Bab 12 - Jangan Tinggalin Aku

2652 Kata
Lita kembali bersekolah setelah hampir sebulan dia ijin, dengan ketakutan dia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri menghadapi ketakutan akan cibiran orang dan omongan orang tentang kasusnya dengan Yuli. Terutama tentang masa lalunya yang dibahas oleh Yuli di depan banyak orang waktu itu. Hari pertamanya dia berangkat sendiri karena hari ini Arkan sedang mengurus pendaftaran Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang sudah mulai membuka untuk jalur pertama. Sebenarnya untuk orang kaya seperti Arkan tidak perlu masuk perguruan tinggi negeri pun pasti Babenya mau membiayainya di universitas mana saja yang ingin dia masuki, tapi dia merasa ingin membuktikan kepada Babeh dan juga Lita gadis juteknya bahwa dia bisa berubah dan membuat mereka berdua bangga. Lita disambut dengan teriakan dari teman-temannya yang sudah menunggunya di depan gerbang sekolah, dia yang datang terlambat tidak memperhatikan bahwa teman temannya membuat spanduk khusus untuknya yang bertuliskan, "Welcome Back Gadis Jutek Kami" dengan kain warna kuning dan huruf warna ungu, sungguh kontras dimata. Saat sampai didepan gerbang Lita berhenti sejenak karena dengar ada yang memanggil namanya dengan keras seperti berteriak. "Woi cewe Jutek yang namanya Lita, nengok atas dong!!!" teriak Sri Budi ketua kelasnya yang entah kenapa hari ini begitu kencang suaranya, padahal dia terkenal paling kalem dan hampir tidak ada suaranya. Saat Lita menengadahkan kepala dia melihat spanduk itu dan dia terdiam dengan menahan air mata dan juga disaksikan oleh semua murid disekolah membuat dia menjadi lemas dan terharu Atik dan Ipeh menghampirinya kebawah dan mendampinginya naik tangga ke lantai 3, dilantai 2 ada Roni dan Udin yang siap dengan terompetnya dan meniupnya dengan kencang tepat saat Lita lewat. "Sue....kaget gue" kata Atik melihat ke arah Udin cowo yang sudah lama di taksirnya semenjak dia belum masuk ke sekolah ini. "eh Udin yang tiup?... gapapa ayo tiup lagi...ga kaget kok". katanya dengan senyum manis ke arah Udin. "Kagak...kaget tau", kata Lita ke Atik dan Udin yang masih saling pandang itu, "awas yah lu tiup gue bilangin Arkan". ancam Lita pada Udin dan Roni yang langsung diem dengar kata ancaman dari Lita. "Ya elah Ta, baru datang udah galak aja". kata Roni yang hitam manis itu. "Lagian lu, nyambut kok malah nyakitin kuping gue, mending lu traktir gue makan deh daripada ngagetin gue" kata Lita lagi yang langsung dapat toyoran dari Roni. "Mau lu pea...." katanya sambil ikut mengantar Lita naik ke lantai 3. Dalam ruangan kelas sudah ada bu Nuraini atau yang biasa dipanggil dengan bu Nur dan juga bu Sri sebagai kepala sekolah. Mereka memeluk dan mencium Lita sambil memberikan kata-kata yang menyemangati Lita dan juga meledek karena Lita sangat dibela sekali oleh Arkan dan juga babenya yang sempat membuat heboh sekolahan dengan ke datangan polisi waktu itu untuk meminta keterangan mengenai kasus Lita dan Yuli. "Semoga bisa jadi pelajaran dan semoga kamu baik-baik aja yah Lita, jangan sampai kamu ketinggalan pelajaran, nanti kamu bisa minta Sri Budi sebagai ketua kelas untuk kasih kamu rangkuman dari ketinggalan pelajaran kamu selama ini, lagipula Arkan dan babehnya juga sudah menyanggupi untuk membayar guru pembimbing apalagi kamu kesusahan mengejar ketinggalan kamu kemarin". kata bu Sri lagi dan ditambahkan oleh bu Nur yang tidak hanya memeluk Lita dia juga mencium kening Lita dengan berurai air mata. "Wah Ta, dosa lu bikin Nyak nangis, jarang-jarang kan preman nangis" ledek Nariyah salah satu teman Lita yang suka sekali humor. "Iya nih, Nyak nangis make up jelek dah nih, luntur dah bedak gue" kata bu Nur lagi setelah bu Sri keluar dari ruang kelas mereka. "Pokoknya yah semuanya, Nyak cuma bilang, bae-bae jaga diri, jangan nyakitin perasaan orang lain, jangan juga baperan orang bae dikit demen, orang perhatian dikit jatuh cinta, yang rugi lu juga malih" banyolan bu Nur yang khas akhirnya keluar juga. Jam istirahat Arkan datang dan menemui Lita, dia sekalian mengurus berkas-berkas yang diperlukan untuk daftar kuliah, padahal ujian belum dimulai, tapi Arkan sudah siap-siap duluan. Kelas 3 emang sedang dilibur kan bergantian karena sedang ada ujian praktek sesuai dengan jurusan. "Sayaang, makan yuk, aku temenin" Kata Arkan saat menjemput Lita dikelasnya, dia sudah tidak tahu malu lagi keluar masuk kelas Lita dengan bebas karena hampir semua anak sekolah itu tahu kalau mereka adalah pasangan. Lita menghampiri Arkan dan mereka ke kantin bersama dengan Atik dan Ipeh juga. "Kan, lu masuk perguruan tinggi mana?" tanya Atik sambil mengaduk bumbu somay dipiringnya. "rencana sih di Jakarta aja, kalau ga UI ya di UNJ, gue males kuliah juga sebenernya cuma karena kasian ama babeh ga ada yang nerusin usahanya ya mau ga mau gue kudu nyenengin orang tua" jawab Arkan lemas, karena sebenarnya dia tuh hobby main bola dan juga bermain musik, berbeda jauh dengan bidang usaha babeh Ali yang dibilang property. "Jiah lu mah ga boleh gitu, babeh lu tuh cuma punya lu doang sekarang jangan lu sia-siain deh, kesian" kata Atik yang tumben banget bisa bijak. "Iya... ini juga gue udah usaha keles. Lagian gue juga pengen bikin orang yang gue sayang bahagia juga" kata Arkan sambil memegang tangan Lita. "Jiah mulai deh bucinnya, geli tau ga lu berdua" kata Atik cepat menghabiskan makanannya biar segera lepas dari duo bucin tersebut. *** Rossa dilanda kegelisahan semenjak kehadiran Tardi dan juga Parmi yang memohon agar Andi diberi kesempatan untuk bebas, dan dicabut gugatannya. Sebenarnya dia tidak tega dengan kondisi Parmi yang katanya sakit-sakitan dan sudah tidak bisa bekerja lagi, keluarga mereka sungguh kepayahan karena harus terus dimintai uang untuk mengurus dan mengobati Andi yang bolak balik masuk rumah sakit penjara karena kekerasan di dalam penjara tersebut. Tapi dia juga merasa sakit hati karena Andi tidak menunjukkan itikad baiknya yang pernah melepasnya dulu dengan cara kekeluargaan bahkan mengulang kesalahan dengan menyakiti Lita dengan bekerjasama dengan Yuli yang membenci Lita karena cintanya yang tak berbalas. "Menurut papa gimana soal permintaan Tardi dan Parmi kemarin?" tanya Rossa pada suaminya. "ga gimana-gimana ma! kita ga bisa berbuat apa-apa, kan yang buat laporan bukan kita". jawab pak Lundi pada istrinya. "lagian ma, Andi juga ga kapok sih, udah kita bebasin dulu, karena mandang orangtuanya eh dia malah bikin ulah lagi". tambahnya. "Iya sih, emang ga enak juga sama Arkan dan babenya, mereka udah belain kita banget loh, bahkan mereka juga yang membiayai pengobatan Lita sampai sembuh dan pulih lagi tanpa imbalan apapun". kata Rossa lagi. "Nah itu juga ma, papa juga agak bingung gimana hubungan Lita sama Arkan yah? kok Lita ga trauma lagi kalau dekat sama Arkan? kayak ga pernah terjadi apa-apa, padahal kan dia pernah sampai ga mau lihat laki-laki, papa aja pernah dibenci ama dia" tambah Lundi. "Iya juga pa, trus kelanjutan hubungan mereka gimana yah? kan kita beda agama sama Arkan dan babenya". kata Rossa lagi. "Biarin ngalir aja deh ma, toh mereka juga masih pada muda. biarin aja berteman dulu kalau udah pada dewasa juga mereka pasti tau apa yang terbaik untuk mereka". kata Lundi lagi. "Ma....neng pulang...."suara Lita dan juga Arkan terdengar didepan pintu rumah. Rossa membukakan pintu dan menyilahkan Arkan juga untuk masuk. "Ga usah tante, Arkan ga masuk sekarang, soalnya babeh mau minta tolong Arkan ke kantornya katanya". kata Arkan sopan di depan pintu rumah Lita. "Oh gitu, ya udah salam buat babe ya ati - ati juga di jalan". kata Rossa pada Arkan yang sudah siap meluncur lagi. "Gimana sekolahnya hari ini neng? tanya Rossa pada Lita sudah berganti pakaian, mereka bersama-sama makan siang. Lundi yang memang hanya di rumah saja memasak sayur ciri khas kelurga mereka yaitu sayur goreng asem. "Baik ma, anak-anak tadi kasih aku kejutan dengan kasih spanduk dan tiup terompet pas neng masuk gerbang sekolah, bikin malu aja tuh anak-anak emang" kata Lita dengan semangat bercerita pada mamanya. "Syukurlah kalau udah baik-baik aja, kepala kamu masih suka pusing?" tanya Rossa lagi. "Ga ma, oh iya tadi bu Sri ada kasih salam buat mama dan papa untuk datang ke sekolah, tapi untuk apanya neng ga tahu" jawab Lita lagi. "Oh iya mama lupa kemarin mau ke sekolahan buat urus kasus kamu kemarin agar memberikan klarifikasi dan konfrensi pers, karena akibat kejadian itu tahun ini sedikit sekali pendaftaran murid baru disana, mungkin takut anaknya ga aman di sana". jawab Rossa juga. *** "Pah, gimana keadaan anak kita yah?" tanya ibu Esther pada suaminya yang belakangan ini sering kali pulang larut malam, hari minggu ini sebenarnya kantor Johan tutup tapi karena dia ingin menyenangkan wanita simpanannya sehingga dia mengatakan pada istrinya kalau dia sedang ada bisnis dengan klien. "Ya mama coba tengokin aja, dia disuruh rehab dan konsultasi dengan psikiater mama ga terima, itu anak bikin malu dan rugi papa tahu!" kata Johan sedikit emosi. "Ih papa kok ngomongnya gitu, Yuli kan anak kita pa. Jangan kayak gitulah" kata Esther mulai kesal. "Cuma anak pungut aja ma, segitu dibelainnya" jawab Johan enteng pada istrinya yang mulai bawel itu. "Pah!!!!! jangan pernah sebut Yuli anak pungut yah!!!!!. harusnya kamu terima kasih sama aku karena mau merawat anak hasil hubungan gelapmu dengan wanita murahan si Sherly itu, kamu yang mohon-mohon untuk kita bisa mengurus nya dan sekarang kamu dengan enteng bilang dia anak pungut, liat kelakuannya emang ga jauh beda sama kamu, ambisius tapi ga pakai logika" kata Esther makin emosi. "Kalau bukan karena aku dapat harta warisan dari orangtuaku mana mungkin kau bisa mengembangkan usahamu seperti sekarang". tambah Esther lagi. "Loh..loh kok bawa-bawa warisan sih ma? papa kan cuma lagi kesel aja, ga usah deh ungkit-ungkit masa lalu, bikin bete aja". kata Johan meninggalkan istrinya di ruang tamu dan masuk ke kamarnya. Esther duduk diruang tamu yang besar namun sepi itu dengan berurai air mata, dia kembali mengingat bagaimana 16 tahun yang lalu dia menerima suaminya datang dengan seorang bayi perempuan dan meminta padanya untuk mengurusnya karena kehilafannya sehingga anak itu harus dia urus karena wanita yang melahirkannya kabur dengan pria lain. Wanita yang menjadi madunya itu setelah berhasil merebut perhatian suaminya dan mendapat kunci deposito bank yang menjadi haknya malah memilih pergi meninggalkan Johan yang sedang terpuruk karena kesalahan investasi. Dia dengan penuh kasih sayang dan lapang d**a menerima kesalahan suaminya dan merawat dengan baik bayi perempuan yang cantik itu dengan penuh kasih sayang. Karena selama 5 tahun pernikahannya belum juga mendapatkan momongan, padahal dia sudah memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya adalah normal, mau berpikir bahwa suaminya yang mandul tapi sudah terbukti juga kalau dia sudah membawa anak dari hasil hubungan gelapnya dengan wanita yang akhirnya bisa merebut Johan darinya. Dia tetap mendukung dan menerima Johan walau keluarga besarnya menghina dan memaksanya untuk meninggalkan Johan karena sudah mengkhianati Esther dengan wanita lain sehingga mempunya anak haram yang slalu saja diakui sebagai anak pungut oleh Johan ayah kandungnya. Dia menyesal karena berpikir bahwa karma datang begitu cepat setelah dia juga pernah meninggalkan orang yang begitu mencintainya hanya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti Johan. Dia membanding-bandingkan pria itu dengan Johan yang sekarang, beruntung pria itu mendapatkan istri yang lebih baik karena memang pantas untuknya. Kabar yang terakhir dia dengar adalah istri dan juga anak bungsunya meninggal dalam kecelakaan saat dalam perjalanan. Dia bahkan menjadi duda keren yang punya usaha dimana-mana sebagai bentuk balas dendam nya setelah diremehkan oleh Esther dan keluarga nya ketika hendak meminangnya sedangkan saat itu dia masih belum berhasil. Karma bahkan menambah dengan sekarang ini usaha dan bisnis suaminya mendapat suntikan dana investasi dari mantan kekasihnya tersebut. Hanya saja dia tidak mau memberitahukan hal itu pada suaminya, takut berdampak buruk dengan hubungannya dengan suaminya. Ya...pria itu adalah babe Ali, 21 tahun yang lalu sempat memadu kasih dengan Esther, tapi karena perbedaan status sosial dan suku akhirnya membuat keluarga mereka menolak dan tidak merestui hubungan mereka. Bahkan demi membuat Ali tidak lagi bisa bertemu lagi dengan anaknya, keluarga Esther menjodohkan anaknya Esther dengan Johan yang adalah anak sahabat dari ayahnya Esther. Setelah 5 tahun menikah Esther dan Johan belum juga mempunyai keturunan, hanya karena gaya Johan yang pandai sekali mengambil hati mertua makanya Esther tetap bisa bertahan dengan Johan yang pemalas itu, kerjaannya hanya bolak balik club malam saja. Kejadian paling fatal adalah pada suatu hari Johan datang membawa gadis mungil dalam gendongannya dengan penuh penghayatan dia berlutut di kaki Esther meminta maaf dan berkata bahwa ia khilaf sudah berselingkuh dan bayi itu adalah hasil perselingkuhannya yang diakuinya sebagai istri keduanya karena Esther tidak kunjung hamil dan melahirkan anak untuknya. Kebesaran hati Esther untuk menerima dan keuntungan menjadi menantu dari keluarga kaya membuat Johan besar kepala dan tidak belajar dari kesalahannya sehingga dia kembali mengulang kejadian perselingkuhan dengan asisten pribadinya itu. *** "yes baby...ayo sayang cepet masukin.... aku udah ga tahan lagi nih" teriak seorang gadis diatas meja kerja atasannya yang sedang mencium kedua payudaranya yang seksi dan menonjol dari balik blazer kerjanya yang berwarna abu-abu itu. "ah ...ah....ah...t***t kamu gede banget, bikin aku betah ngisepnya.....kamu mau apa sayang? mau di apain?" ledek sang pria dari atas tubuh gadis di atas meja tersebut. "ayo buruan ah, ga tahan lagi nih, udah becek..." desah gadis itu lagi dengan keringat bercucuran membasahi pakaiannya. "nih rasain sodokanku....ayo teriak lagi..." desah nafas dan aura m***m tercium dalam ruangan tersebut, udara dingin dari AC 2 PK yang ada diruangan tidak dapat menetralisir suasana panas akibat percintaan terlarang di antara kedua insan tersebut. "Papa!!!!!!!!!!! apa-apaan ini?" teriak Esther yang menghilang seiring ambruknya dia dilantai. Esther siuman dan mencium bau obat dihidungnya, kepalanya yang sakit sekali rasanya membuat dia menutup kembali matanya dan mencoba mengingat kembali apa yang dia alami, saat ingatan itu kembali dia menjadi sangat marah dan membuka lagi kedua matanya dengan pancaran emosi yang sudah tidak lagi terbendung. "Syukurlah ma, kamu udah sadar, kamu udah bikin aku takut loh" kata Johan tanpa sadar sembali memeluk istrinya, kedua orang tua Esther melirik ke arah anaknya yang baru saja siuman dan mendekati Esther. "Kamu kenapa Esther? kenapa kamu bisa tiba-tiba masuk rumah sakit seperti ini?" kata Sandy mamanya Esther sambil memegang tangan putrinya yang baru saja sadar itu. "Ma...Esther mau pulang kerumah mama aja boleh?" tanya Esther tanpa melepaskan tangan mamanya tersebut. "ya boleh lah, itu kan rumah kamu juga, tapi ada apa kamu tiba-tiba mau pulang ke rumah mama? kalian ga lagi bertengkar kan?" tanya Sandy lagi pada putrinya. "Inget jangan terus-terusan bertengkar, Yuli butuh perhatian kalian, jangan karena kalian egois membuat dia semakin depresi dan rusak karena kurang perhatian kalian berdua" kata Sandy lagi dengan bijak. "Iya sayang, kita pulang kerumah kita aja yah? kita juga kan harus mengurus Yuli kita jadi kan atur dia bisa menemui psikiater agar dia lebih lega setelah berkonsultasi dan mencurahkan semua isi hatinya pada dokter". jawab Johan membenarkan kata-kata dari mama mertuanya. Padahal saat ini hati Johan sedang dag dig dug takut istrinya akan cerita pada orangtuanya dan membuat dia terusir dari rumah mewah dan kehidupan mewahnya selama ini. "Gimana kondisi Yuli terakhir Han?" tanya ayah mertua Johan dengan ketus, dia sepertinya sadar permainan yang sedang di jalankan Johan pada anak perempuannya. "eh.. itu pa... e...' jawab Johan terbata-bata. "Mana dia tahu pa kondisi anaknya, dia kan sibuk setiap hari sama asistennya itu" akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Esther. Kedua orangtua Esther menoleh pada Esther dan Johan bergantian dan memastikan arti dari perkataan Esther barusan. "Ah kamu bisa aja sayang, sibuk apa sih?" kata Johan lagi gugup dan keringat dingin mulai mengalir deras di pelipis dan dahinya. "Yang tau kamu sendiri mas, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. semoga kamu bisa menjawabnya didepan orangtuaku saat ini juga" kata Esther lemas sambil menangis. "Ada apa ini Johan? Esther? ada apa sih sebenarnya? jangan membuat kami berdua jadi penasaran?" tanya Sandy pada kedua putri dan mantunya. "Sekarang juga kamu keluar dari rumah mas, tinggalkan perusahaan yang sudah aku berikan padamu untuk kelola, kalau kerjamu hanya bermain cinta dengan asistenmu saja". kata Esther dengan terisak. "Sayang...maafin aku, aku khilaf...maafin aku sayang...tapi jangan tinggalin aku...aku janji aku akan berubah" kata Johan dengan menangis dan berlutut disamping tempat tidur dimana Esther terbaring dengan lemah. Tangannya menggenggam tangan Esther yang langsung ditepis dengan kasar oleh Esther yang dengan tatapan benci kembali mengusir suaminya yang selama ini sudah dicintai dan diberikan kesempatan bertobat tapi kembali menyakitinya dengan mengkhianati cinta mereka entah untuk keseberapa kalinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN