Mobil Biantara ada di sana. Entah bagaimana pria itu bisa sampai ke tempat ini. Padahal, jaraknya cukup jauh dari rumah maupun sekolah. “Kania, om lo—” “Diam!” Kania memotong panik. Gadis yang semula duduk tenang itu mulai beringsut gelisah. Nalurinya ingin kabur. Namun, ke mana? Sekalipun ada tempat untuk bersembunyi, ia tahu, tidak ada peluang baginya untuk benar-benar lolos dari jangkauan Biantara. Posisi mobil itu terlalu dekat. Jalan yang hendak mereka lalui terhadang sepenuhnya. Biantara jelas sengaja memarkir kendaraannya di sana—memastikan mobil Nala tak punya celah untuk keluar. “Kok bisa om lo tiba-tiba ada di sini?” suara Nala terdengar cemas. Kania menggeleng pelan. “Aku nggak tahu. Dia nggak telepon atau ngechat.” Nala mulai panik. Jalan ini adalah satu-satunya akses m

