Rasa lelah Biantara perlahan berubah menjadi kegelisahan. Ia terdiam beberapa saat, membiarkan kata-kata Melati menggiring ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Ia tidak lupa. Ingatan itu justru membekas jelas di benaknya. Jawaban atas pertanyaan Melati adalah dirinya sendiri—Biantara, orang yang telah meninggalkan tanda merah di leher Kania. Namun, Biantara tidak mungkin bersuara. Ia tak sanggup jujur. Kesal pun menyeruak, bukan hanya karena pertanyaan itu, melainkan karena ia telah melanggar batas yang selama ini ia bangun dan jaga sendiri. “Tanda merah?” Dengan susah payah, Biantara mengeluarkan dua patah kata itu. Ia memasang raut bingung, berpura-pura tidak memahami maksudnya, padahal ada rahasia besar yang ia sembunyikan dari sang istri. Dadanya terasa bergejolak. Ia tak

