“Saya minta pagi ini kamu buat sarapan khusus untuk Melati.” Kania semakin tidak mengerti. “Emang kapan Om bilangnya?” Pria di hadapannya tampak berusaha menahan kekesalan. Ia meraih ponselnya, lalu menyodorkannya ke hadapan Kania. Biantara memang sudah mengirim pesan sejak dini hari. Deretan menu tertulis jelas, lengkap dengan instruksi singkat yang harus dipenuhi pagi ini. “Aku nggak pegang hape dari semalem.” Jawaban Kania terdengar ketus, namun itu kenyataan. Ia tidak lagi menyentuh ponselnya setelah semalam tertidur kelelahan. Apalagi ponsel itu berada dalam mode senyap. Otomatis, ia sama sekali tidak menyadari adanya pesan masuk. Fokusnya pagi ini hanya satu—memasak sebaik mungkin dengan apa yang ia tahu. “Ck! Kacau semuanya!” Bibir pria itu berdecak kesal. Ia mengembuskan na

