Asti tak banyak cakap ketika Rinila mengemudi. la bisa mencium sesuatu antara Rinila dan anaknya. Toh, Asti bukan anak kecil lagi. la lebih tua dari mereka. Namun, Asti tak hendak mempersoalkan sikap diam Rinila. la mengambil CD. Membaca nama penyanyinya.
"Kenangan Terindah?" keningnya berkerut, " karya siapa, nih?"
Asti segera memasukkan CD ke tape. Bias diam menyimak obrolan mereka.
Suara musik baru mengalun sebentar ketika mobil Rinila memasuki pelataran bandara Husein Sastranegara.Mereka bergegas ke departure hall. Waktu yang dimiliki Bias dan tante Asti hanya sekitar sejam lagi untuk check in dan boarding.
"Thank you for everything, Rinila," ucap Asti. la memeluk Rinila. "Aku sangat menikmati liburan ku kali ini. Kapan-kapan kamu yang main ke tempat kami, ya!"
Rinila mengangguk tersenyum. Asti lebih dulu masuk ke departure hall. Biad tak menyia-siakan kesempatan ini. la menarik tangan Rinila, mengajaknya ke sudut. Mereka berdiri berhadapan. Bias menatap Rinila lama, kemudian
mengembuskan napas berat.
"I don't really understand, Rinila," suaranya terdengar sedih. "What's happen?"
Rinila mematung.
"Rinila, kalau Papi tak menunggu di Kota Pelagi, aku tak peduli jika sekarang tertinggal pesawat lagi asal bisa mengetahui penyebab diam dan tangismu. So please ..., " Bias memohon dengan matanya.
Rinila menghela napas. la berusaha tenang ketika membalas kalimat Bias dengan sebuah pertanyaan. "Mengapa tak bilang bahwa kamu telah dijodohkan?"
Rinila menangkap sinar terkejut di mata Bias tetapi tak bisa memaknainya. Apakah itu sinar terperanjat karena baru tahu atau karena ketahuan? Rinila mengembuskan napas lalu mendorong Bias untuk menyusul Asti.
Bias melangkah gontai. Andai aku bisa menunda kepulanganku, keluhnya. Tak ada gunanya memaksa Rinila bicara karena Rinila bergegas pergi sesaat setelah mendorong Bias untuk masuk ke ruang keberangkatan.
Rinila menggigit bibirnya kuat-kuat. Sulit sekali menahan air mata ini agar tak tumpah, sama sulitnya dengan merelakan Bias untuk pergi darinya. Meski mereka tak saling mengatakan selamat tinggal. Rinila tak berani berharap Bias akan kembali.
Rinila sampai ke pelataran parkir. Men-starter mobilnya. Menyalakan tape-nya. Kenangan terindah mengalun lagl Tepat di lagu favoritnya. It's Not Goodbye.
How would I ever go on
Without you there's no place to belong Well someday love gonna lead you back to me till it does I'll have an empty heart
So I'll just have to believe
Some where out there your thinking of me
Until the day I'll let you go
Until we say our next hello
It's not goodbye
Till I see you again
I'll be right here remembering when ....
Rinila mengusap air mata dengan tangan kirinya. Tangan kanannya memegang kemudi. la bahkan tak pernah menangisi Radit seperti ia menangisi Bias.
*
*
*
"Nah, hari ini kamu beneran kelihatan suntuk," komentar Ina waktu melihat Rinila duduk di atas dental chair. Memainkan tombol pengatur naik turun. "Kamu kayak sedang main jungkat-jungkit."
"Why?" tanya Rinila belum "on".
"Itu, dental chair dinaik-turunkan kayak anak kecil main jungkat-jungkit di playground" terang Ina.
"Kamu kok masih rajin aja ke klinik, Na?" tanya Rinila.
"Aku nunggu jadwal ujian bagian," jelas Ina lesu
"Bukannya kamu udah kelar ujian?"
"Aku tidak lulus ujian."
Rinila kaget hingga menangkupkan telapak tangannya kemulut. Sedetik kemudian memeluk Ina. "Naa. maafin aku, ya! Sahabat macam apa aku sampai tidak tahu kabar kamu? Maafin aku yang cuma sibuk dengan urusanku sendiri. Padahal kamu full support sama aku waktu aku ujian kemarin. Maafin aku ya Naaa .... "
"Boo, Boo, kayak tidak kenal aku saja," sahut Ina jenaka.
"Aku yang tidak lulus berarti kesalahan ada pada diriku, bukan pada dirimu. Sudahlah, aku masih punya kesempatan ujian lagi."
Sekar malah tergugu. "Kamu wise banget, Naa .... "
"Siapa dulu dong sobatnya? Rinila Paramitha gitu lho!" Rinila membalas canda Ina dengan jitakan pelan.
"Sekarang, kamu harus cerita penyebab muka kamu yang sembap itu sama aku!" perintah Ina.
Rinila melihat ke sekeliling. KKM sudah cukup ramai. Para mahasiswa hilir mudik dengan tugasnya masing-masing.
"Kalau kamu gak nyaman ngobrol di sini, ke mushala, yuk!" ajak Ina penuh pengertian.
Pintu Mushala Rinila tidak menolak ajakan Ina.
Mushala kampus sangat resik. Pintu masuknya hanya satu, tetapi ruangannya terang karena jendela-jendela panjang dipasang di sisi kedua dinding. Sinar matahari tumpah ruah tempat ke dalam. Ditengahnya diberi pembatas tempat shalat perempuan dan laki-laki. Ruangannya tak besar, hanya sekitar 4x5 meter, tetapi didalamnya wangi, karpetnya bersih, mukena tergantung rapi, dan ada cermin seukuran 1,5 meter yang berdiri disudut tempat shalat perempuan. Jam sembilan pagi seperti sekarang, mushala belum ramai. Hanya satu dua orang terlihat menunaikan shalat Dhuha. Rinila dan Ina merapat ke sudut, ke tempat shalat perempuan yang masih sepi. Rinila menghela napas beberapa kali sebelum mulai bercerita. Ina menunggunya dengan sabar.
"Jadi gitu ceritanya, Naaa." Sekar mengakhiri curhatannya dengan helaan napas lagi.
Ina manggut-manggut mendengarnya.
"Kok bisa-bisanya aku suka sama sepupuku, ya?" tanya Rinila, pipinya bersemu.
"Ya, bisalah, Boo. Namanya juga suka, datang tak diundang, pulang tak diantar."
"Itu sih jelangkung, Ninceu."
Ina cekikikan. "Then, what's next?"
"Dunno."
"Come on, besmart, Boo! Kamukan bisa tanya mamamu soal perjodohan itu. Toh, kamu nguping langsung dari mamamu, kan?"
"Enggak, tanya Naa!" Rinila mengeleng. "Aku tidak akan pernah tanya soal itu ke mama. Ini yang kedua kalinya aku mengalami hal yang menyakitkan yang berhubungan dengan kata perjodohan.
"But, apa yang salah dengan perjodohan?"
Rinila melotot mendengar pertanyaan Sahabatnya itu.
Dengan sorot mata memelas, Ina minta maaf sudah kelepasan. "Okay, so sorry. Kita di sini untuk diskusi,kan? Cari solusi, kan? Atau, aku di sini cuma untuk lihat kamu bolak-balik menghela napas kayak orang mau partus?"
Mau tak mau Rinila tersenyum mendengar cecaran Ina.
"Good! Coba kamu pikir, apa yang salah dengan perjodohan? Selagi niatnya baik, tanpa paksaan, terus yang dijodohkan pun berkenan. So, what?"
Rinila terdiam sebentar sebelum bilang, "Aku tidak suka dijodohkan. Aku ingin menikah karena aku pilihan calon suamiku, bukan pilihan ortunya atau tantenya atau neneknya."
Gantian Ina yang diam, tetapi beberapa detik kemudian melanjutkan. "Pernah gak kamu bayangkan kalau yang dijodohkan itu kamu, Boo? Terus, ternyata, kamu suka sama orang itu. Apa kamu akan menolak lelaki itu cuma lantaran kamu dijodohkan? How come?"
Rinila tercenung. "Tidak, Na."
"Tidaaak apa?"
"Aku tidak akan pernah mau dijodohkan!"
Ina tak bisa membantah kekeras kepalaan sobatnya itu. la menyelidik, "Apa setelah ini kamu akan bilang kalau kamu gak akan mikirin makhluk yang namanya laki-laki?"
Rinila mesem-mesem, merasa tertohok dengan kalimat Ina. "Tidak, Naa. Aku tak akan bikin tekad-tekad konyol lagi karena nyatanya jadi senjata makan tuan untukku."
Ina tertawa. "Gimana kalau sekarang kamu fokus ke sidang kompre-mu?"
"Kalau itu sih aku udah siap," jawab Rinila kalem.
Ina jadi malu sendiri dengan sarannya. Rinila tidak perlu diajari soal ini. Rinila one of smartest and fastest student di KKM!
"Aku tuh kadang inget umur ..., " gumam Rinila.
"Tau tidak, kamu kayak udah tuaaa banget waktu ngucapin kalimat tadi," potong Ina.
Rinila terkekeh.
"Kita tuh baru 23 tahun Booo, ingat itu!" tegas Ina lalu geleng-geleng.
"Kenapa kamu geleng-geleng?" tanya Rinila.
"Enggak, cuma terpikir aja, perempuan ter-smart sekalipun, kalau sedang dirundung cinta, bisa oon. Kamu jadi sepertiaku kalau kayak begini," cerocos Ina.
"Dasar!" balas Rinila. "Aku anak tunggal, Na. Kalau sampai sekarang belum ada laki-laki yang serius sama aku, kapan aku nikah? Kapan aku punya anak, kapan ortu ku punya cucu? Sementara Aku ingin ambil master terus ambil spesialis. Aku harap bisa nikah sebelum melanjutkan study ku.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
Ternyata, Dokter Gaung. Rinila terpaku di tempatnya, beberapa langkah dibelakang Ina. Dokter Gaung seperti tak melihatnya. Mungkin karena sedang tak memakai kacamata. Rinila segera mengekori Ina ketika Dokter Gaung bersiap menunaikan shalat.
"Makin kagum aja deh sama dia," celetuk Ina seusai shalat Dhuha.