Bab XI - Bangkit

3137 Kata
Dua minggu setelah kejadian itu Lita sudah diperbolehkan pulang, dengan catatan tidak boleh dibiarkan untuk memaksakan ingatannya yang masih sering kali hilang dan timbul. Yuli selain diberikan hukuman sanksi dikeluarkan dari sekolah, juga disarankan oleh pihak kepolisian untuk menjalankan konsultasi dengan dokter atau psikiater, tapi saran itu ditolak mentah-mentah oleh ibu Esther yang tidak terima anaknya diperlakukan seperti orang yang terkena gangguan jiwa. Arkan masih setia menemani Lita dalam masa pemulihannya, pak Lundi dan ibu Rossa merasa sangat tertolong oleh kehadiran Arkan yang banyak mendukung dan menemani Lita untuk kembali tenang dari beberapa hari terakhir dia sering histeris. Anik juga masih dalam masa pemulihan, hanya saja pihak keluarga nya memutuskan untuk membawa paksa Anik karena kekurangan biaya. Anik juga masih dikenakan sanksi dari sekolah karena menjadi saksi dan komplotan kejahatan yang di lakukan oleh Yuli. Sedangkan Andi yang sudah pasti harus bertanggung jawab atas perbuatannya dimasa lalu pada Lita ditambah dengan kerjasamanya dengan Yuli menambah daftar dosa semakin menjadi panjang. *** "Ta, gimana keadaan kamu hari ini?" tanya Arkan pada Lita yang terlihat murung hari ini, hampir setiap hari Arkan sekarang mengunjungi Lita dirumahnya, kedua orangtuanya Lita memberi ijin penuh untuk mengunjungi setiap waktu dan kapanpun Arkan mau. "Ga kenapa-kenapa, aku cuma lagi bingung aja, seperti ada yang aneh. Aku merasa asing dengan diriku sendiri". kata Lita dengan tatapan kosong. "Kita jalan-jalan yuk sayang, mungkin kamu bosen kali dirumah, udah hampir 2 minggu loh kamu ga kemana-mana". kata Arkan lagi. "Kamu bahkan melewatkan acara band kita minggu lalu, padahal aku mau manggung sama kamu". katanya lagi dengan tatapan sedih. "Masa sih Kan? kok aku ga inget yah?" keluh Lita lagi, badannya agak sedikit kurus karena kurang napsu makan belakangan hari ini, Rossa yang melihat hal itu hanya bisa menangis di depan kamar Lita. Dia sangat merasa bersala karena semua kejadian ini dimulai dari rasa tidak percayanya pada anak perempuannya itu. "udah ga usah banyak mikir lagi, babe kangen tuh sama kamu, dia ngajak kamu makan siang dirumah, gimana? mau ga?" tanya Arkan lagi sambil bersiap bangun dari tempat tidur Lita dan menarik LIta untuk ikut dengannya. "Kamu mandi dulu sana, masa cantik gini bau acem"...ledeknya lagi. "Enak aja bau acem, aku ga bau tau" sahut Lita kesal dan beranjak ikut bangun dan menuju kamar mandinya untuk mandi. "Arkan.....tante ngucapin banyak terima kasih yah, kalau bukan karena kamu dan babe kamu mungkin Lita akan terus terpuruk terus kalian berdua selalu membuat dia tersenyum," tambah bu Rossa lagi pada Arkan saat dia keluar kamar Lita menuju ruang tamu dan duduk bersama pak Lundi dan Adi adik Lita yang bungsu. "Sama-sama tante, tante tau kan saya sayang banget sama Lita, dia juga salah satu alasan saya bisa bertahan dengan kesakitan saya setelah ditinggal meninggal Nyak dan adik bungsu saya". kata Arkan lagi. "Iya Kan, sekarang Lita walau masih tidak mau banyak bicara tapi sudah mau duduk bareng sama kami keluar kamar, tapi masih diam....setidaknya kami sudah sangat bersyukur" kata pak Lundi lagi dengan mata nya yang berkaca-kaca menahan air mata. "aku udah siap" kata Lita keluar dari kamarnya. "Assalam mualaikum.....Nci...bang...." terdengar teriakan dari luar pintu rumah ketika Feby keluar membuka pintu terdengar teriakan