Pengakuan 2

1138 Kata
Ina melambaikan tangan pada Bias yang dibalas dengan lambaian pula oleh Bias. Sebelum lebih bawel, Rinila merangkul Ina. "Yuk, kukenalkan sama tante ku. Orangnya cantik, ramah, enak diajak ngobrol ... bla-bla-bla." "Kok gak pernah cerita kalo kamu punya sepupu sih, Booo?" protes Ina sambil berbisik, bahkan sempat-sempatnya ia menoleh ke belakang dan kembali melambaikan tangan ke Bias. "Cakep pula." Yang membuat Rinila ingin menjitaknya. Namun, bukan Ina namanya kalau tak sok kenal, sok dekat. "Kalau kamu masih tulah-toleh ke belakang, aku cubit kamu dan gak akan cerita apa pun," Rinila sok mengancam. Jarinya sudah siap mencubit pinggang Ina. "Okay, give up!" Ina menyerah. "Tapi, bentar, kamu kenapa sih, Boo? Kayaknya agak lain. Jangan bilang kalo kamu suka sama sepupu kamu! Mau dikemanain Dokter Gaung?" Kali ini Rinila benar-benar mencubit Ina. * * * Hari menjelang tengah malam, tetapi Rinila masih terjaga Kejadian di klinik tadi siang menari-nari di benaknya Tatapan Dokter Gaung, Bias yang cemburu, dan celetukan Ina. Rinila mengenakan sweter. Membuka pintu teras kamar, lalu duduk di balkon. Langit cerah malam ini. Purnama tak terhalang awan. Rumah sunyi sepi. Pasti semua sudah mimpi, pikir Rinila. Namun, Rinila salah. Di lantai bawah, di teras halaman belakang yang menghadap ke kolam renang, persis di bawah kamarnya, Bias duduk terpekur. Memain-mainkan bidak catur yang sengaja diletakkan di atas coffee table yang ada di sana. Andai Rinila belum tidur, harapnya. Bias berdiri, berjalan beberapa langkah, mendongakkan kepala. la terkejut sewaktu melihat balkon kamar Rinila. Di sana, Rinila duduk termenung. Tak menyadari kehadiran Bias. Tak menyia-siakan kesempatan ini, Biasmemanggil Rinila pelan. "Psssttt, Rinila," desisnya. Rinila terlonjak mendengar namanya dipanggil. Ia melihat Bias berada di bawah, berdiri dekat kolam renang. "Could you come down, please?" pinta Bias, suaranya pelan. Rinila menimbang-nimbang. Bias memohon dengan matanya. Rinila bergeming. "I need to talk to you," Bias masih berusaha. "Please." Lama-lama Rinila luluh, ia pun menghampiri Bias di teras bawah. Rinila memilih duduk di kursi ayunan rotan yang terletak di sudut teras. Dudukannya berbentuk lingkaran. Alasnya bantal tebal dan empuk. Bias mengamati Rinila yang telah mengenakan piyama celana panjang dan sweter. Rinila tetap memikat meski sweter-nya telah lusuh. Pasti sweter kesayangan, pikir Bias. Rinila memilin-milin ujung rambut. Menunggu Bias bicara. Bias menghirup napas dalam-dalam. "Rinila, tentang tadi siang ... " Bias menggantung kalimatnya. Suaranya pelan dan tenang. Rinila menduga-duga arah pembicaraan. Bias berdiri sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sebentar kemudian berjalan mondar-mandir. "Kamu tahu, aku dan Mommy akan pulang lusa. Aku tak tahu kapan lagi kesempatanku bicara denganmu." Rinila menunggu. "Tentang tadi siang .... " Bias menarik napas panjang sebelum melanjutkan. Rinila mendadak gelisah. Tanpa sadar, ia ikut menarik napas. "Bagaimana pendapatmu ... jika seseorang menyukai sepupunya?" Bias mengatakannya dengan terbata. Rinila mengembuskan napas perlahan. Berusaha bersikap tenang. "Seharusnya, no problem." "Tapi, menyukai sepupu, apa itu lazim, Rinila?Jika mereka menikah, apakah tidak akan terjadi hal-hal yang membahayakan? Memiliki keturunan dengan penyakit tertentu misalnya?" Bias kaget sendiri menyadari bicaranya yang terlalu jauh. "Kenapa bicaramu jadi berputar-putar begini?Kamu bicara tentang siapa?" Rinila tak ingin bertele-tele. la gemas melihat sikap Bias malam ini. Rinila lebih suka Bias yang lugas dan berani. Bias mondar-mandir lalu terdiam sejenak. "Tentang aku, tentang kamu .... " Rinila mendadak merasa perutnya bergejolak. Jantungnya bergemuruh saat Bias menghampiri dan duduk di hadapannya. "Please forgive me. I'm ... I'm sorry for loving you, my dear cousin." Rinila tercekat. Tenggorokannya terasa kering. Angin berkesiur pelan. Gerisik bambu meningkahi keheningan di antara mereka. Rinila tak mengira dugaannya benar. Lidahnya