“Mas….” Yasmin kesulitan merangkai kata setelah mendengar ancaman suaminya. Demi apa pun, ia tak akan pernah rela jika Hans benar-benar melakukannya. “Kali ini saja, Yasmin. Tolong pahami maksud saya.” “Keputusan kamu yang mana yang pernah benar-benar bisa aku pahami, Mas?” Ruang itu kembali tenggelam dalam sunyi yang panjang. Hans tahu, selama ini ia tak pernah memberi ruang untuk berkompromi soal Kania. Pria itu menutup telinga dari bantahan apa pun setiap kali keputusan tersebut menyangkut gadis itu. “Oke. Saya turuti kemauan kamu. Tapi terima konsekuensi dari apa yang sudah saya sampaikan tadi.” Yasmin menggeleng pelan, tak habis pikir. Kondisinya kini serba mendesak. Ia dituntut untuk mengerti, sementara keinginannya untuk dimengerti justru diabaikan. Wanita itu menarik napas d

