Ber-aku kamu

1079 Kata
Air mata Rinila menitik ketika sampai pada butir sumpah di atas. Aku akan berusaha menjadi perawat yang baik dan membawa kebaikan, tekadnya. Seremonial pengambilan sumpah tak memakan waktu lama. Acara berikutnya adalah acara bebas. Para dokter dan para perawat baru dan keluarganya menikmati hidangan. Beberapa bahkan asyik berfoto. Rinila, orangtuanya, dan Ina tengah menikmati kudapan ketika seseorang menyapanya. Rinila menoleh. "Dokter! Selamat siang, Dok," seru Rinila, segera berdiri dari tempat duduk, setengah tak percaya Dokter Gaung menghampiri mejanya. "Selamat, Rinila" ujar Gaung seraya tersenyum. Meski sulit, Gaung segera memalingkan wajah dari Rinila. Mengangguk pada orangtua Rinila dan Nining. "Oh iya, perkenalkan, ini orangtua saya, Dok!" ujar Rinila sembari menunjuk ke ayah dan mamanya. Gaung menyambut hangat perkenalan itu. "Ini Ina, sahabat saya, Dokter pasti pernah melihatnya," kata Rinila. Ina mengangguk hormat kepada Dokter Gaung. "Oh ya, selamat juga untukmu, Ners Ina." "Saya belum disumpah, Dok," ujar Ina malu-malu. "Saya baru akan sidang kompre bulan depan." "Oh ... okay, good luck!" hibur Gaung. "Silakan, Dokter, mari makan bersama di meja kami," tawar mama. "Terima kasih, Bu. Saya hanya ingin mengucapkan selamat yang tertunda pada Rinila. Tadinya, saya ingin mengucapkannya seusai Rinila sidang kompre, tapi tak bisa. Lalu, saya pun telat datang ke acara wisuda beberapa hari lalu. Untung masih bisa bertemu Rinila di sini," urai Gaung panjang lebar. "Baiklah, silakan nikmati kembali hidangannya. Saya pergi dulu." Ayah, mama, dan Ina memberi hormat pada Dokter Gaung. Sedang Rinila tetap berdiri hingga Dokter Gaung pergi. Rinila baru saja hendak duduk ketika Dokter Gaung menghampirinya lagi. "Maaf Pak, Bu, saya izin mengajak Rinila keluar ruangan sebentar, boleh?" tanyanya sopan pada orangtua Rinila. Mama mengizinkan. Rinila mengikuti Dokter Gaung yang mengajaknya keluar dan berdiri di dekat lift. Dokter Gaung terdiam sebentar sebelum menyampaikan maksudnya pada Rinila. "Masih ingat kegiatan IDEM?" tanya Gaung. "IDEM?" Rinila mengangkat alis. Tak ada eyeshadow di kelopak matanya. Hanya eyeliner tipis yang mempertegas keindahannya. "International Dental Exhibition and Meeting, yang berhubungan dengan kesehatan mulut dan pencernaan, remember?" Gaung memberi tahu kepanjangan IDEM pada Rinila. "Ya, ingat! Dokter akan ke sana?" "Exactly! Aku sudah daftar, bagaimana denganmu? Mau ku daftarkan?" Rinila terkaget-kaget mendengar kalimat Dokter Gaung. Bukan karena mendengar Dokter Gaung sudah mendaftar melainkan karena dia ber-aku kamu dengannya. Terasa akrab dan dekat. Apa karena aku sekarang sudah menyandang gelar Ners, jadi dianggapnya teman sejawat, maka dokter Gaung ber-aku kamu? pikir Rinila heran. "Rinila?" Gaung memanggil Rinila yang sempat linglung sebentar. "Eh, ya, ya! Boleh, Dok. Terima kasih kalau Dokter mau mendaftarkan saya," ucap Rinila sambil mengangguk hormat. "Tak perlu seformal itu. Sekarang aku dan kamu rekan sejawat, ingat?" ucap Gaunh sambil menjentikkan jari Eh, apa katanya tadi? Rekan sejawat? Benar kan dugaanku! Beliau ber-aku kamu karena menganggapku rekan sejawatnya. Rinila malah sibuk dalam hati. "Bagaimana pembayarannya, Dok?" "Gampang, tunggu saja kabar dariku!" Mereka pun saling berpisah. Rinila menuju function room, sedangkan Gaung menunggu lift terbuka. Namun, Rinila mendengar namanya dipanggil lagi. "Ya, Dok?" Bagi Gaung, sulit sekali menyudahi pertemuannya dengan Rinila. "Apa kegiatanmu setelah lulus ini?" "Saya akan ambil praktek di rumah sakit, Dok. Tapi, sambil menunggu kabar, saya akan bantu teman di sebuah yayasan sosial." "Magang di sana?" "Ya, Dok. Yayasan yang membantu anak-anak penderita bibir sumbing." "Bagus. Kamu bisa dapat banyak ilmu dari situ. Kamu juga boleh magang di tempat praktikku kalau mau. Aku punya klinik bersama, tempat para dokter spesialis, bedah, Ortho, Bedah Mulut dan para medis lainnya berkumpul. Hubungi aku kapan pun kamu siap!" "Tawaran yang menarik. Akan saya pertimbangkan. Mari, permisi, Dok." Kali ini Gaung tak mencegah Rinila berlalu dari hadapannya. "Siapa dia, Rinila?" goda mama sesaat setelah Rinila duduk. "Mama sudah kenalan, kan? Itu Dokter Gaung, Ma!" jelas Rinila. Matanya melirik ke Ina yang mengedip-ngedipkan mata ke arahnya. "Mama tahu namanya Dokter Gaung. Maksud Mama, apa dia temanmu?" "Dia dosenku, Ma." "Eh? Dosen? Masih muda begitu?" "Iya, Tante. Masih muda, charming, smart, bermasa depan cerah. Serasi untuk Rinila, kan?" tiba-tiba Ina urun suara. Mama tergelak mendengarnya. "Bagus sekali saranmu kali ini, Naa!" tanggap mama, masih dengan sisa tawa. Rinila melotot ke Ina yang pura-pura tak melihatnya. * * * Sepulang dari pengambilan sumpah, Rinila mengajak Ina ke rumah. "Fiuuuh, akhirnya, bisa juga leha-leha tanpa memikirkan kerjaan ini dan kerjaan itu," ujar Rinila senang. "Eiiit, ingat, ini cuma sementara!" Ina mengingatkan sambil tertawa ala devil. "Huuu, gak bisa ya lihat aku senang sedikit?" protes Rinila sambil menimpuk bantal pada Ina yang sedang duduk di meja rias. "Iye, iye, tidur gih sono." "Eh, aku heran dengan Dokter Gaung," cetus Rinila tiba-tiba. "Eh? Tumben ada topik tentang dia," Ina tertarik lalu memutar tubuhnya menghadap Rinila. Yang dibalas Rinila dengan satu lagi timpukan bantal. "Okay, give up. Bukan apa-apa, kasihan tuh bantal dipake buat nimpuk melulu," gurau Ina. "Dokter Gaung tadi nawarin untuk mendaftarkan aku di IDEM." "Terus? Terus?"" "Terus beliau nawarin aku untuk magang di kliniknya." "Wow? Dokter Gaung punya klinik?" "He eh. Klinik bersama." "Duh, beruntung banget kamu, Boo! Kamu gak bakal- an nganggur, deh!" "Tapi, aku udah bilang kalo aku mau bantu teman di yayasan penderita bibir sumbing sambil nunggu keputusan dari rimash sakit keluar." Ina mengangguk-angguk. "Terus, kenapa kamu heran?" "Karena beliau ngomong banyak. Selama ini kan beliau irit bicara." Ina setuju. "Bukan cuma itu, beliau tuh bicara sambil ber-aku kamu tadi!" "Serius?" "Swear! Tapi, wajar sih beliau begitu, aku kan sudah jadi teman sejawatnya. Beliau pun bilang hal yang sama." "Rinila Paramitha," Ina menyebut nama aslinya, yang berarti ia akan bicara serius. Rinila menaikkan alis. "Coba buka mata hatimu lebar-lebar dan ingat-ingat sikap Dokter Gaung kepadamu selama ini. Tidakkah kamu mengerti? Dokter Gaung menyukaimu, Rinila!" Rinila tercenung demi mendengar nada suara Ina dan mencari kebenaran dalam kata-katanya. "Kenapa kamu gak mencoba belajar menerimanya?" Rinila terdiam, mencoba mencerna kalimat Ina sahabatnya itu. "Eit, jangan anggap aku menjodohkan kamu sama . Dokter Gaung lho, ya!" Ina sudah kembali ke nada suaranya yang semula. "Anggap aja aku menyomblangi kamu berdua." "Huuu!" Rinila menghujani Ina dengan bantal. BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) Dokter Gaung tak bisa lama-lama meneman Rinila menjelajahi ruang-ruang di klinik bersama yang buka dari pagi hingga malam itu, sebab ia harus kembali ke kampus, mengawasi mahasiswa seperti biasa. Rinila sangat mengerti dan tak perlu menunggu instruksi Dokter Gaung lagi untuk menempati ruang dokter kerja mereka sebagai tempat magangnya. Usai mengantar Dokter Gaung, Rinila kembali ke ruangan. Mengempaskan bokongnya di kursi kerja warna hitam yang kulitnya empuk dan nyaman, yang modelnya juga minimalis tetapi modern seperti seluruh ruangan. Cocok untuk melepas lelah sejenak setelah bekerja. Hmm ... bagus juga selera Dokter Gaung ... Eh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN