Langkah Kania begitu lirih saat menyisir lorong gelap dan sepi itu. Suhu di sana benar-benar dingin. Lantainya lembap. Ia menekan senter di ponsel. Cahaya kecil itu menerangi lorong yang hanya diisi kesunyian. Auranya mencekam. Kania berhenti berulang kali. Ia ragu dengan keputusannya untuk datang ke sini. Meski bangunan modern, tapi gadis tersebut tetap merasa merinding dengan lokasi itu. Tempatnya bersebelahan dengan laboratorium. Pintu kecil yang dulu sering membuatnya penasaran kini terjawab sudah. Kania telah menembus pintu tersebut. Berjalan kurang lebih sepuluh meter, sampai akhirnya kini ia berada di ujung lorong. Ruang di depannya luas, hening, dan ... mengerikan. Biantara sudah berdiri di sana, memunggunginya. Pria itu terlihat tidak bergerak. Tubuhnya tegap. Di sela jari y

