Setelah membersihkan diri Lluvia duduk di tepi tempat tidur. Luce sudah datang setengah jam lalu tapi hanya duduk tak mengatakan apapun bahkan sekedar kata penghibur menenangkan Lluvia yang ketakutan. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya tapi ia tak sedikitpun menunjukkan rasa peduli.
Lluvia termenung frustasi, mengangkat jemarinya lalu menggigit kuku-kukunya tanpa sadar.
"Jangan lakukan itu, nanti tanganmu berdarah" Lluvia menatap Luce, ia menurunkan tangannya dalam pangkuan. Raut mukanya yang bingung berubah tertekan, tercekam.
"Apa aku akan berada di ruang operasi sendiri? Aku takut"
Luce mendongak, "Kau mau mengundurkan diri?"
Lluvia suram, memaksa tersenyum, "Kau tidak akan mau"
Jemari Luce terangkat menunjuk wajahnya, turun ke bagian bawah tubuhnya, dengan senyum sinis, "Kalau mulutmu bisa bekerja sebaik bagian itu aku mungkin mempertimbangkannya"
Seorang perawat menyapa, meminta Lluvia bersiap sementara perawat lainnya membawa kursi roda untuk menjemputnya. Ketakutan tak dapat ia sembunyikan, tergambar makin jelas hingga ia tampak pucat seperti kertas menahan tangis. Ditatapnya Luce disisinya seolah memohon dengan tangan mengulur.
"Aku tidak mau sendirian... Aku mohon..."
Luce hanya menatap tak bereaksi sampai Lluvia menghilang dibalik lift. Ia berupaya fokus pada ponselnya tapi akhirnya tak konsentrasi. Bibirnya berdecak. Ia bangkit setengah kesal memasukkan ponsel dalam saku, menyusul masuk dalam lift mencari ruang bedah ginekologi.
Lluvia dibawa ke ruang transit. Perawat memberinya baju steril untuk diganti. Setelah selesai, ia berbaring sementara para perawat memasang infus. Ia mencoba tenang, menarik napas berulang kali, meski tak juga berhasil menghilangkan ketakutannya. Ia berharap Luce di sana, tapi menghapus ide itu segera dari kepalanya.
Seorang wanita 30-an berseragam bedah dan wajah tertutup masker menyapa , bertanya keadaan dan perasannya. Sesaat ia berpikir wanita itu jauh lebih perhatian dibanding Luce.
Dengan jujur gadis itu menceritakan ketakutannya. Wanita itu mengerti, ia menepuk pundaknya beberapa kali dan mengatakan untuk percaya bahwa operasi tak semengerikan yang ia pikirkan.
Tanpa ia sadari dokter wanita itu sudah menyuntikkan cairan dalam botol infusnya. Sekian detika lalu mata indahnya berat, mengatup, hanyut dalam tidur lelap, tak menyadari telah dibawa ke ruang operasi tempat Dokter Barnick menunggu. Luce yang tiba di detik terakhir menerobos pintu dengan cepat. Dokter dan perawat menatap heran. Ia memulas senyum penuh percaya diri dan meminta izin untuk di sana hingga operasi selesai. Dokter Barnick tak keberatan, hampir semua pasien yang menjalani operasi serupa akan ditemani pasangan mereka.
Setengah jam berlalu Lluvia masih terbaring. Sesekali terdengar ia mengigau pelan, membuat Luce tersenyum. Ia menatap jam bertanya-tanya kapan ia akan terbangun sementara masih ada pekerjaan yang perlu ia selesaikan tapi tak tega meninggalkan gadis itu terjaga sendirian.
Ponsel Luce berdering, ia meninggalkan ruangan Lluvia lalu berbicara sebentar di balik pintu.
"Ada apa Charles?" Luce terdiam sebentar mendengarkan ucapan lelaki itu, "Aku akan segera ke sana, bilang pada klien itu alasan apa saja, seperti aku sedang sibuk membuat kontrak perjanjian baru penjualan senjata ke Suriah, atau katakan aku sedang melakukan panggilan Skype dengan komandan ISIS... Tidak, katakan aku sedang bicara dengan El Chapo, itu lebih meyakinkan!"
Suara berat Luce sayup menari di telinga Lluvia, membuat ia terjaga. Matanya membuka perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya sambil mempertegas citra visual yang ia tangkap. Luce tak di sana. Ia memanggil nama lelaki itu beberapa kali dengan nada lirih yang terdengar amat butuh. Tersadar Lluvia mencarinya, ia mematikan ponsel lalu membuka pintu.
"Akhirnya kau bangun, apa tidurmu nyenyak?"
"Ya, sangat nyenyak" ia melungguh heran menatap sekitar, "Bukankah seharusnya aku dibawa ke ruang operasi, kenapa aku dibawa kemari lagi?"
Luce tertawa. Ia menarik kursi kayu di samping tempat tidur sambil menyilangkan kaki panjangnya, "Semua prosedur selesai di lakukan. Dokter sudah memasang dilator"
"Aku tidak merasakan apa-apa" keluhnya.
"Kau tidak merasakan apa-apa, tapi terus mengigau membuat dokter harus menambah anastesimu"
Lluvia mengalihkan pandangannya antusias dan penasaran, "Apa kau juga ada di sana?"
"Kau bilang ketakutan jadi aku terpaksa menemanimu. Karena prosedur yang kau jalani memang biasa melibatkan pasangan, jadi mereka membolehkanku masuk. Walaupun aku pikir itu terlalu berlebihan" Luce setengah menggerutu. Ia mengalihkan pandangannya kemudian menatap Lluvia. Gadis itu tersenyum manis.
"Terima kasih, kau selalu baik padaku"
Luce menimpali dengan sedikit tawa yang ditahan. Aneh mendengarnya mengucap pujian yang jauh menggambarkan dirinya sesungguhnya.
"Kau pikir aku baik?" Ia menyeringai, Lluvia mengangguk pasti.
"Kau selalu menolongku, jadi kau baik untukku"
Lelaki jangkung itu menghela napas tak mau melanjutkan. Ia memasukkan ponsel dalam saku kemudian berdiri mengancing jas hitamnya, "Seperti biasa kau naif Nona Shawyer"
Kening Lluvia mengernyit kecewa, "Kau akan pergi sekarang?"
"Aku menunda banyak pekerjaan karena kau," ia berpaling pada gadis itu, "kau tidak berpikir aku akan menunda lebih banyak waktu 'kan?"
Lluvia mengangguk murung, berharap menghabiskan waktu agak lama dengan Luce. Selama di rumah sakit ia jarang menjenguk, hanya datang mengantar lalu tak muncul lagi, bahkan tak menelpon atau sekedar mengirim pesan, membuatnya lebih banyak menunggu. Sementara Luce sama sekali tak merasa bersalah melanggar janji.
Lesu, Lluvia membuka selimut lalu menapak lantai perlahan. Ia terus berdiri beberapa lama, takut melangkah karena khawatir akan sakit. Tingkahnya yang aneh menarik perhatian lelaki bermata biru di seberang ranjang.
"Apa yang akan kau lakukan, kenapa berdiri terus di sana?"
Lluvia berbalik punggung, kepalanya tertunduk tak mau menatapnya, "Aku ingin ke toilet sebentar, kau bisa pergi sekarang. Hati-hati di jalan dan terima kasih sudah menemaniku"
Mendengar nada bicara Lluvia yang dangkal seperti terpaksa membuatnya mengernyitkan kening. Hanya saja ia sedang tak mau menghibur dan membiarkannya begitu saja. Pikirnya Lluvia akan mengerti seperti biasa. Pekerjaan lebih penting.
Luce melangkah baru beberapa kaki mendekati pintu ketika rintih tajam Lluvia membuatnya sontak berbalik. Gadis itu pucat, lebih pucat dari sebelumnya. Kedua tangannya berpegang sisi tempat tidur, nyaris jatuh. Ia berlari menangkap tubuh ringkihnya hingga Lluvia bersandar dalam pelukannya.
Mata birunya menatap lekat, kerut di keningnya menunjukkan kecemasan luar biasa, "Ada apa, apa ada yang sakit?"
Lluvia mencengkram tangan Luce erat dengan napas tersengal dan muka pucat seperti kertas, "Darah... Ada darah"
Mata biru laut Luce menjelajah tubuh Lluvia. Segaris panjang noda darah menempel di dua sisi pahanya, "Aku akan memanggil dokter" Lluvia mencengkramnya makin kuat, tak membiarkannya pergi.
"Tidak... Tidak perlu, tidak ada yang sakit, aku hanya... Takut darah"
Luce yang panik setengah mati menghela napas panjang. Sepasang kelopak mata lebarnya menutup sepintas menunjukkan kelegaan luar biasa. Ia menggendong tubuh Lluvia ke kamar mandi, mendudukkan tubuhnya di atas dudukan toilet lalu mengambil beberapa lembar tisu yang coba direbut Lluvia dengan cepat.
"Biar aku saja" kata gadis itu tak mau merepotkan, tapi Luce menolak tanpa bicara. Ia membuka jas, meletakkannya di atas wastafel tak jauh di sampingnya lalu membersihkan kedua sisi paha Lluvia mendekati pangkal pahanya membuat gadis itu merinding.
Setelah selesai ia bangkit berdiri membuang lembar tisu kotor ke tempat sampah, lalu mencuci tangan. Begitu selesai ia berpaling pada Lluvia.
"Sebaiknya lepas dulu dilatornya saat ingin melakukan sesuwtu! Dokter Barnick bilang kalau saat kau melepasnya mungkin akan berdarah"
Lluvia melongo kian pucat seolah tak ada darah mengalir di wajahnya, "Benarkah?" Luce tak bicara, diamnya menyiratkan keseriusan. Gadis itu berusaha menekan ketakutan dan bersikap biasa, "Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya, jangan khawatir" ia memaksa senyum, tapi Luce mampu membaca tiap ekspresi kecil di wajahnya. Lelaki jangkung itu menghela napas, lalu berbalik punggung.
"Kalau begitu lakukan saja, aku tidak akan melihat"
Lluvia kecut alisnya terangkat, "Kenapa kau tidak keluar, bagaimana aku bisa melakukannya jika kau tetap di sini"
Luce kembali menghadap Lluvia, tak tahu gadis itu tengah mengamati tubuh dan pakaiannya. Luce membalut tubuh berototnyanya dengan kemeja dan celana hitam yang ditutup rompi biru dan dasi warna senada. Otot-otot tubuhnya menggiurkan ditatap lebih lama, namun lamunanya buyar kala suara Luce menerobos daun telinganya.
"Aku tau kau tidak bisa melakukannya jadi aku di sini untuk berjaga-jaga. Bagaimana kalau pingsan melihat darah dan tidak ada yang melihat"
Lluvia berdiri tak terima, "Tapi aku ingin berkemih... Bagaimana bisa kau tetap berada di sini. Itu hal menjijikkan dan kau ingin melihatnya?"
Luce membalas sama kerasnya. Satu tangan bertolak pinggang sementara telunjuknya menujuk d**a Lluvia, mencoba mempertegas sisi dominasinya yang benci ditekan dan diperintah.
"Dengar Nona Shawyer, semua orang berkemih, binatang berkemih, pria dan wanita berkemih, itu hanya siklus normal tubuh manusia"
Lluvia mulai frustasi. Ia tahu melawan Luce salah satu hal yang sia-sia nyaris tak mungkin, ia hanya berusaha, "Tapi tidak seorangpun ingin dilihat berkemih" tegas Lluvia meringis.
Luce tak melanjutkan. Ia membuka tutup toilet lalu menunjuk, "Duduklah sekarang!" Setelah memerintah dengan nada setengah membentak tanpa bersalah, ia berbalik punggung.
Lluvia menarik terusan pakaian rumah sakitnya ke atas. Ketika melihat dilator putih itu menancap dalam organ genitalnya ia merinding, perasaan takut darah dan kesakitan mendominasi seluruh raganya. Ia berkeringat, berusaha dan bekerja demikian keras meyakinkan juga memberanikan diri menarik benda itu dari tubuhnya tapi tangannya selalu bergetar dan bergerak menjauh melawan kehendaknya.
"Kau sudah melakukannya?"
Lluvia menelan ludah, suara Luce seperti bom waktu siap meledak, "Aku sedang melakukannya, tunggu sebentar lagi" nada suaranya menyembunyikan gugup. Lagi, ia mencoba menarik ujung dilator itu. Begitu benda itu bergerak beberapa senti, noda darah membuatnya sesak berkeringat, lalu pada akhirnya ia berakhir kaku jadi patung, tidak bisa berbuat apapun.
"Kau sudah melakukannya?"
Lluvia melampiaskan kekesalannya lewat nada bicaranya pada Luce,"Kenapa kau terus bertanya, kau membuatku panik" kata gadis itu setengah menahan tangis"
Luce berbalik, "Kau tidak bisa melakukannya 'kan?" ia membungkam mulut Lluvia dengan tangan lalu menarik dilator karet bernoda darah itu keluar dengan cepat. Lluvia pucat pasi. "Dokter bilang kalau kau harus memakainya saat tidur selama beberapa hari" ia membuka keran air mencuci benda itu dengan sabun tanpa sedikitpun risih atau jijik. "Sekarang kau bisa lakukan apa yang mau kau lakukan" ia keluar menutup pintu menunggu gadis itu.
Berselang setelah bunyi flush terdengar dari balik pintu, Lluvia muncul. Wajahnya sangat merah. Ia tertunduk malu, tak kuasa menatap lelaki itu secara langsung. Membayangkan apa yang barusan terjadi membuat ia berharap menghilang atau lenyap. Sayang ia masih harus keluar menghadapi pria itu dan menunjukkan padanya ia baik-baik saja setelah kejadian tadi.
"Sudah selesai?" Lluvia mengangguk. Ia tertunduk melirik Luce dari helai rambutnya yang jatuh. Pria itu tenang dan biasa, membuatnya makin tersiksa secara moral mengingat apa yang terjadi. Luce balik mengangkat dilator itu. "Kau bisa melakukannya atau harus aku yang memasangnya?" Wajah Lluvia setengah meringis, merebut benda itu lalu menghilang dari balik pintu toilet. Ia kembali ke hadapan Luce setelah beberapa detik menenteng jasnya yang tertinggal di dalam.
"Aku akan meminta perawat menjagamu di sini kalau kau perlu apa-apa" kata lelaki itu sembari mengenakan jasnya.