Bab 55

2139 Kata

Biantara membisu selama beberapa saat. Ia hanya memberi respons melalui tatapan matanya yang enggan melunak. Tatapannya tidak terlalu tajam, tapi dalam. Kania mundur dan Biantara terus maju. Pria tersebut berhasil mengimpit posisi keponakannya. Gadis itu sudah mentok di tembok kamar yang dekat dengan pintu. Satu kepalan tangan Biantara memukul tembok, menimbulkan bunyi hantaman halus yang membuat Kania memejam singkat. “Jangan kamu pikir bisa seenaknya tinggal di sini, Kania. Ini tempat saya. Saya punya aturan yang harus kamu patuhi.” Suara itu ... hampir seperti sebuah peringatan yang tidak bisa diabaikan. Tiap katanya diucap terdengar ada sedikit penekanan. Gadis yang berada dalam kendalinya terlihat kebingungan. Ia menatapnya lama, seolah mencari jawaban melalui sorot mata Biant

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN