Meski begitu, Kania belum sepenuhnya yakin. Kegelisahan justru makin menekan dadanya. Ia benar-benar tak ingin menyakiti Naren. Namun, jujur saja, ia merasa nyaman. Sikap Naren membuatnya tenang—aman. Lelaki itu tahu betul bagaimana menjaganya tanpa memaksa. "Tapi, Ren ...." "Please." Kania memejamkan mata. Ia menarik napas dalam-dalam, mengepalkan tangan, lalu mengembuskannya perlahan. Saat membuka mata kembali, ia mengangguk kecil. “Oke. Kita coba, ya, Ren.” Refleks, Naren langsung menarik Kania ke dalam dekapannya. Raut bahagia terpancar jelas dari wajah lelaki itu. Ia mengecup kepala Kania berkali-kali, seolah tak mampu menyembunyikan perasaan bangganya. Bertahun-tahun lamanya, gadis itu memenuhi hatinya—dan kini ada di pelukannya. “Thanks, Kania.” Gadis itu tanpa ragu melingk

