Penuturan panjang lebar Naren membuat Kania terdiam beberapa saat. Gadis itu mencerna baik-baik. Ia diam dan mulai membandingkan dengan hidupnya. “Jangan sampai cobaan hidup yang diberi Tuhan sampai buat kita lupa caranya bersyukur.” Bibir Kania melengkung, membentuk bulan sabit. Entah kenapa ada kehangatan di hatinya ketika mendengar ucapan Naren yang demikian. Suaranya lembut. Nada bicaranya juga pelan dan penuh pengertian. Kania benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti lelaki di sampingnya. “Thanks udah bikin mata aku kebuka, Ren.” Naren tetap memfokuskan pandangannya ke jalan. Tangan kirinya tiba-tiba menyentuh paha Kania dan mengusapnya pelan. Kania memaku tatapannya di sana. Sentuhan itu ... ia tahu artinya. Bukan sentuhan n.a.f.s.u maupun tindakan kurang ajar. Naren mu

