Kelulusan

1113 Kata
Rinila terkekeh. "Kita tuh baru 23 tahun Booo, ingat itu!" tegas Ina lalu geleng-geleng. "Kenapa kamu geleng-geleng?" tanya Rinila. "Enggak, cuma terpikir aja, perempuan ter-smart sekalipun, kalau sedang dirundung cinta, bisa oon. Kamu jadi seperti aku kalau kayak begini," cerocos Ina. "Dasar!" balas Rinila. "Aku anak tunggal, Na. Kalau sampai sekarang belum ada laki-laki yang serius sama aku, kapan aku nikah? Kapan aku punya anak, kapan ortu ku punya cucu? Sementara Aku ingin ambil master terus ambil spesialis. Aku harap bisa nikah sebelum melanjutkan study ku. Kali ini Ina mengangguk-angguk. "Hebat deh kamu, sudah mikir sejauh itu." "Lha, kamu pikir aku mau ngebina hubungan sama cowok cuma buat have fun tidak jelas? Pastinya aku punya harapan yang baik terhadap hubungan itu, dong. Kamu juga, kan?" Ina mengakui kalimat Rinila. "Nah, kalau gini balik lagi ke Rinila yang smart." Rinila menoyor pelan pundak Ina. "So, apa yang akan kamu lakukan setelah 'kasus' Bias?" "Lebih hati-hati sama laki-laki dan sama ... perasaanku sendiri." "Kamu pasti dapat yang terbaik!" tegas Ina. Rinila mengaminkan doa Ina. "Eh, btw, lucu gak sih, kita di mushala tapi gak shalat Dhuha?" tegur Ina. Rinila tersenyum malu. "Aku wudhu dulu, ah." Ina bangkit. "Eh, wudhu bareng!" Rinila ikut-ikutan berdiri, menyusul Ina. Di depan pintu masuk mushala, Ina menyapa seseorang. "Eh, Dokter. Assalamualaikum, Dok!" Ternyata, Dokter Gaung. Rinila terpaku di tempatnya, beberapa langkah dibelakang Ina. Dokter Gaung seperti tak melihatnya. Mungkin karena sedang tak memakai kacamata. Rinila segera mengekori Ina ketika Dokter Gaung bersiap menunaikan shalat. "Makin kagum aja deh sama dia," celetuk Ina seusai shalat Dhuha. "Siapa?" tanya Rinila heran. "Siapa lagi? Dokter Gaung, dong! Cuma dia dosen yang sering ke mushala!" "Yakin?" tanya Rinila. "Aku kan lumayan sering mampir ke mushala, Boo," ujar Ina. "Kok aku gak tau?" "Baru-baru ini aja deng, setelah aku gagal ujian," aku Nining malu-malu. Rinila tertawa. "Dokter Gaung tuh udah cakep, pinter, rajin ibadah lagi. Masa iya kamu gak suka ama dia sih, Boo?" "Ih ... kok jadi aku? Kan, kamu yang naksir." "Tapi, Dokter Gaung suka sama kamu dan aku ingin ngejodohin kalian berdua." Rinila mendelik mendengar kata jodoh. Ina tak peduli. "Menurutku kalian berdua serasi. So,what?" Rinila makin mendelik. Ina tertawa senang, berhasil menggoda Rinila. Sekarang Rinila punya banyak waktu luang. Sidang komprehensif sudah berlalu dengan sukses, dan wisuda tinggal hitungan minggu. la bersantai di kamar. Mengunduh foto-foto dari smart phone kesayangannya ke laptop. Hal yang jarang dilakukannya di masa-masa kuliah dulu. Rinila menyimpan semua foto-foto ke folder "love_fkg" lalu mengklik foto itu satu demi satu. Ada foto berdua Ina, mereka masih mengenakan jas laboratorium. Di belakang mereka tampak berderet dental unit. Ada foto Rinila bersama grup di KKM. Semuanya sepuluh orang. Tujuh perempuan dan tiga lelaki. Mereka berpose di kawah putih. Rinila ingat, waktu itu hari "kejepit" nasional, mereka pun berwisata bersama ke puncak. What a nice moment. Eh, siapa, nih? Rinila kaget mendapati foto mahasiswa cowok di kamera ponselnya. Oh ... ini kan cowok yang paling gendut di angkatannya. Asalnya dari negeri Upin Ipin. Di foto itu, sendok cetak berada dalam mulutnya sehingga mulutnya terlihat lebar sekali. Rinila tertawa geli. Ini pasti waktu belajar anatomi fisilogi di praktikum. Sekar mengklik foto selanjutnya. Itu foto dirinya. Di foto itu matanya sembap, hidungnya berair. Pasti Ina yang menjepret diriku. Tapi, aku kenapa, ya? Rinila memperhatikan tanggal di foto itu. Mengingat-ingat kejadian yang membuatnya menangis. Ah ya! Itu setelah aku dimarahi Dokter Metta karena dianggap egois, tidak mau berbagi tugas dengan temanku. Sedihnya masih terasa sampai sekarang kalau ingat pedasnya kata-kata dokter Adis. Tapi, ah, sudahlah. Toh, aku sudah lulus. Sekar masih tak percaya ia sudah melewati tahap akhir dalam pendidikan profesi. Sidang komprehensif dilaluinya dengan gemilang. Tak semenakutkan yang ia kira. Walau pun saat itu duduk dalam ruangan yang dikelilingi delapan dosen penguji dari delapan bagian ilmu keperawatan. la mendapat kasus yang tidak sulit untuk didiagnosis karena gejala klinisnya tampak jelas. Sewaktu pasien bilang perutnya terasa sakit ketika makan, tubuh demam, dan ada pembengkakan di sekitar perut, Rinila langsung mendiagnosis tumor. Penyakit berupa kumpulan nanah yang disebabkan infeksi pada saluran pencernaan atau jaringan pendukung sekitar perut. Para penguji manggut-manggut setuju pada jawaban dan penjelasan ilmiah yang diutarakan Rinila. Sekitar sejam berada di ruang "pengadilan", Rinila dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar perawat. Jangan tanya bahagianya Rinila! Tak terlukiskan dengan kata-kata. Jika ada satu hal yang membuatnya sedih adalah Ina tak bisa maju sidang bersamanya. Bisa dipastikan, Rinila akan diwisuda lebih dulu dan meninggalkan almamaternya. Rinila kembali asyik dengan foto-foto yang tengah diunduhnya. Tiba-tiba matanya terhenti di satu foto yang sedikit kabur tetapi masih cukup jelas untuk melihat objek dalam foto itu. Rinila memfokuskan pupil matanya untuk melihat sosok dalam foto. Astaga, itu kan aku dan ... Dokter Gaung! Di foto itu, Dokter Gaung tertawa sumringah, tak melihat ke tubuhnya menghadap kamera tetapi matanya tak melihat kamera. Sedangkan Rinila, tubuhnya menghadap ke Dokter Gaung. Namun, wajahnya menoleh ke samping, matanya pun tak melihat kamera. Tangannya memegang status pasien. Kapan dan apa yang kulakukan bersama Dokter Gaung waktu itu, ya? Rinila bertanya-tanya dalam hati. Pasti Dokter Gaung pun tak tahu kalau dirinya di foto. Siapa lagi yang menjepret foto ini kalau bukan Ina? Cuma ia yang Rinila izinkan memakai ponselnya. Mungkin waktu itu Ina sedang memegang smart phone milik Rinila dan tak menyia-siakan momen yang sangat bagus untuk mengabadikan Rinila dan Dokter Gaung. Awas kamu, Naa! Ancam Rinila dalam hati. Tentu saja, Rinila tak sungguh-sungguh dengan ancamannya. Rinila tak pernah sanggup menyakiti Ina, sobat bawel tapi baik hati. Rinila memandang foto itu sekali lagi. la teringat ucapan Ina yang mengatakan dirinya dan Dokter Gaung serasi, beberapa pasiennya pun mengucapkan hal yang sama. Aku dan Dokter Gaung serasi? Benarkah? * * * Auditorium Kampus dipenuhl ratusan wisudawan dan wisudawati. Rinila salah satu di antara mereka. Dalam hitungan beberapa menit kedepan, Rinila akan maju dan menerima ijazah. Seluruh ruangan hening, mendengarkan sambuta dengan khidmat. Mungkin hanya Rinila seorang yang ingin tersenyum mendengar. Rinila baru tahu kalau ia merasa sangat bahagia. Usai kata sambuatan dikumandangkan, tiba saatnya serah terima ijazah. Rinila melangkah anggun ke podium saat namanya dipanggil. Hatinya lega luar biasa. Rasanya bahagia bisa mempersembahkan toga dan ijazah pada ayah dan mamanya. Ayah dan mamanya tak henti-henti merangkul serta menciumnya. Mamanya bahkan berkaca-kaca. Bolak-balik mengusap air yang menggenang di matanya. "Sudah dong, Ma, masa sedih sih Rinila lulus?" "Rasanya bukan sedih tapi haru. Sepertinya ini baru kemarin Mama memakaikan mu popok, hari ini .... " sahut mama BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) Tak ada respons dari Gaung. "Ya, kan, Ung? Gaung?" tak ada jawaban. Bunda memaling 'kan wajah dan mendapati Gaung sudah tidur dengan lelap. "Oalaa, Gaung ... Gaung!" Bunda geleng-geleng lalu tersenyum. Bunda melepas kacamata Gaung dengan perlahan lalu mencium keningnya. Sweet dream, dear ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN