Pedihnya perpisahan

1074 Kata
Mama ngobrol dengan siapa, ya? tanya Rinila dalam hati. la menghampiri kamar mamanya perlahan, khawatir mengganggu. Rinila baru saja hendak membuka pintu kamar lebih lebar saat telinganya menangkap pembicaraan mama. la urung membuka pintu, malah menajamkan pendengarannya saat mama menyebut nama Asti, ibu Bias. "Bukan cuma kamu yang heran, Asti," urai mama sambil tertawa. "Aku aja yang tantenya tidak habis mengerti, apalagi kamu, ibunya, ya? Apa sih yang dicari Bias? Bohong kalau tidak ada perempuan yang tertarik sama dia." "Entahlah, aku pun tak mengerti." Rinila makin menegak 'kan telinga saat nama Bias ada dalam obrolan. la menguping lagi. "Jadi, Bias setuju dengan perjodohannya?" Pertanyaan mama hanya satu kalimat tetapi sudah cukup untuk mengguncangkan hati Rinila. Memorak-porandakan hatinya yang saat ini penuh asa. Seperti tersihir, Rinila mematung beberapa detik di depan pintu kamar mamanya. Bias sudah dijodohkan? Pertanyaan itu berpilin-pilin dibenak Rinila. la tak sanggup lagi menguping obrolan mamanya dengan Tante Asti. Rinila berjalan ke kamar setengah terhuyung. Terduduk di tepi tempat tidur. Tak ingin memercayai pendengarannya. Namun, semua melewati gendang telinganya dengan jelas. Hatinya nyeri saat mengingat kata perjodohan. la terkenang hubungannya dengan Radit. Lalu, kini Bias? Wajah Rinila yang bersinar ceria berubah sendu. Hatinya yang seharian ini sumringah, mendadak mendung. Rasanya baru lewat beberapa jam setelah ia mendengar Bias mengungkapkan isi hatinya, saat melihat mata Bias yang sarat akan permohonan, saat Bias menodong dirinya untuk menyampaikan hal yang sama. Mengapa Bias tak bilang kalau dirinya telah dijodohkan? Bias terlihat sungguh-sungguh saat menyampaikan maksud hatinya semalam. Mungkinkah Bias hendak mempermainkanku? Rinila tak bisa mengusir pikiran jelek dari benaknya. Ataukah aku yang terlalu bodoh? Bagaimana mungkin aku memercayai Bias, mengingat perlakuan Bias selama ini padaku? Bagaimana mungkin segalanya berlangsung sangat cepat, sementara aku baru bersama Bias kurang dari dua minggu? Bagaimana mungkin aku menyukai sepupu sendiri? Rinila merutuki kedunguannya. la bergegas kekamar Tak keluar hingga pagi menjelang. * * * Kaki Rinila berat untuk melangkah. Matanya masih menyisakan bengkak. Namun, ia harus bangun dan siaga mengantar Tante Asti dan sepupunya kebandara. Semalaman Rinila memikirkan sikap terbaik yang akan dilakukannya jika berhadapan dengan Bias. Rinila tak ingin bertingkah kekanak-kanakkan. Tadi malam, ia meneguhkan hati untuk "melepas" Bias. Andai aku masih punya waktu untuk mengklarifikasi berita yang kudengar pada Bias Sayangnya, Tante Asti dan Bias akan terbang ke Negeri Pelagi dengan pesawat terpagi. Rinila menyimpan gundah dalam hati. la akan bersikap profesional. Bukankah sejak semula aku hanyalah guide bagi mereka? Rinila menyapukan bedak tipis-tipis sambil tersenyum getir. * * * "Sudah siap?" tanya Rinila saat menjumpai Tante Asti di ruang keluarga. "Yes, ready!" tanggap Asti. "Hei, kenapa dengan matamu?" Rinila sudahmenduga pertanyaan itu. Sudah pula menyiapkan jawabannya. "Digigit serangga kayaknya." "Masa,sih?" tanya tante Asti tak percaya. "Bukan karena sedih akan ditinggal Bias?" Rinila terlengak sesaat, lalu tertawa sumbang. Bias masih belum kelihatan. Begitu juga mama dan ayah Rinila. "Anak Tante sudah siap?" tanya Rinila penasaran. "Yup, dia sedang nerima telepon," jelas Asti. Rinila mengangguk. Hatinya menghubung-hubungkan telepon yang diterima Bias pagi ini dengan obrolan mamanya kemarin. Rinila menghalau prasangka buruk. Namun, hatinya telanjur kelabu. la sama sekali tak tertarik dengan blueberry pancake yang dihidangkan Bi Sinta. la tetap duduk di meja makan semata-mata untuk menemani Tante Asti. Tak lama, Bias bergabung dengan