Usai kata sambuatan dikumandangkan, tiba saatnya serah terima ijazah. Rinila melangkah anggun ke podium saat namanya dipanggil. Hatinya lega luar biasa. Rasanya bahagia bisa mempersembahkan toga dan ijazah pada ayah dan mamanya.
Ayah dan mamanya tak henti-henti merangkul serta menciumnya. Mamanya bahkan berkaca-kaca. Bolak-balik mengusap air yang menggenang di matanya.
"Sudah dong, Ma, masa sedih sih Rinila lulus?"
"Rasanya bukan sedih tapi haru. Sepertinya ini baru kemarin Mama memakaikan mu popok, hari ini .... " sahut mama.
"Hari ini Rinila makin cantik, makin dewasa dan sudah jadi perawat, begitu kan maksud Tante?" sapa sebuah suara.
Mama kontan memalingkan wajah, mencari arah suara yang telah berani memotong kata-katanya. Rinila pun menoleh dengan cepat. Keduanya terkejut saat mengetahui si pemilik suara.
"Bias?" Mama lebih dulu terjaga.
Rinila masih mematung, tak percaya Bias hadir di acara wisudanya. Justru Ina yang ditunggu-tunggu tak kelihatan batang hidungnya. Sewaktu mengecek story whatup, Ina mengirim kabar kalau ia dan keluarganya harus ke luar kota karena pamannya meninggal. Aku ikut berduka, Naa....
"Kapan kamu datang? Dengan siapa? Kok tahu kami di sini? Kan ada banyak mahasiswa yang diwisuda hari ini?" Mama memberondong Bias dengan beraneka pertanyaan.
"Pertanyaannya banyak sekali, Tante, untung gampang menjawabnya," canda Bias.
Mama tertawa sambil merapikan selendang yang melorot dari pundaknya.
"Saya ambil penerbangan terpagi dari Kota Senja, Tante.
Ternyata telat juga, jadi tidak sempat melihat Rinila menerima ijazah. Saya datang sendiri. Mommy dan tentu Papy saja minta maaf tidak bisa datang," Bias melirik Rinila
sebelum melanjutkan kalimatnya. "Saya mengetahui nama Rinila Paramitha jadi cukup mencari barisan fakultasnya dan menunggu Rinila di sana."
Mama tersenyum mendengar uraian Bias yang panjang lebar. Berbeda dengan Rinila yang mulutnya terkunci, masih tak percaya dengan kedatangan Bias secara tiba-tiba. Jauh di relung hatinya, bunga-bunga harap bermekaran. Rinila sangat tersanjung dengan kehadiran Bias yang mendadak. Tiba-tiba hatinya berbisik, ingat Rinila, Bias telah dijodohkan. Bunga yang tadi bermekaran di hati menguncup lagi.
"Congratulation, Rinila," ucap Bias tulus.
Rinila mengucapkan terima kasih dengan lirih.
"Eh, kalian, lihat sini, biar Mama foto," tiba-tiba mama sudah mengarahkan kamera ke Bias dan Rinila.
Rinila berusaha menjaga jarak dengan Bias. Namun, Bias mencondongkan tubuhnya ke arah Rinila dan ... klik. Mama berhasil menjepret gambar mereka berdua.
Rinila tak menyadari sepasang mata mengamatinya, tak jauh dari tempat Rinila dan keluarganya berada.
*
*
*
Gaung melonggarkan dasi dengan gusar lalu mengemudikan mobilnya dengan resah. Dua bulan belakangan ini ia sibuk luar biasa. Menggantikan atasan di rapat-rapat kampus, menjadi dosen penguji di ujian bagian dan sidang komprehensif, belum lagi tugas mengawasi mahasiswa.
di KKM dan mengurus segala hal yang diperlukan untuk persiapan pendidikan master-nya. la mendapat beasiswa di Kota Pelangi untuk melanjutkan pendidikan S2.
Kesibukan itu tak ada artinya bagi Gaung kalau saja ada kesempatan bersua dengan Rinila. Masalahnya, berhari-hari tak dijumpainya Rinila di klinik. Sekali bertemu, Rinila malah bersama lelaki lain. Lelaki yang katanya sepupunya. Gaung percaya pada Rinila, tetapi tak percaya pada lelaki itu.
Pagi ini Rinila wisuda, Gaung tak mungkin lupa. Setelah membantu dekan di acara wisuda para sarjana dan Doker, Gaung berniat menemui Rinila. Sayang, ia terlambat. Ketika dirinya tinggal beberapa meter dari tempat Rinila, ia melihat Rinila dan lelaki, yang konon adalah sepupunya, di foto berdua.
