pertemuan Traveling

1125 Kata
Meeting pagi ini membuat Bias ingin melupa 'kan sejenak tentang Rinila, sosok gadis yang sejak kemarin memukau matanya. Namun, penyangkalan dalam hatinya bukan keputusan yang tepat. Sepanjang pagi itu, Bias tak dapat mengikuti meeting dengan baik. Pikirannya terbang pada sosok wanita cantik yang ia temui, Rinila, sosok gadis cantik yang di lihatnya sejak kemarin pagi, wanita yang membuat hatinya gelisah tak menentu dan membuatnya tersenyum tanpa ia sadari. Bias mengingat kembali saat pertama bertemu Rinila, saat ia duduk termenung di sudut jendela hingga Bias membuntutinya berkeliling kota Pelangi dan saat mereka dipertemukan kembali pagi ini, ia melihat Rinila tersenyum dan senyuman itu membuat wajah cantiknya semakin merona. "Rinila. Rinila. Rinila! Kau benar-benar mempesona." Nama itu mengema di dinding hati Bias. * * * Setelah menyelesai 'kan kerjaan Bias bergegas kembali ke hotel, mandi dan turun dari kamarnya. Tujuannya tentu saja dining room. Ia berharap malam ini pun bisa bertemu kembali dengan Rinila untuk bisa mengobrol lebih lama. Hampir dua jam menunggu Rinila, sosok yang di nantinya tak juga kelihatan. "Ayo lah, Rinila! Aku menunggu mu, ia memelas dalam hati." Namun, Rinila tak muncul-muncul Para pengunjung dinding room satu persatu mulai pergi, Bias melihat jam tangannya 21:00. "Sudah lah! Mungkin ia tak akan datang malam ini, Bias pun keluar dari ruangan itu dengan wajah cemberut dan kembali naik ke kamarnya dengan langkah berat, dan berharap besok pagi mereka masih bisa di pertemukan. "Bodoh! Bukannya seharusnya aku meminta nomor telepon nya!" katanya kesal pada dirinya saat menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia pun mengambil smart phonenya dan membuka folder foto. Disana ada beberapa foto Rinila yang kemarin ia ambil tanpa sepengetahuan Rinila. Ada senyum di sudut bibirnya. Ia pun bergegas bangkit dari kasur dan melangkah ke turun lobby. Tujuannya bertanya pada resepsionis, mencoba mencari tau nomor kamar Rinila. Tentu saja resepsionis tau siapa orang yang Bias cari "Kamar 999, dilantai tiga bagian sebelah kanan, cek out tiga hari dari sekarang dan saat ini dia sedang keluar," ucap gadis resepsionis tersenyum manis "Terima kasih, Cantik! Aku akan memberikan hadiah pada mu di lain waktu," balas Bias tersenyum mengoda gadis resepsionis yang telah memberinya informasi sambil mengedip 'kan salah satu matanya. Bias pun kembali ke kamarnya dengan hati yang bahagia. Masih ada kesempatan sebelum Rinila cek out. Bias membuat rencana agar bisa lebih lama mengobrol dengan Rinila saat bertemu nanti. * * * Keesok 'kan pagi pun sama, Bias bergegas ke dining room saat masih sepi, saat itu yang terlihat hanya satu dua orang yang berlalu lalang. Dengan sengaja Bias memilih duduk di meja yang terletak di sudut jendela. Tempat dimana untuk pertama kali, ia melihat Rinila. Beberapa saat setelah itu Rinila tiba disana, dining room hari itu terlihat penuh tidak seperti hari-hari sebelumnya. Ia melihat ke sekeliling, namun tak ada tempat kosong disana. Bias yang sedari tadi sedang memperhatikan Rinila melambai 'kan tangan padanya. Dengan enggan Rinila melangkah ke meja yang telah di tempati Bias. "Duduk lah! ku rasa kau tak akan mendapat tempat kosong," seru Bias mempersilahkan Rinila Rinila hanya tersenyum, ia meletak 'kan piring ditangannya di atas meja dan duduk dalam diam "Apa yang kau lakukan di kota ini?" Tanya Bias mulai mengobrol sambil memasukan makanannya ke dalam mulut, Rinila tetap tak menjawab dan dengan santai mengunyah. "Apa kau tak terbiasa menjawab pertanyaan dari seseorang?" sindir Bias Rinila menatap Bias, ada kekaguman di pikirannya sungguh elegan pria yang sedang duduk bersamanya "Apa ada yang salah dengan wajah ku?" tanya Bias mengibas-ngibas 'kan tangan di depan wajah Rinila "Ma ... Maaf!" ucap Rinila singkat, segera memaling 'kan wajahnya dan kembali mengunyah makanan. "Apa kau sakit? Kau terlihat begitu murung." Rinila tersenyum sedikit menggeleng dan berkata. "Aku baik-baik saja." "Syukur lah! Kau bisa berbicara, sempat terpikir oleh ku. Apa kau bisu? Tetapi jika kau bisu sangat tidak mungkin kau berbicara pada ku kemarin," sindir Bias tertawa kecil Rinila hanya memperhatikan Bias dengan raut wajah heran, 'benar-benar orang aneh.' benaknya Melihat Rinila yang hanya terdiam Bias pun kembali mengajukan pertanyaan "Apa yang kau lakukan setelah ini? Jika kau tidak keberatan dan sibuk, bisa kah kau menemaniku berjalan-jalan di kota ini? Aku akan mengajak mu ke beberapa tempat yang menjadi favorit para turis seperti mu saat datang ke sini. Ada satu tempat yang sangat indah seperti danau buatan, dan konon danau itu punya kisah romantis. Menurut penduduk lokal dulu ada sepasang kekasih yang harus berpisah karena salah satu telah di jodoh 'kan. Namun pada akhirnya kisah mereka happy ending." Bias ingin melanjut 'kan ceritanya, tetapi ucapannya terhenti saat melihat Rinila mulai meneteskan air matanya. Bias dengan segera mengeluarkan sapu tangannya, lalu bertanya. "Apa cerita itu membuat mu sedih atau jangan-jangan kau?" Ia menutup mulutnya. "Lupa 'kan sebaiknya tak perlu kesana," ucap Bias melanjutkan kata-katanya "Bisa kah kau mengajak ku ke tempat yang kau katakan tadi," pinta Rinila setelah mengusap air matanya "Ya jika kau mau, aku akan mengajak mu berkeliling ke semua tempat wisata di kota Pelangi ini." "Terima kasih!" Setelah itu Rinila dan Bias pun keluar dari dining room memulai perjalanan mereka. Rinila yang pada awalnya sedikit canggung dan malu pada akhirnya tertawa dan bercanda sepanjang perjalanan mereka. Bias terus mencerita 'kan berbagai lelucon yang mampu membuat Rinila melupa 'kan kesedihan dalam hatinya. Tiga hari sudah Rinila menghabis 'kan waktunya berkeliling kota bersama Bias, kehadiran Bias membuatnya melupakan kepedihan hatinya. "Bye-bye, kota Pelangi," gumam Rinila saat kendaraan yang ia tumpangi keluar halaman Pelangi Suite, tempatnya menginap tanpa berpamitan pada Bias. Siang ini Rinila bertolak kembali ke kota Awan. * * * Bias tergesa-gesa turun ke dining room dan bergegas ke lobby menanya 'kan keberadaan Rinila pada resepsionis. Pertanyaan Bias di jawab dengan angguk 'kan. Membenarkan dugaan Bias bahwa Rinila telah check out. "Bodoh!" Bias mengurut pada diri sendiri. Bodoh karena tak menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Rinila juga tak meminta nomor telepon Rinila. Bias bergegas menyusul ke bandara, ia berharap masih bisa dipertemu 'kan untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya mereka berpisah. Entah kapan akan bertemu Rinila lagi? Yang masih menjadi harapannya semoga Rinila tak membuang kartu nama yang telah ia berikan beberapa hari lalu. BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) Rinila pura-pura acuh dan melanjutkan tugasnya menghafal bagian-bagian tengkorak "Psst." Desis Ina tiba-tiba, ia memberi isyarat pada Rinila untuk melihat ke arah pintu masuk klinik. "Le Min Ho." Rinila tak perduli. Ia tetap sibuk menghapal 'kan bagian-bagian tengkorak di hadapannya "Bo, barang antik kamu lewat 'kan," protes Ina berbisik pelan "Aneh, Dokter Gaung kok di bilang barang antik," protes Rinila "Bagaimana kamu tau, sedang kamu menatap kerangka tiruan itu seperti menatap kekasih mu yang kau cintai," sindir Ina "Siapa lagi yang kamu juluki Le Min Ho, kalau bukan dia." Ina kecikikian. "Apa kamu tau, Bo. Aku sering lihat Dokter Gaung curi-ciri pandang lihatin kamu." Ina mulai mengoda "Berarti kamu yang sering curi-curi pandang ke dia." Rinila balas mengoda. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN