Bab 81-3

724 Kata

Tidak berselang lama, mereka sampai di sebuah taman. Taman itu tampak sepi, tapi hangat. Naren mengajak Kania turun. Begitu sampai di tepi air mancur, Naren berhenti dan mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. “Kania.” Gadis yang masih celingukan itu langsung menoleh. Betapa terkejutnya ia ketika di depannya kini Naren membawa sekotak cincin emas dengan permata warna biru. Tubuh Kania terasa limbung. “Naren, ini ....” “Aku tahu ini mendadak. Aku juga bukan tipe cowok yang jago nyiapin kejutan romantis. Tapi… aku cuma mau bilang, aku suka sama kamu.” Kania kehabisan kata. Pandangannya tertahan pada perhiasan itu beberapa detik sebelum akhirnya beralih pada Naren. Dadanya terasa penuh. Ia bimbang. Baru kali ini debar di hatinya terasa sedahsyat ini. Semuanya seperti mimpi. Lelaki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN