Tangan Davin langsung menyingkir dari pipi Kania. Ia menatap nyalang ke arah pria yang kini mendekat ke arahnya. "Mending lo pergi. Nggak usah ikut campur urusan gue sama Kania!" Pria itu menulikan telinganya. Ia tetap melangkah maju. Tubuhnya tegak, dengan wajah garang yang rahangnya mengeras. D.a.da Kania mengencang. Pasokan oksigen di sekitarnya seperti menipis. Napasnya sesak. Ia tercekat. Di belakang pria tersebut, Nala terlihat berlari, mendekati Kania. Ia merangkul sahabatnya untuk ditenangkan. "Kenapa tiba-tiba Om Bian, Nala?" Kania bertanya gugup. Ada getaran lembut dalam suaranya. Ia menggenggam tangannya sendiri. Ruasnya saling menekan hingga terlihat memerah. "Maafin gue, Kania. Gue nggak tau lagi harus minta bantuan ke siapa. Naren pulang cepet, soalnya dapet tel

