Setelah membersihkan diri dan memakai piama yang sudah dibawakan pelayan mansion, Kania duduk di sisi ranjang. Ia mempertimbangkan permintaan Biantara untuk datang ke ruang kerjanya. Kania tidak mau terjebak lagi dalam suasana intens yang mencekam. Tiap kali berhadapan dengan sang paman, rasa takut dalam dirinya mencuat ke permukaan. Ia tidak bisa menahan dan mengendalikan. Tapi, mau sampai kapan? Ia tidak mau ditindas. Gadis tersebut tidak mau terus dipandang lemah. Kania harus bisa memberanikan diri menghadapi semuanya. Ting! Satu buah pesan masuk di tengah kondisi Kania yang bimbang. Ia meraih layar ponsel di dalam tas yang resletingnya terbuka. [“Kamu di mana, Nak? Sudah jam segini, kenapa belum pulang? Bia khawatir sama kamu.”] Kania menatap pesan dari Yasmin. Cukup lama, i

