Selang beberapa detik setelah Kania berkata demikian, sosok Biantara muncul di ambang pintu. Tatapannya menelisik, mengamati satu per satu orang yang ada di sana. “Kembali ke kamar. Saya mau bicara sama mereka.” Perintah itu terdengar telak. Melati sempat menatap ke arah Kania. Jangan sampai gadis itu kena imbas karena menerima tamu tanpa izin. “Melati.” Panggilan Biantara membuat Melati mengangkat kepalanya. Ia membalas tatapan suaminya yang terlihat dingin dan terkontrol. “Iya, Mas. Aku ... pergi dulu.” Biantara berkedip, tanda bahwa kepergian Melati memang keinginannya saat ini. Ia lantas melangkah maju, mendekati gadis yang terduduk di atas tempat tidur. “Siapa yang memberimu izin terima tamu?” Kania menggeleng. “Nggak ada, Om.” “Kamu jelas tau bagaimana aturan di sini.”