Argh, harusnya aku sudah menyadari sejak dulu bahwa kehadiran lelaki itu tak bisa dianggap sepele, sesal Gaung.
la tak jadi menemui Rinila. la merasa ini bukan waktu yang pas. Gaung pun memutuskan pulang.Saat itulah,ia merasa tubuh dan hatinya sempurna lelah.
"Gaung" seru bundanya saat melihat ia memasuki ruang tamu.
Gaung mencium pipi sang bunda lalu mengempaskan tubuh ke sofa. Kebiasaan yang tak pernah lekang sejak kecil.
"Lihat, Bunda berhasil bikin kue lapis legit!" suara bunda terdengar sangat riang. Bunda membawa seloyang
lapis legit yang sudah matang ke ruang tamu. Meletakkannya keatas meja lalu memotong kue dengan hati-hati sambil bercerita.
"Kamu tahu, Gaung, untuk bikin satu adonan lapis legit, perlu 30 butir kuning telur. Bayangkan, 30 butir dan kuningnya saja! Terus, s**u, mentega, tepung dan margarin. Pantas saja kalau harganya mahal, ya? Belum lagi cara bikinnya. Susah, Ung! Bolak-balik keluar masuk oven. Benar-benar pengalaman berharga untuk Bunda. Tapi, penampakannya cantik, kan, Ung? Mudah-mudahan rasanya juga enak ya, Ung?" tanya bunda setelah cerita panjang lebar.
Tak ada respons dari Gaung.
"Ya, kan, Ung? Gaung?" tak ada jawaban. Bunda memalingkan wajah dan mendapati Gaung sudah tidur dengan lelap.
"Oalaa, Gaung ... Gaung!" Bunda geleng-geleng lalu tersenyum. Bunda melepas kacamata Gaung dengan perlahan lalu mencium keningnya. Sweet dream, dear ....
Bias diajak mama merayakan kelulusan Rinila. Bias makan siang sambil melirik arlojinya.
"Kenapa, Bias?" tanya Mama.
"Waktu yang saya punya tidak banyak, Tan." Buas kembali melirik arlojinya "Saya hanya ingin memastikan waktu yang saya miliki,Tante," jawab Bias sopan.
"Kamu mau ke mana?"
"Saya akan kembali ke Kita Senja hari ini juga.Pesawat saya take off jam 16.40 sore," jelas Bias.
"Duh, Bias ... Tante merasa sangat terhormat dengan kehadiran kamu. Kalau begitu, kamu tak boleh menolak acara makan siang ini. Makanlah bersama kami meski hanya sedikit dan sebentar, ya kan, Yah?" Mama mencari dukungan ke Ayah.
"Tentu saja. Om pun kangen masakan khas daerah sini. Kita ke resto tradisional saja ya, Ma?"
Mama mengangguk. Bias tak bisa menolak.
Restoran tradisional terletak di lower lobby Hyatt Regency Hotel. la menyediakan menu dari berbagai kota mereka dan olahan ikan yang terbaik, setidaknya untuk lidah orangtua Rinila. Pelayan memilih meja untuk mereka. Orangtua Rinila duduk berdampingan. Rinila dan Bias duduk bersebelahan, menghadap kedua orangtua Rinila.
Ayah makan dengan lahap berbagai hidangan yang disajikan. Udang goreng mayonnaise, bebek panggang, dan nasi goreng olahan bumbu tradisional. Mama menyikut lengan ayah pelan ketika mereka menikmati dessert, memberi kode pada ayah.
"Mama sajalah yang menyampaikan," usul ayah.
Mama pun berdeham. Rinila yang sejak tadi makan dalam diam mendongakkan kepala. Mama bolak-balik berdeham, seakan-akan ada sesuatu yang tersumbat ditenggorokannya. Mama meneguk air sebelum bicara.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
"Jadi, kamu sudah tahu kalau Bias dijodohkan?" Rinila mengangguk.
"Baguslah, lalu bagaimana keputusanmu?"
"Aku tak mengerti maksud mama.Bukankah Bias telah dijodohkan? Mengapa sekarang harus dijodohkan lagl denganku? Apa Bias akan dinikahkan dengan dua perempuan sekaligus?" tanya Rinila tak mengerti, Semakin tak mengerti saat melihat mama kembali tergelak.
"Rinila ..., Rinila ," mama masih belum menghentikan tawa. "Benar kata Ina dulu, "Kamu tuh smart tapi lugu."