Lita kembali bersekolah setelah
hampir sebulan dia ijin, dengan
ketakutan dia mencoba berdamai
dengan dirinya sendiri menghadapi
ketakutan akan cibiran orang dan
omongan orang tentang kasusnya
dengan Yuli. Terutama tentang masa
lalunya yang dibahas oleh Yuli di
depan banyak orang waktu itu.
Hari pertamanya dia berangkat
sendiri karena hari ini Arkan sedang
mengurus pendaftaran Ujian Masuk
Perguruan Tinggi Negeri yang sudah
mulai membuka untuk jalur pertama.
Sebenarnya untuk orang kaya seperti
Arkan tidak perlu masuk perguruan
tinggi negeri pun pasti Babenya mau
membiayainya di universitas mana
saja yang ingin dia masuki, tapi dia
merasa ingin membuktikan kepada
Babeh dan juga Lita gadis juteknya
bahwa dia bisa berubah dan membuat
mereka berdua bangga.
Lita disambut dengan teriakan
dari teman-temannya yang sudah
menunggunya di depan gerbang
sekolah, dia yang datang terlambat
tidak memperhatikan bahwa teman
temannya membuat spanduk khusus
untuknya yang bertuliskan,
"Welcome Back Gadis Jutek Kami"
dengan kain warna kuning dan huruf
warna ungu, sungguh kontras dimata.
Saat sampai didepan gerbang
Lita berhenti sejenak karena dengar
ada yang memanggil namanya dengan
keras seperti berteriak.
"Woi cewe Jutek yang namanya Lita,
nengok atas dong!!!" teriak Sri Budi
ketua kelasnya yang entah kenapa hari
ini begitu kencang suaranya, padahal
dia terkenal paling kalem dan hampir
tidak ada suaranya.
Saat Lita menengadahkan kepala
dia melihat spanduk itu dan dia terdiam
dengan menahan air mata dan juga
disaksikan oleh semua murid disekolah
membuat dia menjadi lemas dan terharu
Atik dan Ipeh menghampirinya kebawah
dan mendampinginya naik tangga ke
lantai 3, dilantai 2 ada Roni dan Udin
yang siap dengan terompetnya dan
meniupnya dengan kencang tepat saat
Lita lewat.
"Sue....kaget gue" kata Atik melihat
ke arah Udin cowo yang sudah lama di
taksirnya semenjak dia belum masuk ke
sekolah ini.
"eh Udin yang tiup?... gapapa ayo tiup
lagi...ga kaget kok". katanya dengan
senyum manis ke arah Udin.
"Kagak...kaget tau", kata Lita ke
Atik dan Udin yang masih saling pandang
itu, "awas yah lu tiup gue bilangin Arkan".
ancam Lita pada Udin dan Roni yang
langsung diem dengar kata ancaman dari
Lita.
"Ya elah Ta, baru datang udah galak
aja". kata Roni yang hitam manis itu.
"Lagian lu, nyambut kok malah nyakitin
kuping gue, mending lu traktir gue makan
deh daripada ngagetin gue" kata Lita lagi
yang langsung dapat toyoran dari Roni.
"Mau lu pea...." katanya sambil ikut
mengantar Lita naik ke lantai 3.
Dalam ruangan kelas sudah ada bu
Nuraini atau yang biasa dipanggil dengan
bu Nur dan juga bu Sri sebagai kepala
sekolah. Mereka memeluk dan mencium
Lita sambil memberikan kata-kata yang
menyemangati Lita dan juga meledek
karena Lita sangat dibela sekali oleh
Arkan dan juga babenya yang sempat
membuat heboh sekolahan dengan ke
datangan polisi waktu itu untuk meminta
keterangan mengenai kasus Lita dan
Yuli.
"Semoga bisa jadi pelajaran dan
semoga kamu baik-baik aja yah Lita,
jangan sampai kamu ketinggalan
pelajaran, nanti kamu bisa minta Sri
Budi sebagai ketua kelas untuk kasih
kamu rangkuman dari ketinggalan
pelajaran kamu selama ini, lagipula
Arkan dan babehnya juga sudah
menyanggupi untuk membayar guru
pembimbing apalagi kamu kesusahan
mengejar ketinggalan kamu kemarin".
kata bu Sri lagi dan ditambahkan oleh
bu Nur yang tidak hanya memeluk
Lita dia juga mencium kening Lita
dengan berurai air mata.
