Dengan keras akhirnya Rossa menendang ke arah s********n Lundi dan juga menendang ke arah s*********n Evi juga sehingga keduanya terjatuh kesakitan dan Evi yang langsung pingsan, dengan histeris Rossa berteriak sehingga beberapa penghuni kamar lain berdatangan karena memang pintunya masih belum tertutup.
"Laki-laki gila, anak lu lagi sakit lu malah enak-enakan disini, itu dipancing apa emang dasarnya lu aja sih yang hobby masuk lubang buaya kayak cewe s****l ini" teriak Rossa sesaat sebelum dia pingsan.
***
Kebencian dan sakit hati terus menumpuk dalam hati Rossa, tapi karena melihat anak-anaknya dan juga terlanjur malu apabila harus berpisah karena kedua orangtuanya dulu pernah menentangnya, dan dia pernah berjanji bahwa dia akan bertanggung jawab atas keputusan menikah dengan Lundi.
Dengan menahan air mata Rossa memaksakan dirinya terus bekerja dan bekerja menahan kelelahannya agar bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anak dan juga untuk keluarga suaminya yang sering kali juga meminta uang padanya.
"Ta, hari ini pulang sekolah sekalian mampir ke rumah ci Ita ya ambil pesanan mama, udah ada pesen banyak soalnya". teriak Rossa pada Lita yang memang di jemput oleh Arkan hari ini.
"Iya ma, nanti Lita minta Arkan jemput cepetan deh" jawab Lita sambil bersiap berangkat sekolah. Di meja makan sudah tersedia sarapan untuk anak-anak yang dimasak oleh Rossa dengan tujuan menghemat.
"Hati-hati yah, jangan kemaleman pulangnya ya". kata Rossa lagi.
Sesampainya di sekolah Lita naik ke kelasnya, di tangga dia bertemu dengan Pay yang baru dari kantin lantai 2.
"Halo kak Pay", tegur Lita karena mereka sudah mengadu mata tanda masing-masing mereka saling mengenal.
"Eh Lita, apa kabar Ta?" jawab Pay dengan antusias.
"Weh tumben-tumbenan Pay jawab gue" batin Lita.
"he he he. kabar baik dong kak, kakak sendiri gimana? duh kita kok kayak orang baru kenal yah?" jawab Lita lagi
Setelah kembali ke kelas dan beramah tamah Lita dengan Pay, Lita masuk kelas dan menghubungi Arkan dengan handphone pemberian babeh Ali, dia menanyakan apakah Arkan bisa menjemputnya pulang nanti. Dia tidak berani menelpon takut Arkan sibuk jadi dia hanya berani chat saja untuk menyampaikan maksudnya.
"Halo sayang, aduh maaf yah aku ga bisa jemput kamu, aku ada urusan ke kantor babeh karena ada peresmian tempat baru lagi yang babeh baru saja lobby, dan aku yang harus kasih persentasi buat para calon pembeli apartemennya", kata Arkan yang langsung menelpon kekasihnya.
"Oh gitu, ya udah deh gapapa, nanti aku pulang naik bajaj aj, soalnya barangnya banyak kata mama". ucap Lita lagi.
"Hmm.. gini aja aku minta supir aku jemput kamu, kan aku dan babeh dikantor ga kemana - mana jadi supir nganggur. sekali - kali gitu ayank aku naik mobil disetirin supir. heeehhehe" rayu Arkan agar Lita tidak merajuk.
"Ha ha ha ada - ada aja kamu yank, ya udah di atur aja, tapi boleh kan sekalian antar Ipeh ama Atik kan searah sama aku ke rumah ci Ita", jawab Lita.
"Siap bos, diatur aja, ya udah kamu ati-ati ya nanti. aku sayang kamu". kata Arkan sambil menutup telepon.
Di perjalanan pulang Lita dan teman-temannya melihat Pay dan segera meminta pak Pri supir Arkan untuk menepi,
"Halo kak Pay, mau bareng ga?" goda Atik pada Pay yang langsung menunduk.
"Eh ... hmm. ga. eh udah deket kok" jawab Pay dengan gugup masih sambil menunduk.
"awas nabrak kak, nunduk terus" goda Atik dan Ipeh bersamaan dan mereka tertawa kencang dalam mobil.
Sore hari saat Lita sampai di rumahnya bersama pak Pri supir Arkan, terdengar suara bantingan barang-barang dari arah rumah, di depan rumah sudah ada Feby dan Adi yang duduk lemas di depan rumah kontrakan yang ada, mereka berdua tertunduk lemas dan terlihat sekali kalau mereka lelah.
"Kenapa lagi ce" tanya Lita pada Feby. Feby bukan menjawab malah menunjuk ke dalam rumah, terlihat kakek mereka dan nenek mereka sedang di dalam dan terlihat marah, didepan mereka ada mama dan papa mereka yang hanya bisa duduk diam.
POV Lita
"Wah opa ama oma datang, artinya kita bisa makan enak, lah tapi kok ce Feby ama Adi diluar rumah, lah lah ada suara orang marah-marah. Ada apaan yah" batinku sambil menghampiri kakak dan juga adikku didepan rumah kontrakan.
Feby tidak bicara apa-apa hanya menyuruhku melihat kondisi di dalam rumah, di depan sudah banyak orang kontrakan yang datang karena memang sudah sore hari, waktunya mereka kembali dari tempat kerja.
"Gue ga tau lagi yang b******k siapa, gue ga tau lagi .... dulu lu buntingin orang terus kabur buntingin anak gue, sekarang anak gue udah lu sia-siain ga dikasih hidup enak lu malah balik sama mantan lu yang dulu, lu udah lupa juga lu hampir masuk penjara gara - gara nidurin bini bos lu ? siapa yang lindungin dan bebasin lu dengan jaminan 50jt? hah? siapa" teriak opa Kus sangat emosi terlihat.
Aku terdiam dan melongo? hah papaku sejahat itu? masa iya? selama ini papa termasuk orang yang sangat posesif pada aku terutama dia tidak mau aku pulang telat, dia ga mau aku dekat sama laki-laki, dia bahkan tidak suka awalnya dengan Arkan tapi setelah Arkan banyak membantu keluarga dia mulai melunak, dan semua itu terlihat kalau papa itu baik banget, kenapa jadi begini? pikiranku melayang tak berhenti, aku bingung dengan kata-kata dari opaku itu.
"Iya maafin Lundi pa, Lundi khilaf, Lundi disuruh keluar rumah ama Rossa supaya trauma Lita ga berkepanjangangan, dan Lundi kesepian pa, Lundi digodain sama Evi pa, maafin Lundi" kata papaku yang menjawab semua pernyataan dari opaku tadi.
Aku hampir pingsan mendengar itu semua. sosok ayah di mataku, menjadi sangat menakutkan, sosok ayah dimataku yang menjadi cinta pertamaku menjadi sosok monster yang tidak jauh berbeda dengan Andi, orang yang sudah merusak masa depanku.
"Ga usah banyak ngomong deh lu, sekarang juga lu pergi tinggalin Rossa dan anak-anak, gue bisa urus mereka semua, ga perlu gue mereka punya bapak kayak lu, gue terima lu... gue terima walau lu ga sesuai harapan gue, gue hargain keputusan Rossa, tapi apa? lu ngelempar tai dimuka gue,, bahkan di hari pernikahan lu, lu datengin itu perempuan, lu lempar tai lagi saat lu digerebek di rumah bos lu, mau lu tuh sebenernya apa?" teriak Opa lagi, yang langsung memegang d**a kirinya, terlihat sekali opa kesakitan.
"Opa .... " teriak ku berlari menghampiri opaku yang terduduk lemas.
"Pak Pri .... pak Pri ... tolong saya. tolong bawa opa saya ke rumah sakit" teriak ku meminta tolong pada supir Arkan yang masih membantuku menurunkan barang-barang dari mobilnya yang adalah pesanan mamaku.
Kami bersama-sama memapah opa masuk ke dalam mobil dan oma juga masuk, bersama mama, papa ditinggal dirumah bersama Feby dan Adi, didalam mobil aku menelpon Arkan dan menangis. "Kan ... maafin aku yah aku pinjem pak Pri lagi yah, aku harus bawa opa ke rumah sakit, kayaknya opa kena serangan jantung" kataku ditelepon sambil menangis.
"Eh .. oh iya sayang, gapapa kabarin ya dirumah sakit mana, biar aku sama babeh ke sana juga" jawab Arkan menghibur hatiku.
"iya Kan, maaf sekali lagi dan makasih yah" jawab ku mematikan telepon.
Di rumah sakit sudah menunggu adik-adik dari mamaku, mereka di kabarin oleh mama dan segera menyusul ke rumah sakit, pak Pri yang masih menemaniku memarkir mobil dan mengabari kepada Arkan dan babeh keberadaanku, opa sudah dibawa ke ruang IGD dan masih tidak sadarkan diri, beberapa alat dipasang ditubuhnya yang renta itu, walau dia masih gagah tapi terlihat sekali wajahnya dan tubuhnya yang lemah karena sudah lanjut usia.
Mamaku menangis dan hanya bisa ditenangkan oleh omaku, wanita lanjut usia yang tenang dan penuh kesabaran, dalam hatinya kecewa dengan lelaki pilihan putri pertamanya, tapi bagaimanapun dia harus menghargai dan menerima karena itu adalah sumber kebahagiaan putrinya, makanya saat dia mendapat kabar kalau Lundi kembali mengecewakan Rossa dia sangat marah, tapi amarahnya di redam karena harus mendampingi suaminya, mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini.
Ke dua om ku yaitu adik mamaku bolak balik gelisah dan menelpon beberapa sanak sodara terutama adik bungsu mamaku yang ada di Malang, mereka meminta tanteku itu pulang ke Jakarta, karena kondisi opaku yang makin menurun. Jam 8 malam Arkan dan babehnya tiba di rumah sakit, mereka menghampiri keluarga besarku yang masih di depan ruang IGD.
"Gimana keadaan opa Ta?" tanya babeh setelah menyalami seluruh anggota keluargaku yang datang.
"Masih belum keluar dokternya beh, Ta juga ga tau" jawabku, Arkan memberikan jaketnya kepadaku karena aku masih mengenakan seragam sekolah, roknya lumayan tinggi sehingga dia tidak suka melihatnya. Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang IGD dan memanggil keluarga opa.
"Saya bisa bicara dengan siapa? keluarganya pak Kus?" tanya dokternya ramah.
"saya, anaknya pak" jawab Om Pandi maju untuk menemui dokter. Kulihat wajah-wajah kerabatku seperti panik melihat situasi seperti ini. Aku merapatkan tubuhku ke arah Arkan meminta perlindungan dan ketenangan, sepintas muka omku berubah menjadi merah menahan amarah. Mamaku yang melihat gelagat tidak baik segera menghampiri adiknya dan memegang tangan adiknya memberikan ketenangan, tapi tangan mamaku ditepis oleh om Pandi, dia dengan marah memaki mamaku.
"Laki lu ya ci, kurang ajar udah numpang idup, pake acara ga tau diri lagi" maki Om Pandi yang menyakitkan ditelingaku, Arkan mendengar hal itu menarik tanganku dan babeh pergi dari sana.
"Ga enak dengarnya, jadi kamu disini aja ya yank" kata Arkan diujung ruangan IGD agak jauh dari tempat om Pandi dan mama berteriak, dia tidak enak mendengar pertengkaran keluargaku dan tidak ingin melihat aku sedih, karena satu traumaku juga karena teriakan dan dia tidak mau aku terkena serangan panik karena mendengar teriakan om Pandi tersebut.
Mama menghampiri kami dengan meneteskan air mata, dia mengajakku untuk pulang, babeh dan Arkan mengantarkan kami dan sebelumnya berpamitan pada Oma dan juga om ku yang masih tidak mau melihat kepada mamaku, kami akhirnya pulang diantar oleh Arkan dan babehnya tapi hanya depan gerbang saja, Arkan bilang babehnya kecapean jadi mau langsung pulang.
Baru saja mobil Arkan putar balik, tiba-tiba jeritan terdengar dari dalam rumahku, aku yang masih di depan gerbang menunggu Arkan pergi segera berlari ke dalam rumah dan menemukan mamaku pingsan setelah mendengar dan menerima telepon dari keluarganya dirumah sakit kalau opa meninggal dunia.
***
POV Rossa
Segala penyesalan pasti datang terlambat, begitu pun yang aku rasakan saat ini. segala kemarahan, kesedihan dan emosi yang aku punya meluap dari dalam tubuhku, aku berteriak pada orang yang selama ini sudah membuat banyak kekacauan dalam hidupku.
"Aku sadar aku tidak di harapkan, aku juga sadar tidak menjadi kecintaanmu selama pernikahan ini, keterpaksaanmu menikahiku demi Feby, dan juga menghindar dari tanggung jawabmu pada Evi, aku menyerah dalam keputusasaan ini, aku menyerah dalam kesakitan ini, rasa kecewa dan sakit hati sudah hilang berganti dengan tekad membesarkan anak-anak saja. Tapi kau bukannya sadar, malah menjadi... sekarang setelah semua yang aku korbankan untuk kita dan keluarga kecil kita kau kembali menyakitiku dengan tidur dengan wanita yang sudah menjadi korban setelah kau buat aku menjadi perebut kekasih orang?" semua unek-unek yang ada di dadaku kukeluarkan, bahkan aku tidak berpikir panjang untuk mengadu pada mamaku.
Dan disini papa dan mamaku datang kerumah untuk menghajar dan memberi pelajaran pada lelaki yang sudah membuat semua jadi berantakan, dia yang kutemukan dalam keadaan telanjang bersama dengan wanita yang pernah ditinggalkan olehnya, ah... marah rasanya tidak cukup, segala caci maki dan emosi meluap dari mulut papa tercintaku. Dia menyerang dan mengeluarkan semua emosi yang sama dimilikinya juga sepertiku pada Lundi.
Dan papaku pingsan, dia terjatuh sambil memegang d**a kirinya, dia lemas, untungnya Lita dan supir Arkan ada dan membawa kami ke rumah sakit, di mobil papaku terlihat pucat. Aku ketakutan terjadi apa-apa pada papaku, pasti jadi penyesalan yang dalam untukku, tidak akan ku maafkan Lundi apapun alasannya. Aku bahkan tidak memikirkan keadaan Feby dan Adi yang masih menunggu diluar rumah karena aku takut mereka mendengar pertengkaran orangtuaku dan Lundi,
"Ah biarlah Feby pasti bisa mengurus Adi dengan baik, lagi pula ada lelaki tidak tau malu itu disana" batinku sambil fokus pada papaku.
Sesampainya dirumah sakit papa dibawa ke IGD dan segera mendapat penanganan, semua adik ku dihubungin oleh mama bahkan adik bungsuku yang ada di Malang juga dipanggil pulang oleh mama, entah dia punya firasat apa. Tapi itu terus membuatku tidak tenang. Arkan dan babehnya datang untuk menjemput Lita pulang, tadinya ku pikir aku akan menunggu papa di rumah sakit, tapi reaksi Pandi adikku sangat marah dan meminta aku untuk pulang bersama Lita, dia menganggap aku hanya membuat masalah saja dalam keluarga, setelah pernikahanku dengan Lundi karena nikah duluan, perselingkuhan Lundi, bahkan laporan mantan bos Lundi akibat dia meniduri istrinya semua memang memalukan.
Aku tidak menolak permintaan adikku itu, ketika dia menyuruhku pulang, di lain sisi dia marah dan muak melihat keberadaanku dan juga memikirkan sangat tidak baik kalau aku dan anakku Lita ada dirumah sakit karena kami adalah perempuan, untungnya Arkan dan babehnya mau mengantar kami pulang.
Dalam perjalanan pulang aku tidak berbicara apa-apa, aku hanya terdiam dan merasa malu baik pada Arkan dan babehnya bahkan pada Lita. anak yang selama ini tidak mendapat perhatian lebih dariku malah lebih banyak peduli dengan keadaan keluarganya, dibandingkan dengan Feby yang selalu cuek. kami sampai rumah dan aku masuk terlebih dahulu, Lita masih mengantar Arkan dan babehnya yang memutar balik mobilnya karena gang rumah kami memang agak sempit untuk mobil Fortunernya yang mempunyai body besar itu.
Baru saja mengetuk pintu, aku dikejutkan oleh teriakan Feby dari dalam rumah, ternyata dia mendapat telepon dari mamaku yang mengabarkan bahwa papaku meninggal dunia. Rasa sedih dan benci pada Lundi yang memuncak membuat aku tidak dapat berkata apa-apa, seluruh tubuhku lemas dan hanya bisa meneriakkan nama papaku dalam isak tangisku. Dan aku tak sadarkan diri.