dari Feby sehingga semua orang menghampirinya. "Kenapa ce?.... teriak Rossa tertahan saat melihat siapa tamu yang ada didepan rumah mereka. Kedua orang tua Andi datang didampingi oleh anak laki-laki kedua mereka yang bernama Asri. Rossa mempersilahkan tamu nya masuk, Lundi dan Arkan berdiri dan mempersilahkan tamu yang baru itu duduk. "Ada apa Tardi, lu datang kerumah gue? bukannya udah gue bilang ga usah lagi lu datang kerumah gue lagi" kata pak Lundi dengan nada jutek. "Gini bang, saya ama Parmi juga Asri kesini mau minta maaf, karena lagi-lagi Andi bikin ulah ama keluarga abang" kata pak Tardi sambil menunduk tidak berani melihat pada Pak Lundi dan bu Rossa. "Eh pak Tardi dan bu Parmi....kemana aja? kok ga pernah keliatan?" teriak Lita menghampiri kedua orangtua Andi. Arkan yang bingung segera menarik Lita mundur dan memegang tangannya memberi kode agar tetap duduk disampingnya. pak Lundi dan bu Rossa syok melihat Lita lebih mengenal Parmi dan Tardi dibanding dengan mereka. "Neng apa kabar? sehat neng?" tanya bu Parmi dengan gemetar, dia sadar sekali kalau anaknya Andi sudah banyak membuat kekacauan dan kesakitan pada Lita sehingga dia tidak berani berharap Lita bersikap baik padanya, namun melihat sikapnya Lita dia makin menjadi merasa bersalah. Dengan tatapan bingungnya dia melihat pada bu Rossa untuk memberi penjelasan padanya tentang sikap Lita itu, karena saat terakhir Lita dicurret, saat sadar Lita tidak mau ditemui olehnya. "Dia kehilangan ingatannya pada beberapa orang yang dianggapnya jahat, dulu kan kalian yang selalu menemaninya saat dirumah, saat saya dan suami saya keluar rumah, mungkin itu juga yang bikin Lita masih mengingat kalian, karena kalian sebenarnya sayang dan disayangi oleh Lita hanya "DIA" saja yang jahat padanya". jelas bu Rossa dengan berlinang air mata terbayang betapa dia seringkali cuek dan mengabaikan Lita dan lebih memperhatikan Febby juga Adi. Lita bagai anak angkat yang tidak pernah dianggap ada dirumah dulu. "Ya Allah neng.....cepet sembuh dong neng, ibu sedih kalau neng ampe kaya gini" isak Parmi memeluk Lita disamping Arkan. "Om... tante Arkan ajak Lita kerumah yah? biar ga kesiangan" kata Arkan mencoba untuk membawa Lita pergi dari sana dan dari situasi yang membuat canggung itu. "Iya Kan, salam buat babe yah, makasih udah mau nemenin Lita ya Kan" kata Rossa melepas anaknya dan Arkan pergi. Sepeninggal Arkan dan Lita, Parmi dan Tardi mencoba untuk meminta pada Lundi juga Rossa untuk mencabut gugatan atas Andi anak mereka. Karena menurut info yang beredar Andi sering kali mendapat siksaan dalam penjara. Bahkan seminggu ini sudah 2 kali dia dibawah ke rumah sakit penjara karena mendapat kekerasan dalam penjara. Dia dianggap jahat sekali karena melakukan perkosaan berulang kali dan membuat korban menjadi trauma dan lupa ingatan. Rossa dan Lundi saling melihat, jujur mereka sendiri bingung dengan kondisi ini, disatu pihak mereka dendam dan sakit hati sekali melihat Andi orang yang sudah sangat dipercaya malah menyakiti dan menyiksa putri mereka, tapi dilain pihak mereka juga tidak tega dengan kedua orangtuanya yang memang tidak mampu, tapi mereka pernah sangat membantu dan ikut mengurus Lita selama mereka dulu sibuk mencari nafkah diluar rumah. *** "Babeh......Lita dateng nih, Lita bawain kue pancong doyanan babe" teriak Lita tanpa merasa canggung di rumah Arkan yang sudah menjadi rumah keduanya. "Nah si botoh dateng....sini neng, babe lagi ngupi