mereka. "Hi, Cousin!" sapa Bias hangat. Rinila tersenyum tetapi segera mengalihkan tatapan dari Bias. la menghindari kontak mata dengan Bias. Tapi, Bias jeli memperhatikan Rinila. "Hey, what's happen to your eyes?" Please, please, please, no need to take care of me, keluh Rinila. Itu akan membuatnya sulit merelakan Bias. "Woow!" seru Asti. "Tom and Jerry sudah berbaikan rupanya?" Bias yang belum duduk, mengecup kening Mommynya. Tante Asti pura-pura mengaduh. Hati Rinila semakin duka melihat kehangatan Tante Asti dan Bias. Sikap sayang Bias pada Mommynya adalah salah satu sebab Rinila menyukainya. "Kamu sudah makan?" tanya Bias pada Rinila. la duduk di hadapan Rinila. "Belum, nunggu kamu, tuh!" serobot Tante Asti. Senang bisa menggoda keduanya. Bias sigap mengisi piring Rinila dengan sebuah pancake dan menyiram sedikit saus ke atasnya. Rinila tak sempat mencegah. Tante Asti beranjak, ia telah selesai sarapan. Asti sengaja membiarkan Rinila dan Bias. Rinila menyendok pancake-nya perlahan. Mengunyahnya dalam diam. 'What's happen to you, Honey?" bisik Bias. la tak kesulitan membaca raut wajah Rinila untuk tahu ada sesuatu yang dipendam Rinila. Ditambah mata Rinila yang masih sedikit bengkak. "Nothing" desis Rinila pelan. "Wajahmu tak mengatakan nothing, Dear." Rinipa tak tahan mendengar Bias memanggilnya dengan sebutan sayang. Tidak setelah apa yang didengarnya dari mama semalam. "Please don't call me honey, dear or whatever anymore!" "But ... why?" Bias bertanya tak mengerti. Raut wajahnya menampakkan kebingungan. Rinila tak menjawab. la melihat jam tangan. "Gottago, or u'll be late," sahut Rinila. la mengelap sudut mulut lalu beranjak. Bias refleks meraih jemari Rinila. Memintanya duduk kembali. "Aku tak peduli jika harus tertinggal pesawat," ucap Bias, matanya lurus menatap Rinila, tangannya erat menggenggam jemari Rinila. "Rinila, jelaskan, ada apa?" "Lepaskan dulu jemariku," pinta Rinila. "Ups, sorry," sesal Bias. Rinila tak segera berkata. Matanya mengarah ke pancake yang hanya dimakannya dua suap. la ingin menghujani Bias dengan beribu pertanyaan. Menuntut Bias menjelaskan segamblang mungkin tentang perjodohannya. Namun, mulutnya terkunci. Pandangannya mengabur, la menggigit bibirnya. Menguatkan hati. Tak ingin terlihat rapuh di hadapan Bias. Lelaki itu menunggunya dengan sabar.Ketika akhirnya Rinila bisa menatap Bias, Asti mengingatkan mereka. "Come on, guys or we'll be late!" "Come on!" ajak Rinila pada Bias, meniru Tante Asti. Bias mengikuti dengan enggan. Asti menyandang ranselnya. Bias juga. Tak lama, mama muncul, diikuti oleh ayah. "Lho, Ayah mau ke mana?" tanya Rinila heran melihat ayahnya menarik koper. Ayah ada meeting mendadak di Kota Pelangi, baru tahu semalam." Hati Sekar seakan tercubit sewaktu mendengar kata Kota Pelangi. la melirik Bias sekilas. "Tadi Mama bantu Ayah mengepak barang," tambah mama. "Aku minta maaf tidak bisa menemani sarapan dan tak bisa mengantar ke bandara." Asti dan Bias mengangguk mengerti.Keduanya menyalami orangtua Rinila. "Kapan main lagi ke Kota Awan?" tanya mama. "Belum tahu, Kak," jawab Asti, "Secepatnya, Tante," sahut Bias. Mama tertawa melihat Mommy dan anak tersebut.. "Tumben enggak kompak," gurau mama. Asti menyikut anaknya. * * * Asti tak banyak cakap ketika Rinila mengemudi. la bisa mencium sesuatu antara Rinila dan anaknya. Toh, Asti bukan anak kecil lagi. la lebih tua dari mereka. Namun, Asti tak hendak mempersoalkan sikap diam Rinila. la mengambil CD. Membaca nama penyanyinya. "Kenangan Terindah?" keningnya berkerut, "siapa, nih?" BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) Rinila mengusap air mata dengan tangan kirinya. Tangan kanannya memegang kemudi. la bahkan tak pernah menangisi Radit seperti ia menangisi Bias.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN