Bab 20 - Oh Dia Orangnya

2859 Kata
Baru saja mengetuk pintu, aku dikejutkan oleh teriakan Feby dari dalam rumah, ternyata dia mendapat telepon dari mamaku yang mengabarkan bahwa papaku meninggal dunia. Rasa sedih yang memuncak membuat aku tidak dapat berkata apa-apa, seluruh tubuhku lemas dan hanya bisa meneriakkan nama papaku dalam isak tangisku. Dan aku tak sadarkan diri. *** Arkan dan babehnya tidak jadi pulang dan kembali mengantar Lita dan keluarganya kembali ke rumah sakit, dari sana Arkan meminta babehnya untuk pulang duluan diantar supir karena sudah lelah seharian, sedangkan dirinya masih mendampingi Lita. Suasana di rumah sakit sangat memilukan, Rossa yang berulang kali tidak sadarkan diri karena merasa bersalah dipeluk oleh Feby Lundi dan Adi tidak datang ke rumah sakit karena menghindari keributan dengan adik-adik Rossa. Nenek Lita didampingi anak lelakinya Pandi masuk ke dalam mobil jenasah yang akan dibawa ke rumah kediaman mereka yang besar itu, dan karena tradisi keluarga mereka untuk disemayamkan di rumah terlebih dahulu selama 3 hari, karena mengingat banyak sanak saudara dan juga kerabat yang ingin mengucapkan perpisahan untuk yang terakhir kalinya. Arkan hanya mengantar Lita, Feby dan Rossa ke rumah kakeknya dan dia pulang serta berjanji akan datang lagi keesokan harinya karena sudah larut malam. Suasana rumah duka di kediaman kakek Lita sangat ramai, adik-adik Rossa yang sudah berkumpul bahkan adik bungsunya sudah tiba dari Malang, kerabat dari pihak kakek dan nenek juga berdatangan satu persatu baik yang di Jakarta maupun dari luar kota, karena kakek Lita ini adalah kakak tertua dalam keluarganya sehingga adik-adiknya pun datang dan merasa kehilangan sosok kakak pengganti orang tua mereka yang selalu mengurus dan membiayai sekolah mereka dulu. "Maafin Rossa pa, ini semua salah Rossa kan? kalau aja Rossa ga ngadu sama mama pasti papa ga akan datang kerumah, papa ga mungkin sakit dan pergi seperti ini" tangis Rossa sambil memukul-mukul dadanya. Bu Ega istrinya pak Kus alias mamanya Rossa hanya duduk terdiam dibawah peti jenasah suaminya sambil membakar beberapa kertas yang menurut kepercayaannya adalah uang dan cahaya untuk mengantar kepergian suaminya ke alam baka. Bahkan kesibukan yang dilakukan oleh adik-adik Rossa dan para petua dalam mempersiapkan rentetan upacara pelepasan dalam tradisi Thionghoa dan Budha sesuai dengan kepercayaan kakek dan nenek Lita. Pagi - pagi setelah semalaman mereka tidak tidur, Lita menghampiri mamanya setelah mendapat telepon dari Arkan. "Ma, Lita pulang sebentar ama Feby boleh mau ambil baju sama cek Adi juga, takutnya dia lapar, Ta mau bawa dia kesini sekalian" kata Lita disamping Rossa dan Feby yang masih membantu bu Ega membakar kertas - kertas. "Iya udah Ta, kalian pulang sama siapa?" tanya Rossa dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis. "Pak Pri pagi ini disuruh standby disini ma, Arkan nanti sama babeh bawa mobil sendiri katanya. Biar kalau ada apa-apa kita bisa segera pergi tanpa bingung harus pakai apa" jelas Lita lagi. "Oh ... ya udah, bilangin babeh sama Arkan makasih yah, mama ga tau lagi siapa yang bakalan nolong kita kalau ga ada mereka" jawab Rossa dengan berurai air mata kembali. Sesampainya dirumah Lita dan Feby meminta pak Pri menunggu sambil mencari sarapan terlebih dahulu, dalam rumah terlihat sepi dan mereka bisa masuk karena memang mereka masing-masing punya kunci rumah sendiri. Di dalam kamar orangtuanya kedua kakak beradik ini sangat kaget saat melihat papa mereka dan Adi masih tidur tapi ada seorang wanita yang tidur bersama dengan mereka berdua. "Ehem ... duh enaknya yah abis membunuh orang bukannya mikir malah bikin masalah baru" teriak Lita melihat papa dan wanita yang tidak dikenalnya di dalam kamar orangtuanya walau bukan hanya berdua tapi tetap saja. "Ta, jaga ngomong yah... ini tuh masih dipanggil oo sama kamu, saudara papa" jawab Lundi yang walau terlihat tenang tapi tidak dapat menutupi wajah pucatnya. "What ever lah pa, tetap aja ga pantes tidur disini, kalau mau ya di kamar cece aja, atau kamar Neng sekalian" jawab Lita ketus. Bergegas Feby mengambil Adi dan di ajak untuk mandi dan bersiap-siap untuk kerumah Opa mereka. Tak sedikitpun kedua anak perempuan itu menegur wanita yang harusnya dipanggil tante oleh mereka, menurut papanya. "Neng ga makan dulu nih, nanti pada masuk angin kalau ga makan dan perut kosong". kata perempuan yang katanya saudara Lundi itu. Glek .... spontan Lita melihat ke arah perempuan itu dan menghampirinya dengan cepat. "Oh ... ini orangnya? hah? orang yang udah bekerja sama sama papa buat bunuh Opa kita" teriak Lita dengan keras sambil menarik rambut wanita yang harusnya dihormati karena lebih tua itu. "Neng? lu kenapa? lu kenal ama perempuan itu?" tanya Feby masih sambil memakaikan pakaian untuk Adi. Lundi dari luar kamar menghampiri perempuan itu dan menolongnya dari serangan Lita. "Apa-apaan sih Ta?" teriak Lundi kesal melihat ke arah Lita dan perempuan itu bergantian. "Ga enak tau masa sama oo sendiri kamu kayak gini, ga sopan ayo lepasin" kata Lundi lagi sambil berusaha membantu melepaskan rambut perempuan itu dari tangan Lita yang mengamuk. "Gue ga bego yah... gue ga t***l .... gue tau siapa dia!!!!!. Kalau lu orang yang tahu diri, keluar lo dari rumah mama gue sekarang, ga ada tempat lagi buat kalian. Orang-orang jahat.. pergiii !!!! " suara teriakan Lita membuat pak Pri dari luar langsung menghampiri ke dalam rumah karena mendapat amanat dari Arkan untuk menjaga Lita. Lundi dan perempuan itu terdiam dan saling berpandangan, wajah mereka pucat. Feby yang menyadari hal itu segera meminta pak Pri untuk membawa Adi keluar rumah dan menunggu mereka dimobil saja agar Adi tidak perlu melihat pertengkaran itu. "Gue ngerti juga sekarang, jadi cewe ini yang udah bikin papa jadi orang jahat, sekarang pergi ya pa, jangan harap Feby dan Lita akan ijinin papa kembali lagi ke rumah ini, cukup satu nyawa saja dikorbankan akibat ulah b******k kalian" ucap Feby yang pelan namun sangat menusuk hati karena diucapkan dengan mata yang tajam menatap mereka berdua. Lundi masih ingin menjelaskan kepada kedua putrinya tapi perempuan itu menahannya dan menarik Lundi keluar rumah sebelum emosi kedua putrinya itu memuncak, diluar rumah Lundi menemui Adi dan hendak membawanya ikut pergi tapi di tahan dan di larang oleh pak Pri karena teriakan dari Lita juga dari dalam rumah. "Jangan sampai dikasih yah pak Adi-nya, karena dia bukan orangtua kami lagi" teriak Lita dengan keras dan tajam menusuk hati. Di dalam rumah Lita terduduk dengan lemas, dia menangis sejadi-jadinya dipeluk oleh Feby, luka mereka berdua melihat kelakuan sosok ayah...cinta pertama mereka, harus musnah hanya dengan waktu sekejab saja, hanya demi memuaskan ego dan napsu seorang malaikat penjaga yang selama ini mereka kagumi hilang seketika. Dengan saling menguatkan mereka berpelukan berharap dengan saling menguatkan mereka bisa melanjutkan hidup dan menjelaskannya kepada mama mereka yang pasti tidak kalah syoknya nanti. Upacara demi upacara pelepasan jenasah dilakukan dirumah kakeknya yang besar, Lita, Feby dan Adi mengikuti semuanya itu sambil mendampingi mama mereka yang lemas dan terus merasa bersalah pada keluarga besar mereka. Di malam ketiga yang adalah malam terakhir sebelum acara pemakaman, keluar dari Lundi datang baik ibu mertua dan ipar-ipar Rossa juga beberapa keponakan yang sudah dewasa menghadiri upacara tersebut. Lita dan Feby akhirnya menemani keluarga mereka karena keluarga Rossa sama sekali tidak mau menemani bahkan menyapa mereka semua, rasa sakit hati dan kecewa yang terlalu dalam dirasakan oleh keluarga Rossa termasuk Rossa sendiri. Arkan bersikap netral dengan menemani keluarga dari Lundi dan juga masih membantu apabila keluarga Rossa butuh bantuannya dalam hal mengangkat meja yang ada sesaji untuk para leluhur dan juga membeli beberapa barang yang terlupa untuk dibeli, sambutan keluarga Rossa begitu baik pada babeh dan Arkan sehingga memudahkan mereka untuk berkomunikasi. Malam terakhir itu sering di manfaatkan untuk orang-orang tua dan kerabat untuk begadang dan bercerita tentang masa lalu baik almarhum maupun keluarga sehingga menimbulkan nostalgia yang bermaksud menghibur keluarga yang ditinggalkan dan juga sanak saudara yang lain yang mengenal almarhum, proses pembakaran boneka-boneka kertas berbentuk rumah, mobil, perlengkapan rumah tangga seperti kulkas, mesin cuci, televisi bahkan handphone menarik perhatian para tamu yang masih betah menemani keluarga kedukaan, api yang sudah disiapkan di pojok halaman tempat dimana jenasah disemayamkan sudah dinyalakan. Pemimpin upacara meminta kepada istri, anak, menaantu dan cucu untuk berganti pakaian dari warna putih-putih menjadi merah-merah, selang 15 menit kembali menjadi putih-putih kembali menandakan warna merah yang pantang dipakai saat kedukaan adalah bentuk keiklasan dan ijin kepada almarhum untuk keluarga yang ditinggalkan untuk meneruskan hidup tanpa melupakan almarhum. Lita dan Feby mengikuti rangkaian acara tersebut, bahkan Arkan juga mengikuti memakai baju putih yang disiapkan untuknya oleh adik Rossa karena menghargai keterlibatannya dalam acara ini dari saat Opa mereka meninggal sampai malam terakhir ini, pembacaan doa-doa terdengar sangat menyedihkan, semua keluarga meneteskan air mata tidak terkecuali Arkan dan babehnya sebuah kehilangan selalu membuat siapa saja semakin sadar bahwa hidup di dunia hanya sementara. Di luar gerbang ternyata berdiri seorang lelaki menggunakan pakaian serba hitam, dia hanya bisa berdiri di sana karena seluruh anggota keluarga melarang dan meminta kepada penjaga keamanan untuk menolak dan mengusir apabila orang dimaksud berada disekitar rumah, ya ... orang itu adalah Lundi, penyesalan yang dia lakukan tidak dapat memutar waktunya yang berharga, terlintas dalam benaknya begitu banyak kesalahan dan peristiwa yang seharusnya membuatnya bersyukur memiliki istri, anak dan keluarga yang begitu mendukungnya, tapi semuanya dilepasnya hanya karena napsu yang sesaat. Di dalam mobil yang juga hanya di luar gerbang, wanita berbaju hitam sama seperti Lundi duduk dengan santai tanpa memikirkan apa yang sudah terjadi, dia seperti merasa puas dengan pembalasan dendamnya kepada Rossa, yang sudah merebut Lundi darinya dalam sebuah pernikahan yang sangat dia harapkan bisa didapatkan dari seorang Lundi. Walaupun tidak banyak nilai plus dari seorang Lundi tapi sebuah kemenangan apabila bisa mendapatkan pria playboy itu. Sekalipun harus mengorbankan harga diri dan juga membuat seorang ayah, suami, kakek harus meninggal dunia akibat ulahnya bersama pasangan mesumnya itu. Arkan melihat ke arah gerbang saat hendak pulang dan melihat bahwa ada Lundi berdiri disana, bersama babeh dia mendekatinya dan meminta pada Lundi agar menghindar dari pertemuan keluarga dulu karena efek yang ditimbulkan oleh pengkhianatan Lundi yang fatal itu menyebabkan Lita dan Rossa menjadi drop, bahkan Lita tidak kuat menemani Arkan sampai ke depan pintu gerbang karena kembali sakit dan tidak sadarkan diri dalam rumah duka tersebut. "Maaf om, bukan Arkan lancang atau tidak sopan, tapi tolong biarkan acara pelepasan dan penghormatan terakhir untuk opa berjalan lancar saja dulu. Kondisi tante Rossa dan Lita sangat mengkhawatirkan hari ini, Lita kembali amnesia dan mendapat serangan panik, sedangkan tante Rossa tidak berhenti-henti menangis sampai harus mencari tabung oksigen agar bisa bernafas" jelas Arkan pada Lundi. "Iya Kan, makasih karena kamu mau menemani dan membantu Lita dan mamanya dimasa-masa ini, om berhutang budi sama kalian berdua, beh makasih banyak yah" kata Lundi menyalami kedua ayah beranak itu. "Ayo ko, kita kembali ke Cikampek aja, ngapain disini juga koko udah ga diterima lagi kan" terdengar teriakan dari dalam mobil dimana Evi ada di dalamnya, dia membuka kaca mobilnya dan memperlihatkan wajah tidak tahu malunya pada Arkan dan babehnya yang hanya dijawab pelan oleh Lundi. "Iya sabar sebentar, cuma mau lihat sampai upacaranya selesai sebentar lagi" jawab Lundi lemas. "Arkan sama babeh duluan pulang ya om, besok Arkan yang akan nemenin Lita ke pemakaman karena babeh sepertinya masih tidak enak badan, kita pulang karena sudah larut malam" pamit Arkan masih dengan sopan kepada ayah dari gadis yang disayanginya itu. Sepulangnya Arkan dan babehnya, Handa adik laki-laki kedua Rossa juga baru kembali setelah mengantarkan mertua dan istrinya pulang, dia kembali karena harus membantu keluarganya mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman esok hari, dia melihat Lundi yang masih ada di depan gerbang dan segera menghentikan mobilnya dan turun. Buk ... "Pergi lu, ga usah muncul lagi di depan rumah, bahkan di depan muka keluarga gue lagi. cici gue dan anak-anaknya akan gue urus, ga perlu lagi orang b******k kayak lu disini" maki Handa dengan emosi, akhirnya Lundi dibantu oleh penjaga setempat yang akhirnya meminta Lundi dan Evi untuk pergi dari tempat itu. "Dasar ga tau malu emang tuh orang yah! masih berani-beraninya dia nongol bawa p***k lagi kesini, dih ci gue kesel banget ama laki lu, pengen gue matiin rasanya!!!" teriak Handa ketika memasuki rumah dimana seluruh keluarganya sedang berkumpul dan membicarakan acara pemakaman besok. "Hah! dia datang? berani tuh orang, mana sini gue hajar" jawab Pandi kesal dan bergegas keluar rumah yang langsung dihalangi oleh Handa adiknya. "Udah ko, udah gue tonjok dan usir dia, ga ada malu-malunya tuh orang" jawab Handa lagi. Sedangkan Rossa hanya bisa tertunduk sambil mengelus dadanya yang sesak, dia mengatur alat oksigennya agar bisa memberikan asupan oksigen lebih banyak padanya yang sesak nafas itu. Feby juga terbangun saat melihat dan mendengar omnya berteriak marah, dia melihat ke arah mamanya yang mengelus dadanya dan segera bangun mengambilkan air minum untuk mamanya. Rossa menerima air minum itu dan kembali tenang, dia menangis dalam diamnya sambil mengelus kepala Feby dan Adi yang mengantuk, sedangkan Lita dari habis acara belum juga sadarkan diri dan sedang dirawat oleh asisten rumah tangga omanya. Keesokan harinya pagi-pagi sekali keluarga itu sudah bersiap-siap untuk berangkat ke pemakaman, segala keperluan seperti payung, kacamata juga hal-hal yang membantu mengurangi sengatan panas matahari mereka bawa. Arkan dan supirnya sudah standby dari pagi dirumah kakek Lita dia mengenakan baju warna putih dan celana hitam, sama seperti Lita dan Feby. Adi sementara dijaga oleh ART dirumah kakek Lita dulu karena masih kecil dan sedang demam juga. mereka berangkat dari rumah duka jam 10 pagi setelah melakukan upacara pelepasan, dimana semua anggota keluarga harus menunduk dan berlutut di arah jalan keluar peti jenasah menuju mobil ambulan yang diparkir diluar pagar rumah yang mempunyai arti, bahwa keluarga melepaskan dan merelakan serta mengiklaskan agar almarhum tidak rindu dan kembali kerumah tapi harus pergi ke alam baka, di luar gerbang juga berdiri Pandi sebagai anak lelaki tertua membawa sebuah semangka utuh dan melemparkannya ke tanah setelah peti jenasah keluar dari gerbang rumah. Bentuk ucapan selamat jalan kepada orangtua mereka tercinta. Lita, Feby dan Rossa berangkat dengan mobil Arkan yang disetir oleh pak Pri supirnya, mereka dalam urutan mobil yang kedua setelah peti jenasah, urutan pertama ada mobil Handa yang didalamnya ada bu Ega istri pak Kus, Marni adik perempuan Rossa yang pertama dan juga Fia adik perempuan Rossa yang bungsu, sedangkan di mobil jenasah di isi oleh Pandi dan Boy yang merupakan anak lelaki tertua dan terbungsu dari pak Kus. Acara di tanah pemakaman berjalan hikmat dan tenang tanpa gangguan, kata sambutan dari keluarga juga hanya disampaikan secara singkat karena mengingat ada kejadian sebelum kakek Lita meninggal dan tidak mau sampai ada tanda tanya dan pembahasan lanjut untuk penyebab meninggalnya pak Kus. Setelah acara pemakaman selesai, seluruh keluarga berdiri di jalan arah keluar tanah pemakaman untuk menerima ucapan kedukaan dari tamu yang mengantar, di ujung anggota keluarga ada sebuah ember dengan air dan didalamnya ada bunga untuk mencuci tangan dan wajah yang habis kena tanah atau filsafat lainnya karena untuk berpamitan dan melupakan segala kesedihan agar yang meninggal dan yang ditinggalkan dapat melanjutkan hidupnya. Setelah semua tamu sudah pulang, tinggal keluarga yang tinggal, Bu Ega mengajak semua anak-anaknya untuk kembali ke rumahnya untuk membicarakan wasiat yang sudah di siapkan oleh pak Kus semasa masih hidup. Rossa yang masih merasa bersalah enggan mengikuti langkah mama dan saudara-saudaranya, tetapi di rayu oleh adik bungsunya Boy akhirnya dia mengikuti mobil keluarga dan berpisah dengan Arkan dan babehnya juga Feby. Saat hendak menaiki mobil Rossa melihat sosok yang sangat dia kenali, walaupun dengan tampilan bagaimanapun juga dia sangat mengenal bentuk tubuh bahkan paras wajah suaminya yang sedang memakai kacamata hitam untuk menutupi wajahnya. Dia menghampiri Lundi yang datang bersama dengan Evi yang memegang payung hitam senada dengan pakaian mereka berdua. Arkan melihat Rossa menghampiri seseorang diluar wilayah pemakaman dan segera memberitahu kepada Lita, dengan lirikan matanya Lita melihat ke arah mamanya berjalan dan mukanya berubah segera melihat siapa yang dihampiri oleh mamanya itu. "Ngapain lagi lu kesini? hah? lu ga punya tempat lagi disini!" teriak Rossa sekaligus menampar Lundi dan wanita j****g disampingnya, dengan wajah tanpa dosa dia memegang payungnya yang berwarna hitam senada dengan pakaian mereka berdua. Setelah mengeluarkan emosinya dia masuk ke dalam mobil keluarganya dan mereka segera berlalu dari tempat pemakaman itu. Dari dalam mobil bu Ega dan adik-adik Rossa hanya jadi penonton yang siap siaga apabila diperlukan. "Udah ci kalau belum puas biar gue bejek dia sama cewe m*****n itu, panas gue liatnya. Berani-beraninya dia datang berdua, ga ada malunya" kata Pandi dengan emosi sambil memegang setir mobilnya karena giliran dia yang mengemudi. "Iya udah, biarin aja, udah ayo pulang" katanya lagi sambil mengusap air matanya yang menetes. "Kalau anda masih ingin di hormati segera pergi dari sini dan tidak pernah menginjakkan kaki anda lagi dilingkungan ini, baik anda maupun setan disamping anda ini, yang ngakunya sebagai adik anda" kata-kata ketus dari Feby sangat menusuk hati Lundi yang tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari putri sulungnya. Lita memegang tangannya Feby untuk meredakan emosi kakaknya, dia sendiri sudah tidak punya tenaga lagi untuk marah, bahkan dia tidak mengenal lelaki yang ada di depannya ini. seperti hilang semua ingatan yang menyakitkan untuknya. Arkan segera merangkul Lita yang sudah terlihat lemas dan juga meminta Feby untuk masuk ke mobil untuk kembali ke rumah mereka, karena mereka tidak mau ikut dengan Rossa yang hendak bicara dengan keluarga besarnya. Dari dalam mobil Feby berteriak pada Lundi, "Jangan harap lu dan p*****r yang ada disamping lu itu akan mendapat maaf dari kita semua". Dan kaca mobil pun ditutup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN