Ayah makan dengan lahap berbagai hidangan yang disajikan. Udang goreng mayonnaise, bebek panggang, dan nasi goreng olahan bumbu tradisional. Mama menyikut lengan ayah pelan ketika mereka menikmati dessert, memberi kode pada ayah.
"Mama sajalah yang menyampaikan," usul ayah.
Mama pun berdeham. Rinila yang sejak tadi makan dalam diam mendongakkan kepala. Mama bolak-balik berdeham, seakan-akan ada sesuatu yang tersumbat ditenggorokannya. Mama meneguk air sebelum bicara.
"Begini, ada yang ingin Mama dan Ayah sampaikan padamu, Rinila. Tadinya hanya kita bertiga, tapi kedatangan Bias justru menyempurnakan hal yang ingin Mama sampaikan."
Rinila mengerutkan dahi. Bias berhenti mengunyah.
"Ehm," Mama berdeham lagi. "Rinila, Tante Asti menghubungi Mama semalam dan menitip pesan padamu, mengucapkan selamat atas kelulusanmu. Dia bilang, alangkah bahagianya jika bisa memiliki menantu yang cerdas, cantik, dan baik seperti kamu."
Rinila masih belum mengerti arah pembicaraan mama.
"Mama pun mengungkapkan hal yang sama pada Tante Asti. Alangkah senang hati Mama jika pemuda seperti Bias yang akan menjaga anak Mama."
Rinila menduga-duga maksud mamanya.
"Jadi, Mama dan Tante Asti sepakat menjodohkanmu dengan ... Bias."
Rinila hampir tersedak mendengarnya. Wajahnya pucat mendengar keputusan mama. Lewat sudut mata, Rinila bisa melihat Bias duduk dengan kaku. Apakah Bias sudah tahu hal ini? pikir Rinila.
"Bagaimana menurutmu Rinila?" tanya mama. "Dan kau Bias?"
Rinila tercenung sesaat, tetapi ia tak ingin diamnya diartikan persetujuan. Rinila mengumpulkan keberanian
dan mencoba bicara meski tenggorokannya sulit untuk bersuara. Namun, Bias mendahuluinya.
"Mommy sudah mengatakannya pada saya, Tante," ujar Bias tenang.
"Bagaimana keputusanmu?" kejar mama.
"Sebentar, Ma!" sela Sekar, "Rinila ... bukankah, bukankah Bias sudah dijodohkan, Ma?"
Gantian mama menautkan alis. Bias pun refleks menoleh ke Rinila.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya mama lembut.
Rinila menghimpun keberanian untuk menceritakan pembicaraan antara Tante Asti dan mamanya yang tak sengaja ia dengar beberapa waktu lalu. Mau tak mau ia menyiapkan hati untuk mendengar tanggapan mamanya. la mengaku salah telah mencuri dengar obrolan mamanya. Tadinya, bukannya marah, malah mama tergelak-gelak.
"Jadi, kamu sudah tahu kalau Adi dijodohkan?" Rinila mengangguk.
"Baguslah, lalu bagaimana keputusanmu?"
"Aku tak mengerti maksud Mama. Bukankah Bias telah dijodohkan? Mengapa sekarang harus dijodohkan lagi denganku? Apa Bias akan dinikahkan dengan dua perempuan sekaligus?" tanya Rinila takmengerti. Semakin tak mengerti saat melihat mama kembali tergelak.
"Rinila..., Rinila," mama masih belum menghentikan tawa, "Benar kata Ina dulu, 'Rinila tuh smart tapi lugu,Tante.' Mama melihat kenyataannya hari ini." Rinila diam dengan raut wajah bingung.
"Perempuan yang mau dijodohkan dengan Bias itu ya sudah di batalkan. Lain kali kalau menguping pembicaraan Mama jangan setengah-setengah, ya!" pesan mama lalu tergelak lagi.
Tak urung, Rinila merasa tersindir. la menunduk malu.
Jadi? Selama ini aku salah paham? Ternyata, perjodohan awalnya batal dan akulah perempuan yang dijodohkan dengan Bias sekarang? Jadi, Bias menyukaiku karena aku pilihan ibunya? Tapi, mengapa Bias tak pernah menyinggung perjodohan ini sebelumnya? Apakah dia tak tahu?
Dehaman Bias mengembalikan Rinila dari benaknya yang penuh oleh pertanyaan.
"Beri kami waktu untuk berpikir, Tante," tandas Biad. Seakan-akan mampu membaca pikiran Rinila sebab kalimat itu juga yang akan Rinila katakan pada mamanya.
"Saya minta izin ke luar ruangan sebentar bersama Rinila, Tante," pinta Bias. "Ayo, Rinila!
Rinila terkejut dengan inisiatif Bias. Namun, ia tak menampik. la memang menunggu kesempatan untuk bicara dengan Bias.
"So, ni hao ma?" Bias menanyakan kabar Rinila.
Sejak bertemu, baru ini kesempatan mereka berbincang berdua. Mereka memilih duduk menyudut di lobby hotel.
"Wo bu hao," jawab Rinila jujur. Rinila tak bisa memaknai perasaannya pada Bias saat ini. Dulu, hatinya melayang saat tahu Bias menyukainya. Lalu, perasaannya remuk redam ketika mendengar Bias dijodohkan. Kini, ia merasa dipermainkan karena ternyata dirinya yang dijadikan objek perjodohan itu.
Bias menatap Rinila. Wajahnya serius.
"Aku tak suka dijodohkan!" tegas Rinila tanpa tedeng aling-aling.
Bias tak mengira Rinila akan berkata setegas itu. Namun, ia menanggapi dengan tenang. Marah atau tak marah, Rinila tetap memesona di matanya.
"Why?" tanya Bias.
"Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, you know! Kita bisa memilih sendiri seseorang yang akan menjadi teman hidup kita selamanya. Lagi pula, seperti tak laku saja sampai harus dijodohkan," Rinila sarkastis.
Bias terkejut sesaat. "But, Siti Nurbaya dijodohkan dengan seseorang yang tak disukainya, right? Bagaimana jika dua orang yang saling menyukai dijodohkan, bukankah bagus?"
"Siapa bilang aku menyukaimu?" tuding Rinila.
Untung Bias tak gelagapan. la malah menikmati wajah Rinila yang cemberut, tak mengurangi kecantikannya sedikit pun.
"Rinila, kamu mungkin tak menyukaiku. Tapi, ada atau tidak ada perjodohan ini, aku telah menyukaimu, sejak awal kita bertemu dulu," suara Bias penuh keyakinan.
Rinila tertegun. Sejujurnya, ia senang mendengar kalimat Bias. Namun, hatinya telanjur membuat sekat. Baru disadarinya, ia masih alergi mendengar kata perjodohan dan semua yang berhubungan dengan hal ini.
"Aku sudah punya jawaban untuk kusampaikan pada mama," ujar Rinila.
Bias tahu kalimat Rinila belum selesai, ia menunggu.
"Aku tak akan pernah menerima perjodohan ini selamanya!" tandas Rinila.
Bias menunduk. Mengetuk-ngetuk sepatu. Memasukkan dua tangan ke saku celana lalu menatap Rinila. "Kalau begitu, sampaikan hal ini pada orangtuamu. Aku akan menyampaikannya pada orangtuaku. Tak ada perjodohan dan biarkan kita menemukan our true love by ourself, right?" Rinila bergeming.
"Satu hal yang harus kau ingat, aku sudah menemukannya. Aku hanya tinggal menunggunya menemukanku," tuntas mengatakannya, Bias pergi meninggalkan Rinila.
*
*
*
"Yah, kalau itu keputusan kalian, Mama terima," mama menghela napas berat.
Rinila memandang mamanya dengan suasana hati tak karuan.Terselip perasaan bersalah karena tak memenuhi keinginan mama. Rinila melirik Bias yang menunduk.
"Seharusnya Mama menyadari hal ini sejak awal. Kalian bukan anak kecil lagi. Sudah bisa menentukan pilihan masing-masing." Suara mama mengambang di udara. "Mama hanya ingin Rinila, dan kau Biad, mendapatkan yang terbaik."
Rinila mematung. Bias masih menunduk.
"Selain itu, Asti sudah tak sabar ingin menimang cucu, kami kira kalian berdua saling mencintai." Mama terkekeh.
Rinila dan Bias spontan menoleh lalu buru-buru memalingkan wajah.
"Jangan ragu mengabari Mama kalau kalian berubah pikiran, okay?" ujar mama sambil mengedipkan mata ke Rinila.
unction Room Hotel Grand ramai oleh kehadiran para dokter dan perawat yang baru di wisuda beberapa hari lalu diauditorium Universitas. Kali ini24 dokter dan perawat akan mengucapkan sumpah di hadapan dekan fakultas.
Rinila dan para dokter itu telah melakukan gladi resik untuk kelancaran acara pengambilan sumpah ini
Kini mereka berbaris di depan, berhadapan dengan dekan dan para pembantu dekan. Mengikuti upacara pengucapan sumpah dengan takzim.
Rinila disergap haru saat melafalkan satu demi satu butir Sumpah Keperawatan.
"Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial. Saya akan menghormati kehidupan insani mulai dari saat pembuahan."
Air mata Rinila menitik ketika sampai pada butir sumpah di atas. Aku akan berusaha menjadi perawat yang baik dan membawa kebaikan, tekadnya.
Seremonial pengambilan sumpah tak memakan waktu lama. Acara berikutnya adalah acara bebas. Para dokter dan para perawat baru dan keluarganya menikmati hidangan. Beberapa bahkan asyik berfoto. Rinila, orangtuanya, dan Ina tengah menikmati kudapan ketika seseorang menyapanya. Rinila menoleh.
"Dokter! Selamat siang, Dok," seru Rinila, segera berdiri dari tempat duduk, setengah tak percaya Dokter Gaung menghampiri mejanya.
"Selamat, Rinila" ujar Gaung seraya tersenyum. Meski sulit, Gaung segera memalingkan wajah dari Rinila. Mengangguk pada orangtua Rinila dan Nining.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
Rinila terkaget-kaget mendengar kalimat Dokter Gaung. Bukan karena mendengar Dokter Gaung sudah mendaftarkan keikut sertakan dirinya dalam seminar akbar kesehatan di luar Negeri melainkan karena dia ber-aku kamu dengannya. Terasa akrab dan dekat. Apa karena aku sekarang sudah menyandang gelar Ners, jadi dianggapnya teman sejawat, maka Dokter Gaung ber-aku kamu? pikir Rinila heran.
"Rinila?" Gaung memanggil Rinila yang sempat linglung sebentar.