidak aktif terus. Ngomong-ngomong dapat cowok ganteng tidak disana?
Tau saja, Mpeng
Jadi misinya berhasil dong!
Misi apaan?
Misi melupakan cowok mu yang berengsek, siapa lagi kalau bukan Radit.
Bukan hanya lupain dia tapi sudah kuputuskan untuk tidak mau pacaran lagi!
Yakin?
Tidak perlu di ragukan lagi,
Ya sudahlah, sampai ketemu besok.
*
*
*
Bagaimana sibuknya menyeimbangkan antara kuliah akademik dan praktik laboratorium untuk mengasah diri dalam tindakan keperawatan yang mumpuni. Semakin tinggi tingkatnya, semakin padat aktivitasnya, semakin berat beban pikiran, semakin stress dibuatnya. Untuk itu mental memang yang utama dimiliki. Tak heran, lulusan perawat, memiliki mental sekuat karang dalam menghadapi berbagai hal yang terjadi di masyarakat.
Rinila Paramitha dan Ina adalah salah satu mahasiswa keperawatan.
Suasana masih sunyi saat Rinila memasuki klinik kerja mahasiswa. Biasanya klinik akan ramai diatas jam sepuluh.
Pagi ini Rinila ada janji dengan dosen untuk menyerahkan ASKEP(ASUHAN KEPERAWATAN) yang sudah ia tulis utuk di tanda tangani dosen pembimbingnya.
Rinila mengamati kerangka tulang, memastikan kembali nama dari bagian-bagian kerangka dalam bahasa latin.
"Ini dia!" Suara yang mengagetkan Rinila yang saat itu sedang memegang tangan tengkorak. Hampir saja tengkorak di hadapannya jatuh karena hentak 'kan dari tangan Rinila karena ulah Ina . "Mana oleh-olehnya?" ucap Ina mengaget 'kan Rinila
"Hm. Itu ada di tas, ambil sendiri," cetus Rinila masih terkejut
"Cantik, Bo!"
"Ambil satu saja." Rinila mengingatkan "Kamu ada kerja apa hari ini?" tanya Rinila pada sahabatnya itu
"Palpasi," sahut Ina pendek
"Gampang dong!"
"Gampang sih tapi, yang mau jadi pasien tidak ada."
"Aku saja yang jadi pasien mu, mau tidak?" tawar Rinila
"Kamu yang terbaik." balas Ina sambil mengandeng lengan sahabatnya
Rinila pura-pura acuh dan melanjutkan tugasnya menghafal bagian-bagian tengkorak
"Psst." Desis Ina tiba-tiba, ia memberi isyarat pada Rinila untuk melihat ke arah pintu masuk klinik. "Le Min Ho."
Rinila tak perduli. Ia tetap sibuk menghapal 'kan bagian-bagian tengkorak di hadapannya
"Bo, barang antik kamu lewat 'kan," protes Ina berbisik pelan
"Aneh, Dokter Gaung kok di bilang barang antik," protes Rinila
"Bagaimana kamu tau, sedang kamu menatap kerangka tiruan itu seperti menatap kekasih mu yang kau cintai," sindir Ina
"Siapa lagi yang kamu juluki Le Min Ho, kalau bukan dia."
Ina kecikikian. "Apa kamu tau, Bo. Aku sering lihat Dokter Gaung curi-ciri pandang lihatin kamu." Ina mulai mengoda
"Berarti kamu yang sering curi-curi pandang ke dia." Rinila balas mengoda
"Tidak lah, mending ku lihat terang-terangan saja. Ya sudah, kalau kamu tidak suka sama Dokter Gaung. Kalau sama Radit suka?
Rinila hanya membalas dengan mata melotot.
"Tau tidak, Bo. Kalau aku jadi cowok, sekalipun kamu melotot, aku tetap bakal jatuh cinta. Untung aku cewek." Ina terus mengoda Rinila
Rinila mencubit hidung Ina, "Ini hadiah untuk kamu, Bawel."
"Aduh, Ampun Bo. Ampun, aku tidak lagi menganggu mu, mending kucari orang yang mau jadi pasien ku."
"Mending gitu, dari pada gangguin aku terus. Hus. Hus. Pergi sana." usir Rinila berpura-pura kesal melepas cubitannya dari hidung Ina.
Ina pun mencium gemas pipi Rinila dan berlari kecil meninggalkannya sambil terbahak.
tanpa Rinila sadari Dokter Gaung melihat tingkahnya bersama Ina.
Gaung Sabda Alam. Dosen muda baru, ia bertugas sekitar setahun belakangan. Mantan ketua Senat dan mahasiswa teladan di salah satu Fakultas kedokteran ternama di kota Awan. Di saat banyak dokter kesulitan menembus jalur birokrasi akademis. Dokter Gaung tak banyak hambatan berarti untuk menjadi dosen di kota itu membawa nama almamaternya.
Dokter Gaung bertugas di klinik kerja mahasiswa. Dokter Gaung bertugas mengawasi kerja mahasiswa, menerima laporan akhir mahasiswa dan sekaligus menjadi dosen pembimbing akademis termuda, tampan dan juga di kagumi para mahasiswi di kampus dimana Rinila melakukan studinya.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
"Pagi, Dok!" sapa Rinila, mengangguk hormat
Dokter Gaung terlihat gugup tetapi segera berhasil mengendalikan diri. Membalas sapaan Rinila dengan senyum dan anggukan.
"Hem. Bukan kah semua Askep mu sudah selesai, kecuali kontrol kedua?"
'Dokter Gaung tahu tentang tugas-tugas ku sedetail itu?' Rinila merasa sungkan
"Eh. Hem, iya, Dok!"