“Maksud Om apa? Om mau ngapain?!” Kania memburu pamannya dengan pertanyaan. Tatapannya menancap, berusaha membaca raut Biantara yang menyiratkan sesuatu—sesuatu yang gelap dan sulit ia pahami. “Berani melanggar berarti siap menanggung konsekuensi,” ujar Biantara datar. Setiap katanya terasa ditekan, berat, dingin, menyimpan ancaman. “Tapi kali ini, bukan cuma kamu.” Kania memiringkan kepala, mencoba mencerna maksud ucapan itu. Seketika, satu nama menyambar benaknya. Naren. Jantungnya mencelos. “Om mau ngapain Naren?” Satu alis Biantara menukik. Dalam beberapa detik, ia diam. Hening kembali merambat. Ketegangan justru makin terasa di sana. Pria itu akhirnya mundur. Ia beranjak dari sana dalam kebisuan. Tidak ada jawaban. Tidak ada kepastian. Kania ditinggalkan dalam kondisi banyak