dikolem" jawab Babe Ali masih duduk dipinggir kolam renang yang ada di dalam rumahnya itu. "Ciyeee gegayaan duduk dikolem, emang bisa berenang beh?" teriak Arkan membawa beberapa piring dan gelas berisi minuman yang sudah disiapkannya untuk mereka minum. Babeh Ali garuk-garuk kepalanya sambil lirik ke anaknya yang iseng itu, dia memang ga bisa berenang, kolam berenang ini karena Nur adik bontot Arkan kepengen punya kaya temannya. Tapi sayang saat mereka merenov dan membuat nya Nur dan Nyaknya Arkan mendapat musibah dan tidak dapat merasakannya. "Bawa apaan neng? babeh laper nih, dari pagi babeh ga dikasih makan ama si Engkom gara-gara dia ikut bantuin tetangganya hajatan" kata babeh Ali yang ikut membuka bungkusan yang dibawa oleh Lita. "Nah orang tuh kayak Lita dong Wi, dia mah apal demenan babeh, ga kayak lu....belinya kue dongkal mulu....dikata babe doyannya kue beginian, kue milenial....." kata babe Ali yang langsung mencomot kue pancong dan memakannya dengan lahap. "Ah bisaan, kemarin Lita bawa kue yang lain tetap aja bilangnya demenan babe, emang babe demen nyenengin Lita aja kali nih?" jawab Lita sambil duduk disamping babe Ali dan tanpa risih dia menyenderkan kepalanya pada babe. Babeh juga dengan penuh rasa sayang mengelus rambut Lita dengan lembut, dia merasa Lita sudah menjadi anak perempuan nya menggantikan Nur bontotnya yang sudah meninggal. "Deuh....akrab bener... nih mantu ama mertua" ledek Arkan. "Ta, berenang yuk?" kata Arkan lagi sambil membuka kaosnya dan celana panjangnya. "Ya Ta ga bawa baju ganti Kan", jawab Lita "Ya elah, gampang. ntar pake baju aku aja. jawab Arkan enteng. "Dilemari Nyak juga kayanya masih ada dah barang kaos ama celana pendek mah ta, liat dulu sono...babeh ga ngasih orang semua kali gitu nanti dapet gantinya Nyak". kekeh Babeh Ali yang langsung dapat semburan air kolam dari Arkan yang sudah nyebut ke kolam. "Lita liat dulu yah beh.... boleh ga Ta ke kamar babeh sendiri?" tanya Lita pada Babeh. "Iya sono botoh lu liat ndiri dah yah" kata Babeh masih dengan semangatnya makan kue bawaan dari Lita. Lita sudah hapal dimana kamar babeh, dia masuk dan langsung membuka beberapa lemari yang berwarna coklat itu. Dari 4 pintu hanya 2 yang terbuka dan 2 lainnya dalam keadaan terkunci, Lita yang tidak ambil pusing membuka pintu lemari yang memang tidak terkunci dan melihat-lihat isinya. "Beh, Lemari Nyak bukannya kekunci yah? yang kebuka kan lemari babeh semua". kata Arkan tiba-tiba muncul dipermukaan kolam. "lah iya yah waduh Kan, sarung macan babeh" katanya Babe langsung bangun dan menuju kamarnya untuk menyusul Lita. Sedangkan Lita yang mencoba mencari kaos dan celana pendek yang babeh Ali maksud dengan bingung karena isi 2 lemari itu hanya baju-baju pria saja, dari rak atas sampai rak bawah tidak ada yang menunjukkan itu milik perempuan. Babeh yang menyusulnya muncul dipintu sambil cengar cengir. "Dih napa dah? cengar cengir?" tanya Lita "hehehehe babeh lupa neng, kan lemari Nyak babeh konci, biar kagak diambilin bajunya ama si Engkom, dia kan demen banget didalemnya banyak banget daster demenannya Enyak, dia kata adem dan udah berapa kali minta tapi ama babeh ga dikasih" jawab Babeh lagi sambil membuka lemari yang terkunci dengan kunci yang diambil dari kantong celananya. "Oh kirain Ta salah masuk kamar. hahaha" tawa Lita lagi dan maju untuk melihat isi lemari Nyak yang penuh itu. "buset banyak bener baju nyak beh...." ada yang baru lagi" kata Lita sambil melihat-liat isi lemari tersebut. Klontaaang....suara gelang emas jatuh di lantai, membuat babe dan Lita mencari asal dari suara tersebut. Sebuah gelang emas jatuh menggelinding ke bawah lemari, babeh mengambilnya dan memberikannya pada Lita. "Lah kok kasih ke Lita beh?" tanya Lita bingung "Ta kan anak babeh juga, apa yang jadi punya babeh dan enyak juga punya Lita, udah pake aja" kata babeh lagi dan ikut membantu mencari baju yang Lita perlukan. Satu stell pakaian batik bahan kaos diambil babeh dan dikasih ke Lita, ditambah celana dan bh baru yang kalau dilihat ukurannya emang pas dengan Lita. Babeh ngedorong Lita keluar kamar nya dan setelah keluar babeh duduk diranjangnya. "Nyai....gue kangen ama lu nih..... semua baju lu sengaja gue ga kasihin ama orang karena gue masih demen nyiumin bau lu di baju itu" ratap babeh sambil ngeliatin foto istrinya di dinding kamarnya. Kecelakaan yang merenggut dua wanita berarti dalam hidupnya membuat Babeh Ali dan Arkan sempat terpuruk, bahkan beberapa kali perusahaan tempatnya menanam saham sering kali bangkrut karena tidak mendapat fokus kepemimpinannya yang sering kali membuat lawan saingannya takut. Kecelakaan yang merenggut mereka berdua juga adalah akibat sibuknya Babeh Ali diluar rumah dan mengabaikan istri dan anak bontotnya yang meminta untuk diantar ke rumah saudara mereka yang ada diluar kota yaitu Bandung karena ada hajatan disana, padahal hari itu adalah weekend tapi karena kesibukan dan ambisinya untuk membuat keluarganya senang membuat Babeh Ali memilih untuk tetap meeting dengan kliennya di Jakarta daripada mengantar istri dan anaknya ke Bandung. *** "Sayang, itu babeh kok ga keluar-keluar lagi dari kamar?" tanya Lita di gendongan Arkan dengan manja dalam kolam. "biasa babeh mah kalau udah dikamar dan ngeliat ke lemari Nyak suka melow sendiri, coba aja ngintip sono, pasti dia lagi nangis kalau ga ngomong sendiri kayak orang lagi drama". jawab Arkan sambil ketawa "Dih ga boleh gitu sama Babe kamu, gitu-gitu juga dia sayang tau sama kamu". kata Lita masih digendong Arkan. "ih ini mah bukan berenang tapi gendong-gendongan" keluh Arkan pada Lita yang tidak mau lepas dari punggungnya. "Biarin weh...... kamu ga sayang lagi sama aku?" tanya Lita di depan telinga Arkan dan menjilatnya lembut membuat Arkan langsung turn on. "Dih malah ngeledek lagi, awas yah kalau aku ampe kepengen kamu harus muasin aku". kata Arkan sambil memutar tubuh Lita menjadi gendong depan. Lita yang kaget dengan gerakan Arkan yang memutar tubuhnya berteriak kecil tapi kemudian dia memeluk tubuh Arkan dengan erat karena takut akan dilepas oleh Arkan. Sebenarnya Lita masih takut dengan air kolam trauma yang dia rasakan membuat dia menutup diri untuk hal-hal yang dapat memicunya, tapi entah kenapa dia bisa menerima dan menjalankan dengan tenang apabila ada Arkan disampingnya. Pelukan Lita makin erat ketika, Arkan dengan sengaja meledeknya dengan melepas tangannya agar gendongannya lepas, Lita memeluk leher dan menaruh kepalanya karena ketakutan, tapi Arkan dengan sigap malah mengangkat kepalanya dan mencium bibir Lita dengan lembut, dia mencari lidah dan mengabsen seluruh isi mulut Lita dengan lidahnya yang terus menari berharap Lita merespon ciumannya. Karena rasa takut tenggelam Lita membuka mulutnya hingga makin memudahkan Arkan untuk terus mencium Lita dengan lembut, akhirnya karena sudah kehabisan nafas Lita mendorong tubuh Arkan dan dengan nafas tersengal-sengal, dia juga kembali menarik dan membalas ciuman Arkan dengan gairah. Arkan meraba dan mengelus kedua gundukan yang penuh terlihat dibalik kaos basah yang Lita kenakan, mencetak jelas p****g yang ranum itu dan membangkitkan gairahnya. Dia memijit pelan hingga menyebabkan rintihan yang pelan terdengar bukannya berhenti Arkan malah meneruskannya dan mulai merayap ke bagian perut dan paha Lita. Lita yang kedinginan sekaligus menjadi panas akibat elusan dan rabaan tangan Arkan menjadi gelisah, bagian bawah tubuhnya yang basah karena air, ditambah lagi ada cairan yang meluncur deras dibalik celana dalamnya yang sudah basah itu. Karena tidak dapat menahan gairahnya Arkan menggendong Lita untuk keluar dari kolam tanpa melepaskan ciuman bibir mereka yang makin hot itu. Arkan akhirnya dengan berat hati harus melepas bibir yang manis itu dan ikut menyusulnya keluar, masih dengan gairah yang sama dia meneruskan ciuman itu dan rabaan itu diluar kolam renang. Kedua anak muda itu sudah melupakan semua disekelilingnya, bahkan Arkan dengan sekali gerak mengangkat dan menggendong Lita menuju kamar nya dilantai 2, tetesan air dari kedua tubuh anak muda itu tidak dipedulikan lagi, yang ada hanya hasrat yang menuntut untuk dipuaskan. Didalam kamar Arkan terdapat kamar mandi, dan disanalah kedua insan itu sekarang berada. Arkan dengan sekali gerakan membuka semua helai kain yang menempel ditubuh Lita dan begitu pula dengan Lita yang memaksakan Arkan agar mau membuka celana pendeknya yang sudah hampir melorot itu, tapi ditepis oleh Arkan, Dia masih ingin membelai dan memuaskan Lita dengan celana masih terpasang ditubuhnya. Setelah semua kain di tubuh Lita terlepas, Arkan menyalakan shower dikamar mandi itu dan mengaturnya dengan air hangat, dengan perlahan dia mengarahkan tubuh Lita agar tepat berada di bawah pancuran shower tersebut, dia mengoleskan sabun cair diatas p******a Lita yang membusung dengan tegak dengan p****g yang menonjol keras. Sentuhan Arkan ditubuh Lita masih terasa lembut untuk Lita, gairah yang terus naik membuat dia gemas dan mengigit lidah Arkan yang masih saja menghisap dan mencium bibirnya yang seksi. Tangan Lita yang menggantung dan memeluk leher Arkan membuat kedua tubuh itu semakin erat menempel, kedua bibir yang terlepas membuat Arkan berkesempatan untuk menurunkan kepalanya menuju d**a Lita yang montok, dia menjilat dan menghisap kedua p****g p******a Lita yang seakan menantang untuk dimakan. Aliran air hangat masih mengalir, sabun di tubuh Lita sudah semuanya bersih tersiram oleh air, bahkan setiap lekuk tubuhnya pun digosok dan diremas oleh Arkan seperti saat hendak memandikan anak kecil saja perlakuan Arkan pada Lita. Tapi tentu saja dengan gairah yang niat yang berbeda. Setelah semuanya bersih, Arkan membuka celana pendeknya dan membersihkan senjatanya, Lita yang melihat kesempatan itu tidak mau kalah langsung jongkok dan mengambil alih senjata itu dan memasukkannya kedalam mulutnya yang kecil dan mungil itu. Desahan dan umpatan keluar dari mulut Arkan karena mendapat pelayanan dari Lita dia melihat ke arah Lita dengan tatapan penuh kepuasan, Lita seakan meledeknya dengan memberi tatapan kelaparan sehingga makin membuat Arkan bergairah dan tidak sabar untuk menggendong Lita keluar dari kamar mandi dan melemparnya ke tempat tidurnya yang besar. Teriakan kecil Lita membuat Arkan segera menutup mulutnya dan memberi kode agar tidak berisik karena babeh ada dikamarnya dilantai 1. Lita yang tidak dapat menahan erangannya mencari sebuah bantal dan menutup mulutnya dengan itu sehingga suara desahan dan erangannya tidak keluar. Arkan mengelus kembali p******a Lita dan menjilatnya pelan, tangannya turun ke perut dan bagian bawah tubuh Lita yang sangat memancing agar segera memasukinya, tapi bukan Arkan kalau tidak meledek Lita, dia sengaja berlama-lama agar Lita memohon padanya untuk dimasuki. "Ih sayang,...kamu malah bengong, udah ayo buruan masukin dong. aku udah ga tahan nih!" kata Lita menarik Arkan menindih tubuhnya. "Sengaja...biar kamu memohon supaya aku sodok" ledek Arkan dengan mata nakalnya. "Ish jangan nyiksa gitu deh, kalau ga aku yang bakalan nyiksa kamu nih". kata Lita meraba senjata Arkan yang sudah mengeras dan mengocok nya perlahan. dia mendorong tubuh Arkan menjauh dan gantian menaiki tubuh Arkan. Mengarahkan senjata milik Arkan ke lubang kenikmatan miliknya yang sudah basah sejak tadi. "Arghhhh...... anget banget.....a****g enak banget m***k kamu sayang..... diemin dulu biar aku nikmatin hangatnya lubang ini" kata Arkan dengan tangannya yang menahan pinggul Lita bergoyang. Sedangkan Lita yang sudah b*******h tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bergoyang karena dirinya sudah ingin merasakan gesekan dan sodokan senjata Arkan yang sangat dia sukai. "Ah.. ah... ah...bodo amat, aku mau puas" kata Lita yang segera bergerak dengan cepat dan liar, kedua p******anya bergerak ke kanan dan kiri karena goyangan tubuhnya itu, tangan Arkan dengan cepat menangkapnya dan memijat nya dengan lembut tapi membuat Lita menjadi makin b*******h, dia makin bergerak dengan penuh semangat tanpa memikirkan apapun juga. "Ah aku sampai yank" kata Lita tapi tidak berhenti bergoyang. Dia terus bergerak sehingga tubuhnya menjadi lemas. Arkan mendorong tubuh Lita sehingga berbalik menjadi dia yang diatas, bukan ingin memasuki Lita dia malah memutar tubuh Lita sehingga membelakanginya, dia ingin memasuki Lita dari belakang gaya D******e, dengan penuh gairah dia mendorong dan memundurkan tubuhnya dibelakang Lita sehingga tubuh Lita maju mundur dengan cepat. "Yes yes. ah. ah. ah. iya yank.. ah .ah.." desah Lita makin brutal. "Ah enak banget lubang kamu yank," kata Arkan tidak kalaua m***mnya. Arkan meraih kedua p******a Lita sebagai pegangan dia dalam menyodok m***k Lita yang enak itu. Remasan yang gemas kadang lembut membuat Lita semakin tak terkendali, dia ikut bergoyang maju mundur untuk memaksimalkan sodokan seperti yang dia inginkan. Belum puas dan belum juga keluar Arkan kembali mengganti posisinya, dia mencabut dan duduk dipinggir ranjang, sedangkan Lita diarahkan duduk dipangkuannya tapi membelakanginya. Dengan kedua tangannya dia menaik-turunkan tubuh Lita yang telanjang dengan cepat, sambil sesekali bibirnya mencari bibir Lita untuk bertukar air liur. Hampir satu jam suasana di kamar itu jadi sangat hot dan b*******h, hingga akhirnya Arkan melepas k****lnya dan menidurkan Lita dan kembali memasukkannya dengan gaya konfesional yaitu gaya biasa, dia kembali menyodok dan melihat ke arah Lita yang sudah sangat berkeringat banyak, dia melihat kedua matanya Lita yang terus saja membuka tutup menahan kenikmatan dibagian bawah tubuhnya yang masih disodok oleh Arkan. 15 menit kemudian Arkan akhirnya melepas gairahnya didalam rahim Lita dan ambruk diatas tubuh Lita dengan senyum puas. Keduanya tidur dengan tubuh yang polos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN