Lluvia bersandar punggung sofa memandangi indah kota London Barat dari balik tirai. Cahaya matahari musim gugur bersinar lembut, amat lembut terselubung di balik gumpalan awan besar. Cuaca yang indah tak mewakili gamang hatinya.
Ia menghela napas berulang kali penuh beban, mengacak-acak rambut sambil menyumpahi diri berulang kali. Ia malu nyaris mau mati tiap kali mengingat yang terjadi kemarin. Hari itu entah mengapa ia berharap tak pernah bertemu Luce lagi.
"Kenapa harus terjadi... kenapa harus terjadi? Kenapa?" Nada suaranya setengah memekik, setengah sedih, sedikit menyesal. Tak pernah ia habis pikir kenapa begitu takut pada darah sendiri? Tiap kali berpikir jawabannya, semua terpental karena memang tak tahu. Itu yang tubuh dan kepalanya inginkan! Tak ada yang bisa ia lakukan dengan itu.
Lluvia terlalu sibuk meratapi kekurangan diri dan semua yang terjadi, hingga tak sadar pola tingkah anehnya menarik Luce. Ia menyandar di pinggir ranjang, melepas kaos tangan kulit yang ia kenakan, tak menegur Lluvia, membiarkan gadis itu melanjutkan keluhnya.
"Kenapa dia harus seperti itu, dia bisa saja memanggil perawat untuk membantuku. Kenapa dia begitu menyebalkan. Apa dia lahir dengan tingkah seperti itu? Kenapa Tuhan menciptakan pria seperti dia yang sulit dihadapi?" Ia meringis, berbalik pelan. Ujung sepatu hitam yang tampak mahal di lantai membuatnya heran.
Lluvia mengangkat pandangan, terkesiap seketika. Dua mata bundarnya melotot sekian detik sambil menutup bibirnya dengan satu tangan.
Luce tersenyum tipis, terpesona raut wajah Lluvia yang lucu dan jarang ia temukan di wajah gadis itu. Ia berdiri menenteng sarung tangan kulitnya menghampiri Lluvia lalu memegang pundaknya.
"Siapa lelaki yang membuatmu menggerutu?"
Lluvia menurunkan tangannya, lalu tersenyum lebar, sedikit aneh nampak dipaksakan.
"Seorang perawat pria, tidak perlu dipikirkan" ia mengoceh berupaya berkamuflase. Tapi lelaki itu tak tertipu.
Bibir Luce berdecak, mengerut menatap Lluvia lekat, "Aneh sekali, aku sudah berpesan pada rumah sakit agar tidak ada perawat pria boleh masuk ke sini"
Kening Lluvia mengernyit, ia dihimpit rasa malu makin dalam, tapi terus berusaha melebarkan senyum palsu.
"Benarkah? Ha... Ha... Ha... Ha... Ha"
Lluvia tertawa terpaksa. Luce tak ambil peduli, tak juga terganggu, ia lebih fokus ke arah rambut Lluvia yang kusut, berantakan. Ia menunjuk tepat helai rambut gadis itu dengan air muak tak puas.
"Rapikan rambutmu!"
Lluvia menanggapi perintah Luce. Ia menyisir rambutnya dengan jari secepat mungkin agar tak menggangu pandangan pria itu. Luce orang yang cermat, gampang terganggu hal kecil, sementara Lluvia ceroboh, sering tak sadar membuat dirinya demikian berantakan.
"Sudah kau kemas pakaianmu?"
Lelaki itu mengamati sekeliling ruangan memastikan tak ada barang tertinggal. Lluvia mengangguki.
"Tidak ada, aku hanya memakai ini"
Mata biru laut pria itu mengamatinya sekian detik dengan mengerutkan bibir tipisnya yang panjang. Setelah puas ia mengangguk pelan.
"Sudah kau lepas? Tidak lucu kalau kau berjalan dan tiba-tiba benda itu jatuh"
Lluvia melongo, dua alisnya nyaris menyatu, sama sekali tak mengerti yang dimaksud. Luce yang paham kebingungan gadis itu menunjuk ke bawah di antara kedua pangkal pahanya. Seketika rasa kesal dan malu yang sudah terkendali menguap makin tinggi.
Ia meringis mendekati pria itu. Lluvia meletakkan dua tangannya di atas d**a Luce sambil menekannya kuat-kuat. Luce tak bereaksi, ia kaku, tak tergoyahkan dengan sorot mata dalam penuh perhatian menunggu tindakannya.
Sorot mata Luce yang lembut dengan aura misterius membuat Lluvia tak kuasa. Ia meletupkan kaki tak tahu berkata apa. Setelah puas, ia pergi begitu saja meninggalkan pria dingin itu penuh tanya.
Luce menyusul ke dalam mobil Range Rover hitam favoritnya berselang menit kemudian. Gadis itu tengah duduk tenang di sampingnya, mengalihkan pandangan ke luar jendela. Tak ada hal aneh yang membuatnya harus bingung dan bertanya-tanya.
Segera setelah kendaraan separuh jalan meninggalkan rumah sakit, kebiasaan buruk Lluvia yang tak ia sukai sengaja dilakukannya. Ia menggigiti kukunya sampai patah.
Alis tebal Luce sudah mengernyit sejak tadi tak tahan dengan tingkah dan bunyi yang keluar dari gigi dan kukunya yang beradu.
"Bisa kau hentikan itu Lluvia?"
Mata almondnya melirik tanpa bersalah, "Apa? Melakukan ini?" Ia menggit kuku lainnya sekali lagi di depan Luce seolah menantang. Lelaki itu menghela napas panjang seolah hampir gila.
"Kau akan terus melakukannya?"
Lluvia mengangguk sambil tersenyum tanpa prasangka. Sementara raut muka Luce sudah setengah mati menahan kesal dan jijik. Ia bisa menerima beberapa hal yang kurang dari Lluvia tapi untuk satu ini ia tak ada niat tolerenasi.
"Apa kau akan menurunkanku di sini kalau aku melakukan ini?" Lluvia menatap Luce. Dagu pria itu mengeras dengan tatapan memincing sinis dan kesal, tapi gadis itu seolah tak peduli.
Ia menimpali pertanyaan Lluvia dengan tawa pelan bernada tajam yang membuat merinding. Charles yang mendengar obrolan mereka hanya melirik dari spion depan dengan prihatin.
Tiba di istana-nya Luce tak buang waktu. Ia segera menyeret Lluvia menuju kamarnya, lalu menghempasnya keras ke ranjang. Gadis itu diam menggit bibir bawahnya.
Pria jangkung pirang mendekatinya, sembari mensedekapkan tangan di d**a, penuh aura kasar dan menghakimi yang tak menyenangkan namun tak mampu dilawan Lluvia. Perasaan kepemilikan Luce atas dirinya begitu besar hingga sulit dibantah.
"Jangan membuat tampang seolah kau akan menangis sedangkan kau sendiri yang melakukan kesalahan"
Lluvia mengangkat pandangan perlahan, "Kenapa kau begitu marah?"
Luce menyeringai kejam, "Karena kau tidak mendengarkan. Kau tau, aku tidak suka dibantah atau ditantang. Kau harus ingat itu!"
"Lalu bagaimana denganku?" Lluvia mengumpulkan keberanian lalu berdiri, "Kenapa kau melakukan itu padaku?"
"Melakukan apa?"
Luce memajukan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan dan napas mereka berbenturan. Jantung Lluvia berdetak lebih cepat, sedikit hilang konsentrasi.
"Kau... Kau melakukan itu" mata almond Lluvia melirik sudut lain menyembunyikan gugup, "Kau membuatku sangat malu kemarin, padahal kau bisa meminta perawat membantuku... Berkemih..."
Bibir tipis lelaki itu mengumandangkan tawa nyaring yang membuat Lluvia makin malu. Menyadari raut masam gadis itu Luce menutup tawanya dengan kepalan jari.
"Dengar Lluvia," ia menyapu kening gadis itu, menyisipkan helai rambut coklatnya yang agak berantakan ke belakang telinga. Perhatian lembut yang diberikan Luce membuatnya tersipu. "Untuk orang-orang yang memiliki masalah yang sama denganmu, membantu pasangan bukan hal yang memalukan. Itu bahkan kewajiban"
Luce mencoba menenangkan. Ia membawanya ke pinggir ranjang, lalu menarik kursi kayu untuk duduk di depan Lluvia, tanpa melepas genggamannya. "Apa kau merasa kalau seksualitas adalah hal yang memalukan?"
Lluvia tertunduk dalam renungan. Pertanyaan sederhana tapi tak punya jawaban. Sedikit sesal terpatri dalam batinnya. Sementara bagi Luce diamnya gadis itu jadi pertanda kebenaran yang disembunyikan.
"Sepertinya begitu..." Luce merebahkan punggung tegapnya sembari menyilang kaki, "Kurasa itu mungkin jadi salah satu penyebab vaginismus-mu. Kau harus menerima bahwa seksualitas bahkan seks bukan hal yang harus membuatmu malu atau takut"
Lluvia menyapu keningnya dengan tangan, tak berani memandang Luce. Ia masih sedikit tak yakin tentang dirinya atau pandangannya. Namun menyadari ada kebenaran dari ucapan Luce, sayang saja belum sepenuhnya ia terima, masih ia pelajari sedikit demi sedikit ketika pertama kali mereka mencoba bercinta.
Luce menarik lengan Lluvia menjauh dari wajahnya. Ia tersenyum menatap gadis itu. Sebaliknya Lluvia malu. Ia menundukkan pandangan, wajahnya merah seperti kelopak mawar merekah dan berharap Luce tak sadar.
"Di mana kau menyimpan dilatornya?" ia berbisik lembut disertai hembusan napas hangat yang menggelitik dan nada suara dalam yang menawan.
Lluvia merogoh saku gaunnya, mengeluarkan benda itu. Luce tersenyum hingga deret giginya tampak sekilas. Ia meraih dilator dari tangan Lluvia.
Luce menggeser duduknya ke seberang tubuh gadis itu sambil merangkul pinggang kecilnya. Lluvia beringsut beberapa jengkal jauhnya.
Jari ramping Luce menjangkau dagu Lluvia. Ia menarik wajahnya sedekat mungkin dengan bibirnya lalu mengecupnya lembut.
Lluvia tak pandai berciuman. Untuk beberapa detik ia pasif, hanya menerima bibir Luce menelan bibirnya. Namun perlahan ia terbiasa.
Lluvia belajar gerakan bibir Luce lalu mencontohnya. Ciuman sederhana berubah jadi lumatan-lumatan halus, sarat hasrat dan gelora. Meski malu, Lluvia mengakui ia b*******h dengan mudah.
Luce menghentikan ciumannya. Ia mendaratkan kecupan terakhir di sudut hidung Lluvia dekat cuping bibirnya. Napas mereka bertabrakan, hasrat mereka menjalar namun masih terkendali.
Luce beringsut menjauh menuju kursi kayunya, sementara Lluvia melungguh menegakkan posisi tubuh.
"Kau sudah siap?"
Lluvia bingung sesaat tak mengerti, namun ketika Luce membuka lebar kedua kakinya. Ia tahu apa yang ia maksud.
Lelaki berbahu lebar dengan d**a bidang yang tampak begitu jelas dan menggetarkan itu menarik pinggang Lluvia mendekat padanya. Ketika jarak mereka cukup ideal, Luce menarik gaun Lluvia ke atas. Gadis itu tak mengenakan pakaian dalam, masih merasa sedikit nyeri.
"Ini akan lebih mudah" ucapnya lembut sedikit berbisik.
Lluvia mengalihkan tatapannya menuju kebun mawar di belakang jendela, tak ingin melihat apa yang Luce lakukan padanya. Ia masih takut sakit dan sedikit malu.
Dilator di tangan Luce menembus masuk melewati organ genitalnya dengan mudah, Lluvia melenguh panjang, mencengkram pundak Luce. Ia sudah tak merasa kesakitan maupun nyeri seperti sebelumnya. Sedikit perasaan lega membuatnya tersenyum.
Luce mendorong dilator itu pelan-pelan berirama. Lluvia menggigit bibirnya berusaha menahan desahan meluncur keluar, sambil merangkul tubuh pria itu kian kuat.
"Kau harus melihatnya agar terbiasa" kata lelaki itu melepas dekapan tangan Lluvia.
Ia menarik gaunnya makin ke atas hingga Lluvia bisa melihat kedua pangkal pahanya dan bagaimana dilator itu bergerak dimainkan jemari Luce dengan cekatan.
Desahan Lluvia tak tertahan. Kedua matanya sesekali menutup, wajahnya terangkat, kedua tangannya mencengkram seprai tempat tidur demikian kuat, seraya dua kakinya berjinjit, menggeliat seolah tak tahan dengan gerakan benda karet dalam tubuhnya.
Luce memulas senyum kesenangan. Ereksinya mulai mengeras sejak berciuman dengan Lluvia tapi ia menahan diri. Kali ini kesenangan bukan miliknya, harus ia berikan pada Lluvia agar bisa menikmati. Ia bisa melakukannya kapan saja nanti saat keadaan gadis itu membaik.
"Apa kau menyukainya?"
Lluvia mengangguk penuh kepasrahan.
"Kapan kita bisa mencobanya bersama?"
Luce tersenyum agak lebar, "Saat kau membaik"
Ketukan dari pintu membuat kesenangan mereka terganggu. Luce terpaksa menghentikan gerakan tangannya, lalu menyahut pelan pada si pengetuk. Ia tak marah, sebaliknya ia tahu jika ada orang yang berani menganggu kesenangannya itu pasti untuk hal penting. Para pesuruh rumah itu sudah paham betul temperamennya.
"Siapa?"
"Saya Charles, Tuan, ponsel anda tertinggal di mobil. Sudah berbunyi beberapa kali, saya tak berani mengangkatnya"
Luce berdiri. Sebelum pergi ia sempatkan mengecup bibir Lluvia, tapi gadis itu seperti tak rela. Ia menggenggam tangan Luce lembut, pria itu hanya menimpali senyum.
"Apa kau mau bermalam di sini denganku malam ini"
Luce mengangguk, bibir tipisnya mengerucut, "Kita lihat nanti"