Dua minggu setelah kejadian itu
Lita sudah diperbolehkan pulang,
dengan catatan tidak boleh dibiarkan
untuk memaksakan ingatannya yang
masih sering kali hilang dan timbul.
Yuli selain diberikan hukuman
sanksi dikeluarkan dari sekolah, juga
disarankan oleh pihak kepolisian
untuk menjalankan konsultasi dengan
dokter atau psikiater, tapi saran itu
ditolak mentah-mentah oleh ibu
Esther yang tidak terima anaknya
diperlakukan seperti orang yang
terkena gangguan jiwa.
Arkan masih setia menemani
Lita dalam masa pemulihannya,
pak Lundi dan ibu Rossa merasa
sangat tertolong oleh kehadiran
Arkan yang banyak mendukung
dan menemani Lita untuk kembali
tenang dari beberapa hari terakhir
dia sering histeris.
Anik juga masih dalam masa
pemulihan, hanya saja pihak keluarga
nya memutuskan untuk membawa
paksa Anik karena kekurangan biaya.
Anik juga masih dikenakan sanksi
dari sekolah karena menjadi saksi
dan komplotan kejahatan yang di
lakukan oleh Yuli.
Sedangkan Andi yang sudah
pasti harus bertanggung jawab atas
perbuatannya dimasa lalu pada Lita
ditambah dengan kerjasamanya
dengan Yuli menambah daftar dosa
semakin menjadi panjang.
***
"Ta, gimana keadaan kamu hari
ini?" tanya Arkan pada Lita yang
terlihat murung hari ini, hampir setiap
hari Arkan sekarang mengunjungi Lita
dirumahnya, kedua orangtuanya Lita
memberi ijin penuh untuk mengunjungi
setiap waktu dan kapanpun Arkan mau.
"Ga kenapa-kenapa, aku cuma lagi
bingung aja, seperti ada yang aneh. Aku
merasa asing dengan diriku sendiri".
kata Lita dengan tatapan kosong.
"Kita jalan-jalan yuk sayang, mungkin
kamu bosen kali dirumah, udah hampir 2
minggu loh kamu ga kemana-mana".
kata Arkan lagi.
"Kamu bahkan melewatkan acara band
kita minggu lalu, padahal aku mau manggung
sama kamu". katanya lagi dengan tatapan
sedih.
"Masa sih Kan? kok aku ga inget yah?"
keluh Lita lagi, badannya agak sedikit kurus
karena kurang napsu makan belakangan hari
ini, Rossa yang melihat hal itu hanya bisa
menangis di depan kamar Lita. Dia sangat
merasa bersala karena semua kejadian ini
dimulai dari rasa tidak percayanya pada
anak perempuannya itu.
"udah ga usah banyak mikir lagi, babe
kangen tuh sama kamu, dia ngajak kamu
makan siang dirumah, gimana? mau ga?"
tanya Arkan lagi sambil bersiap bangun
dari tempat tidur Lita dan menarik LIta
untuk ikut dengannya.
"Kamu mandi dulu sana, masa cantik gini
bau acem"...ledeknya lagi.
"Enak aja bau acem, aku ga bau tau"
sahut Lita kesal dan beranjak ikut bangun
dan menuju kamar mandinya untuk mandi.
"Arkan.....tante ngucapin banyak terima
kasih yah, kalau bukan karena kamu dan babe
kamu mungkin Lita akan terus terpuruk terus
kalian berdua selalu membuat dia tersenyum,"
tambah bu Rossa lagi pada Arkan saat dia
keluar kamar Lita menuju ruang tamu dan
duduk bersama pak Lundi dan Adi adik Lita
yang bungsu.
"Sama-sama tante, tante tau kan saya
sayang banget sama Lita, dia juga salah satu
alasan saya bisa bertahan dengan kesakitan
saya setelah ditinggal meninggal Nyak dan
adik bungsu saya". kata Arkan lagi.
"Iya Kan, sekarang Lita walau masih
tidak mau banyak bicara tapi sudah mau
duduk bareng sama kami keluar kamar, tapi
masih diam....setidaknya kami sudah sangat
bersyukur" kata pak Lundi lagi dengan mata
nya yang berkaca-kaca menahan air mata.
"aku udah siap" kata Lita keluar dari
kamarnya.
"Assalam mualaikum.....Nci...bang...."
terdengar teriakan dari luar pintu rumah
ketika Feby keluar membuka pintu terdengar
teriakan dari Feby sehingga semua orang
menghampirinya.
"Kenapa ce?.... teriak Rossa tertahan
saat melihat siapa tamu yang ada didepan
rumah mereka.
Kedua orang tua Andi datang didampingi
oleh anak laki-laki kedua mereka yang
bernama Asri. Rossa mempersilahkan tamu
nya masuk, Lundi dan Arkan berdiri dan
mempersilahkan tamu yang baru itu duduk.
"Ada apa Tardi, lu datang kerumah
gue? bukannya udah gue bilang ga usah
lagi lu datang kerumah gue lagi" kata
pak Lundi dengan nada jutek.
"Gini bang, saya ama Parmi juga Asri
kesini mau minta maaf, karena lagi-lagi Andi
bikin ulah ama keluarga abang" kata pak
Tardi sambil menunduk tidak berani melihat
pada Pak Lundi dan bu Rossa.
"Eh pak Tardi dan bu Parmi....kemana
aja? kok ga pernah keliatan?" teriak Lita
menghampiri kedua orangtua Andi.
Arkan yang bingung segera menarik Lita
mundur dan memegang tangannya memberi
kode agar tetap duduk disampingnya.
pak Lundi dan bu Rossa syok melihat Lita
lebih mengenal Parmi dan Tardi dibanding
dengan mereka.
"Neng apa kabar? sehat neng?" tanya
bu Parmi dengan gemetar, dia sadar sekali
kalau anaknya Andi sudah banyak membuat
kekacauan dan kesakitan pada Lita sehingga
dia tidak berani berharap Lita bersikap baik
padanya, namun melihat sikapnya Lita dia
makin menjadi merasa bersalah.
Dengan tatapan bingungnya dia melihat
pada bu Rossa untuk memberi penjelasan
padanya tentang sikap Lita itu, karena saat
terakhir Lita dicurret, saat sadar Lita tidak
mau ditemui olehnya.
"Dia kehilangan ingatannya pada
beberapa orang yang dianggapnya jahat,
dulu kan kalian yang selalu menemaninya
saat dirumah, saat saya dan suami saya
keluar rumah, mungkin itu juga yang bikin
Lita masih mengingat kalian, karena kalian
sebenarnya sayang dan disayangi oleh Lita
hanya "DIA" saja yang jahat padanya".
jelas bu Rossa dengan berlinang air mata
terbayang betapa dia seringkali cuek dan
mengabaikan Lita dan lebih memperhatikan
Febby juga Adi. Lita bagai anak angkat yang
tidak pernah dianggap ada dirumah dulu.
"Ya Allah neng.....cepet sembuh dong
neng, ibu sedih kalau neng ampe kaya gini"
isak Parmi memeluk Lita disamping Arkan.
"Om... tante Arkan ajak Lita kerumah
yah? biar ga kesiangan" kata Arkan mencoba
untuk membawa Lita pergi dari sana dan dari
situasi yang membuat canggung itu.
"Iya Kan, salam buat babe yah, makasih
udah mau nemenin Lita ya Kan" kata Rossa
melepas anaknya dan Arkan pergi.
Sepeninggal Arkan dan Lita, Parmi dan
Tardi mencoba untuk meminta pada Lundi
juga Rossa untuk mencabut gugatan atas
Andi anak mereka. Karena menurut info yang
beredar Andi sering kali mendapat siksaan
dalam penjara. Bahkan seminggu ini sudah
2 kali dia dibawah ke rumah sakit penjara
karena mendapat kekerasan dalam penjara.
Dia dianggap jahat sekali karena melakukan
perkosaan berulang kali dan membuat korban
menjadi trauma dan lupa ingatan.
Rossa dan Lundi saling melihat, jujur
mereka sendiri bingung dengan kondisi ini,
disatu pihak mereka dendam dan sakit hati
sekali melihat Andi orang yang sudah sangat
dipercaya malah menyakiti dan menyiksa
putri mereka, tapi dilain pihak mereka juga
tidak tega dengan kedua orangtuanya yang
memang tidak mampu, tapi mereka pernah
sangat membantu dan ikut mengurus Lita
selama mereka dulu sibuk mencari nafkah
diluar rumah.
***
"Babeh......Lita dateng nih, Lita bawain
kue pancong doyanan babe" teriak Lita tanpa
merasa canggung di rumah Arkan yang sudah
menjadi rumah keduanya.
"Nah si botoh dateng....sini neng, babe
lagi ngupi dikolem" jawab Babe Ali masih
duduk dipinggir kolam renang yang ada di
dalam rumahnya itu.
"Ciyeee gegayaan duduk dikolem, emang
bisa berenang beh?" teriak Arkan membawa
beberapa piring dan gelas berisi minuman
yang sudah disiapkannya untuk mereka minum.
Babeh Ali garuk-garuk kepalanya sambil lirik
ke anaknya yang iseng itu, dia memang ga bisa
berenang, kolam berenang ini karena Nur adik
bontot Arkan kepengen punya kaya temannya.
Tapi sayang saat mereka merenov dan membuat
nya Nur dan Nyaknya Arkan mendapat musibah
dan tidak dapat merasakannya.
"Bawa apaan neng? babeh laper nih, dari
pagi babeh ga dikasih makan ama si Engkom
gara-gara dia ikut bantuin tetangganya hajatan"
kata babeh Ali yang ikut membuka bungkusan
yang dibawa oleh Lita.
"Nah orang tuh kayak Lita dong Wi, dia mah
apal demenan babeh, ga kayak lu....belinya
kue dongkal mulu....dikata babe doyannya
kue beginian, kue milenial....." kata babe Ali
yang langsung mencomot kue pancong dan
memakannya dengan lahap.
"Ah bisaan, kemarin Lita bawa kue yang
lain tetap aja bilangnya demenan babe, emang
babe demen nyenengin Lita aja kali nih?"
jawab Lita sambil duduk disamping babe Ali
dan tanpa risih dia menyenderkan kepalanya
pada babe. Babeh juga dengan penuh rasa
sayang mengelus rambut Lita dengan lembut,
dia merasa Lita sudah menjadi anak perempuan
nya menggantikan Nur bontotnya yang sudah
meninggal.
"Deuh....akrab bener... nih mantu ama
mertua" ledek Arkan.
"Ta, berenang yuk?" kata Arkan lagi sambil
membuka kaosnya dan celana panjangnya.
"Ya Ta ga bawa baju ganti Kan", jawab Lita
"Ya elah, gampang. ntar pake baju aku aja.
jawab Arkan enteng.
"Dilemari Nyak juga kayanya masih ada
dah barang kaos ama celana pendek mah ta,
liat dulu sono...babeh ga ngasih orang semua
kali gitu nanti dapet gantinya Nyak". kekeh
Babeh Ali yang langsung dapat semburan air
kolam dari Arkan yang sudah nyebut ke kolam.
"Lita liat dulu yah beh.... boleh ga Ta ke
kamar babeh sendiri?" tanya Lita pada Babeh.
"Iya sono botoh lu liat ndiri dah yah"
kata Babeh masih dengan semangatnya makan
kue bawaan dari Lita.
Lita sudah hapal dimana kamar babeh,
dia masuk dan langsung membuka beberapa
lemari yang berwarna coklat itu.
Dari 4 pintu hanya 2 yang terbuka dan 2 lainnya
dalam keadaan terkunci, Lita yang tidak ambil
pusing membuka pintu lemari yang memang
tidak terkunci dan melihat-lihat isinya.
"Beh, Lemari Nyak bukannya kekunci yah?
yang kebuka kan lemari babeh semua". kata
Arkan tiba-tiba muncul dipermukaan kolam.
"lah iya yah waduh Kan, sarung macan babeh"
katanya Babe langsung bangun dan menuju
kamarnya untuk menyusul Lita.
Sedangkan Lita yang mencoba mencari
kaos dan celana pendek yang babeh Ali maksud
dengan bingung karena isi 2 lemari itu hanya
baju-baju pria saja, dari rak atas sampai rak
bawah tidak ada yang menunjukkan itu milik
perempuan. Babeh yang menyusulnya muncul
dipintu sambil cengar cengir.
"Dih napa dah? cengar cengir?" tanya Lita
"hehehehe babeh lupa neng, kan lemari Nyak
babeh konci, biar kagak diambilin bajunya ama
si Engkom, dia kan demen banget didalemnya
banyak banget daster demenannya Enyak, dia
kata adem dan udah berapa kali minta tapi ama
babeh ga dikasih" jawab Babeh lagi sambil
membuka lemari yang terkunci dengan kunci
yang diambil dari kantong celananya.
"Oh kirain Ta salah masuk kamar. hahaha"
tawa Lita lagi dan maju untuk melihat isi lemari
Nyak yang penuh itu.
"buset banyak bener baju nyak beh...." ada yang
baru lagi" kata Lita sambil melihat-liat isi lemari
tersebut.
Klontaaang....suara gelang emas jatuh di lantai,
membuat babe dan Lita mencari asal dari suara
tersebut.
Sebuah gelang emas jatuh menggelinding
ke bawah lemari, babeh mengambilnya dan
memberikannya pada Lita.
"Lah kok kasih ke Lita beh?" tanya Lita bingung
"Ta kan anak babeh juga, apa yang jadi punya
babeh dan enyak juga punya Lita, udah pake aja"
kata babeh lagi dan ikut membantu mencari baju
yang Lita perlukan.
Satu stell pakaian batik bahan kaos diambil
babeh dan dikasih ke Lita, ditambah celana dan
bh baru yang kalau dilihat ukurannya emang pas
dengan Lita. Babeh ngedorong Lita keluar kamar
nya dan setelah keluar babeh duduk diranjangnya.
"Nyai....gue kangen ama lu nih..... semua
baju lu sengaja gue ga kasihin ama orang karena
gue masih demen nyiumin bau lu di baju itu"
ratap babeh sambil ngeliatin foto istrinya di
dinding kamarnya. Kecelakaan yang merenggut
dua wanita berarti dalam hidupnya membuat
Babeh Ali dan Arkan sempat terpuruk, bahkan
beberapa kali perusahaan tempatnya menanam
saham sering kali bangkrut karena tidak mendapat
fokus kepemimpinannya yang sering kali membuat
lawan saingannya takut.
Kecelakaan yang merenggut mereka berdua
juga adalah akibat sibuknya Babeh Ali diluar
rumah dan mengabaikan istri dan anak bontotnya
yang meminta untuk diantar ke rumah saudara
mereka yang ada diluar kota yaitu Bandung karena
ada hajatan disana, padahal hari itu adalah weekend
tapi karena kesibukan dan ambisinya untuk membuat
keluarganya senang membuat Babeh Ali memilih
untuk tetap meeting dengan kliennya di Jakarta
daripada mengantar istri dan anaknya ke Bandung.
***
"Sayang, itu babeh kok ga keluar-keluar lagi
dari kamar?" tanya Lita di gendongan Arkan dengan
manja dalam kolam.
"biasa babeh mah kalau udah dikamar dan ngeliat
ke lemari Nyak suka melow sendiri, coba aja ngintip
sono, pasti dia lagi nangis kalau ga ngomong sendiri
kayak orang lagi drama". jawab Arkan sambil ketawa
"Dih ga boleh gitu sama Babe kamu, gitu-gitu
juga dia sayang tau sama kamu". kata Lita masih
digendong Arkan.
"ih ini mah bukan berenang tapi gendong-gendongan"
keluh Arkan pada Lita yang tidak mau lepas dari
punggungnya.
"Biarin weh...... kamu ga sayang lagi sama aku?"
tanya Lita di depan telinga Arkan dan menjilatnya
lembut membuat Arkan langsung turn on.
"Dih malah ngeledek lagi, awas yah kalau aku ampe
kepengen kamu harus muasin aku". kata Arkan sambil
memutar tubuh Lita menjadi gendong depan.
Lita yang kaget dengan gerakan Arkan yang
memutar tubuhnya berteriak kecil tapi kemudian
dia memeluk tubuh Arkan dengan erat karena takut
akan dilepas oleh Arkan.
Sebenarnya Lita masih takut dengan air kolam
trauma yang dia rasakan membuat dia menutup diri
untuk hal-hal yang dapat memicunya, tapi entah
kenapa dia bisa menerima dan menjalankan dengan
tenang apabila ada Arkan disampingnya.
Pelukan Lita makin erat ketika, Arkan dengan
sengaja meledeknya dengan melepas tangannya
agar gendongannya lepas, Lita memeluk leher dan
menaruh kepalanya karena ketakutan, tapi Arkan
dengan sigap malah mengangkat kepalanya dan
mencium bibir Lita dengan lembut, dia mencari
lidah dan mengabsen seluruh isi mulut Lita dengan
lidahnya yang terus menari berharap Lita merespon
ciumannya.
Karena rasa takut tenggelam Lita membuka
mulutnya hingga makin memudahkan Arkan untuk
terus mencium Lita dengan lembut, akhirnya karena
sudah kehabisan nafas Lita mendorong tubuh Arkan
dan dengan nafas tersengal-sengal, dia juga kembali
menarik dan membalas ciuman Arkan dengan gairah.
Arkan meraba dan mengelus kedua gundukan
yang penuh terlihat dibalik kaos basah yang Lita
kenakan, mencetak jelas p****g yang ranum itu
dan membangkitkan gairahnya. Dia memijit pelan
hingga menyebabkan rintihan yang pelan terdengar
bukannya berhenti Arkan malah meneruskannya
dan mulai merayap ke bagian perut dan paha Lita.
Lita yang kedinginan sekaligus menjadi panas
akibat elusan dan rabaan tangan Arkan menjadi
gelisah, bagian bawah tubuhnya yang basah karena
air, ditambah lagi ada cairan yang meluncur deras
dibalik celana dalamnya yang sudah basah itu.
Karena tidak dapat menahan gairahnya Arkan
menggendong Lita untuk keluar dari kolam tanpa
melepaskan ciuman bibir mereka yang makin hot
itu. Arkan akhirnya dengan berat hati harus melepas
bibir yang manis itu dan ikut menyusulnya keluar,
masih dengan gairah yang sama dia meneruskan
ciuman itu dan rabaan itu diluar kolam renang.
Kedua anak muda itu sudah melupakan semua
disekelilingnya, bahkan Arkan dengan sekali gerak
mengangkat dan menggendong Lita menuju kamar
nya dilantai 2, tetesan air dari kedua tubuh anak
muda itu tidak dipedulikan lagi, yang ada hanya
hasrat yang menuntut untuk dipuaskan.
Didalam kamar Arkan terdapat kamar mandi,
dan disanalah kedua insan itu sekarang berada.
Arkan dengan sekali gerakan membuka semua
helai kain yang menempel ditubuh Lita dan begitu
pula dengan Lita yang memaksakan Arkan agar
mau membuka celana pendeknya yang sudah hampir
melorot itu, tapi ditepis oleh Arkan, Dia masih
ingin membelai dan memuaskan Lita dengan celana
masih terpasang ditubuhnya.
Setelah semua kain di tubuh Lita terlepas,
Arkan menyalakan shower dikamar mandi itu dan
mengaturnya dengan air hangat, dengan perlahan
dia mengarahkan tubuh Lita agar tepat berada di
bawah pancuran shower tersebut, dia mengoleskan
sabun cair diatas p******a Lita yang membusung
dengan tegak dengan p****g yang menonjol keras.
Sentuhan Arkan ditubuh Lita masih terasa
lembut untuk Lita, gairah yang terus naik membuat
dia gemas dan mengigit lidah Arkan yang masih
saja menghisap dan mencium bibirnya yang seksi.
Tangan Lita yang menggantung dan memeluk
leher Arkan membuat kedua tubuh itu semakin
erat menempel, kedua bibir yang terlepas membuat
Arkan berkesempatan untuk menurunkan kepalanya
menuju d**a Lita yang montok, dia menjilat dan
menghisap kedua p****g p******a Lita yang
seakan menantang untuk dimakan.
Aliran air hangat masih mengalir, sabun di
tubuh Lita sudah semuanya bersih tersiram oleh
air, bahkan setiap lekuk tubuhnya pun digosok dan
diremas oleh Arkan seperti saat hendak memandikan
anak kecil saja perlakuan Arkan pada Lita. Tapi
tentu saja dengan gairah yang niat yang berbeda.
Setelah semuanya bersih, Arkan membuka
celana pendeknya dan membersihkan senjatanya,
Lita yang melihat kesempatan itu tidak mau kalah
langsung jongkok dan mengambil alih senjata itu
dan memasukkannya kedalam mulutnya yang kecil
dan mungil itu. Desahan dan umpatan keluar dari
mulut Arkan karena mendapat pelayanan dari Lita
dia melihat ke arah Lita dengan tatapan penuh
kepuasan, Lita seakan meledeknya dengan memberi
tatapan kelaparan sehingga makin membuat Arkan
bergairah dan tidak sabar untuk menggendong Lita
keluar dari kamar mandi dan melemparnya ke
tempat tidurnya yang besar.
Teriakan kecil Lita membuat Arkan segera
menutup mulutnya dan memberi kode agar tidak
berisik karena babeh ada dikamarnya dilantai 1.
Lita yang tidak dapat menahan erangannya mencari
sebuah bantal dan menutup mulutnya dengan itu
sehingga suara desahan dan erangannya tidak keluar.
Arkan mengelus kembali p******a Lita dan
menjilatnya pelan, tangannya turun ke perut dan
bagian bawah tubuh Lita yang sangat memancing
agar segera memasukinya, tapi bukan Arkan kalau
tidak meledek Lita, dia sengaja berlama-lama
agar Lita memohon padanya untuk dimasuki.
"Ih sayang,...kamu malah bengong, udah ayo
buruan masukin dong. aku udah ga tahan nih!"
kata Lita menarik Arkan menindih tubuhnya.
"Sengaja...biar kamu memohon supaya aku
sodok" ledek Arkan dengan mata nakalnya.
"Ish jangan nyiksa gitu deh, kalau ga aku yang
bakalan nyiksa kamu nih". kata Lita meraba
senjata Arkan yang sudah mengeras dan mengocok
nya perlahan. dia mendorong tubuh Arkan menjauh
dan gantian menaiki tubuh Arkan. Mengarahkan
senjata milik Arkan ke lubang kenikmatan miliknya
yang sudah basah sejak tadi.
"Arghhhh...... anget banget.....a****g enak
banget m***k kamu sayang..... diemin dulu biar
aku nikmatin hangatnya lubang ini" kata Arkan
dengan tangannya yang menahan pinggul Lita
bergoyang.
Sedangkan Lita yang sudah b*******h tidak bisa
lagi menahan diri untuk tidak bergoyang karena
dirinya sudah ingin merasakan gesekan dan
sodokan senjata Arkan yang sangat dia sukai.
"Ah.. ah... ah...bodo amat, aku mau puas"
kata Lita yang segera bergerak dengan cepat
dan liar, kedua p******anya bergerak ke kanan
dan kiri karena goyangan tubuhnya itu, tangan
Arkan dengan cepat menangkapnya dan memijat
nya dengan lembut tapi membuat Lita menjadi
makin b*******h, dia makin bergerak dengan
penuh semangat tanpa memikirkan apapun juga.
"Ah aku sampai yank" kata Lita tapi tidak
berhenti bergoyang. Dia terus bergerak sehingga
tubuhnya menjadi lemas.
Arkan mendorong tubuh Lita sehingga berbalik
menjadi dia yang diatas, bukan ingin memasuki
Lita dia malah memutar tubuh Lita sehingga
membelakanginya, dia ingin memasuki Lita
dari belakang gaya D******e, dengan penuh
gairah dia mendorong dan memundurkan tubuhnya
dibelakang Lita sehingga tubuh Lita maju mundur
dengan cepat.
"Yes yes. ah. ah. ah. iya yank.. ah .ah.."
desah Lita makin brutal.
"Ah enak banget lubang kamu yank," kata Arkan
tidak kalaua m***mnya.
Arkan meraih kedua p******a Lita sebagai
pegangan dia dalam menyodok m***k Lita yang
enak itu.
Remasan yang gemas kadang lembut membuat
Lita semakin tak terkendali, dia ikut bergoyang
maju mundur untuk memaksimalkan sodokan
seperti yang dia inginkan.
Belum puas dan belum juga keluar Arkan
kembali mengganti posisinya, dia mencabut dan
duduk dipinggir ranjang, sedangkan Lita diarahkan
duduk dipangkuannya tapi membelakanginya.
Dengan kedua tangannya dia menaik-turunkan
tubuh Lita yang telanjang dengan cepat, sambil
sesekali bibirnya mencari bibir Lita untuk bertukar
air liur.
Hampir satu jam suasana di kamar itu jadi
sangat hot dan b*******h, hingga akhirnya Arkan
melepas k****lnya dan menidurkan Lita dan kembali
memasukkannya dengan gaya konfesional yaitu
gaya biasa, dia kembali menyodok dan melihat ke
arah Lita yang sudah sangat berkeringat banyak,
dia melihat kedua matanya Lita yang terus saja
membuka tutup menahan kenikmatan dibagian
bawah tubuhnya yang masih disodok oleh Arkan.
15 menit kemudian Arkan akhirnya melepas
gairahnya didalam rahim Lita dan ambruk diatas
tubuh Lita dengan senyum puas. Keduanya tidur
dengan tubuh yang polos.