Cepat, Kania menggeser layar. Ia mematikan panggilan seluler dari pamannya. Ternyata, Biantara tidak kehabisan akal. Pria itu meneleponnya secara manual ketika data seluler Kania matikan. Gadis itu akhirnya sadar—ia sedang dicari oleh Biantara. Bugh! “Arghhh ....” Erangan itu membuat Kania teralih atensinya dari ponsel ke Naren dan Davin. Dua lelaki yang sedari tadi beradu itu kini sama-sama jatuh, menghantam lantai. Kania menghampiri Naren. Lelaki itu mendapat luka lebih ringan di bagian pelipis, daripada Davin yang terlihat babak belur. Davin terkapar di lantai. Napasnya terputus-putus. Lebam memenuhi wajah. Sudut bibirnya ada d.a.r.ah segar akibat robekan kecil. Pukulan Naren kepada Davin terlalu kuat. Terlalu hebat. Lelaki itu memang menggunakan seluruh tenaganya untuk memb

