“Kania kenapa, Naren?” Suara lembut itu terdengar khawatir, menembus kebisingan restoran. Kania masih setengah sadar. Pandangannya kosong, napasnya tidak teratur, seolah pikirannya terjebak di antara rasa sakit dan ketakutan yang belum sepenuhnya pergi. Gadis itu tampak rapuh, seperti sedang meratapi nasib buruk yang menimpanya tanpa mampu melawan. “Aku nggak tahu, Tante,” jawab Naren jujur, nada suaranya terdengar bingung dan cemas. “Tadi katanya Kania mau nyusul Nala ke kamar mandi.” Wanita itu—Erika—langsung mengalihkan pandangan ke arah Nala, sorot matanya meminta penjelasan tanpa perlu kata-kata. Nala pun menceritakan semuanya, terbata di beberapa bagian, berusaha mengingat detail kejadian yang masih membuat dadanya sesak. “Itu darahnya cukup banyak,” ucap Erika tegas setelah mend

