"Mas. Aku ada pemotretan satu jam lagi. Kalau Kania pulang sama aku gimana?" Mata Kania membelalak. Ia menggeleng, menolak keputusan itu. "Nggak usah, Kak. Kania udah pesen taksi." Mata Melati menyipit. "Yakin?" Layar ponsel yang masih membuka aplikasi itu Kania tunjukkan pada Melati sebagai bukti. "Taksinya udah di jalan, Kak." "Ya, sudah, kalau mau pulang hati-hati, Kania." "Iya, Kak." Gadis SMA tersebut menggendong ranselnya. Namun, baru saja satu langkah menjauhi sofa, suara berat Biantara terdengar. “Kembali ke sini jam tiga sore.” Langkah Kania terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap pamannya dengan wajah tak percaya. “Lho, bukannya kalau tanggal merah atau hari libur, bimbingan juga ikut libur, Om?” Nada suaranya sopan, tapi ada getar kecil di ujung kalimatnya—antara beran