kelu. Namun, setelah lama bergeming, Rinila malah menanggapi perasaan Bias dengan protes. "Tapi, apa maksudmu bersikap menyebalkan selama ini?" "Ah, ya, itu ... jujur saja, aku memang ingin memberi sedikit pelajaran padamu, Nona Manja." Bias tertawa. "Selain itu, aku berusaha menyukaimu sebagai adik tapi ... gagal." Rinila merasa gejolak di perutnya belum mereda. Tungkainya gemetar. la memainkan ujung rambut, berusaha meredakan gemuruh jantungnya. "Bagaimana denganmu, Rinila? Apakah ... kamu memiliki perasaan yang sama denganku?" Rinila kaget ditodong seperti itu. la mengira Bias hanya ingin mencurahkan isi hati tanpa meminta kepastian darinya. la tak ingin menimpali pertanyaan Bias dengan jawaban gegabah. "Beri aku waktu untuk mengatakannya padamu." * * * Dikamarnya, gantian Rinila yang mondar-mandir resah. Merasa penat, Rinila duduk di atas kasur dan menyandarkan punggungnya ke dinding sambil memeluk bantal. la berdiskusidengan dirinya sendiri. Apakah aku menyukai Bias? Kalau begitu, mengapa aku tak menjawab 'iya' tadi? Tapi, benarkah aku menyukai Bias? Apa yang kusukai dari Bias? Mata cokelat mudanya? Sikapnya yang hangat? Gayanya yang lugas dan berani? Tanpa sadar Rinila menggeleng. Apa harus memiliki alasan untuk menyukai seseorang? Rinila bingung. Satu lagi Rinila, bukankah kamu telah bertekad untuk tidak memikirkan makhluk bernama laki-laki? bisik hatinya. Lelah memikirkan kecamuk pertanyaan dibenaknya Rinila pun tertidur tepat saat jam berdentangdua kali Malam telah berganti dini hari. * * * Seharusnya, hari ini sangat sempurna. Setidaknya bagi Rinila, sampai sebelum sekitar 10 menit lalu. Sejak perbincangannya dengan Bias semalam, suasana hatinya pagi ini sangat baik. la siap bicara meski belum menemukan kalimat yang tepat untuk disampaikan pada Bias. Setidaknya, hatinya telah menetapkan. Tinggal mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Bias sebelum Bias dan Tante Asti pulang. Bias pasti akan mendengar jawaban ku, pikir Rinila. Keceriaannya terbawa pikir hingga sepanjang hari bahkan tak merasa mengantuk meski semalam kurang tidur dan sekarang pergi hampir seharian. Mulai dari mengantar mamanya ke pasarswalayan hinggamengajak Bias dan Asti jalan-jalan. Malah lanjut Tante Astya dan Bias benar-benar memaksimalkan waktunya di Kota Awan sebelum mengakhiri liburannya besok. Rinila baru selesai memarkir kendaraan di garasi. Sedangkan Asti dan Bias sudah masuk ke rumah lebih dahulu. Sambil bersenandung, Rinila menaiki anak tangga dengan lincah, menuju kamarnya. la sempat heran karena tak menjumpai mamanya di ruang tamu. Biasanya sang mama menyambut kedatangan mereka. Di lantai atas, di sebelah kamarnya, pintu kamar mama terbuka sedikit. Samar-samar Rinila mendengar suara. Mama ngobrol dengan siapa, ya? tanya Rinila dalam hati. la menghampiri kamar mamanya perlahan, khawatir mengganggu. Rinila baru saja hendak membuka pintu kamar lebih lebar saat telinganya menangkap pembicaraan mama. la urung membuka pintu, malah menajamkan pendengarannya saat mama menyebut nama Asti, ibu Bias. "Bukan cuma kamu yang heran, Asti," urai mama sambil tertawa. "Aku aja yang tantenya tidak habis mengerti, apalagi kamu, ibunya, ya? Apa sih yang dicari Bias? Bohong kalau tidak ada perempuan yang tertarik sama dia." BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) Rinila mengangguk. Hatinya menghubung-hubungkan pembicaraan Tante Asti pagi ini dengan obrolan mamanya kemarin. Rinila menghalau prasangka buruk. Namun, hatinya telanjur kelabu. la sama sekali tak tertarik dengan blueberry pancake yang dihidangkan Bi Sinta. la tetap duduk di meja makan semata-mata untuk menemani Tante Asti. Tak lama, Bias bergabung dengan mereka. "Hi, Cousin!" sapa Bias hangat. Rinila tersenyum tetapi segera mengalihkan tatapan dari Bias. la menghindari kontak mata dengan Bias. Tapi, Bias jeli memperhatikan Rinila. "Hey, what's happen to your eyes?" Please, please, please, no need to take care of me, keluh Rinila. Itu akan membuatnya sulit merelakan Bias.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN