Yasmin akhirnya sampai pada batasnya. Tidak ada lagi ruang di dadanya untuk menampung kesedihan yang terus menyesak sejak tadi. Mata yang basah itu menatap anak gadisnya dengan pandangan tak percaya—seolah perempuan di hadapannya bukan Kania yang dulu ia kenal, bukan anak yang pernah ia timang dengan doa dan air mata. Sikap Kania jauh dari kata lembut. Gadis itu keras, dingin, dan penuh perlawanan. Setiap kata yang meluncur dari bibirnya terasa seperti tusukan tajam yang berulang kali menghujam d.a.da Yasmin, tanpa ampun, tanpa jeda. Semua ini memang salahnya. Ia tahu itu. Ia bahkan sering menyalahkan dirinya sendiri—karena tidak cukup berani, tidak cukup kuat, tidak mampu membawa Kania ikut pergi bersamanya dulu. Betapa kerasnya Hans yang tidak mau ada Kania dalam hidup mereka justru me