"Wah Ta, dosa lu bikin Nyak
nangis, jarang-jarang kan preman
nangis" ledek Nariyah salah satu
teman Lita yang suka sekali humor.
"Iya nih, Nyak nangis make up jelek
dah nih, luntur dah bedak gue" kata
bu Nur lagi setelah bu Sri keluar dari
ruang kelas mereka.
"Pokoknya yah semuanya, Nyak
cuma bilang, bae-bae jaga diri, jangan
nyakitin perasaan orang lain, jangan
juga baperan orang bae dikit demen,
orang perhatian dikit jatuh cinta, yang
rugi lu juga malih" banyolan bu Nur
yang khas akhirnya keluar juga.
Jam istirahat Arkan datang dan
menemui Lita, dia sekalian mengurus
berkas-berkas yang diperlukan untuk
daftar kuliah, padahal ujian belum
dimulai, tapi Arkan sudah siap-siap
duluan. Kelas 3 emang sedang dilibur
kan bergantian karena sedang ada
ujian praktek sesuai dengan jurusan.
"Sayaang, makan yuk, aku
temenin" Kata Arkan saat menjemput
Lita dikelasnya, dia sudah tidak tahu
malu lagi keluar masuk kelas Lita
dengan bebas karena hampir semua
anak sekolah itu tahu kalau mereka
adalah pasangan. Lita menghampiri
Arkan dan mereka ke kantin bersama
dengan Atik dan Ipeh juga.
"Kan, lu masuk perguruan tinggi
mana?" tanya Atik sambil mengaduk
bumbu somay dipiringnya.
"rencana sih di Jakarta aja, kalau ga
UI ya di UNJ, gue males kuliah juga
sebenernya cuma karena kasian ama
babeh ga ada yang nerusin usahanya
ya mau ga mau gue kudu nyenengin
orang tua" jawab Arkan lemas, karena
sebenarnya dia tuh hobby main bola
dan juga bermain musik, berbeda jauh
dengan bidang usaha babeh Ali yang
dibilang property.
"Jiah lu mah ga boleh gitu, babeh
lu tuh cuma punya lu doang sekarang
jangan lu sia-siain deh, kesian" kata
Atik yang tumben banget bisa bijak.
"Iya... ini juga gue udah usaha
keles. Lagian gue juga pengen bikin
orang yang gue sayang bahagia juga"
kata Arkan sambil memegang tangan
Lita.
"Jiah mulai deh bucinnya, geli tau ga
lu berdua" kata Atik cepat menghabiskan
makanannya biar segera lepas dari duo
bucin tersebut.
***
Rossa dilanda kegelisahan semenjak
kehadiran Tardi dan juga Parmi yang
memohon agar Andi diberi kesempatan
untuk bebas, dan dicabut gugatannya.
Sebenarnya dia tidak tega dengan kondisi
Parmi yang katanya sakit-sakitan dan
sudah tidak bisa bekerja lagi, keluarga
mereka sungguh kepayahan karena harus
terus dimintai uang untuk mengurus dan
mengobati Andi yang bolak balik masuk
rumah sakit penjara karena kekerasan di
dalam penjara tersebut.
Tapi dia juga merasa sakit hati karena
Andi tidak menunjukkan itikad baiknya
yang pernah melepasnya dulu dengan cara
kekeluargaan bahkan mengulang kesalahan
dengan menyakiti Lita dengan bekerjasama
dengan Yuli yang membenci Lita karena
cintanya yang tak berbalas.
"Menurut papa gimana soal permintaan
Tardi dan Parmi kemarin?" tanya Rossa pada
suaminya.
"ga gimana-gimana ma! kita ga bisa berbuat
apa-apa, kan yang buat laporan bukan kita".
jawab pak Lundi pada istrinya.
"lagian ma, Andi juga ga kapok sih, udah kita
bebasin dulu, karena mandang orangtuanya
eh dia malah bikin ulah lagi". tambahnya.
"Iya sih, emang ga enak juga sama Arkan
dan babenya, mereka udah belain kita banget
loh, bahkan mereka juga yang membiayai
pengobatan Lita sampai sembuh dan pulih lagi
tanpa imbalan apapun". kata Rossa lagi.
"Nah itu juga ma, papa juga agak bingung
gimana hubungan Lita sama Arkan yah? kok
Lita ga trauma lagi kalau dekat sama Arkan?
kayak ga pernah terjadi apa-apa, padahal kan
dia pernah sampai ga mau lihat laki-laki, papa
aja pernah dibenci ama dia" tambah Lundi.
"Iya juga pa, trus kelanjutan hubungan
mereka gimana yah? kan kita beda agama
sama Arkan dan babenya". kata Rossa lagi.
"Biarin ngalir aja deh ma, toh mereka juga
masih pada muda. biarin aja berteman dulu
kalau udah pada dewasa juga mereka pasti
tau apa yang terbaik untuk mereka". kata
Lundi lagi.
"Ma....neng pulang...."suara Lita dan
juga Arkan terdengar didepan pintu rumah.
Rossa membukakan pintu dan menyilahkan
Arkan juga untuk masuk.
"Ga usah tante, Arkan ga masuk sekarang,
soalnya babeh mau minta tolong Arkan ke
kantornya katanya". kata Arkan sopan di
depan pintu rumah Lita.
"Oh gitu, ya udah salam buat babe ya
ati - ati juga di jalan". kata Rossa pada
Arkan yang sudah siap meluncur lagi.
"Gimana sekolahnya hari ini neng?
tanya Rossa pada Lita sudah berganti
pakaian, mereka bersama-sama makan
siang. Lundi yang memang hanya di
rumah saja memasak sayur ciri khas
kelurga mereka yaitu sayur goreng
asem.
"Baik ma, anak-anak tadi kasih
aku kejutan dengan kasih spanduk
dan tiup terompet pas neng masuk
gerbang sekolah, bikin malu aja tuh
anak-anak emang" kata Lita dengan
semangat bercerita pada mamanya.
"Syukurlah kalau udah baik-baik
aja, kepala kamu masih suka pusing?"
tanya Rossa lagi.
"Ga ma, oh iya tadi bu Sri ada kasih
salam buat mama dan papa untuk
datang ke sekolah, tapi untuk apanya
neng ga tahu" jawab Lita lagi.
"Oh iya mama lupa kemarin
mau ke sekolahan buat urus kasus
kamu kemarin agar memberikan
klarifikasi dan konfrensi pers, karena
akibat kejadian itu tahun ini sedikit
sekali pendaftaran murid baru disana,
mungkin takut anaknya ga aman di
sana". jawab Rossa juga.
***
"Pah, gimana keadaan anak kita
yah?" tanya ibu Esther pada suaminya
yang belakangan ini sering kali pulang
larut malam, hari minggu ini sebenarnya
kantor Johan tutup tapi karena dia ingin
menyenangkan wanita simpanannya
sehingga dia mengatakan pada istrinya
kalau dia sedang ada bisnis dengan klien.
"Ya mama coba tengokin aja, dia
disuruh rehab dan konsultasi dengan
psikiater mama ga terima, itu anak bikin
malu dan rugi papa tahu!" kata Johan
sedikit emosi.
"Ih papa kok ngomongnya gitu, Yuli
kan anak kita pa. Jangan kayak gitulah"
kata Esther mulai kesal.
"Cuma anak pungut aja ma, segitu
dibelainnya" jawab Johan enteng pada
istrinya yang mulai bawel itu.
"Pah!!!!! jangan pernah sebut Yuli anak
pungut yah!!!!!. harusnya kamu terima
kasih sama aku karena mau merawat
anak hasil hubungan gelapmu dengan
wanita murahan si Sherly itu, kamu yang
mohon-mohon untuk kita bisa mengurus
nya dan sekarang kamu dengan enteng
bilang dia anak pungut, liat kelakuannya
emang ga jauh beda sama kamu, ambisius
tapi ga pakai logika" kata Esther makin
emosi.
"Kalau bukan karena aku dapat harta
warisan dari orangtuaku mana mungkin
kau bisa mengembangkan usahamu seperti
sekarang". tambah Esther lagi.
"Loh..loh kok bawa-bawa warisan sih ma?
papa kan cuma lagi kesel aja, ga usah deh
ungkit-ungkit masa lalu, bikin bete aja".
kata Johan meninggalkan istrinya di ruang
tamu dan masuk ke kamarnya.
Esther duduk diruang tamu yang besar
namun sepi itu dengan berurai air mata, dia
kembali mengingat bagaimana 16 tahun
yang lalu dia menerima suaminya datang
dengan seorang bayi perempuan dan
meminta padanya untuk mengurusnya karena
kehilafannya sehingga anak itu harus dia
urus karena wanita yang melahirkannya
kabur dengan pria lain. Wanita yang menjadi
madunya itu setelah berhasil merebut perhatian
suaminya dan mendapat kunci deposito bank
yang menjadi haknya malah memilih pergi
meninggalkan Johan yang sedang terpuruk
karena kesalahan investasi.
Dia dengan penuh kasih sayang dan
lapang d**a menerima kesalahan suaminya
dan merawat dengan baik bayi perempuan
yang cantik itu dengan penuh kasih sayang.
Karena selama 5 tahun pernikahannya belum
juga mendapatkan momongan, padahal dia
sudah memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya
adalah normal, mau berpikir bahwa suaminya
yang mandul tapi sudah terbukti juga kalau
dia sudah membawa anak dari hasil hubungan
gelapnya dengan wanita yang akhirnya bisa
merebut Johan darinya.
Dia tetap mendukung dan menerima
Johan walau keluarga besarnya menghina dan
memaksanya untuk meninggalkan Johan
karena sudah mengkhianati Esther dengan
wanita lain sehingga mempunya anak haram
yang slalu saja diakui sebagai anak pungut
oleh Johan ayah kandungnya.
Dia menyesal karena berpikir bahwa
karma datang begitu cepat setelah dia juga
pernah meninggalkan orang yang begitu
mencintainya hanya untuk menikah dengan
laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti
Johan.
Dia membanding-bandingkan pria itu
dengan Johan yang sekarang, beruntung pria
itu mendapatkan istri yang lebih baik karena
memang pantas untuknya. Kabar yang terakhir
dia dengar adalah istri dan juga anak bungsunya
meninggal dalam kecelakaan saat dalam perjalanan.
Dia bahkan menjadi duda keren yang punya
usaha dimana-mana sebagai bentuk balas dendam
nya setelah diremehkan oleh Esther dan keluarga
nya ketika hendak meminangnya sedangkan saat
itu dia masih belum berhasil.
Karma bahkan menambah dengan sekarang
ini usaha dan bisnis suaminya mendapat suntikan
dana investasi dari mantan kekasihnya tersebut.
Hanya saja dia tidak mau memberitahukan hal
itu pada suaminya, takut berdampak buruk dengan
hubungannya dengan suaminya.
Ya...pria itu adalah babe Ali, 21 tahun yang
lalu sempat memadu kasih dengan Esther, tapi
karena perbedaan status sosial dan suku akhirnya
membuat keluarga mereka menolak dan tidak
merestui hubungan mereka.
Bahkan demi membuat Ali tidak lagi bisa
bertemu lagi dengan anaknya, keluarga Esther
menjodohkan anaknya Esther dengan Johan
yang adalah anak sahabat dari ayahnya Esther.
Setelah 5 tahun menikah Esther dan Johan belum
juga mempunyai keturunan, hanya karena gaya
Johan yang pandai sekali mengambil hati mertua
makanya Esther tetap bisa bertahan dengan Johan
yang pemalas itu, kerjaannya hanya bolak balik
club malam saja.
Kejadian paling fatal adalah pada suatu hari
Johan datang membawa gadis mungil dalam
gendongannya dengan penuh penghayatan dia
berlutut di kaki Esther meminta maaf dan berkata
bahwa ia khilaf sudah berselingkuh dan bayi itu
adalah hasil perselingkuhannya yang diakuinya
sebagai istri keduanya karena Esther tidak kunjung
hamil dan melahirkan anak untuknya.
Kebesaran hati Esther untuk menerima dan
keuntungan menjadi menantu dari keluarga kaya
membuat Johan besar kepala dan tidak belajar
dari kesalahannya sehingga dia kembali mengulang
kejadian perselingkuhan dengan asisten pribadinya
itu.
***
"yes baby...ayo sayang cepet masukin....
aku udah ga tahan lagi nih" teriak seorang gadis
diatas meja kerja atasannya yang sedang mencium
kedua payudaranya yang seksi dan menonjol dari
balik blazer kerjanya yang berwarna abu-abu itu.
"ah ...ah....ah...t***t kamu gede banget, bikin aku
betah ngisepnya.....kamu mau apa sayang? mau di
apain?" ledek sang pria dari atas tubuh gadis di
atas meja tersebut.
"ayo buruan ah, ga tahan lagi nih, udah becek..."
desah gadis itu lagi dengan keringat bercucuran
membasahi pakaiannya.
"nih rasain sodokanku....ayo teriak lagi..."
desah nafas dan aura m***m tercium dalam
ruangan tersebut, udara dingin dari AC 2 PK
yang ada diruangan tidak dapat menetralisir
suasana panas akibat percintaan terlarang di
antara kedua insan tersebut.
"Papa!!!!!!!!!!! apa-apaan ini?" teriak
Esther yang menghilang seiring ambruknya
dia dilantai.
Esther siuman dan mencium bau obat
dihidungnya, kepalanya yang sakit sekali
rasanya membuat dia menutup kembali
matanya dan mencoba mengingat kembali
apa yang dia alami, saat ingatan itu kembali
dia menjadi sangat marah dan membuka lagi
kedua matanya dengan pancaran emosi yang
sudah tidak lagi terbendung.
"Syukurlah ma, kamu udah sadar, kamu
udah bikin aku takut loh" kata Johan tanpa
sadar sembali memeluk istrinya, kedua orang
tua Esther melirik ke arah anaknya yang baru
saja siuman dan mendekati Esther.
"Kamu kenapa Esther? kenapa kamu bisa
tiba-tiba masuk rumah sakit seperti ini?" kata
Sandy mamanya Esther sambil memegang
tangan putrinya yang baru saja sadar itu.
"Ma...Esther mau pulang kerumah mama aja
boleh?" tanya Esther tanpa melepaskan tangan
mamanya tersebut.
"ya boleh lah, itu kan rumah kamu juga,
tapi ada apa kamu tiba-tiba mau pulang ke
rumah mama? kalian ga lagi bertengkar kan?"
tanya Sandy lagi pada putrinya.
"Inget jangan terus-terusan bertengkar, Yuli
butuh perhatian kalian, jangan karena kalian
egois membuat dia semakin depresi dan rusak
karena kurang perhatian kalian berdua" kata
Sandy lagi dengan bijak.
"Iya sayang, kita pulang kerumah kita
aja yah? kita juga kan harus mengurus Yuli
kita jadi kan atur dia bisa menemui psikiater
agar dia lebih lega setelah berkonsultasi dan
mencurahkan semua isi hatinya pada dokter".
jawab Johan membenarkan kata-kata dari
mama mertuanya. Padahal saat ini hati Johan
sedang dag dig dug takut istrinya akan cerita
pada orangtuanya dan membuat dia terusir
dari rumah mewah dan kehidupan mewahnya
selama ini.
"Gimana kondisi Yuli terakhir Han?"
tanya ayah mertua Johan dengan ketus, dia
sepertinya sadar permainan yang sedang di
jalankan Johan pada anak perempuannya.
"eh.. itu pa... e...' jawab Johan terbata-bata.
"Mana dia tahu pa kondisi anaknya,
dia kan sibuk setiap hari sama asistennya itu"
akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut
Esther.
Kedua orangtua Esther menoleh pada
Esther dan Johan bergantian dan memastikan
arti dari perkataan Esther barusan.
"Ah kamu bisa aja sayang, sibuk apa sih?"
kata Johan lagi gugup dan keringat dingin
mulai mengalir deras di pelipis dan dahinya.
"Yang tau kamu sendiri mas, aku juga
tidak tahu apa yang terjadi. semoga kamu
bisa menjawabnya didepan orangtuaku saat
ini juga" kata Esther lemas sambil menangis.
"Ada apa ini Johan? Esther? ada apa sih
sebenarnya? jangan membuat kami berdua
jadi penasaran?" tanya Sandy pada kedua
putri dan mantunya.
"Sekarang juga kamu keluar dari rumah mas,
tinggalkan perusahaan yang sudah aku berikan
padamu untuk kelola, kalau kerjamu hanya
bermain cinta dengan asistenmu saja". kata
Esther dengan terisak.
"Sayang...maafin aku, aku khilaf...maafin
aku sayang...tapi jangan tinggalin aku...aku janji
aku akan berubah" kata Johan dengan menangis
dan berlutut disamping tempat tidur dimana Esther
terbaring dengan lemah. Tangannya menggenggam
tangan Esther yang langsung ditepis dengan kasar
oleh Esther yang dengan tatapan benci kembali
mengusir suaminya yang selama ini sudah dicintai
dan diberikan kesempatan bertobat tapi kembali
menyakitinya dengan mengkhianati cinta mereka
entah untuk keseberapa kalinya.