Bab 56

2518 Kata

Kania terenyak ketika mendengar nada tegas Biantara. Pria itu tidak sampai membentak, tetapi ada tekanan dingin dalam setiap suku kata yang keluar dari mulutnya—cukup untuk membuat dadanya terasa sesak. Suara berat itu seperti ketukan palu yang menghantam pelan, namun menghujam. Ia akhirnya memilih diam. Kedua tangannya mencengkeram selimut erat-erat, menariknya hingga menutupi tubuh dengan rapat, seolah kain tipis itu mampu menjadi perisai. Ada ketakutan lama yang kembali mengendap di relung hati Kania. Ketakutan akan batas yang sewaktu-waktu bisa dilanggar tanpa peringatan. "Sudah saya bilang. Saya punya aturan di sini. Dan kamu berani melanggarnya." "Melanggar?" tanya Kania tak paham. Dahinya mengernyit. Ia benar-benar mencoba mengingat, mencoba memahami kesalahan apa yang dimaksud.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN